
"Fokuslah, aku akan memberikan sedikit Qiku untuk membantumu cepat menyembuhkan luka ditubuhmu. " ucap Cao Zhen Xin kemudian mendudukan She Luan.
Setelah itu, Cao Zhen Xin mengalirkan sisa Qi miliknya ketubuh She Luan. Qi hangat menyebar ke dalam tubuh She Luan, perlahan semua luka dalam, hingga luar mulai membaik seiring berjalannya waktu.
***
Di alam Dewa.
Cao Yuan, Kaisar Langit melakukan pertemuan secara khusus bersama dua belas Dewa utama. Cao Yuan juga mengundang naga hijau dalam pertemuan tersebut, sehingga kini Cao Zhen Xin tidak dalam pengawasannya.
****
Cao Zhen Xin yang terus melakukan transfer energi Qi kedalam tubuh She Luan tiba tiba terkejut setengah mati, sebuah telapak tangan yang mengandung racun beserta energi Qi yang besar tiba tiba menghantam punggungnya.
Baaaamsss!
"Ughhhh! " Sontak Cao Zhen Xin memuntahkan banyak darahnya, dibarengi She Luan yang sebentar lagi sembuh total kini ikut memuntahkan darahnya.
Dengan luka dalam yang dialami keduanya, dan sebuah racun tingkat tinggi yang masuk kedalam peraliran darah keduanya kini merasakan rasa yang sangat teramat sakit.
"Si-siapa ka..." ucap Cao Zhen Xin tiba tiba memuntahkan banyak darah kembali.
"Kau membunuh Tao Lifu karena itu aku menyerangmu. " ucap seseorang pria paruh baya menatwp keduanya dengan tajam.
Tiba tiba ia tersadar, wanita yang kini akan pingsan adalah She Luan, buronan yang berharga emas.
" She Luan. " ucap pria paruh baya yang tadinya sangat marah, kesal kini merubah ekspresinya menjadi sangat senang.
Cao Zhen Xin dengan sisa tenaga tanpa Qi yang ada ia langsung menelan tiga pill penyembuh tingkat Dewa miliknya.
Perlahan luka luar bekas hantaman pulih, namun racun tingkat tinggi yang telah masuk kedalam tubuhnya terus menyerang, seakan akan Pill yang ia telan tidak berfungsi menetralkan racun tersebut.
"Racun apa ini. " gumam Cao Zhen Xin mencoba bangkit menatap tajam pria paruh baya yang sedang menatap mereka berdua.
"Hahahaha aku sampai lupa, aku tahu kamu telah menelan Pill penyembuh, namun sayangnya racun yang aku berikan hanya dapat disembuhkan dengan Pill yang telah aku buat, dan itupun hanya ada satu. " ucap pria paruh baya.
Cao Zhen Xin dengan gigihnya terus mencoba bangkit, dan akhirnya ia bisa berdiri, wajahnya kini berubah datar mendengar hal tersebut.
"Apa kamu tak malu menyerang seorang secara diam diam. " ucap Cao Zhen Xin.
"Hahaha malu? Tentu tidak, karena kamu telah membunuh saudaraku mana bisa aku lepaskan begitu saja. " ucap pria paruh baya tersenyum mengerikan.
Cao Zhen Xin mencoba mengukur ranah kultivasinya, namun ia sama sekali tidak bisa merasakannya, sehingga ia harus berhati hati, karena salah satu langkah saja nyawa taruhannya.
"Katakan apa maumu. " ucap Cao Zhen Xin mengulur waktu untuk mencari cara kabur.
"Mauku? Hahaha tentu saja membunuhmu, tapi tenang She Luan tidak akan aku bunuh. " ucap pria paruh baya.
"Baiklah, aku akan menerima ajalku, namun..." ucap Cao Zhen Xin berakting ragu.
"Sudah mau mati saja ragu ragu, katakanlah akhir kata yang kau minta." ucap pria paruh baya tersenyum penuh kemenangan.
Cao Zhen Xin mengangguk, ia kemudian memeriksa cincin ruang berusaha mencari sebuah barang yang berguna. Melihat hal tersebut, pria paruh baya sedikit curiga.
