Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
18. Kematian Walikota Jingse


"Hahaha aku beri kalian dua pilihan, kalian berdua melayaniku malam ini, atau..." ucap Walikota terpotong.


"Atau kamu hanya seorang walikota yang bodoh. " ucap Cao Zhen Xin menghilang lalu muncul tepat dihadapan walikota Jingse.


Baaaaamss! Dhuaaar! Gerakan yang sangat cepat membuat walikota Jingse tidak dapat menghindari serangan tersebut, namun sayangnya ranah kultivasi yang berbeda membuat walikota itu hanya terpental lima langkah saja.


"Dewa tingkat tiga ingin membunuhku, konyol. " ucap walikota mengibaskan bajunya.


"Mungkin jika aku tidak menggunakan pedang akulah yang tewas, tapi berbeda lagi jika aku menggunakan pedang ini. " ucap Cao Zhen Xin.


Swuuung! Pedang emas yang sangat elegan muncul ditangannya, pedang yang memiliki aura mendominasi.


"Tunggu apa lagi! Tangkap mereka! Dan biarkan pemuda ini menjadi mainanku. " uca walikota Jingse.


Swuuuush! Swuuuush! Prajurit serta komandan prajurit kota Jingse melesat sesuai arahan walikota.


Ctaaang! Ctiiiiing! Benturan pedang terdengar setelah mereka memulai pertempuran, namun sayangnya lawan mereka She Mei, She Luan, serta She Yang, yang memiliki ranah kultivasi diatas mereka, sehingga mereka tewas satu persatu oleh tiga keluarga She yang tersisa. Tak ingin ttinggal diam, Cao Zhen Xin juga ikut menyerang walikota Jingse.


Swuuuush! Swuuuush! Mereka berdua menghilang dan muncul diatas atap salah satu bangunan didekat mereka, walikota Jingse yang menganggap Cao Zhen Xin sebagai semut karena ranah kultivasinya lebih rendah hanya memegang janggutnya.


"Pergilah anak muda, aku akui keberanianmu itu, namun...." ucap walikota Jingse.


"Namun kamu seharusnya tidak merendahkan lawan yang telah siap melawanmu." balas Cao Zhen Xin kemudian menyerang walikota Jingse dengan pedangnya.


Walikota Jingse masih menghindari serangan pedang Cao Zhen Xin dengan baik, namun tiba tiba ia merasa aneh.


"Kecepatannya mengapa bisa bertambah. " gumam walikota heran.


Cao Zhen Xin terus menambah kecepatannya hingga membuat walikota Jingse terpojok. Karena menyepelekan lawan, walikota Jingse membuat celah diarea lengan kirinya, dan dengan cepat Cao Zhen Xin tak menyia nyiakan kesempatan tersebut.


Slaaaash! Walikota Jingse yang gelagapan dengan seluruh kecepatannya serta kelihaiannya langsung menghindari tebasan pedang yang mengarah pada lengan kirinya, tidak ada luka, namun jubah biru terangnya robek akibat goresan pedang emas milik pemuda didepannya.


"Arghhh! Kau merusak jubah mahalku. " ucap walikota marah.


Swuuungg! Walikota Jingse yang telah dibuat marah mengeluarkan pedang tingkat tinggi.


"Baiklah main main telah usai, saatnya membunuhmu. " ucap Walikota Jingse.


Cao Zhen Xin tersenyum, melihat pedang tingkat tinggi ditangan walikota yang membuat walikota percaya diri membuatnya ingin tertawa.


"Hahaha baiklah, aku juga tidak ingin disalahkan pedangmu itu yang akan patah. " ucap Cao Zhen Xin sedikit menjauh.


"Mau lari? " ucap walikota melesat mengejar Cao Zhen Xin.


Namun alangkah terkejutnya saat mengejar Cao Zhen Xin yang melesat, tiba tiba tubuhnya memutar dan berbalik melesat berlawanan arah, tak ingin mati konyol walikota Jingse memblokir serangan Cao Zhen Xin dengan pedangnya. Dua pedang bertemu membuat daya kejut terjadi, bangunan disekitarnya ambruk akibat hasil daya kejut tersebut.


Ctiiiing! Kraaaack! Klaaaang! Pedang milik walikota Jingse patah menjadi dua bagian.


"Ba-bagaimana bisa..." ucap tak menyangka walikota Jingse menatap pedangnya.


