Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
Memberi pelajaran murid baru


Satu jam beristirahat Cao Yuan memimpin kelompoknya untuk kembali ke Sekte, sifatnya yang rendah hati membuat anggota sektenya sangat nyaman ketika berbincang bincang dengan Cao Yuan, walaupun tahta mereka berbeda bagaikan langit dan bumi.


"Ketua...." ucap salah satu murid.


"Sudah kukatakan beberapa kali, jangan panggil ketua, lebih baik panggil Tuan muda! " gerutu Cao Yuan.


Para murid pun menjadi canggung setelah mendengar gerutuan Cao Yuan. Selama perjalanan mereka tak menemukan sebuah masalah yang harus membuat mereka bertarung kembali, tapi firasat Cao Yuan kini sedang dilanda dengan kekhawatiran. Entah apa dia sendiri juga belum tau jelas apa yang membuatnya khawatir.


Setelah dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba digerbang sekte.


"Hormat pada Tuan muda! " ucap penjaga gerbang sambil memberikan hormatnya.


Cao Yuan hanya mengangguk saja, setelah itu ia berpisah dengan kelompok yang telah ia bantu untuk menghadapi kelompok yang menyerang anggota sektenya.


Karena kekhawatirannya yang tak bisa ia lupakan, dengan cepat ia menuju aula sekte untuk mencoba menanyakan apakah sekte dalam keadaan baik ataupun sebaliknya.


Para murid dan tetua yang melihat Cao Yuan dengan segera memberikan hormat untuk Ketua Sekte cilik mereka. Mereka yang sedang beraktivitas pun sama, seketika langsung menghentikan aktivitas dan langsung memberi hormat mereka.


Sesampainya di aula sekte, para tetua sekte ternyata sedang berkumpul. Ketika Cao Yuan memasuki ruangan, pemberian hormat untuk Ketua Sekte pun menggema diruangan itu.


"Hormat kami pada Tuan muda! " ucap mereka kompak.


Cao Yuan kemudian menganggukan kepalanya, dengan segera ia menuju kursi kehormatan sebagai Ketua Sekte.


"Apa ada kepentingan sehingga kalian berkumpul? " tanya Cao Yuan setelah duduk dikursi kehormatannya.


Para tetua saling pandang, kemudian tetua Lu Ye mewakili para tetua sekte maju menghadap pada Cao Yuan.


"Hormat saya pada Tuan muda! tugas yang tuan muda telah kami selesaikan dengan baik, tapi..." ucap Tetua Lu Ye terdiam.


Cao Yuan menyatukan alisnya karena tetua Lu Ye tak melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa? " tanya Cao Yuan heran.


"Tapi.... kita mendapat beberapa masalah kecil yang membuat kita harus turun tangan sendiri. " ucap tetua Lu Ye.


Tiba tiba Cao Yuan teringat dengan kejadian anggota sektenya diserang oleh kelompok orang tak dikenal.


"Apakah akhir akhir ini terjadi banyak penyerangan oleh kelompok tak dikenal? " ucap Cao Yuan membuat semua tetua kaget, karena yang mereka tahu Cao Yuan melakukan pengasingan diri selama satu bulan ini.


"Bagaimana tuan muda tau? " tanya tetua Lu Ye.


"Karena saat aku pulang ke sekte, aku juga membantu para anggota sekte yang sedang diserang oleh anggota tak dikenal." ucap Cao Yuan membuat semua tetua mengerti.


"Bagaimana dengan perekrutan murid? " tanya Cao Yuan kembali menatap para tetua.


"Kami telah membawa sekitar ratusan pemuda yang memang menginginkan masuk ke sekte kita." balas tetua Lu Ye.


"Hemm baiklah, sekarang kumpulkan semua murid serta tetua di halaman Sekte. " ucap Tegas Cao Yuan langsung pergi menuju kediamannya.


"Baik tuan muda! " ucap mereka semua kompak kemudian ikut membubarkan pertemuan itu.


Sampai di kediamannya sendiri Guo Jing dan Chi Yue ternyata sedang duduk didepan kediaman sambil berbincang bincang kecil, Cao Yuan kemudian menghampiri mereka berdua.


"Yuaner? " ucap Guo Jing dan Chi Yue yang melihat Cao Yuan menghampiri mereka.


Cao Yuan hanya mengangguk.


