Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
Kembali berlatih


Setelah melihat semua para murid mulai melaksanakan perintahnya, Cao Yuan bersama Niu dan Luo Luo kembali menuju kedalam sekte.


"Tuan muda! aku rasa masalah ini takan berhenti disini saja. " ucap Niu disela sela melangkahkan kaki, dan baru sadar jika Cao Yuan memiliki pedang tingkat Dewa di belakang punggungnya.


"Tuan muda? pedang dari mana itu? " tanya Niu kembali penasaran.


"Emm, ini pedang milik leluhur pendiri sekte Pedang Naga Langit." ucap Cao Yuan.


"Jika pedang ini milik leluhur, maka kekuatannya seharusnya juga tinggi, karena pemakaian pedang tingkat Dewa jika ingin leluasa setidaknya tuan muda memiliki ranah kultivasi surga." ucap Niu.


Cao Yuan mengangguk. Tak lama selang beberapa menit menuju aula sekte Cao Yuan memikirkan sebuah rencana, karena dirinya tak mungkin berdiam diri di Benua Rendah, cepat atau lambat dia harus berpetualang ke Benua lainnya.


"Niu, sedikit rasa penasaranku tentang seorang yang memiliki ranah master tiga di tempat terlarang sekte Shijing, dan juga dua hewan Iblis yang mau menjaga sekte tersebut." ucap Cao Yuan.


Walaupun dahulu masa kecil Cao Yuan seorang sampah, namun dengan pengetahuannya dengan membaca buku yang dimiliki oleh Cia San Tong ayah angkatnya, membuat Cao Yuan heran dengan seorang yang memiliki ranah Master tiga.


"Kenapa di Benua Rendah ada seseorang yang memiliki ranah yang sangat tinggi. " ucap Cao Yuan.


"Tuan muda! aku rasa sekte tersebut memang berasal dari Benua tengah ataupun tinggi, jika tuan muda berada di Benua Rendah dengan sumber daya yang tak bisa membuat tuan muda naik tingkat, bisa bisa pusat sekte Shijing akan memburu tuan muda! " ucap Niu yang disetujui Luo Luo.


Cao Yuan mengangguk, tak berselang lama tetua Lu Ye yang diikuti oleh tetua lainnya memasuki aula sekte dengan baju yang berlumuran darah.


"Hormat kami tuan muda! " ucap mereka semua kompak lalu menatap Niu dan Luo Luo.


"Hormat kalian aku terima! oiyaa perkenalkan dua temanku, ini Luo Luo dan satunya Niu! " ucap Cao Yuan mengenalkan Niu dan Luo Luo pada para tetua sekte.


Setelah pengenalan, para tetua melaporkan tugas yang diberikan Cao Yuan telah mereka laksanakan, Cao Yuan yang tak ingin membiarkan mayat sekte Shijing berserakan yang dapat menyebabkan penyakit, dengan cepat ia keluar dari aula sekte.


Sesampainya di tumpukan mayat sekte Shijing, banyak para murid yang bingung dengan perintah Cao Yuan yang meminta mereka untuk mengumpulkan jenazah tersebut. Namun keheranan serta kebingungan mereka segera terjawab setelah Cao Yuan mengeluarkan api berwarna merah sedikit kebiruan keluar dari telapak tangannya.


Swuuuuushhhh! Api Ilahi milik Cao Yuan langsung membakar semua tubuh mayat anggota sekte Shijing, perlahan tapi pasti api ilahi merambat ke mayat tersebut menjadi abu.


"Kuburkan mayat anggota kita di pemakaman umum sekte! dan setelah selesai, kalian akan kembali berkumpul di halaman sekte. " ucap Cao Yuan yang langsung di laksanakan oleh para murid.


Satu hari telah berlalu, dan tanpa mereka sedari semua orang bertanya tanya tentang rombongan sekte Shijing yang melakukan penyerangan ke sekte Pedang Naga Langit menjadi heran, tak ada kabar dari pulangnya anggota sekte Shijing. Hanya ada tanda tanya dan keingin tauan dengan hasil dari penyerangan itu.


Di Kerajaan Shao.


"Bagaimana jendral? " ucap Raja Shao pada Jendral baru pengganti Jendral Laose.


