
Cao Yuan kemudian menghentikan langkahnya dan menatap dua Jendral tersebut.
"Aku Yuan, dan apakah kalian jendral dari kerajaan Shao? " ucap Cao Yuan yang ingin bertemu raja Shao.
"Tuan muda Yuan! terimakasih telah membongkar rencana jendral Kepa*at itu. Dan pertanyaan tuan muda memang kami berasal dari kerajaan Shao." balas Tyrant mewakili.
"Emm begitu yaa." ucap Cao Yuan berpura pura hendak pergi.
"Eehh.. tunggu tuan muda! karena tuan muda bisa dianggap sebagai bukti dari Jendral Laose yang menjebak kami berdua, apakah tuan muda mau menjadi saksi untuk kami. " ucap Jendral Liong.
Cao Yuan yang memang sengaja berpura pura, pun menganggukan kepalanya sebagai tanda menyetujui keputusan dua jendral tersebut.
Mereka bertiga akhirnya mengikuti para prajurit yang membawa Jendral Laose menuju kota Shao Ming.
Namun atas penjelasan yang diberikan oleh dua jendral tersebut, mereka harus melewati tiga kota terlebih dahulu. Cao Yuan tak mempermasalahkan itu, hanya saja ia kini sedang bingung dengan tiga jendral tersebut.
"Maaf jendral, apakah kalian yang berstatus jendral masih memikirkan kedudukan? " ucap Cao Yuan membuat dua jendral saling pandang.
"Menjadi sebuah jendral di dalam kerajaan adalah hal yang paling istimewa bagi kami bagi mantan masyarakat biasa, namun kami juga tidak terlalu mementingkan kedudukan sebagai jendral. Hanya saja memang ada beberapa jendral serta petinggi kerajaan yang haus akan kekuasaan, apalagi kami mendengar isu tentang pemberontakan yang akan terjadi oleh para menteri, mereka mencoba menjebak raja Shao namun kami selalu menemukan bukti pemberontakan tersebut sehingga saat ini raja Shao masih bisa tenang. Tapi entahlah hari besok dan seterusnya. " ucap Jendral Tyrant yang menjelaskan panjang lebar tentang situasi kerajaan.
Cao Yuan pun menganggukan kepalanya. Dan selama perjalanan selama satu jam akhirnya ia menemukan sebuah kota. Kota tersebut bisa dikatakan besar tapi terlihat sepi di gerbang masuk kota tersebut.
"Jendral, mengapa kota ini seperti kota mati? " tanya Cao Yuan heran.
Jendral Tyrant, dan Jendral Liong menghela napas secara bersama.
"Sebenarnya kami bertiga di tugaskan oleh Raja Shao untuk menyelamatkan para penduduk kota Liu dari teroran hewan Iblis yang sering mengamuk dikota ini. Namun kami semua sampai saat ini belum menemukan satupun hewan Iblis yang berani memasuki kota ini. Entahlah kami juga belum mengerti situasi kota Liu ini. " ucap Jendral Liong.
Cao Yuan terdiam, dan sebuah pikiran melintas dipikirannya.
"Apakah kalian mengerti watak jendral Laose? " ucap Cao Yuan membuat dua jendral tersebut menghentikan langkahnya.
"Jendral Laose terkenal sangat tegas, namun dalam ketegasannya dia adalah seorang yang sangat licik dan dia sangat haus akan kekuasaan. " ucap Jendral Tyrant yang disetujui oleh Jendral Liong.
"Emm, jika jendral bodoh itu licik, maka ini hanya sebagai pancingan untuk kalian keluar dari kerajaan agar saling membunuh, dan akhirnya dialah yang berkuasa sebagai jendral utama. " ucap Cao Yuan.
"Tapi saat ini kita masih belum menemukan bukti yang kuat. " ucap Jendral Tyrant sambil mendesah pelan.
Cao Yuan kembali terdiam, dan sebuah rencana terlintas dipikirannya.
"Jika memang Jendral Laose yang sengaja memancing kalian berdua untuk keluar dari kerajaan saling membunuh, bagaimana jika kita menyebarkan isu bahwa Jendral Laose adalah pengkhianat kerajaan? siapa tau dalang yang sebenarnya akan keluar. Dan aku menduga mungkin Jendral Liong bersekutu dengan seseorang yang mengendalikan Hewan Iblis tersebut. " ucap Cao Yuan membuat dua jendral itu kagum dengan kecerdikannya.
