
Setelah itu rombongan mereka menuju sell tahanan yang dimiliki oleh kota Taichi tersebut. Sebenarnya dua Jendral kini sedang bertanya dibenak masing masing, siapa pria dan wanita yang mengikuti Cao Yuan. Namun mereka masih melihat wajah Cao Yuan yang sepertinya masih marah, sehingga mereka mengurungkan niat mereka.
Sesampainya di Sell tahanan kota Taichi, Cao Yuan menghentikan langkahnya.
"Jendral, anda masuklah dan bawa dua tawanan keluar. " ucap Cao Yuan yang ingin membuka Dunia Jiwa.
Dua Jendral tersebut lalu mengangguk sebagai tanda setuju, dan mereka juga menyuruh para prajurit penjaga tahanan untuk mengikuti mereka menuju kedalam sell tahanan di kota Taichi itu.
Setelah tak melihat keberadaan mereka, Cao Yuan kemudian membuka gerbang Dunia Jiwa.
"Masuklah! " ucap Cao Yuan kepada tiga bawahannya.
Tanpa bantahan mereka semua langsung memasuki Dunia Jiwa. Tak berselang lama, Jendral Tyrant keluar dari sell tahanan dan wajahnya terlihat sedikit pucat. Cao Yuan menjadi heran melihat Jendral Tyrant keluar sendiri dari sell tahanan tanpa membawa dua tawanan.
"Jendral? apakah kau baik baik saja? kulihat wajahmu sangat pucat. " ucap Cao Yuan santai.
"Tu..an! Jendral Laose dan tetua Sekte Shijing tiba tiba tewas tanpa diketahui oleh penjaga gerbang! " ucap Jendral Tyrant.
Degghh! Cao Yuan terkejut, dengan cepat ia segera memasuki sell tahanan tersebut. Sesampainya Cao Yuan melihat para prajurit yang tengah di omelin oleh jendral Liong.
Tanpa Jendral Liong sedari Cao Yuan menghampiri dua mayat yang terlihat seperti keracunan. Karena kulit mereka berdua membiru.
"Sudahlah jendral Liong! kurasa memang sudah ada yang mengetahui keberadaan tawanan mereka berdua. " ucap Jendral Tyrant mencoba menenangkan Jendral Liong.
"Mereka terkena racun! " tiba tiba Cao Yuan disamping Jendral Liong yang membuatnya terkejut.
"Astaga! " ucap Jendral Liong.
"Racun? apa kau ada buktinya? " ucap Jendral Tyrant.
Cao Yuan kemudian memberikan sebuah jarum yang menancap di kaki dua tawanan tersebut. Jendral Liong yang sudah pulih dari keterkejutannya langsung mengambil jarum yang berada di tangan Cao Yuan.
"Benar kata tuan muda Yuan! jarum ini masih memiliki sedikit racun. " ucap Jendral Liong yang telah meneliti jarum itu.
"Apakah ada yang menyusup kedalam penjara? " tanya Jendral Tyrant yang kini menatap prajurit penjaga gerbang sell tahanan.
"Ti-tidak ada jendral. " ucap mereka kompak.
Cao Yuan seketika terdiam, dan menatap wajah para prajurit satu persatu. Salah satu prajurit yang ditatap Cao Yuan tiba tiba wajahnya terlihat seperti merahasiakan sesuatu.
Dengan cepat Cao Yuan mengibaskan tangannya dan muncullah tali terbuat dari Qi yang melilit prajurit yang kini tiba tiba berkeringat.
"Tuan muda! " ucap terkejut kedua jendral kompak.
Cao Yuan tak menghiraukan reaksi dua jendral itu, dan dia menghampiri prajurit yang ia ikat dengan Qi miliknya.
"Siapa yang menyuruhmu? " tanya Cao Yuan dingin.
"T..i.daak ada! " ucap terbata bata prajurit tersebut.
Plaaak! Cao Yuan menampar dengan keras.
"Aku tidak menyukai seorang yang berbohong. " ucap Cao Yuan kembali menampar.
Plaak! Plaaak! Plaaak! Jendral Tyrant dan Liong hanya terdiam, dia sendiri ingin menghentikan Cao Yuan yang terus menampar wajah prajuritnya, namun diri mereka sadar, mereka bukanlah lawan pemuda tersebut.
"Tuan muda Yuan! apa yang membuat anda mengikatnya seperti tawanan?" ucap Jendral Tyrant memberanikan diri.
"Diamlah! aku tahu batasanku, namun apakah kalian sadar jika tidak ada yang memasuki sell tahanan selain para prajurit dan kalian. Lihatlah sell tahanan ini yang tidak adanya terjadi pertempuran ataupun pembobolan tembok disekitar sell. " ucap Cao Yuan membuat dua jendral terdiam.
