
Melihat kelompok Cao Yuan yang telah menghilang dari kehampaan, para Kultivator yang masih hidup atau selamat dari dampak pertempuran tiga kubu yang entah berasal dari mana kini hanya terbengong. Mereka tidak mengetahui identitas tiga kubu yang saling bertempur, namun yang jelas melihat kelompok Cao Yuan yang perhatian serta melindungi mereka membuat mereka hanya bisa kagum dan diam diam menghormati kelompok Cao Yuan.
"Siapa pemuda itu dan rombongannya? " ucap salah satu ketua sekte Langit Abadi bertanya pada sekitarnya.
"Entahlah pak tua, yang jelas kita harus berterimakasih padanya karena kelompoknya mau membantu kita untuk melindungi diri. " ucap Ketua sekte Pedang Cahaya menimpal.
Para Kultivator dari kerajaan hingga kekaisaran lain pun mulai berdatangan, karena tak bisa dipungkiri oleh rasa penasaran mereka yang selalu mendengar ledakan serta getaran hingga munculnya fenomena aneh yang terjadi di Kekaaisaran Meiga.
***
Cao Yuan yang telah pergi bersama rombongannya muncul disebuah bukit yang sangat sepi.
"Tuan muda! " ucap mereka semua hormat.
Cao Yuan memandangi semua bawahannya dengan hangat. Perlahan bola matanya yang berwarna keemasan kembali menjadi hitam, rambutnya pun kini ikut menghitam. Jirah perang milik Dewa Naga juga perlahan lenyap.
"Bangunlah. " ucap Cao Yuan.
"Ma-maafkan kami yang tidak mengenal tuan muda. " ucap Jaoying dan saudara kembarnya.
"Sudahlah tidak ada yang perlu dipermasalahkan hanya karena masalah sepele itu. " ucap Cao Yuan tenang.
Cao Yuan dan bawahannya kini mulai berbincang bincang santai, entah membahas Benua Tengah yang kini mulai kacau ataupun lainnya.
"Tuan muda kami berdua memiliki sekte kecil yang berada di dekat bukit Nihao ini, apakah kami berdua boleh mengunjungi mereka sebelum kami berdua mengikuti tuan muda? " tanya Jaoyang.
"Emm ternyata kalian membangun kekuatan kecil di Benua Tengah ini. " ucap Cao Yuan kemudian mengerti alasan kenapa Jaoying dan Jaoyang berada dikekaisaran Meiga.
"Hei kakak kedua, kakak ketiga bisakah kalian tidak menggunakan wajah aki aki. " ucap Niu sedikit risih melihat wajah mereka berdua yang keriput.
Semua orang yang mendengar ocehan Niu membuka mata lebar lebar, berbeda dengan Cao Yuan perlahan sedikit memahami karakter mereka saat bersama.
"Sejak kapan adik ketujuh suka mengkritik orang. " gerutu Jaoying.
Niu yang belum puas mengejek Jaoyang dan Jaoying ingin segera membalas perkataan mereka namun Cao Yuan tiba tiba menghentikan mulutnya yang akan mengatakan sesuatu yang pedas pada Jaoyang.
"Cukup! Lebih baik kita pergi mengunjungi sekte milik Jaoyang, karena aku memiliki banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan pada mereka." ucap Cao Yuan.
"Baik tuan muda, mari ikuti kami. " ucap Jaoyang kemudian melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya memimpin rombongan menuju ke sekte miliknya.
Cao Yuan dan lainnya pun mengikuti Jaoyang dengan kecepatan surga satu, karena mengimbangi ranah kultivasi Hao Shi yang masih rendah. Selama lima belas menit, akhirnya mereka tiba di sebuah goa yang terlihat tidak terjamah oleh siapapun. Jaoyang yang memimpin pun menghentikan langkahnya.
"Kakak kedua! Apakah kau tega membiarkan muridmu tinggal didalam goa yang kumuh ini. " ucap Niu yang tidak bosannya mengkritik Jaoyang.
Jaoyang sedikit geram, karena sejak dulu Niu memang suka mengkritik apa yang ia lakukan, namun karena sedikit terbiasa, Jaoyang pastinya akan membalas kritikan Niu.
"Niu lebih lucu kamu, namamu seperti wanita namun..." ucap Jaoying terpotong.
"Aishh kalian berdua ini. " ucap Shen Huo An menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, mari kita masuk. " ucap Jaoying kemudian membuat segel tangan.
Swuuung! Tiba tiba mulut goa bergetar, dan sebuah portal muncul didepan mereka. Mereka semua memasuki portal tersebut secara bergantian.
Swuuush! Mereka muncul di dunia kecil yang sangat indah, tidak hanya indah namun Dunia kecil tersebut sangatlah luas yang membuat Cao Yuan kagum.
"Jaoying? Ini tempat persembunyian kalian? " tanya Cao Yuan.
"Benar tuan muda. " ucap Jaoying.
Swuuush! Swuuush! Swuuuush! Tiga sosok murid Jaoying muncul dan langsung menyapa dengan hormat.
"Hormat pada ketua sekte. " ucap mereka bertiga namun sedikit heran karena melihat raut wajah Jaoyang dan Jaoying yang sepertinya kecewa pada mereka.