"Ahhh ketemu. " ucap Cao Zhen Xin mengeluarkan bola kecil berwarna warni.
"Apakah disaat kematianmu kamu ingin bermain main? " ucap heran pria paruh baya.
"Tidak tidak, senior aku hanya ingin berpesan padamu, saat kematianku katakanlah pada She Luan, *** ini hadiah dari terakhir pertemuanku dengannya, namun aku ingin senior mempraktekannya sekarang agar nanti She Luan tidak kecewa dengan hadiah barang yang kuberikan. " ucap Cao Zhen Xin penuh harap.
Pria paruh baya kemudian mengambil bola yang ada ditangan Cao Zhen Xin.
"Memang bagaimana caranya? " ucap pria paruh baya.
Cao Zhen Xin yang kini sedang tertawa dihatinya kemudian menjelaskan secara detail.
"Baiklah aku sudah mengerti. " ucap sang pria paruh baya memasukan bola warna warni kedalam sakunya.
Setelah itu, tangannya ia angkat keatas kearah Cao Zhen Xin, sontak Cao Zhen Xin langsung menghentikan aksinya.
"Senior tunggu, lebih baik senior praktekan cara yang telah aku berikan, karena aku takut disaat She Luan mencariku, dan paman mencoba menghiburnya dengan barang yang aku berikan akan gagal. " ucap Cao Zhen Xin.
Dengan wajah gusar, pria paruh baya mengeluarkan bola warna warni tersebut. Melihat hal tersebut, Cao Zhen Xin bersiap mengeluarkan artefak khusus yang akan ia keluarkan.
"Bukankah ini hanya tinggal dipence..."
Baaammsss! Tiba tiba bola tersebut meledak menjadi kabut asap yang sangat tebal, tak hanya itu saja asap asap tersebut berwarna warni seperti warna yang ada disetiap bola kecil tersebut. Tanpa ingin buang waktu, Cao Zhen Xin mengeluarkan artefak pintu surgawi, artefak tingkat dewa yang berfungsi berpindah antar Benua yang diberikan oleh ayahnya. Dengan tenaga yang tersisa, Cao Zhen Xin juga membawa tubuh She Luan yang pingsan kedalam gerbang dimensi. Swuuuuush! Tubuhnya lenyap bersama dengan She Luan.
Merasa tertipu, pria paruh baya menggunakan kekuatan elemen anginnya untuk mengusir asap tersebut, namun saat asap warna warni menghilang, wajah pria paruh baya menjadi memerah karena marah.
"Arghhhhh! Kamu menipuku! " teriak menggema pria paruh baya.
Swuuuush! Tubuhnya lenyap berusaha mencari keberadaan mereka berdua. Cao Zhen Xin yang sedang membawa tubuh She Luan didalam portal dimensi yang menuju ke Benua yang entah kemana tujuannya, tiba tiba merasa racun yang ada ditubuhnya kembali bereaksi. Dengan sisa tenaga membawa tubuh She Luan, Cao Zhen Xin terus saja berjalan menuju titik sinar putih, atau ujung dimana ia akan keluar dari Benua tingkat Tinggi.
"Arghhh! Racun apa ini. " gumam Cao Zhen Xin kemdian mengeluarkan darah dari bibirnya perlahan.
Begitu juga dengan She Luan, namun yang jelas She Luan lebih parah dengan keadaan Cao Zhen Xin.
"Luaner bertahanlah, aku tau kamu dapat bertahan. " ucap Cao Zhen Xin menahan rasa sakit didalam tubuhnya, ia juga terus berusaha berjalan walaupun kapan saja tubuhnya bisa ambruk.
Wajah pucat keduanya terlihat, namun Cao Zhen Xin terus berusaha keluar dan mencari tempat untuk mencari tahu racun apa yang memasuki tubuhnya. Hingga tiba tiba ia telah sampai diujung lorong dan ia benar benar telah keluar dari gerbang dimensi.
Bruuuuughhh! Tubuhnya ambruk memeluk She Luan yang pingsan dengan darah menetes dibibirnya, wajah pucatnya pun sangat terlihat.