
"Tapi disini bukan untuk bersenang senang ataupun lainnya, karena aku harus segera menuju kekaisaran Meiga. " gumam Cao Yuan kemudian menghampiri pedang penjual permen.
"Anak muda apakah anda mau membeli permen buatanku? " tanya sang pedagang.
Cao Yuan menggelengkan kepalanya, membuat wajah sang pedagang menjadi sedikit memerah.
"Jika begitu pergilah! Ngapain menghampiri daganganku jika kau tak membelinya. " ucap sang pedagang tidak ramah.
Cao Yuan menaikan alisnya, dan dia tidak mempermasalahkannya sama sekali, karena malas melihat ketidak ramahan sang pedagang, Cao Yuan mencari pedagang lainnya untuk mencari info kemana ia harus melanjutkan perjalanan menuju ke Kaisaran Meiga. Tak jauh dari tempat pedagang permen, Cao Yuan melihat seorang ibu ibu yang tengah berjualan sayuran biasa.
"Bibi? Arah menuju kekaisaran Meiga aku harus menuju kearah mana? " tanya Cao Yuan.
"Oh Kekaisaran Meiga? Tuan muda silahkan keluar dari kerajaan Lao Tao, setelah itu tuan muda tinggal menuju timur sekitar seribu kilometer, tuan muda juga harus melewati beberapa kerajaan dan kota lainnya. " ucap sang pedagang ramah.
Cao Yuan mengangguk dan kemudian mengeluarkan tiga keping emas dari sakunya.
"Mohon bibi terima. " ucap Cao Yuan menyodorkan tiga keping emas tersebut.
"Ti-tidak usah tuan muda! Saya juga ikhlas tanpa meminta imbalan. " ucap sang pedagang menolak.
Cao Yuan menggelengkan kepalanya, dan kemudian menaruh tiga keping emas di atas dagangan pedagang tersebut. Setelah itu ia kemudian berjalan menuju gerbang pintu keluar masuk kerajaan Lao Tao, walaupun masih jauh karena dirinya saja belum mencapai istana yang terdapat di kerajaan Lao Tao.
Namun dia tidak sadar, pedagang permen kini menatap kepergiannya dengan tatapan serakah.
"Hehehe ternyata dia orang kaya, tunggu saja sebentar lagi hartamu akan menjadi miliku." ucap dalam hati pedagang permen kemudian memasukan semua dagangannya dan setelah itu ia mengikuti arah yang Cao Yuan tuju yaitu keluar dari kerajaan Lao Tao.
Selang lima belas menit berjalan, Cao Yuan akhirnya sampai di pintu keluar masuk gerbang kerajaan Lao Tao. Karena ia keluar dari kota ia tidak mendapatkan penjagaan yang ketat, sehingga kini ia telah keluar dari kerajaan Lao Tao dan menuju kearah timur yang ditunjukan oleh pedagang yang ia tanyai saat di kerajaan Lao Tao. Namun ditengah perjalanannya, ia merasakan tiga aura Alam tingkat lima mengikuti dirinya.
"Hemm, sepertinya kalian ingin mendapat hadiah dariku. " ucap Cao Yuan dalam hati kemudian memasuki hutan yang sepi.
Sesampai di kedalaman hutan.
"Keluarlah! " ucap Cao Yuan keras.
Swuuush! Swuuush! Swussssh! tiga pria yang salah satunya Cao Yuan sedikit kenali muncul.
"Ada apa kalian mengikutiku? " tanya Cao Yuan menaikan sebelah alisnya.
"Hehehe ternyata anak muda jaman sekarang tidak suka berbasa basi dahulu ya. " ucap salah satu pria.
Cao Yuan masih tetap tenang menatap ketiga pria yang memiliki ranah alam lima tersebut. Bahkan ia tidak menganggap kehadiran mereka dengan serius.
"Baiklah kami mengikutimu karena kami menginginkan Cincin ruang yang ada dijari manismu itu. " ucap pedagang permen sambil menunjuk cincin ruang milik Cao Yuan.
Senyum tengil ia perlihatkan pada tiga pria didepannya.
"Oowhh paman ingin cincin ini? " ucap Cao Yuan sambil mengalirkan elemen petirnya kedalam Cincin ruangnya.
Ketiga pria tersebut seketika tersenyum melihat pemuda didepannya akan memberikan cincin ruangnya. Setelah melepas cincin ruangnya Cao Yuan langsung melemparkan kearah salah satu pria didepannya.
"Tangkap! " ucap Cao Yuan.
Traaaakkk! "Arghhh!" ucap salah satu pria yang menangkap cincin ruang yang dilemparkan oleh Cao Yuan, pria tersebut seketika tubuhnya menjadi kebas dan untungnya Cao Yuan tidak memberikan kekuatan elemen petirnya lebih dari sepuluh persen sehingga membuat pria tersebut masih sadarkan diri.
