
Sang kakek berjanggut putih tersebut hanya diam, walaupun ia sudah tahu nyawanya sangat terancam, namun terlihat tidak ada wajah takut sedikitpun yang ia perlihatkan.
"Selamat tinggal kakek bodoh. " ucap Hu Feng bersiap menendang kepala kakek tua tersebut.
Semua orang hanya bisa diam dengan perasaan ngeri yang akan mereka lihat. Swuuuush! Baaaamss! Dhuaaar! Tiba tiba saat kaki Hu Feng akan menyentuh kepala kakek tua, sebuah hantaman telak mengenai dada Hu Feng, yang membuat Hu Feng terpental dan memuntahkan darah segar dari bibirnya.
"Arghhh!" ucap Hu Feng menatap pemuda tampan yang kini tengah tersenyum kearahnya.
"Apakah dia cari mati. " ucap penonton.
"Sungguh sangat disayangkan pemuda itu memprovokasi Hu Feng." ucap lainnya.
Cao Zhen Xin tanpa mendengarkan ucapan para penonton masih memperlihatkan senyumnya.
"Kau berani sekali mengurusi urusanku. " ucap Hu Feng marah sambil menyeka darah dari bibirnya.
"Lalu apakah aku harus diam melihat seorang kakek tua renta ditindas seenak jidat olehmu. " ucap Cao Zhen Xin tak kalah sengit.
"Kau.." ucap marah Hu Feng.
Swuuuush! Tanpa beradu mulut, Hu Feng melesat dan melancarkan tinjunya kearah Cao Zhen Xin. Baaaaamsss! Dhuaaaar! Ranah kultivasi yang sama membuat daya kejut terjadi, namun diperlihatkan Cao Zhen Xin menangkap tinju Hu Feng dengan telapak tangannya tanpa kesulitan.
"Ba-bagaimana bisa. " ucap Hu Feng terkejut.
Pasalnya Hu Feng yang memiliki ranah kultivasi Dewa tingkat tiga, mampu mengalahkan satu tingkat ranah diatasnya, namun melihat pemuda tampan didepannya memiliki ranah yang sama mampu menepis tinjunya. Membuat nya terkejut setengah mati.
"Jika kamu bisa, mengapa aku tidak. " ucap Cao Zhen Xin kemudian menekuk tangan Hu Feng. Sehingga Hu Feng mau tidak mau mengikuti arah tekukan agar tangannya tidak patah.
****
Dialam Dewa, Cao Yuan yang tengah mengamati pertarungan kecil anaknya menaikan alis setelah melihat apa yang telah terjadi di benua tinggi.
"Naga hijau keluarlah. " pinta Cao Yuan.
"Baik tuan. " jawab Naga Hijau kemudian merubah wujudnya menjadi manusia biasa.
"Aku memiliki misi untukmu. " ucap Cao Yuan memerintahkan Naga Hijau untuk membantu anaknya jika keadaannya terdesak, karena Cao Yuan melihat banyaknya para Kultivator yang memiliki ranah diatas anaknya.
Swuuuung! Segel tangan diperagakan oleh Cao Yuan, setelah itu muncul gerbang teleportasi menuju benua tinggi.
"Ingatlah, rahasiakan identitas mu agar anakku tidak bergantung padamu. " ucap Cao Yuan.
"Baik tuan. " jawab Naga Hijau.
Setelah itu Naga Hijau memasuki gerbang teleportasi yang menuju ke benua tinggi dengan cepat.
***
Pertarungan kecil terjadi saat mereka berdua memulai pertukaran serangan tanpa menggunakan senjata. Hingga dua tinju bertemu yang membuat daya kejut disekitarnya terjadi.
Baaaams! Dhuaaar! Para penonton sontak menjauh dan menghindari dari daya kejut dua pemuda yang saling bertempur tersebut. Hingga tiba tiba di situasi yang mulai memanas, tiba tiba saja aura membunuh yang kental memenuhi pertempuran sekitar Cao Zhen Xin. Sekilas tubuhnya gemetar, namun entah mengapa sebuah aura aneh keluar dari kalung yang ia kenakan dan menetralkan aura pembunuh yang pekat tersebut.
"Ayah Luo. " ucap Hu Feng Senang.
Cao Zhen Xin hanya diam dan mencari sumber aura membunuh tersebut.
