
Keduanya kini saling melesat berlawanan arah, dan kembali bertukar serangan tangan kosong. Disela sela pertukaran serangan.
"Hebat juga kau muridku. " ucap Cheng An sedikit kewalahan menerima serangan Cao Yuan.
"Murid? hahaha apakah kau masih belum sadar jika aku hanya berpura pura. " ucap Cao Yuan .
Melihat sebuah celah di area perut, tangan mungil milik Cao Yuan mendarat diperut Cheng An.
Bammms! Cheng An terpental sejauh sepuluh meter dan langsung menyeimbangkan tubuhnya.
"Apakah ini hari kematianku! " ucap Cheng An menatap langit.
Cao Yuan sedikit iba, namun dia sendiri tak ingin melepaskan Cheng An yang telah berbuat semena mena berani mengusik sektenya.
"Seandainya kamu tidak mengusik ketenangan sekteku, mungkin hal ini takan terjadi. " ucap Cao Yuan kembali melesat.
Cheng An dengan sigap pun fokus kembali kepertarungan, namun akibat kurangnya rasa percaya diri, Cheng An melupakan semua pengalaman dalam bertarung hidup dan mati melawan musuhnya.
Sebuah celah kembali terlihat di area dada Cheng An, Cao Yuan kembali tak menyia nyiakan celah tersebut, dengan cepat ia kembali menyarangkan serangan tepat didada Cheng An.
Bammms! "Akhhh! " pekik Cheng An terpental sejauh sepuluh meter, kini darah mulai menetes dari bibirnya. Setelah menyeimbangkan tubuhnya, Cheng An benar benar merasa tak pantas menjadi guru Cao Yuan.
"Bagaimana jika kita menggunakan pedang saja? " ucap Cao Yuan mengeluarkan pedang milik ayahnya.
Cheng An terdiam, akibat rasa keterkejutannya melihat seorang pemuda yang memiliki ranah kultivasi yang sama dengannya.
"Jadi? ranah kultivasi sebenarnya milikmu kau sembunyikan? " tanya Cheng An memastikan.
Cao Yuan hanya tersenyum menggemaskan, namun pandangannya Cao Yuan teralihkan akibat Guo Jing akan terbunuh oleh murid sekte Shijing.
Swuuush! Baaams! Cao Yuan mengibaskan tangannya mengeluarkan teknik telapak Ilahi untuk membantu kakaknya.
"Terimakasih adik! " ucap Guo Jing berteriak.
Cao Yuan mengangguk dan kini menatap Cheng An.
"Peganglah pedangmu, mari kita buktikan siapa diantara kita yang dapat bertahan. " ucap Cao Yuan dingin.
Tanpa berbicara kembali, Cheng An mengeluarkan pedangnya dari dalam Cincin ruang, pedang berwarna kehitaman.
Swuuuush! Swuuuush! keduanya langsung melesat berlawanan arah.
Ting! Ting! Ting! dentingan senjata kini mulai mengisi suara pertarungan mereka. Cao Yuan terus mengarahkan serangannya ke leher Cheng An, hingga Cheng An sendiri harus menunduk dan bersalto kebelakang untuk menghindari serangan yang mengincar lehernya.
"Putaran semesta! " teriak Cheng An yang merasa terpojok.
Tiba tiba tubuh Cheng An berputar dan pedang ditangannya pun ikut berputar memberikan serangan balik pada Cao Yuan.
Dengan cepat Cao Yuan kembali menghindar, dan sedikit rasa geramnya karena jurus milik Cheng An membuat pedang seperti memiliki pikiran sendiri dan terus menyerang tubuh Cao Yuan. Cao Yuan terus mundur dan mundur untuk menyerang pedang tanpa ada yang memegang gagang pedang tersebut. Karena dia sendiri merasa tak bisa membalas serangan Cheng An, kini ia langsung melesat menjauh.
"Roaaarr! " suara Naga dari mulut Cao Yuan membuat pedang tersebut mancap ditanah. Semua orang kini menatap Cao Yuan dengan mentutup telinga mereka. Bahkan tetua Lu Ye, Guo Jing, Liyan, Chi Yue dan seluruh dikawasan tiga kilometer diarea pertarungan Cao Yuan mendengar suara Naga itu.
"Naga Pelahap Surga! " teriak Cao Yuan membuat segel dengan pedangnya.
