
Disela asik asik melihat dua pria yang sedang bertarung, tiba tiba sebuah anak panah melesat kearahnya.
Swuuush! Hap! Cao Yuan langsung menangkap anak panah tersebut dengan cara bersalto. Ia kemudian menatap dari kejauhan, terlihat lima puluh prajurit yang tengah mengarahkan anak panah pada dirinya.
"Heem, siapa mereka? kenapa menyerangku? " gumam Cao Yuan dan kemudian melirik dua pria yang kini masih bertukar serangan.
"Anak muda! mengapa kamu mengintip dua jendral kerajaan yang saling bertarung? " ucap seseorang yang tiba tiba maju dengan baju perang kerajaan.
Cao Yuan kemudian menaikan sebelah alisnya, dia kembali menatap dua pria yang masih bertarung.
"Aku hanya penasaran saja, lalu mengapa kalian menyerangku secara diam diam? apakah ini yang dilakukan seorang jendral kerajaan? " ucap Cao Yuan yang mengerti identitas pemimpin kelompok itu.
"Tentu saja aku menyerangmu anak muda! karena aku takut kamu menghentika dua jendral yang saling merebutkan posisi kedudukan. " ucap Jendral itu dingin.
Cao Yuan hanya terdiam, dia kini sedang menebak nebak jendral dihadapannya, mungkin dia lah dalang penyebab yang menyebabkan dua jendral yang saling bertarung dibelakangnya.
"Aku sebenarnya tak ingin terlibat dengan urusan kerajaan, tapi karena kamu telah berani menyerangku secara diam diam, tak salah jika aku membunuh kalian. " ucap Cao Yuan lebih dingin, dan raut wajahnya pun menjadi datar.
Jendral tersebut langsung mengukur ranah kultivasi Cao Yuan dan dia tiba tiba tertawa.
"Ranah Baja Lima ingin membunuhku? " ucap Jendral tersebut menyepelekan Cao Yuan.
Cao Yuan tetap tenang, meski ia tahu jika ia membunuh pasukan kerajaan pasti akan mendapat sanksi ringan hingga berat. Tapi dia adalah Cao Yuan bukan orang lain, jika orang lain menginginkan kekuatan yang besar untuk menjadi penguasa, maka Cao Yuan menginginkan menjadi yang terkuat untuk mendamaikan seluruh Dunia hingga Alam Dewa sekalipun.
"Dan aku bertanya padamu? ranah Alam satu berani menggertak baja lima? apakah anda bercanda? " ucap Cao Yuan mencoba memprovokasi.
"Kaauu! Prajurit serang dia! " ucap Jendral tersebut langsung terprovokasi.
Para prajurit yang mendengar perintah jendral dengan cepat mengepung Cao Yuan. Sifat Cao Yuan yang tetap tenang walaupun di kelilingi oleh lima puluh prajurit membuat Jendral tersebut serta prajurit menjadi heran.
"Aku akui ketenanganmu itu, tapi apakah dengan ketenangan itu kamu mampu mengalahkan prajuritku? " ucap Jendral tersebut.
Cao Yuan kemudian hanya tersenyum ,diam diam ia mengibaskan tangannya untuk mengeluarkan teknik tapak ilahi.
Swuuush! Swuuush! dua tangan muncul dari langit dan menghantam prajurit yang menggunakan panah.
Baams! Bamss! dua ledakan dan getaran itu menyebabkan prajurit yang memegang panah seketika meledak menjadi kabut darah, dua jendral yang saling bertarung menghentikan pertarungannya. Mereka juga langsung melihat pertempuran prajurit yang mengepung seorang bocah yang menurutnya terlalu keterlaluan.
Walaupun mereka tadi bertarung, nyatanya mereka tidak ingin melihat bocah cilik itu dikroyok oleh prajurit kerajaan, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka untuk menghampiri para Prajurit.
"Hentikan! apa yang menyebabkan kalian ingin membunuh satu orang bocah yang tak mengerti apa apa! " ucap salah satu Jendral tersebut.
Cao Yuan yang ingin mengeluarkan tapak ilahi dengan cepat mengurungkan niatnya dan menatap dua jendral yang menghentikan para prajurit .
"Kalian berdua jendral kerajaan? " tanya Cao Yuan kepada mereka berdua.