Swuuuuush! Kedatangan Hu Luo dibarengi dengan muncul pria paruh baya dengan aura yang mendominasi, serta munculnya puluhan murid dibelakang pria paruh baya tersebut.
"Emm.." hanya itu saja yang keluar dari mulut Cao Zhen Xin. ko
"Bi-biksu Wangyan. " ucap para penonton terkejut.
Para warga, Kultivator dan murid ataupun tetua sekte terkejut melihat munculnya biksu Wangyan. Pasalnya sejak dulu, biksu Wangyan jarang sekali ikut campur urusan sepele seperti yang terjadi saat ini.
"Biksu botak, apakah kau cari masalah dengan sekte Yin Jing. " ucap Hu Luo geram, karena ia sendiri tak mungkin dapat mengalahkan biksu Wangyan yang terkenal dengan kesaktiannya.
"Amithaba Hu Luo tak pernah berubah sejak dulu. " ucap biksu Wangyan.
"Ah dari pada adu mulut denganmu lebih baik aku pergi saja. " ucap Hu Luo meredakan emosinya dan mengajak Hu Feng pergi.
Biksu Wangyan hanya diam menatap kepergian mereka, hingga setelah benar benar pergi, biksu Wangyan menatap Cao Yuan yang terlihat memiliki aura yang sangat berbeda dari semua aura yang ada.
"Amithaba, pemuda tampan siapa namamu. " ucap biksu Wangyan diatas langit.
Sontak Cao Zhen Xin menatap kearah biksu Wangyan dengan tatapan ramah.
"Senior saya Cao Zhen Xin." balas Cao Zhen Xin sambil mendirikan kakek tua yang ditindas oleh Hu Feng tadi.
"Berhati hatilah, karena aku takut mereka akan kembali membuat masalah padamu. " ucap biksu Wangyan tersenyum dan langsung pergi.
Swuuuush! Kepergian biksu Wangyan yang secara tiba tiba, dibarengi dengan munculnya Liu serta empat teman lainnya.
"Zhen apakah kau baik baik saja. " tanya mereka.
"Seperti yang senior lihat. " ucap Cao Zhen Xin melihat tubuhnya sendiri.
"Hais syukurlah. " ucap mereka menghela napas lega.
Setelah itu, Cao Yuan menanyakan alasan mereka berlima takut pada sosok Hu Feng, dengan jelas ranah kultivasi mereka lebih tinggi dari Hu Feng, karena ia sendiri tidak dapat merasakan ranah kultivasi mereka berlima.
"Zhen ranah kami hanya berada di tingkat dewa sejati tingkat tiga, dan sebenarnya kami tidak takut pada Hu Feng, hanya saja Hu Luo lah yang kami takuti karena katanya ia telah mencapai ranah kaisar dewa setelah menemukan sumber daya yang tiada tanding. " ucap Liu yang dibenarkan oleh empat rekannya.
Cao Zhen Xin mengangguk dan kemudian ia menatap kakek tua renta yang telah ditindas dengan lembut.
"Kek, kenapa kakek memiliki masalah dengan pemuda tadi. " tanya Cao Yuan.
Sang kakek menjelaskan dari awal hingga akhir, hingga sedikit amarah muncul dihati Cao Yuan pada Hu Feng yang bertindak seenak jidatnya.
Setelah itu kakek tua berterimakasih dan hendak pulang ke kediaman goa yang ditinggali didekat kota tersebut, ia juga menawarkan mereka berenam untuk sekedar beristirahat dikediamannya. Namun Cao Zhen Xin dan lima pria paruh baya menolak secara halus, karena tujuan mereka ke kota Vuan untuk merebutkan pusaka pedang Nirwana maut dari tangan yang salah.
"Hari akan gelap, lebih baik kita segera menyusun strategi. " ucap Cao Zhen Xin.
"Benar juga kata Zhen ini. " ucap Liu tiba tiba kagum dengan sosok Cao Zhen Xin.
Mereka berenam kemudian mencari resto yang terdapat ruangan khusus, atau VIP untuk merancang rencana mereka. Sesampainya.
"Zhen apakah kau memiliki ide. " ucap Feng.
"Sampai saat ini aku belum memiliki rencana, karena jujur saja aku tidak tahu tata letak pasti pusaka tersebut. " ucap Cao Zhen Xin.