Setelah itu mereka bertiga pun memasuki kota, dan para penjaga gerbang kota pun membiarkan mereka bertiga masuk dengan bebas karena keberadaannya dua Jendral kerajaan tersebut.
"Tuan muda! bagaimana kita mengatur rencana di penginapan kami? " ucap Jendral Liong yang disetujui Jendral Tyrant.
"Emm baiklah, mari. " ucap Cao Yuan.
"Pelayan, ruang VIP apakah sepi? " tanya Jendral Tyrant pada seorang pelayan yang berjaga.
"Masih tuan! " jawab pelayan cepat dan hormat, karena takut menyinggung sang jendral.
Setelah itu mereka bertiga menuju ruangan VIP, sebuah ruangan yang mewah. Sang Pelayan pun menanyakan pesanan mereka.
Jendral Liong serta Tyrant menyerahkan semua pesanan pada Tuan Muda Yuan.
"Tuan muda, silahkan pesan makanan yang anda inginkan. " ucap Jendral Tyrant.
Setelah memesan, sang pelayan dengan cepat kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Melihat pelayan itu pergi Cao Yuan kemudian mengusulkan sebuah rencana.
"Jendral setelah ini tutup semua gerbang kota, dan jangan lupa perketat keamanan kota. Setelah itu kalian sebarkan berita tentang pengkhianatan sang Jendral Laose, aku harap dengan rencana awal ini, dalang dari semuanya akan menampakan diri. " ucap Cao Yuan.
Tiba tiba pesanan datang, tapi kini yang datang bukanlah pelayan yang tadi, melainkan seorang pria yang memiliki raut wajah sedikit bengis. Cao Yuan hanya memandangi sekilas, dia sedikit tersenyum pada pria tersebut, namun sang pria tersebut langsung pergi begitu saja.
Saat dua Jendral hendak memakan makanan yang telah siap, tangan Cao Yuan menghentikan tangan dua jendral tersebut.
"Ada apa tuan muda? " tanya Jendral Tyrant heran.
Cao Yuan kemudian mengambil sebuah jarum pendeteksi racun dari Cincin ruangnya, dan setelah itu satu persatu dari makanan dan minuman yang mereka pesan ia cek satu persatu.
"Makanan dan minuman semua yang ada disini sudah terkandung racun. " ucap Cao Yuan kemudian mengeluarkan tiga Pill penawar buatannya.
"Racun? " geram Jendral Tyrant yang hendak menanyakan pada pelayan, namun Cao Yuan menghentikannya.
"Jendral, makanlah Pill ini, setelah itu kita semua akan memakan makanan ini, dan setelah habis, kita berpura pura keracunan. " ucap Cao Yuan santai sambil menelan sebuah Pill penawar.
Dan setelah itu ia pun memakan hidangan makanan yang telah Ia pesan. Dua Jendral pun mengikuti rencana Cao Yuan. Sepuluh menit mereka makan, akhirnya makanan benar benar telah habis. Dan Cao Yuan menatap dua jendral lalu mengedipkan mata untuk memulai akting mereka.
Setelah mereka pura pura tak sadarkan diri, tiba tiba pintu terbuka dan munculnya prajurit dan jendral Laose serta seorang pria berjubah hitam yang muncul dari luar pintu.
"Hahaha, jika aku tak bisa menyingkirkan satu, maka aku juga bisa menyingkirkan dua orang! " ucap Jendral Laose menatap pria yang berjubah hitam.
"Tugasmu telah selesai, dan kedua jendral serta pemuda tersebut mana bisa menahan racun buatanku sendiri. " ucap Pria berjubah hitam sambil tersenyum.
Setelah itu mereka berdua menyuruh para prajurit untuk mengecek nadi dua Jendral dan satu pemuda yang telah menggagalkan rencanannya.
"Tetua sekte Shijing! terimakasih atas bantuan anda! " ucap Jendral Laose senang.
"Hahaha, inilah kami, sebuah sekte rahasia yang memiliki kekuatan terbesar diseluruh dunia. Ingat, ketika pemberontakanmu terhadap raja Shao berhasil, maka kamu harus dibawah kepemimpinan sekte Shijing. " ucap pria paruh baya tersebut.