Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
17


"Arrrgghh! Brengs*k!!! " ungkap Li Yao marah besar.


"Terus saja tinggikan emosimu, karena emosimu adalah kelemahanmu sendiri. " gumam Cao Zhen Xin terus menghindari serangan Li Yao dengan mudah.


Setiap serangan yang diarahkan selalu tidak teratur atau tidak membuat nyawa Cao Zhen Xin terancam, karena itu Cao Zhen Xin memanfaatkan teknik berpedangnya yang sangat indah. Mata She Luan, She Mei dan She Yang terpukau dengan cara memainkan pedang Cao Zhen Xin.


"Ranah kultivasinya yang rendah, namun sangat pandai dalam bersiasat, pemuda itu sangat mengerikan. " ucap She Yang.


Cao Zhen Xin kini tidak merasa terpojok, karena itu ia kembali mencari celah pada gerakan Li Yao. Lima puluh pertukaran serangan pedang terlewati akhirnya Cao Zhen Xin menemukan celah pada bagian perut Li Yao.


Swuuush! Slaaaash! Cao Zhen Xin mengarahkan pedangnya kearah perut Li Yao, sontak Li Yao gelagapan dan berusaha melindungi perutnya, namun tiba tiba gerakan Cao Zhen Xin berpindah kearah lehernya, sehingga Li Yao tak mampu menghindar serangan yang bisa dikatakan kejutan tersebut.


Li Yao tewas sangat mengenaskan, dengan kepala yang terlepas dari tubuhnya serta darahnya yang terus keluar dari potongan tubuh tersebut.


"Tuan muda terimakasih. " ucap She Mei muncul disamping Cao Zhen Xin sambil memberikan hormatnya.


Cao Zhen Xin mengangguk, ia kemudian memasukan pedangnya kedalam Cincin ruangnya, tak lupa ia memungut cincin ruang milik Li Yao.


"Lumayan. " gumam Cao Zhen Xin menemukan beberapa artefak tingkat tinggi, dan ratusan Pill serta jutaan keping emas didalamnya.


"Nona Mei, apakah kamu melihat pria yang membantumu? " tanya Cao Zhen Xin heran karena tidak melihat pria yang telah bersepakat dengannya.


"Dia sudah pergi tuan muda. " ucap She Mei.


Swuuush! Swuuuush! She Yang, She Luan muncul dan memberi hormat pada Cao Zhen Xin.


"Terimakasih tuan muda. " ucap mereka berdua kompak.


"Sudahlah tidak perlu berterimakasih, kenapa pihak kota tidak ada yang membantu kalian sama sekali? " tanya Cao Zhen Xin heran.


Mereka berdua saling pandang, kini mereka dengan jelas tahu bahwa pemuda dihadapan mereka bukanlah berasal dari benua tinggi.


"Tuan muda, anda pasti bukan berasal dari benua ini? " tanya She Mei membuat Cao Zhen Xin gelagapan.


"Aku..."


"Tuan muda, anda tidak perlu mengelak, diBenua tinggi ini tentu mereka seharunya tau keluarga Tao dan She..." ucap She Mei terhenti.


"Kakak! Apakah ini caramu berterimakasih pada seorang yang telah menyelamatkan kita. " ucap She Luan tak terima.


"Sudahlah karena kita telah memenangkan pertarungan, bagaimana jika kita pesta arak? " tanya She Yang mencairkam suasana.


"Heemm, ide yang bagus. " ucap She Luan.


Setelah itu mereka mengumpulkan, dan membakar mayat dengan energi api yang dimiliki oleh She Yang, tak lupa mereka memunguti cincin ruang para keluarga Tao yang telah tewas dan dibakar menjadi abu.


"Tuan, ini milikmu. " ucap She Mei memberikan puluhan cincin ruang.


"Baiklah terimakasih. " ucap Cao Zhen Xin.


Semuanya telah selesai, dan mereka kembali ketempat pelelangan senjata milik keluarga She. Sesampainya, She Yang membawakan puluhan kendi arak dengan aroma yang sangat menyengat.


"Apakah kita akan meminum....."


"Tidak tuan muda, sisanya akan aku simpan. " jawab She Yang cepat.


Cao Zhen Xin bernafas lega, karena ia sendiri tidak terlalu menyukai arak, arak baginya hanya sebuah minuman penghangat tubuh saja.