Swuuush! Seuliet Naga berukuran dua puluh meter keluar dari lingkaran tersebut dan langsung melesat kearah Cheng An. Cheng An yang terkejut dengan cepat membuat perisai menggunakan Qinya.
Baaammss! Kraaack! Jdaaaaar! suara tubuh naga yang menghantam perisai Cheng An dan berhasil menembus perisai tersebut, setelah menembus perisai naga tersebut tiba tiba meledak saat menabrak tubuh Cheng An.
Semua orang yang sedang bertempur menghentikan pertarungan mereka saat mendengar ledakan yang sangat dahsyat, bahkan mereka yang didekat dengan Cao Yuan serta Cheng An terpental dan memuntahkan darah dari bibir mereka. Daya kejut yang sangat luar biasa.
Debu masih berterbangan dan setelah beberapa menit debu menghilang yang disertai dengan tubuh Cheng An yang kini telah hilang ditelan bumi, atau dikatakan tewas. Kawah besar yang ada di sekitar Cheng An pun terlihat.
"Hemm, mengerikan juga dampak serangan jurus ini. " gumam Cao Yuan kemudian menatap murid sekte Shijing yang masih bertarung.
Cao Yuan dengan sisa Qinya kemudian melesat secara zig zag, tangan kirinya mengibaskan tangan untuk mengeluarkan teknik telapak Ilahi, dan tangan kanannya untuk menebas leher musuh.
Semua orang yang melihat Cao Yuan membunuh dengan mudah membuat mereka bergidik ngeri, banyak juga yang kabur sebelum bertemu Cao Yuan, namun yang kabur tersebut akan dibantai oleh Niu dan Luo Luo.
Tetua Lu Ye juga memperhatikan Cao Yuan yang layaknya seperti monster, apalagi saat melihat jurus yang digunakan Cao Yuan untuk membunuh Cheng An. Sungguh dirinya beruntung dapat bertemu monster cilik seperti Cao Yuan.
Para murid dan tetua sekte Shijing yang tersisa dan tau bahwa Cheng An telah tewas tiba tiba menurunkan rasa semangat mereka dalam bertarung, al hasil setiap detik demi detik para murid sekte dan tetua sekte Shijing mulai berjatuhan. Namun yang paling mendominasi dalam membunuh mereka adalah Cao Yuan, Niu, serta Luo Luo.
Murid dan tetua sekte Shijing yang melihat tiga orang yang menurut mereka sungguh mengerikan terus terusan berlari kesana kesini, dan akibat itu mereka akan tewas karena ketidak siapan saat melihat pedang yang menodong didepan mereka yang membuat kepala mereka terlepas oleh tetua maupun murid sekte Pedang Naga Langit.
Pertarungan masih terjadi namun kini terlihat tersisa hanya ribuan anggota sekte Shijing yang masih bertahan. Banyak juga yang meminta pengampunan, namun Cao Yuan tak menghiraukan ucapan mereka dan terus membunuh tanpa sisa.
Hingga semuanya telah tewas, Niu, Luo Luo menghampiri Cao Yuan.
"Tuan muda! " ucap Niu salah panggil.
"Aish! untung saja tidak ada orang lain yang mendengar." ucap Cao Yuan sambil melihat sekitarnya.
"Tugas kita telah selesai, apakah kita dapat memasuki Dunia Jiwa? " ucap Niu.
Saat Cao Yuan akan membuka Dunia Jiwa, Guo Jing dan Chi Yue memanggil Cao Yuan.
"Adik! adik! " ucap Guo Jing.
Cao Yuan seketika membatalkan niatnya dan membalikan badannya melihat Guo Jing yang bersama Chi Yue berlari kearahnya.
"Ada apa kakak? " tanya Cao Yuan.
"Semua telah kami bunuh, lalu tugas apa lagi yang harus kita kerjakan? " tanya Guo Jing.
Cao Yuan mengangguk, kemudian dia berteriak menggunakan Qinya.
"Untuk para tetua dan murid yang mengalami luka ringan tolong kumpulkan Cincin ruang milik anggota sekte Shijing, dan kumpulkan mayat anggota sekte kita, serta yang mengalami luka parah silahkan kalian menuju halaman sekte! " ucap Cao Yuan menggema keseluruh sudut.
***
Maaf untuk hari ini hanya dua episode, badan author cape jadi gabisa maksa lagi.
Episode yang ini juga sepertinya kurang greget.
Mohon maaf ya teman teman, badan cape pemikirannya kurang inspirasi.