Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
19. She Yang menjadi walikota Jingse


Setelah semuanya usai, mereka semua akhirnya kembali memasuki tempat pelelangan senjata milik keluarga She. Mereka bertiga beristirahat, berbeda dengan Cao Zhen Xin yang memilih melanjutkan Kultivasinya yang tertunda.


Cao Zhen Xin yang berkultivasi terus menyerap energi didalam batu kehidupan, hingga batu kehidupan yang tadinya sangat keras terlihat keretakan dibagian bagian tertentu. Mentari terbit terasa sangat cepat, dan Cao Zhen Xin belum menghentikan Kultivasinya.


Kraaack! Baaaamsss! Pada akhirnya Cao Zhen Xin menembus ranah dewa sejati tingkat satu. Rasa senang, puas dan bahagia terlukis disenyum tampan yang ia perlihatkan.


"Akhirnya. " gumam Cao Zhen Xin menatap batu kehidupan yang telah hancur lebur ditangannya.


Cao Zhen Xin memang sangat pintar dalam pola berpikirnya, namun dia tidak memiliki keunikan ditubuhnya seperti ayahnya. Jika Cao Yuan bisa mengalahkan ranah kultivasi tiga tingkat diatasnya, Cao Zhen Xin tidak akan dapat melakukannya, ia bisa mengalahkan tiga tingkat diatasnya jika pedang emas telah ia genggam.


Tok! Tok! Tok.


"Zhen apakah kau sudah bangun. " ungkap She Luan.


Cao Zhen Xin kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Mata Zhen terbuka lebar melihat kecantikan She Luan, setelah melihat She Luan menggunakan gaun biru terang.


"Apakah aku melihat bidadari sepagi ini. " ucap Cao Zhen Xin menganga tak sadar.


Wajah She Luan memerah mendengar hal tersebut, sontak ia sendiri menjadi salah tingkah.


"Ehemm. " tiba tiba suara She Mei terdengar.


"Ehhhh. " Cao Zhen Xin tersadar akan keslahaannya.


"Awas jangan terlalu dalam menatapnya, nanti jatuh cinta. Hahaha cepatlah! Kita sarapan pagi. " ucap She Mei sedikit cekikikan melihat keduanya kini salah tingkah.


Mereka bertiga akhirnya menuju ruang makan yang ada ditempat lelang tersebut. Setelah itu mereka sarapan pagi dan kembali meminum arak, tak sadar Cao Zhen Xin yang tadinya tidak menyukai arak, kini ia mulai menyukainya.


"Paman apakah paman sudah bersiap menjadi walikota? " tanya She Mei menggoda.


"Tentu! " ucap semangat She Yang sambil meneguk gelas araknya.


Usai berbincang bincang, mereka kemudian bergegas menuju tempat rumah walikota Jingse yang lalu, karena mereka akan mengangkat She Yang menjadi walikota Jingse yang baru.


Sesampainya.


Para warga menatap heran dengan kehadiran She Yang, She Luan, She Mei yang masih hidup, kebanyakan dari mereka tidak tahu bahwa keluarga She memenangkan pertempuran tadi malam, hanya sedikit saja yang mengetahui hal tersebut.


"Hormat pada walikota Jingse, She Yang! " ucap tiga komandan prajurit kota Jingse membungkuk.


Sontak semuanya mengikuti komandan prajurit untuk memberikan hormat mereka. Dengan kewibawaannya sebagai mantan tetua keluarga She yang terkenal kekuatannya, She Yang menatap mereka dengan lembut.


"Terimakasih, hormat kalian aku terima. " ucap She Yang membangunkan semuanya.


"Aku She Yang mulai saaat ini akan memimpin kota Jingse, aku harap kalian dapat bekerja sama denganku membangun kota Jingse ini menjadi kota yang aman dan tentram. "


Mereka semua diam dan memberikan hormat mereka dengan khidmad, sebenarnya mereka sudah muak dengan walikota yang lama, namun tidak ada satupun warga yang dapat menggeser walikota Jingse yang lama, karena itu mereka hanya bisa diam akan apa yang dilakukan walikota Jingse yang lama.


"Apakah ada yang keberatan aku menjadi walikota kalian?" ucap She Yang.


Semuanya menggelengkan kepala mereka, mereka terus mendengar apa yang diucapkan dengan jelas oleh She Yang. Tidak ada penolakan, dan mulai perlahan para warga yakin bahwa She Yang adalah seorang yang bertanggung jawab. Aturan, serta beberapa nasehat diberikan oleh She Yang. Cao Zhen Xin kagum dengan pemikiran She Yang yang memiliki tujuan membuat kota Jingse menjadi kota yang aman dan tentram.


