Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
Menteri Bao


Cao Yuan hanya mengangguk, berbeda dengan Lu Cheng yang dari tadi merasakan perasaan aneh, walaupun bisa dibilang baru kenal, namun melihat sepak terjang bocah didepannya yang berani menggeser kedudukan walikota, serta membantu kotanya dari serangan kelompok pembunuh bayangan membuatnya sedikit merasakan firasat buruk yang akan melibatkan dirinya.


Menunggu pesanan selama lima menit akhirnya, makanan dan minuman yang mereka berdua pesan telah siap di atas meja mereka.


"Paman! silahkan makan. " ucap Cao Yuan pada Lu Cheng.


Lu Cheng langsung memakan pesanannya, hingga ditengah asik mengisi perut mereka. Pintu kedai tiba tiba ditendang oleh prajurit yang membawa kelompoknya.


Jbraaag! pintu kedai sampai rusak ditendang oleh prajurit tersebut. Pemilik kedai tiba tiba langsung keluar dari dapur dan terdiam setelah melihat siapa pelakunya.


Cao Yuan sendiri hanya melirik dan diam diam mengukur ranah kultivasi mereka, seketika senyum jahatnya ia sunggingkan pada prajurit yang kini berbondong bondong memasuki kedai.


"Pak tua! hari ini utangmu harus dibayar! jika tidak kami akan mengobrak abrik serta menghancurkan kedaimu! " ucap salah satu prajurit.


Tak lama setelah semua prajurit memasuki kedai, pemuda berumur tujuh belas tahunan yang terlihat melingkarkan tangannya dikedua pinggang menatap kondisi kedai.


Cao Yuan masih tetap tenang walaupun kini ia telah dipelototi oleh pemuda tersebut. Pemilik kedai juga segera menghampiri Cao Yuan.


"Tuan muda! maaf lebih baik anda keluar dari kedai. " ucap Pemilik kedai dengan nada setengah berbisik.


Cao Yuan tak menanggapinya, dan benar saja tiba tiba pemuda yang datang bersama prajuritnya langsung menampar pemilik kedai hingga darah keluar dari hidungnya.


Plaaak! pemilik kedai seketika tersungkur ke lantai. Cao Yuan masih menikmati makanannya dengan tenang, namun berbeda dengan Lu Cheng yang kini tubuhnya gemetaran.


"Pak tua! apakah kau tuli! bagaimana dengan hutangmu! " ucap Pemuda berumur tujuh belas tahunan.


"Ma..a.f tuan m..u.da! sa..ya ti..d.ak memiliki uang sama sekali. " ucap pemilik kedai terbata bata dan melirik pemuda yang masih asik makan.


Pemuda tersebut kemudian mengangkat tubuh pemilik kedai secara paksa, dan ia ingin menampar lagi, tapi sebuah tangan mungil tiba tiba menghentikan lesatan tamparannya.


"Maaf tuan muda! saya sedang makan, jadi bisa tidak usah ganggu saya? " ucap Cao Yuan sambil menatap pemuda tersebut dengan tenang.


"Brengsek! apa peduliku! ini masalahku! bocah kemarin gausah sok jago! " ucap pemuda tersebut membentak Cao Yuan.


Cao Yuan masih tetap tenang dan menatap Lu Cheng yang badannya masih gemetaran.


"Yailah, gua juga gasuka kalo sedang asik makan diganggu seorang sampah sepertimu. " ucap Cao Yuan dingin, wajahnya kini berubah menjadi datar.


"Kurang ajar! " ucap pemuda tersebut langsung menampar Cao Yuan.


Namun dengan santai Cao Yuan langsung memelintir tangan pemuda tersebut hingga tulang patah terdengar oleh semua orang.


Kraaak! " Akkhhh! " pekik pemuda tersebut langsung mundur.


Para prajurit yang melihat anak dari petinggi kerajaan di patahkan tangannya oleh pemuda tak dikenal langsung mengepung Cao Yuan.


"Bunuh pemuda itu! aduh sakit. " ucap pemuda yang dipatahkan tangannya.


"Paman! jaga pemilik kedai! " ucap Cao Yuan kepada Lu Cheng.


Setelah itu Lu Cheng dengan cepat membawa tubuh pemilik kedai yang masih tersungkur untuk keluar dari kedai miliknya.