Hingga darah dari hidung dan juga gigi yang copot Cao Yuan menghentikan tamparannya.
"Jika masih tak ingin jujur, baiklah aku akan membunuhmu secara perlahan. " ucap Cao Yuan dingin membuat semua orang yang ada disekitarnya merinding tak karuan.
Sebuah pedang milik Jendral Liong ia tarik tanpa ijin terlebih dahulu dan ia memotong jari prajurit yang masih tak mau memberinya penjelasan.
"Katakan! jika tidak aku benar benar membunuhmu atau menjadikanmu menjadi orang cacat " ucap Cao Yuan dingin .
Prajurit itu langsung terdiam dia sendiri ingin meledakan dirinya, namun sepertinya Qi yang melilit tubuhnya langsung menekan seluruh tubuh dan membuatnya terdiam.
"Baiklah! " ucap Cao Yuan kembali.
Pedang milik Jendral Tyrant ia kembali tebaskan dan tiba tiba.
"Tu..tunggu! " ucap Prajurit tersebut langsung terduduk lemas.
Cao Yuan seketika langsung tersenyum dan menghentikan tebasannya. Jendral Tyrant, dan Jendral Liong sungguh terkejut melihat reaksi prajuritnya. Prajurit tersebut kemudian menatap dua jendral dengan tatapan malu dan tak berdaya.
"Maa.f..kan ku jendral! aku yang membunuh mereka, karena ada seorang berjubah hitam memberiku ratusan koin emas jika aku mau membunuh Jendral Laose dan tetua sekte Shijing. " ucap Prajurit tersebut tak berani menatap wajah dua jendral kerajaan tersebut.
Jendral Liong seketika langsung geram dan hendak menebas leher prajurit dengan pedangnya, namun Cao Yuan langsung menghentikannya.
"Jangan bunuh dia! aku rasa dia memiliki alasan kenapa berani mengkhianati kalian. " ucap Cao Yuan menatap tajam prajurit tersebut.
Jendral Liong pun menghentikan pedangnya dan menatap tajam prajurit tersebut yang takut ingin mengatakan sesuatu.
"Katakanlah! " ucap Jendral Liong.
"J.en..dral! aku... aku hanya ingin memiliki uang yang cukup untuk biaya berobat istriku, sehingga .. " ucap Prajurit tersebut terpotong.
"sudah, katakan berapa biayanya? " tanya Cao Yuan.
Jendral Liong dan Jendral Tyrant saling berpandangan sejenak.
"Lima ratus keping emas tuan! " ucap Prajurit tersebut.
"Apa! " ucap mereka semua terkejut.
Bagaimanapun di Benua Rendah satu keping emas dapat digunakan untuk hidup selama satu bulan, dan itupun untuk warga biasa. Dan mereka semua terkejut setelah mendengar biaya berobat yang dikatakan prajurit itu.
"Ehem. " deheman Cao Yuan kemudian membuat semua orang memandanginya.
"Dimana rumahmu berada? " ucap Cao Yuan kembali.
"Masih di kota Shao Ming tuan! " ucap Prajurit tersebut lemas.
"Baiklah mari kita berangkat ke kota Shao Ming, setelah sampai aku akan kerumahmu untuk melihat penyakit istrimu." ucap Cao Yuan kemudian melepas Qi yang melilit tubuh prajurit tersebut.
Setelah itu akhirnya mereka semua kembali melanjutkan perjalanan dan membawa mayat jendral Laose serta tetua Sekte Shijing dengan peti mayat.
****
Thai Lu kini telah bangun dari pingsannya, dan Thai Hao yang melihat anaknya bangun segera menghampirinya serta melihat lengan anaknya yang terputus.
"Nak! maafkan ayahmu karena tak bisa melindungimu! " ucap Thai Hao.
"Ayah.. " ucap Thai Lu langsung memeluk ayahnya.
Isak tangis terdengar, dan prajurit yang didalam ruangan segera keluar dari ruangan berobat Thai Lu. Setelah tangisan Thai Lu sedikit reda, Thai Hao kemudian melepas pelukannya dan kembali menatap anaknya.
"Luer! tenang saja, dendammu akan ayah balaskan. Ayah telah memerintah kepada kelompok pembunuh bayaran yang handal dalam membunuh seorang yang hebat. " ucap Thai Hao.
"Tapi ayah! mereka sangat kuat, dan aku takut dia berhasil mengalahkan pembunuh bayaran, lalu mereka akan membalaskan dendam pada kita. " ucap Thai Lu yang sepertinya trauma.
"Tenanglah Luer! mereka pasti berhasil membunuh pemuda itu. " ucap Thai Hao meyakinkan.
Anaknya pun hanya bisa diam, dia sendiri tak bisa melakukan apapun untuk membantu ayahnya.