
Nenek tua hanya bisa mengangguk anggukan kepalanya.
"Namun kurasa kamu tidak akan pernah bertemu dengannya kembali. " ucap nenek tua merahasiakan sesuatu.
Sontak raut wajah Cao Zhen Xin berubah dan menatap lekat wajah nenek tua tersebut.
"Nek sepertinya nenek mengenal mereka berdua."
"Tentu, karena salah satu diantara mereka adalah suamiku. " ucap nenek tersebut.
Raut terkejut terlihat diwajah Cao Zhen Xin.
***
"Zheng! Apakah kau tak puas dengan kepergian istriku! " teriak Bing Yinshi yang sudah tidak tahan menahan panasnya serangan api Zheng Lian.
"Hahaha jika istrimu tewas mungkin saja aku tidak akan datang untuk berduel denganmu, namun sayangnya istrimu masih hidup, dan hal itu tak adil bagiku." jawab Zheng Lian.
"Baiklah jika begitu! " ucap Bing Yinshi harus ikutn bersungguh sungguh dalam bertarung.
Dhuaaar! Dhuaaar! Ledakan serta kekacauan terus terjadi didalam pulau es, keduanya melakukan serangan mematikan, namun kekuatan yang berimbang membuat mereka tidak ada yang terluka sama sekali.
Disisi lain.
Kedua Phoenix yang sebenarnya satu bangsa, namun beda elemen juga tak kalah menariknya dalam pertarungan mereka. Keduanya terus terbang kesana kemari dan menyerang dengan elemen yang mereka kuasai.
Luka juga terlihat pada tubuh kedua Phoenix, ranah kultivasi yang berada ditingkat Dewa Agung tingkat lima, keduanya terus melakukan pertempuran yang tak kalah mengerikan dari pertempuran majikan mereka masing masing.
"Teknik es abadi! " Bing Yinshi.
"Tubuh Api! " Zheng Lian.
Swoooosh! Dhuaaaar! Dhuaaaar! Ribuan pedang terbuat dari es muncul dan menyerang Zheng Lian yang kini tubuhnya terbakar oleh Api berwarna merah terang.
Dua elemen yang sebenarnya memiliki kelemahan dan sedikit kelebihan jika bertemu, membuat keduanya tak sama sekali terluka sedikitpun.
***
Cao Zhen Xin akhirnya mengerti, bahwa nenek disampingnya mantan istri Bing Yinshi atau pertapa es. Walaupun baru bertemu, keduanya menunjukan keakraban tersendiri.
"Nek, kedua kekuatan mereka berimbang, dan segala tekniknya pun sama. Aku rasa keduanya tidak akan ada yang keluar sebagai pemenang."
ucap Cao Zhen Xin.
"Benar apa katamu, aku menghentikannya pun percuma, kecuali..." ucap nenek yang bernama Shi Jie.
"Kecuali apa nek. " tanya Cao Zhen Xin.
"Kecuali aku mati ditangan Zheng Lian. " lanjut nenek Shi Jie.
Cao Zhen Xin mengangguk.
"Sungguh keputusan yang sangat sulit." ucap Cao Zhen Xin.
Dhuaaar! Baaaamss! Baaaaams! Ledakan terus menggema, menggetarkan bahkan melelehkan es yang ada didekat Zheng Lian yang kini tubuhnya sepenuhnya terbakar oleh elemennya sendiri.
"Bing Yinshi mari kita akhiri dendam lama. " ucap Zheng Lian.
"Baiklah Zheng Lian, aku juga tak sungkan jika harus mati bersamamu. " ucap Bing Yinshi.
"Teknik pengurung jiwa es! " teriak Bing Yinshi.
"Teknik api darah! " teriak Zheng Lian.
Keduanya mengeluarkan jurus pamungkas mereka, hingga keduanya menyerap seluruh energi langit dan bumi yang ada disekitar mereka, mendadak udara menjadi menipis akibat keduanya menyerap energi langit dan bumi secara ekstrem.
***
Cao Zhen Xin yang tak ingin kehilangan seorang yang dapat menyelamatkan She Luan juga menghilang lalu muncul bersama Shi Jie ditengah Zheng Lian dan Bing Yinshi yang akan mengeluarkan jurus paling mematikan yang dimiliki keduanya.
"Berhenti! " teriak Shi Jie menggema.
"Jier! " ucap Bing Yinshi mengurungkan niatnya.
Namun tidak dengan Zheng Lian yang bersiap melancarkan serangannya.
"Huh akhirnya kau datang juga. " ucap Zheng Lian datar.