"Yang Mulia! saya telah satu hari berada di kota Api, namun aku tidak melihat para anggota sekte Shijing yang kembali ke sekte mereka. " ucap Jendral Hao Long.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi, apakah Cao Yuan memenangkan pertempuran itu? " ucap Raja Shao kebingungan.


Karena rasa penasaran yang tinggi, Raja Shao memerintahkan Jendral Tyrant dan Liong untuk segera memeriksa keadaan Sekte Pedang Naga Langit.


*****


Penguburan murid serta tetua sekte Pedang Naga Langit yang telah gugur telah usai, kini mereka semua sedang berkumpul dihalaman sekte.


Cao Yuan yang menggunakan jubah Ketua Sekte Pedang Naga Langit terlihat sangat tampan akan menjelaskan apa yang membuatnya mereka untuk segera berkumpul.


"Tetua serta murid sekte! kemarin adalah sejarah baru dimana kita mampu memerangi dan memenangkan peperangan melawan sekte Shijing, sebuah sekte terkuat diBenua Rendah. Namun kalian jangan senang dahulu, karena beberapa hari atau Minggu bahkan bisa lebih lama, mereka akan kembali lagi! masa dimana kita akan berperang seperti hari kemarin. " ucap Cao Yuan membuat semua orang penasaran.


Cao Yuan kemudian menjelaskan bahwa pasukan yang dibawa Cheng An adalah setengah pasukan dari para murid serta tetua yang dimiliki sekte Shijing. Setelah semua dijelaskan secara rinci, Cao Yuan menetapkan banyak peraturan, dan memberikan tugas pada faksi rajawali untuk memantau pergerakan sekte Shijing di kota Liu.


Pertemuan akhirnya dibubarkan, Cao Yuan juga meminta para murid lainnya dan tetua untuk segera menggunakan sumber daya yang telah mereka kumpulkan dari Cincin ruang milik anggota sekte Shijing, untuk melakukan pelatihan secara ekstrim entah berkultivasi ataupun melatih jurus khusus yang dimiliki sekte. Tak lama mereka membubarkan diri, kini tersisa Cao Yuan, Niu dan Luo Luo dihalaman sekte.


Swuuuushh! Swuuuung! Cao Yuan memberikan sebuah segel mantra ilusi dan juga pelindung untuk menjaga sektenya dari ancaman ketika ia tidak berada disekte.


"Niu! Luo Luo! masuklah! " ucap Cao Yuan membuka gerbang Dunia Jiwa.


Seketika tubuh dua bawahan Cao Yuaan lenyap, setelah tak ada yang dapat ia lakukan, ia kembali ke kediamannya untuk menemui kakaknya.


Sesampainya.


"Adik! kekuatanmu sungguh dahsyat dan kuat! siapa gurumu adik? " tanya Guo Jing penasaran.


Cao Yuan hanya tersenyum.


"Belajar sendiri. " ucap Cao Yuan singkat


Sedikit rasa ketidak percayaan Guo Jing, namun apa daya dirinya tak mungkin memaksa adiknya. Setelah itu mereka bertiga makan bersama, ketidak hadirannya Liyan membuat Cao Yuan heran.


"Kakak? Liyan kemana? " tanya Cao Yuan.


"Liyan sedang berlatih kitab yang diberikan kamu katanya. " ucap Guo Jing.


Cao Yuan langsung segera menghabiskan makanannya dan mencari Liyan. Sesampainya di hutan bekas pertempuran, Cao Yuan melihat Liyan sedang memainkan pedangnya dengan lihai, namun sebuah kekurangan pada gerakan Liyan membuat Cao Yuan memberikan arahan.


"Setiap gerakan memiliki celah, maka gunakanlah anggota tubuhmu yang tidak digunakan untuk menutupi celah. " ucap Cao Yuan lagi.


Liyan yang mendengar arahan dari suara orang yang dikenalnya mengikuti arahan dengan baik, hingga ia menghentikan pelatihannya.


"Guru! " ucap Liyan sambil tersenyum senang.


Cao Yuan hanya membalas senyuman Liyan dengan senyum hangatnya.


"Liyan, aku ingin berbincang bincang santai denganmu. " ucap Cao Yuan kemudian menghentakan kakinya melesat keatas dahan pohon yang terdapat dihutan dekat sekte tersebut.


Liyan pun mengikuti Cao Yuan dan duduk disebelah gurunya.