"Hahaha. " tawa Cao Zhen Xin kemudian menghilang lalu muncul dibelakang walikota Jingse yang masih tak yakin pedang tingkat tinggi dapat patah dengan satu benturan pedang.


"Jangan bergerak. " ucap Cao Zhen Xin kemudian menempelkan pedang dileher walikota Jingse.


Swuuuush! Tubuh mereka berdua menghilang, lalu muncul ditengah tengah pertarungan She Yang, Luan serta Yang.


"Berhenti, atau walikota jelek ini tewas ditangan ku. " ancam Cao Zhen Xin.


Sontak para prajurit serta komandan yang tersisa menghentikan pertarungan mereka. She Yang, She Luan, She Mei menghampiri Cao Zhen Xin yang menjadikan walikota Jingse menjadi tawanan.


"Bunuh lah emang mau kita makan. " ucap santai Cao Zhen Xin.


Slaaaash! Saat itu juga leher walikota Jingse terlepas dari tubuhnya. Para prajurit, serta komandan prajurit terdiam ngeri melihat janji palsu Cao Zhen Xin.


"Apakah kalian tahu alasan She Yang, She Mei, serta She Luan tidak membunuh kalian semua." ucap Cao Zhen Xin .


Para prajurit dan komandan prajurit menggelengkan kepala mereka bersama.


"Karena mereka tau betapa sakitnya kehilangan orang yang mereka sayangi, karena itu She Yang, Mei dan Luan tidak mau membunuh kalian, karena kalian hanya pion untuk dijadikan sebuah kekuatan oleh walikota busuk itu. " ucap Cao Zhen Xin.


Mereka semua tiba tiba tersadar akan sesuatu.


"Andai She Mei, She Yang, serta She Luan menggunakan kekuatan mereka, apakah kalian kini masih hidup? " tanya lagi Cao Zhen Xin.


"Maaf tuan muda, kami mengaku salah. " ucap prajurit dan komandan langsung menundukan wajah mereka.


"Bagus aku suka dengan kesadaran kalian, karena walikota Jingse telah tewas, maka cari saja pemimpin kota ini yang baru. " ucap Cao Zhen Xin.


Mereka semua saling pandang.


"Ma-maaf tu-tuan muda. " ucap salah satu komandan memberanikan diri.


"Katakan saja. " ucap Cao Zhen Xin.


"Menurutku dikota ini tidak ada yang dapat diandalkan menjadi walikota lagi. " ucap komandan tersebut.


Kini giliran Cao Zhen Xin yang melirik She Yang, She Mei, dan She Luan secara bergantian.


"Apakah ada ide. " tanya Cao Zhen Xin.


Mereka bertiga mengangkat bahu mereka secara bersamaan.


"Senior Yang apakah anda mau memimpin kota ini. " ucap Cao Zhen Xin.


"Aaaa...." ucap She Yang bingung.


"Hormat pada walikota Jingse yang baru , She Yang! " ucap para komandan prajurit tegas.


She Yang melotot mendengar hal tersebut. She Luan, She Mei tertawa, karena menurut mereka She Yang memang pantas menjabat menjadi walikota, karena She Yang sendiri orang yang tegas dan bijaksana.


"Terima saja paman, kapan lagi jadi seorang walikota. " goda She Luan.


"Apakah kalian yakin meminta senior She Yang memimpin kota ini. " tanya Cao Zhen Xin.


"Kami sangat yakin tuan muda! " ucap mereka kompak , karena mereka tau kinerja She Yang dalam mengelola lelang senjata. Apalagi She Yang memang salah satu petinggi penting di keluarga She selama bertahun tahun lalu. Maka alasan itu sangat kuat untuk mengangkat She Yang menjadi seorang walikota.


"Senior, kau memang sudah ditakdirkan menjadi walikota, dan mereka juga menginginkanmu. "


"Huhh! Baiklah, sekarang kalian kembali, besok pagi kumpulkan seluruh penduduk kota yang ada. Karena aku ingin memberikan beberapa peraturan baru yang ada dikota ini. " ucap She Yang .


"Baik! " ucap mereka bubar.


She Yang menatap dua ponakannya serta Cao Zhen Xin yang kini tersenyum senyum sendiri.


"Haiiissh! Wajah kalian ini.." gerutu She Yang.


Tanpa menjawab, mereka bertiga memberikan dua jempol kearah She Yang.