"Tuan muda, apakah anda sudah memikirkan resiko mengenai campur tangan anda, apalagi anda telah membunuh Li Yao. " ucap She Yang disela sela minumnya.


"Aku sudah memikirkan semua itu, tapi apakah kalian bisa hilangkan sebutan tuan muda itu. " ucap Cao Zhen Xin risih.


"Hahaha baiklah baiklah, bagaimana dengan nama Zhen, nama yang bagus. " ucap Li Yao mulai mabuk.


"Bukankah itu memang namaku. " ucap Cao Zhen Xin menggelengkan kepalanya.


"Apakah keluarga She telah kalah. " ucap salah satu prajurit.


"Tentu saja, sejak pertempuran keluarga mereka satu tahun yang lalu, bukankah keluarga She hanya tersisa puluhan orang. Dan tentunya lelang senjata...." ucap prajurit berhenti dan seketika wajahnya berubah senang.


Swuuush! Swuuush! Puluhan prajurit tiba tiba menghilang dan muncul didepan toko lelang senjata milik keluarga She.


"Taukah maksudku? " tanya salah satu prajurit.


Mereka mengangguk bersama, dan kemudian mereka mendobrak pintu.


Braaaak!


Sontak Cao Zhen Xin, She Yuan, She Luan, dan She Yang yang telah mabuk marah mendengar suara yang tak sopan tersebut. Mereka berempat menatap para prajurit yang saat ini wajahnya ketakutan.


"Apakah kalian cari mati. " ucap She Mei dingin, ia mengedarkan ranah Kultivasinya.


Swuuuush! Swuuuuush! Baaaamss! Dhuaaar! Dua tubuh prajurit yang mendobrak pintu meledak menjadi kabut darah setelah She Mei melesat dan meninju tubuh mereka. Tersisa enam prajurit yang tubuhnya bergetar melihat She Mei yang masih hidup.


Swuuuush!


"Senior Mei! Berhenti. " ucap Cao Zhen Xin.


"Diamlah Zhen, mereka benar benar membuatku marah disaat hari yang membahagiakan ini. " uca She Mei.


Cao Zhen Xin hanya diam, ia ingin memberikan nasehat kembali, namun She Yuan menghentikannya.


Swuuuung! Bangunan sekitarnya tiba tiba bergetar kencang, aura membunuh keluar dari arah timur dimana letak rumah walikota berada.


"Siapa yang berani membunuh prajurit kota. " teriak murka seseorang.


"Walikota keparat keluarlah! " ucap sengit She Mei.


Swuuuush! Swuuuush! Kemunculan walikota beserta berapa komandan prajurit yang membawa prajuritnya muncul didepan enam prajurit yang ketakutan. Cao Zhen Xin melangkahkan kakinya dan diikuti oleh She Yang serta She Yuan kesamping She Mei.


"Kukira kalian telah tewas. " ucap walikota Jingse.


"Plesetan dengan ucapanmu. " ucap She Mei melesat kearah walikota Jingse.


Baaaams! Dhuaar! Ranah kultivasinya yang sama membuat mereka terpental lima langkah kebelakang.


"She Mei, meskipun dulunya keluargamu terkuat ketiga di benua tinggi ini, namun kini keluarga She bukanlah apa apa, dan mengenai kematian Tao Li Yao aku telah melaporkan pada Tao Li Fao." ucap walikota Jingse.


"Kamu.." ucap She Mei geram.


Ia kini mengerti kenapa Tao Li Yao dapat mengetahui persembunyian mereka di kota Jingse.


"Kenapa? memang aku yang melaporkannya. " ucap walikota Jingse mengeluarkan Cincin ruang hadiah dari Tao Li Yao.


Cao Zhen Xin juga perlahan memahami watak walikota Jingse setelah She Yuan menjelaskan secara terperinci.


"Heem menarik. " gumam Cao Zhen Xin.


Meskipun mabuk, ia masih tetap bisa berpikir dengan baik, sehingga apapun penjelasan She Yuan dapat ia pahami dengan mudah.


"She Mei, menyerahlah, aku tahu aku mungkin akan kalah bertarung denganmu, namun tak bis dipungkiri nyawa kalian semua akan berakhir setelah kematian ku nanti. " ucap walikota Jingse tersenyum lebar.


"Kau.." ucap She Mei bertambah geram.


****


Maaf lur, aku baru bisa update segini, kondisi badan lelah setelah membuat blumbang ikan.