"Senior. " ucap Cao Zhen Xin mengangkat tangannya.


She Yang kemudian mendekat kearah Cao Zhen Xin. Cao Zhen Xin yang memikirkan Tao Li Fao kemudian memberikan rencana pada She Yang. Setelah semuanya ia berikan rencana yang telah dipikirkan, Cao Zhen Xin membiarkan She Yang membicarakan pada para warga untuk bekerja sama. Pengangkatan She Yang menjadi walikota berakhir dengan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun, para warga juga telah bersumpah setia pada She Yang. Dan kini kediaman walikota Jingse lama telah dimiliki seutuhnya oleh She Yang.


"Senior, aku hanya takut mereka akan memburu kalian. " ucap Cao Zhen Xin.


"Tenanglah, karena aku rasa idemu bagus juga. " ucap She Yang.


"Ingatlah paman, ide itu mungkin bagus, namun jika gagal nyawa senior lah yang akan menjadi taruhannya, karena..." ucap Cao Zhen Xin terpotong.


"Tunggu tunggu! Ranah kultivasimu..." ucap She Yang tersadar ranah kultivasi Cao Zhen Xin naik tingkat.


Cao Zhen Xin hanya tersenyum malu.


"Hehehe sudahlah paman, setelah ini aku akan melanjutkan perjalananku kebarat, jadi jaga diri kalian baik baik. " ucap Cao Zhen Xin sambil melirik She Luan yang cemberut.


She Mei yang memang kakak kandung She Luan peka terhadap perasaan adiknya.


"Zhen, apakah kamu mau menuruti satu permintaanku? " tanya She Mei.


"Katakanlah senior. " ucap ramah Cao Zhen Xin sambil menyeduh araknya.


"Kamu sudah tau bahwa nyawa kami akan terancam, karena itu aku memintamu membiarkan She Luan mengikutimu, apakah kamu bersedia. " ucap She Mei serius.


"Uughhh! " sontak Cao Zhen Xin yang sedang meneguk arak tersedak.


Berbeda dengan She Luan yang tadinya cemberut langsung memasang wajah melas, tak lupa ia memberikan senyum manisnya pada Cao Zhen Xin.


"A-aku.." ucap Cao Zhen Xin.


"Zhen tolonglah, aku rasa kamu adalah orang yang baik. " ucap She Mei terus merayu Cao Zhen Xin.


"Huhh! Baiklah baiklah. " ucap Cao Zhen Xin menghela napas.


Seketika She Yang, She Mei dan She Luan tersenyum senang mendengar hal tersebut.


"Luaner, kamu sudah dengarkan? " ucap She Mei menatap adiknya.


She Luan mengangguk, selang beberapa menit kembali berbincang, Cao Zhen Xin memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya.


"She Luan, mari. " ucap Cao Zhen Xin berpikir tidak ada salahnya didwlam perjalanannya memiliki satu teman.


****


Diatas langit yang cerah, Naga hijau utusan Cao Yuan cekikikan melihat apa yang terjadi pada Cao Zhen Xin.


"Tuan muda, apakah kau ingin memberikan kejutan calon istri pada ayahmu nanti. " ucap Naga hijau sambil memakan buah Dewa yang diberi oleh Cao Yuan.


***


Berita tentang kematiannya Tao Li Yao telah menyebar keseluruh kota yang ada diBenua tinggi, tidak hanya kota, kekaisaran, kerajaan, keluarga besar lainnya pun gempar dengan berita tersebut, berita tersebut tersebar setelah Tao Li Fao marah membuat kediamannya hancur, dari situ para warga mulai membicarakan kematian anak Tao Li Fao dan akhirnya menyebar.


Tao Li Fao meminta tetua keluarga Tao untuk berkumpul, ia mengumpulkan mereka semua untuk mencari sosok pemuda tampan berjubah biru terang yang tak lain Cao Zhen Xin, yang telah membunuh anaknya. Ia juga menyebarkan ribuan brosur kesegala penjuru Benua tinggi untuk menemukan Cao Zhen Xin.


***


Cao Zhen Xin bersama She Luan yang terlihat sepasang kekasih berjalan menuju kearah barat, dimana ia akan melewati beberapa kota dan kekaisaran yang memimpin kota kota dikekuasaannya sendiri