"Apa yang guru ingin katakan? " tanya Cao Yuan.


"Jika suatu saat guru akan pergi dari Benua Rendah, apa tujuanmu? " tanya Cao Yuan.


Liyan terdiam dan heran dengan ucapan gurunya.


"Jawablah! " ucap Cao Yuan tegas.


"Tapi.. apa yang dimaksud guru akan bertualang ke Benua lainnya? " tanya Liyan.


Cao Yuan mengangguk.


"Jika boleh, aku ingin mengikuti guru! " ucap Liyan tegas.


Cao Yuan kembali tersenyum.


"Namun aku tak ingin kamu mengikutiku, karena diperjalanan ku nanti, banyak sekali rintangan berbahaya yang harus aku lewati. " ucap Cao Yuan tersenyum.


"..." Liyan terdiam seribu bahasa, dia tahu ucapan Gurunya.


"Tenanglah, aku hanya ingin memberimu tugas di Benua Rendah ini. " ucap Cao Yuan.


"Tugas? tugas apa itu guru? " tanya Liyan.


"Mudah saja, selama kepergianku aku ingin kamu menjaga sekte serta kediamanku bersama kakakku." ucap Cao Yuan tersenyum.


Liyan kembali terdiam, menurutnya itu bukanlah tugas melainkan hanya permintaan dari sang guru, namun tanpa bantahan Liyan menyanggupi permintaan gurunya.


Setelah berbincang bincang kecil, Cao Yuan dan Liyan kembali ke kediaman Cao Yuan. Selama diperjalanan keadaan sekte sangatlah sepi akibat para murid dan tetua yang tengah berkultivasi untuk meningkatkan ranah kultivasi mereka.


Sesampainya.


"Liyan! kamu berkultivasi lah seperti lainnya, karena aku juga ingin berkultivasi di area terlarang sekte. " ucap Cao Yuan sambil memberikan beberapa sumber daya yang telah ia isi dengan ratusan Pill kultivasi, serta Pill penawar segala jenis racun hingga buah Dewa didalamnya pun ada, setelah itu Cao Yuan kemudian pergi dari hadapan Liyan.


Liyan yang melihat gurunya pergi kemudian melihat Cincin Ruang yang diberikan gurunya.


"Buah apa ini . " tanya Liyan dibenaknya sambil menimang nimang buah tersebut.


Karena rasa penasaran yang tinggi, Liyan segera menggigit buah berbentuk apel namun memiliki warna sedikit keemasan.


Kraaak!


"Aduuuh! " teriak Liyan giginya copot.


"Liyan! maaf, buah itu buah Dewa dan cara memakannya ketika kamu sudah menginjak ranah Alam. " ucap Suara Cao Yuan dipikiran Liyan.


Liyan yang sudah terlanjur pun merutuki rasa penasarannya yang membuat giginya copot. Cao Yuan sendiri kini tengah menuju area terlarang sekte, setelah ia sampai di tempat tersebut dengan cepat ia kembali menyerap energi langit serta bumi untuk memperkokoh pondasi jiwanya.


Tak terasa dua hari telah berlalu, Cao Yuan berhasil memperkokoh pondasi atau kekuatan jiwanya. Dengan segera ia memasang sebuah segel pelindung untuk menutupi dirinya untuk berkultivasi, karena ia takut ketika naik tingkat ia akan membuat area sekitarnya hancur akibat energi dari dantian yang keluar dari tubuhnya.


Swuuung! segel pelindung bergetar dan perisai berwarna keemasan menutupi tubuhnya, setelah itu ia mengeluarkan bola kristal yang memiliki energi kehidupan yang kental yang ia dapatkan bersamaan dengan Pedang Naga Langit.


Namun saat akan menyerapnya, suara dari Roh Naga Emas menggema dipikirannya.


"Jangan langsung diserap! " ucap Roh Naga yang membuat Cao Yuan mengurungkan niatnya.


"Kenapa? " tanya Cao Yuan malas karena roh naga mengganggunya.


"Alirkan elemen petirmu kedalam Bola tersebut, setelah itu baru anda bisa menyerapnya. " ucap sang Naga .


Cao Yuan tanpa menjawab kemudian mengikuti arahan Roh Naga, dan dia sendiri kebingungan cara menggunakan elemen petirnya.


***