"Apakah kita melakukan kesalahan. " ucap mereka menggunakan telepati.
"Entahlah. " timpal lainnya.
" Cepat beri hormat pada tuan muda Cao Yuan! " ucap Jaoying dipikiran mereka bertiga.
"Hormat pada tuan muda Cao..." ucap mereka bertiga terhenti setelah melihat Jaoyang dan Jaoying menepuk jidat mereka secara bersama.
"Hahahahaha lihatlah, dasar Jaoyang bodoh. " ucap Niu tertawa.
Cao Yuan sedikit terhibur, namun melihat Jaoyang sepertinya ingin menampar, dengan cepat ia segera menghentikan Jaoyang yang ingin segera menampar muridnya yang salah memberi hormat pada Cao Yuan melainkan pada Hao Shi yang juga kini sedang menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Sudahlah Jaoyang, lagian mereka belum mengenalku. " ucap Cao Yuan hangat.
Sedikit terkesima melihat ranah kultivasi tiga murid tersebut.
"Sekte kecil apa jika ranah kultivasi muridnya sudah berada disurga tiga. " gerutu Cao Yuan.
Suasana sedikit canggung membuat Cao Yuan kembali membuka suaranya.
"Jaoyang, Niu kalian berdua bisa lanjutkan perdebatan kalian, karena aku ingin melihat lihat dunia kecil ini. " ucap Cao Yuan melesat menggunakan Ilmu meringankan tubuhnya diikuti oleh Luo Luo, Shen Huo An, Xing, Jingyin, Meilan dan Hao Shi.
Selang beberapa menit Cao Yuan menghentikan langkahnya dan kini tepatnya ia berdiri didahan pohon yang tinggi didalam dunia kecil tersebut.
"Ini..." ucap Cao Yuan bertambah kagum melihat para murid sekte yang sedang berlatih.
Melihat ranah kultivasi mereka yang tinggi, Cao Yuan benar benar tak habis fikir bagaimana Jaoyang dan Jaoying mendapat sumber daya untuk meningkatkan kekuatan sektenya.
Swuuush! Jaoyang, Jaoying dan Niu menyusul dibelakang Cao Yuan.
"Tuan muda mari pergi ketempat kediamanku. " ucap Jaoyang.
"Cih kenapa tidak sejak tadi kau membawa tuan muda ke kediamanmu." ucap Niu.
Cao Yuan hanya menggelengkan kepalanya, namun Jaoyang tidak membalas perkataan Niu karena ia tahu Cao Yuan membutuhkan istirahat setelah melakukan pertempuran panjang.
Kedatangan dua Ketua Sekte yang datang bersama rombongan, membuat para murid sekete merasa penasaran, karena selama ini ketua sekte mereka tidak pernah membawa tamu dari luar kecuali jika yang dibawa adalah murid sekte baru.
"Hormat pada ketua. " ucap mereka semua langsung menghentikan aktivitas lalu memberi hormat.
Jaoyang kemudian mengangguk.
"Dengarkan wahai murid muridku, ini semuanya adalah saudara ku, dan pemuda yang tampan ini bernama Cao Yuan. Dia adalah majikanku. " ucap Jaoyang membuat murid sekte terdiam.
Namun tidak bagi murid sekte wanita yang kini sedang centil menatap wajah Cao Yuan yang sangat tampan itu.
"Tampan sekali.."
"Aku mau jadi istrinya walaupun hanya jadi simpanannya. " ucap murid lainnya.
Cao Yuan hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan murid wanita tersebut.
Swuuush! Lylia muncul disamping Cao Yuan, seperti biasanya Lylia langsung memeluk Cao Yuan tanpa memperdulikan semua orang disekitarnya.
"Hormat pada tuan putri. " ucap Luo Luo dan lainnya kompak, begitu juga dengan Jaoyang, Jaoying walaupun mereka terkejut karena tidak mengenal wanita yang tiba tiba muncul adalah kekasih Cao Yuan.
Seketika tatapan murid wanita yang tadinya tergila gila pada Cao Yuan kini mereka terlihat murung.
"Ternyata kekasihnya sangat cantik."
"Ahh sudahlah lebih baik sadar diri."
"Tidak masalah jika harus dijadikan istri kedua pemuda tampan itu."
Lylia yang mendengar ucapan para murid wanita sekte yang tidak dikenal sangat centil terhadap Cao Yuan menajamkan matanya. Walaupun ranah kultivasi Lylia masih rendah dibandingkan murid wanita yang ada disekte Jaoyang namun saat ditatap tajam oleh Lylia, para murid wanita seketika terdiam dan hanya bisa menunduk. Melihat situasi yang sepertinya semakin memburuk, Cao Yuan melepas pelukan Lylia dengan lembut.
" Lier kita berada disekte milik Jaoyang. " ucap Cao Yuan.
Setelah itu Jaoyang mengantarkan Cao Yuan beserta rombongannya menuju kediaman yang dibuat sendiri oleh Jaoyang dan Jaoying.
Sesampainya.
"Tuan muda, Tuan putri maafkan kami yang tidak bisa menjamu Kalian dengan makanan yang enak. " ucap Jaoyang tak enak pada majikannya.