"Hanya melawan bocah sepertiku apa masih perlu mengeroyokku? " ucap Cao Yuan sambil tersenyum.


"Plesetan dengan ucapanmu! Prajurit! bunuh dia untukku! " ucap pemuda tersebut dengan nada marah, sambil memegangi tangannya yang mati rasa.


Seketika para prajurit langsung melesat dan mengarahkan pedang milik mereka ke arah Cao Yuan. Dengan santainya Cao Yuan menghindari serangan pedang yang mengarah padanya.


Swuuush! Baaams! tiba tiba baru beberapa gerakan, Cao Yuan langsung melesat dengan kecepatan diluar nalar, seketika ia langsung menghindari serangan para prajurit dan menuju ke tempat pemuda yang kini terpental akibat tendangan telak Cao Yuan mengenai perut pemuda tersebut.


Pemuda tersebut yang kini menabrak dinding kedai langsung memuntahkan darahnya, dan tanpa basa basi kembali Cao Yuan langsung menarik pedang yang digenggam prajurit dan langsung menusukan pedang tersebut ke arah perut pemuda itu.


"Akkhh! " pekik pemuda tersebut seketika langsung tewas.


Keributan mereka juga memancing para warga, hingga para prajurit kota Shao Ming berdatangan lalu mereka hanya diam melihat seorang pemuda tak mereka kenal membunuh anak dari salah satu petinggi yang disegani.


"Naas sekali pemuda tersebut berani membunuh anak petinggi kerajaan. "


"Masalah apa ya yang membuat pemuda tersebut membunuh tuan muda Kongli. "


"Sudah habis riwayat pemuda tersebut. "


Komentar para warga yang menonton. Cao Yuan tak menghiraukan komentar semua orang, namun kini ia menatap prajurit yang sepertinya kehilangan semangat bertarungnya.


Tiba tiba saja sebuah aura mengerikan melesat dari atap bangunan kota menuju kearah keributan tersebut. Cao Yuan hanya tersenyum, berbeda dengan Lu Cheng, Pemilik kedai, dan para prajurit yang mengenal aura tersebut.


"Mente..ri Ba..o! " ucap pemilik kedai merasa tertindas.


Tanpa bertanya Cao Yuan langsung keluar dari kedai, dan menatap sebuah bayangan yang melesat kearahnya.


"Alam dua! " gumam Cao Yuan.


Menteri Bao terus melesat kearah kedai karena melihat giok jiwa milik anaknya hancur, sehingga ia tak menghiraukan pertemuan yang dihadirinya dan segera mencari keberadaan anaknya. Namun ketika melihat keramaian ia segera memberhentikan ilmu meringankan tubuhnya dan memasuki kedai tanpa melirik semua orang yang ada didepan kedai.


"Tu..a..n muda! lebih baik anda lari saja, aku takut anda akan mati sia sia disini. " ucap Pemilik kedai yang benar benar melihat Menteri Bao telah mengecek keadaan anaknya.


Tak berselang lama, sebuah aura pembunuh yang kental keluar dari menteri Bao dan dia melirik semua orang hingga para prajurit yang seharusnya menjaga anaknya.


"Arghhh! siapaa! siapa yang membunuh anakku! " teriak menteri Bao dengan kemarahan yang tak bisa ia tahan lagi.


Semua orang yang tertindas dengan aura tersebut hanya bisa menahan getaran tubuh mereka, namun tak bisa bergerak. Hingga pada komandan kota, Lu Cheng juga sama, namun berbeda dengan Cao Yuan masih tetap tenang dan tersenyum melihat amarah Menteri Bao.


"Aku! " ucap Cao Yuan datar.


Seketika Menteri Bao menatap Cao Yuan dengan tajam, ia juga menaikan sebelah alisnya karena tak percaya dengan apa yang ia lihat, bagaimana pemuda yang memiliki ranah kultivasi baja lima mampu mengalahkan anaknya ditingkat Emas satu, apalagi pemuda yang ia lihat tak terluka sedikitpun.


"Aku sedang tak bercanda anak muda! " ucap Menteri Bao dingin.


"Aku juga tak becanda. " ucap Cao Yuan sambil menjulurkan lidahnya.


Seketika Menteri Bao menatap para prajurit hingga warga kota untuk memastikan kebenaran ucapan pemuda didepannya, namun mereka semua hanya bisa mengangguk saja.