Mereka berdua hanya mengangguk sebagai tanda membenarkan.
"Bagus, kenapa kalian bertarung. Bukankah sesama Jendral harus saling bekerja sama. " ucap Cao Yuan dingin.
Dua Jendral tersebut saling pandang satu sama lain, mereka berdua juga membenarkan ucapan bocah itu.
Sedangkan Jendral Laose yang memang mengadu mereka berdua agar saling bertarung menjadi geram.
Dua Jendral yang mendengarkan suara Jendral Laose menjadi terkejut.
"Laose! apa yang kau lakukan! " tanya Jendral Liong geram.
"Apakah kamu benar benar ingin membunuh kami! " timpal Jendral Tyrant.
Sebelum jendral Laose membalas perkataan mereka, para prajurit langsung berpencar dan mengikuti perintah Jendral Laose. Jendral Tyrant bersama Jendral Liong menjadi heran, dan mereka hanya diam saja ketika senjata prajurit menodong kearah mereka.
Swuuush! Swuuush! Bammms! tiba tiba dua tangan muncul dari langit dan menghantam prajurit yang menodong dua jendral tersebut, hingga prajurit tersebut tewas menjadi kabut darah.
"Sudah jelas dia ingin kalian saling bertarung hingga membunuh, mengapa kalian masih diam saja! " ucap Cao Yuan mengejutkan dua jendral tersebut.
Jendral Laose yang sangat geram terhadap satu bocah yang telah menggagalkan rencananya dengan cepat melesat sambil mengarahkan tinjunya ke wajah bocah tersebut, berharap bocah tersebut tewas seketika.
"Awas bocah! "
"Awas! " ucap dua jendral.
Cao Yuan yang memang selalu waspada kemudian ikut mengarah tinjunya kearah Jendral Laose tanpa menggunakan Qi.
Baaamss! tiba tiba prajurit hingga tiga jendral tersebut langsung kaget dengan apa yang mereka lihat, karena bocah itu tak bergeming sedikitpun. Namun Jendral Laose terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter.
"Bagaimana bisa! " ucap tiga jendral itu terdiam.
"Jika kalian berdua tak ingin membunuh prajurit, maka lumpuhkan saja mereka. Dan Jendral bodoh ini akan melawanku." ucap Cao Yuan melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Cao Yuan juga mengarahkan tangan mungilnya untuk meninju wajah Jendral Laose.
Bamms! Pack! Pack! suara tangan yang terus menghantam wajah Jendral Laose terus terdengar. Hingga para prajurit serta dua jendral terdiam melihat salah satu Jendral yang ditakuti oleh kerajaan kini menjadi mainan oleh seorang bocah.
"Sungguh kuat sekali! "
"Tak hanya kuat tapi sangat cepat! " dua komentar jendral tersebut.
Setelah puas memberi pelajaran Cao Yuan kemudian menghentikan tinjunya saat melihat wajah Jendral Laose yang kini terlihat bukan seperti manusia lagi.
"S..i.ap.aa kau! " ucap Jendral Laose ketakutan dan mundur dengan cara mengesod secara perlahan.
"Aku tak penting! Dua Jendral, tangkap saja dia karena dalang yang menyebabkan kalian bermusuhan satu sama lain. " ucap Cao Yuan hendak pergi.
Para prajurit yang melihat jendral mereka ketakutan pun tertunduk.
"Kalian semua bawa jendral Laose untuk menghadap raja Shao! " ucap Jendral Tyrant yang langsung dilaksanakan oleh para prajurit.
"Jendral Tyrant! aku minta maaf karena telah menyinggung anda! " ucap Jendral Liong.
"Aku juga minta maaf karena telah masuk kedalam jebakan jendral Laose! " ucap Jendral Tyrant sambil menatap Jendral Laose yang sedang dipapah menuju ke kerajaan Shao.
Setelah itu mereka berdua menatap Cao Yuan dengan tatapan kagum sekaligus ngeri, karena mereka berdua sendiri jika satu lawan satu melawan jendral Laose belum tentu menang. Apalagi hanya dalam satu gerakan pemuda tersebut langsung melumpuhkan jendral Laose.
"Terimakasih tuan muda! jika boleh tau siapa nama anda? " tanya Jendral Tyrant yang ingin mengerti identitas pemuda didepannya.