"Kami berdua baik baik saja " jawab Guo Jing sambil tersenyum.


"Kalian berkumpul ke halaman sekte dulu, karena ada sesuatu yang harus aku beritahu untuk semua anggota sekte. " ucap Cao Yuan.


Dan benar saja setelah ucapannya Cao Yuan, lonceng sekte berbunyi satu kali yang diartikan para anggota sekte dan juga tetua untuk berkumpul di halaman sekte.


"Baik! " jawab mereka berdua langsung bergegas menuju halaman sekte.


Sedangkan Cao Yuan sendiri memasuki kediamannya untuk mengganti jubahnya. Situasi halaman sekte kini terlihat ramai para murid serta tetua yang heran untuk apa mereka dikumpulkan kembali, tapi karena peraturan sekte membuat mereka mau tak mau harus mengikuti kegiatan tersebut.


Setelah menggunakan jubahnya Cao Yuan kini menuju halaman sekte, dan ketika ia sedang melewati banyak orang, seorang pemuda berumur lima belas tahun mendorong Cao Yuan.


Cao Yuan akhirnya tersungkur, para tetua dan murid yang mengenal Cao Yuan terlihat wajahnya memerah. Tapi dengan kode tangan yang diberikan ketua sekte membuat mereka diam.


"Huh sampah dari mana yang telah menghalangi jalanku! " ucap pemuda itu sambil menatap tajam Cao Yuan yang terlihat seperti seorang bocah kemarin.


Senyum kecil Cao Yuan sunggingkan, tetua dan murid yang mendengar ejekan murid baru tersebut ingin segera menampar pemuda itu, tapi lagi lagi Cao Yuan memberi kode untuk tetap tenang dengan tangannya.


Setelah berdiri, ia memandangi pemuda yang menabraknya.


"Memang kamu hebat? " tanya Cao Yuan merendah, karena ia hanya memperlihatkan ranah kultivasi baja tingkat satu.


"Tentu saja! aku adalah pemuda jenius dikotaku, sampah sepertimu mana cocok bersanding denganku! " ucap arogan pemuda itu.


Para tetua dan murid yang melihat kerendahan diri Cao Yuan hanya menggelengkan kepala mereka. Tetua Lu Ye yang melihat keributan kecil dengan cepat menghampiri keduannya tapi ia diberhentikan oleh salah satu tetua.


"Hehehe jika kamu jenius, ijinkanku melihat kemampuan terbaikmu, tapi....." ucap Cao Yuan terhenti.


"Tapi apa! " jawab pemuda itu dengan nada tinggi.


"Aku takut kamu tak mampu menyentuh bajuku! " ucap Cao Yuan dingin.


"Brengsek! " pemuda arogan itu terprovokasi dan langsung menyerang Cao Yuan.


Ranah kultivasi pemuda arogan tersebut ditingkat baja lima membuat Cao Yuan sedikit kagum, karena menurutnya pemuda itu tergolong jenius, tapi karena kesombongannya ia tidak tahu yang ia lawan kini adalah Cao Yuan sang ketua sekte Pedang Naga Langit. Ketua termuda diseluruh Dunia ini yang menjadi ketua sekte.


Dengan santainya Cao Yuan hanya menghindar tanpa menyerang.


"Apa hanya ini kemampuan yang kamu banggakan? " tanya Cao Yuan disela sela pertarungan.


Pemuda itu kini benar benar terlalap emosi.


"Berhenti menghindar! cepat serang aku! " ucap pemuda arogan tersebut.


Para murid dan tetua sekte hanya menggelengkan kepala mereka, tiba tiba suasana panas itu menjadi hening.


Swuuush! Baaams! kibasan tangan Cao Yuan membuat pemuda arogan tersebut terpental sejauh sepuluh meter.


Darah merah dari bibirnya pun keluar, ia juga merasakan rasa sakit yang baru pernah pemuda itu rasakan. Kini kearoganannya telah berubah menjadi seekor tikus yang melihat kucing didepannya.


"Apakah ini yang dinamakan jenius? kamu hanya seekor katak yang terjebak disumur tua. " ucap Cao Yuan langsung membalikan diri dan melanjutkan jalannya menuju kursi para tetua.


Pemuda itu hanya diam, rasa malu serta takut membuat pemuda tersebut tak berani untuk memandangi wajah Cao Yuan.