Swooooosh! Baaaaamsss! Dhuaaaar! Serangan yang sangat cepat mengarah pada Shi Jie, namun melihat adanya Cao Zhen Xin, Shi Jie menyarangkan serangan tinju kearah Cao Zhen Xin yang menyebabkan Cao Zhen Xin terpental dan serangan Zheng Lian mengarah padanya.
"Jieer! " teriak Bing Yinshi juga ikut terpental karena daya kejut serangan dahsyat tersebut.
Cao Zhen Xin yang berhasil diselamatkan oleh Shi Jie walaupun ia harus menerima pukulan Shi Jie yang sangat keras hanya bisa diam melihat apa yang terjadi.
Tubuh Shi Jie masih utuh, namun terlihat jelas lukanya sangat parah. Sontak Bing Yinshi segera menangkap tubuh Shi Jie yang akan terjatuh.
"Gege aku tau sampai saat ini kamu masih mencintaiku, namun ini keputusanku dari pada aku harus kehilanganmu. " ucap pelan Shi Jie.
"Ughhh! " darah kental mengalir dari bibirnya.
"Jieer! Bertahanlah! " ucap Bing Yinshi.
"Apakah kamu mau menuruti permintaan terakhirku. " ucap Shi Jie.
"Katakanlah. " ucap Bing Yinshi sangat terpukul, karena ia sangat tahu luka yang dialami mantan istrinya yang sebenarnya ia masih mencintainya.
Shi Jie menunjuk Cao Zhen Xin yang sedang mencoba bangkit.
"Aku tau, aku akan membantunya tenang saja. " ucap Bing Yinshi.
Setelah itu Shi Jie tiba tiba memejamkan mata untuk terakhir kalinya.
"Jieeer! " teriak menggema Bing Yinshi.
"Hahaha pertapa es, apa yang kau rasakan telah aku rasakan sebelumnya, karena itu dendamku telah terbalaskan. " ucap pertapa api atau Zheng Lian.
Zheng Lian yang telah mengeluarkan seluruh energinya dalam menggunakan jurus pamungkasnya jatuh berlutut karena kehabisan Qi.
Zheng Lian menutup matanya, menahan rasa perih didadanya melihat seorang yang sebenarnya masih sangat ia cintai tewas didepan mata.
"Jieeeer! " teriak menggema tangisan Bing Yinshi.
Bing Yinshi yang terlarut akan kesedihannya kini mencoba bangkit dan menatap tajam Zheng Lian. Perlahan langkahnya mendekati tubuh Zheng Lian yang sedang berlutut.
"Hahaha bunuhlah aku, apakah kau tau puluhan tahun ini, aku harus memendam rasa malu yang sangat teramat dalam. Karena dendamku telah terbalaskan kematianku kini sudah bisa tenang. " ucap Zheng Lian pasrah.
Setelah sampai didepan Zheng Lian, Bing Yinshi mengangkat tangannya dan sebilah pedang terbuat dari es muncul digenggamnya. Cao Zhen Xin yang telah mengerti awal permasalahan mereka dari penjelasan Shi Jie kemudian berlari hendak menghentikan Bing Yinshi.
"Senior! " teriak Cao Zhen Xin menangkap lengan Bing Yinshi yang akan menghunuskan pedangnya kearah Zheng Lian.
"Anak muda aku akan membantumu, tapi kamu telah menghentikanku apakah kamu ingin aku mengingkari janji istriku. " ucap Bing Yinshi dingin.
"Senior! Semua ini telah diputuskan oleh mantan istri senior, sadarlah senior jika memang istri senior tidak menghentikan kalian berdua mengeluarkan jurus pamungkas, mungkin istri senior akan membunuh senior Zheng karena tidak ada perlawanan setelah mengeluarkan jurusnya."
"Dan istri senior akan hidup bersama senior dipulau ini dengan bahagia tanpa ada dendam yang akan datang kembali. Karena pilihannya adalah kematian tak lain untuk membuat kalian berdua kembali bersahabat seperti dulu kala. "
Bing Yinshi terdiam dan mencoba mencerna ucapan dikatakan oleh pemuda yang sedang menghentikan aksinya. Air matanya menetes, seakan akan semua beban yang pernah ia hadapi dan lewati tidak ada yang lebih berat kecuali mengikhlaskan kematian istrinya.
"Benar katamu, aku juga yang telah membunuh istri Zheng. "
Zheng Lian hanya diam menatap pasrah apa yang akan terjadi. Sebenarnya ia juga tak tega membunuh istri Bing Yinshi saudara perguruannya, namun karena dendam lama akibat Bing Yinshi membunuh istrinya ia melupakan persahabatan mereka dan memilih berada dijalan dendam yang sebenarnya hanya menambah permusuhan diantara mereka.