Cao Yuan yang ditunjuk oleh pria tersebut kemudian menaikan bahunya.
"Paman! aku sudah baik hati padamu looo." ucap Cao Yuan sedikit menahan tawa.
Dua pria yang melihat temannya sepertinya marah dengan pemuda yang telah memberikan cincin ruangnya menjadi kebingungan.
"Sudahlah! Lebih baik tinggalkan saja dia, kita juga sudah dapat apa yang kita inginkan. " ucap salah satu yang merasa bosan.
Dua orang lainnya mengangguk dan akan pergi begitu saja, namun sebelum mengangkat kaki mereka, suara Cao Yuan kembali terdengar ditelinga mereka.
"Tunggu! Siapa yang memperbolehkan kalian pergi? " ucap Cao Yuan nadanya menjadi dingin.
Tiga orang tersebut saling pandang, tiba tiba mereka bertiga tertawa yang membuat Cao Yuan menaikan sebelah alisnya.
"Hahahahaha! Bocah bocah! " ucap pedang permen.
"Seharusnya kamu bersyukur kamu tidak kami bunuh, dan sekarang kau malah mencoba menghentikan kami? " ucap pedagang permen itu lagi.
Cao Yuan masih tetap tenang dengan matanya yang tajam menatap ketiga pria tersebut.
"Kalian sudah menginginkan barang yang kalian mau, dan seharusnya kalian juga menuruti permintaan kecilku. " ucap Cao Yuan dengan nada dingin.
Tiga pria tersebut masih saling berpandangan dan kembali menatap Cao Yuan.
"Apa permintaan kecilmu itu? " tanya sang pedagang permen.
"Nyawa kalian bertiga. " ucap Cao Yuan langsung mengibaskan tangannya.
Swuuush! Swuuush! Swuuush! Tiga telapak tangan dari langit muncul mengarah pada tiga pria yang kini terkejut.
"Awas! " teriak sang pedagang permen menghindari telapak tangan yang mengarah padanya.
Baaaams! Baaaams! Namun naas dua temannya tidak menghindari serangan kejutan tersebut dan membuat dua temannya itu menjadi kabut darah. Pedagang permen yang melihat temannya tewas langsung mengeluarkan ranah Kultivasinya serta aura membunuh yang pekat. Cao Yuan sedikit merinding merasakan aura tersebut, namun itu hanya seperkian detik saja karena aura Naganya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Ternyata kalian pembunuh berdarah dingin, entah berapa manusia yang telah kalian rampok dan juga bunuh, namun mungkin ini perjalanan akhir bagi kejahatan kalian. " ucap Cao Yuan dingin.
Aura pembunuh yang sangat kental dapat diartikan bahwa pria didepannya sudah membunuh lebih dari seratus orang. Sehingga Cao Yuan berpikir bahwa pria didepannya bagaikan iblis yang pantas ia bunuh.
"Jika begitu mari kita bertarung. " ucap pedagang permen langsung menghentakan kakinya dan melesat serta melancarkan tinju kosongnya kearah wajah Cao Yuan.
Melihat pria didepannya langsung menyerang, Cao Yuan tetap diam dan menunggu tinju pria tersebut hampir mengenai wajahnya. Baaaams! Dhuaaar! Cao Yuan memblokir tinju pria tersebut dengan telapak tangannya, daya kejut pun membuat udara disekitarnya bergetar. Cao Yuan yang memblokir tinju tersebut nyatanya kini masih menggenggam erat tinju tersebut.
"Ada yang ingin kau katakan terakhir kali. " ucap Cao Yuan sinis.
"Arghhhhh! Bocah sontoloyo! " teriak Pria tersebut mencoba melepaskan tangannya. Namun semakin ia memberontak genggaman erat pemuda didepannya semakin menjadi jadi.
"Sudahlah! Tidak pantas membuang waktu untuk membunuh semut sepertimu. " ucap Cao Yuan kemudian mengalirkan dua elemen berbeda kearah tangannya yang membuat pria yang kini tangannya digenggam Cao Yuan merasakan dua sensasi sakit yang berbeda.
Panas dan tentunya sengatan petir yang sungguh membuat tubuhnya terasa sangat kebas. Traaak! Swuuush! Baaaams! setelah itu tubuh pria didepannya meledak menjadi kabut darah. Cao Yuan masih diam dan selang beberapa detik ia memunguti tiga cincin ruang milik mereka dan Cincin ruangnya yang sempat ia pinjamkan kepada tiga orang yang telah ia bunuh.
"Ternyata benar! Harta mereka sangatlah banyak, mungkin semua ini hasil merampok dari banyaknya korban yang mereka rampok. " ucap dalam hati Cao Yuan setelah memeriksa satu persatu Cincin ruang milik mereka bertiga.