
Cao Yuan kini memperagakan pola mantra yang sedikit mirip dengan buatan mantra di air terjun tersebut. Namun saat gerakan terakhirnya, sebuah serangan bola terbuat dari Qi melesat kearahnya dengan kecepatan puncak.
Swuuuush! Dhuaaar! Cao Yuan dengan sigap dengan sisa Qi miliknya segera menghentakan kakinya dan melompat untuk bersalto kebelakang untuk menghindari serangan kejutan tersebut.
"Siapa yang menyerangku secara diam diam! " ucap Cao Yuan mengedarkan kekuatan jiwanya.
Tidak adanya jawaban dari pertanyaannya mata Cao Yuan mengadahkan kepalanya menghadap langit.
"Keluarlah! aku sudah tau keberadaanmu! " ucap Cao Yuan asal menebak.
"Hahahahahaa! " tiba tiba sebuah tawa menggema diarea Cao Yuan terdengar.
Namun dengan sikap tenang Cao Yuan, tawa tersebut terhenti.
"Hebat juga kau anak muda! baru kali ini ada yang mengetahui keberadaanku!" ucap lagi sosok yang tidak ada wujudnya.
Swuuuush! Tiba tiba muncul sosok kakek kakek berjanggut putih dengan tongkat yang memiliki corak naga di ujung tongkat tersebut. Cao Yuan hanya menatap tajam kakek tua tersebut, namun dirinya tak menurunkan kewaspadaannya terhadap kakek itu.
"Anak muda! buang tatapan curigamu padaku! " ucap kakek tersebut menghela napas sejenak melihat Cao Yuan terus menatap tajam dirinya.
"Bagaimana aku tidak curiga padamu? kamu bahkan menyerangku secara tiba tiba, seandainya aku tidak menghindar maka bisa bisa aku akan terluka. " ucap Cao Yuan sinis.
Kakek tua tersebut hanya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Katakan saja apa tujuanmu! " ucap Cao Yuan tanpa sopan santun.
Sang kakek tua tersebut menaikan alisnya seketika.
"Hahahaha lalu untuk apa kau ingin menghancurkan mantra formasi yang melindungi kediamanku? " tanya sang Kakek tersebut masih menaikan sebelah alisnya.
Cao Yuan terkejut, namun dirinya dapat menutupi raut wajah keterkejutannya dengan baik.
"Aku hanya penasaran saja, lagian aku tidak memiliki niat jahat sedikitpun! " ucap Cao Yuan diam diam mengumpulkan energi Qinya, karena ia dapat melihat ranah kultivasi kakek tersebut diranah surga puncak.
"Heemm alasan yang masuk akal, namun aku curiga tentang identitasmu itu. " ucap sang kakek tersebut menyeringai.
Cao Yuan terdiam, dia tidak memiliki alasan yang tepat, karena disamping ia harus fokus mengumpulkan energi Qi yang cukup, dirinya juga harus fokus terhadap percakapan dengan kakek tua yang entah akan bisa menjadi lawannya.
" Kakek! sudah kubilang aku hanya penasaran! Apakah aku boleh pergi dari tempat ini? Jika aku memiliki salah padamu aku akan minta maaf. " ucap Cao Yuan kemudian memberi hormat dengan cara menangkupkan tinjunya.
"Heemmm.. Aku suka denganmu yang tau aturan, namun tidak semudah itu jika aku harus melepasmu karena telah mengetahui keberadaan ku. " ucap Kakek tua itu.
Cao Yuan masih berusaha tenang, perlahan Qi miliknya juga telah terbentuk melalui nafasnya dan energi Langit serta bumi yang ada disekitarnya dibuat menjadi Qi melalui hidungnya.
"Kek? Sudahkah anda bertele telenya? Aku ingin melanjutkan perjalananku! jadi aku akan pergi. " ucap Cao Yuan kemudian bersiap siap untuk melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Siapa yang memperbolehkanmu untuk pergi? aku sang Kultivator Tongkat Naga tidak akan memperbolehkanmu pergi dari tempat ini! " ucap sang kakek tersebut kemudian menatap tajam Cao Yuan.
"Lalu? Kakek mau apa? " tanya Cao Yuan dingin, raut wajahnya juga menjadi datar.
Cao Yuan yang telah mengumpulkan sedikit Qi hanya bisa menghindar serangan mendadak tersebut, dia kini juga masih berfokus dalam penyerapan energi Qi kedalam dantiannya melalui hidungnya. Terasa sulit Cao Yuan harus membagi fokusnya, satu untuk mengumpulkan Qi, satu lagi untuk menghindari serangan dengan kecepatan surga puncak.
Walaupun kecepatan kakek tua tersebut terlihat dimata Cao Yuan bagaikan siput, namun tidak memungkinkan Cao Yuan untuk membalas serangan tanpa menggunakan energi Qi untuk melumpuhkan kakek tua itu. Kini Cao Yuan hanya bisa menghindar hingga sang kakek tua tersebut benar benar marah.
"Bre*gsek! apakah kau hanya bisa menghindar anak muda! " ucap kakek tua tersebut sambil menajamkan matanya ketika menatap mata Cao Yuan.
Cao Yuan tak menghiraukan perkataan kakek tua tersebut, namun dirinya masih terfokus dalam menghindari serangan serta mengumpulkan energi Qinya. Pertukaran serangan masih berlalu hingga 100 serangan telah terlewat.
"Jika itu maumu akan aku kabulkan kakek tua bau tanah! " ucap Cao Yuan yang telah mengumpulkan tiga ratus lingkaran Qi.
Dengan Qi sebegitu kecilnya, Cao Yuan kemudian menghentakan kakinya, sang kakek tua itu tidak dapat melihat pergerakan Cao Yuan yang tiba tiba berada dibelakangnya.
"Awas! " ucap Cao Yuan.
Baaaaams! Dhuaaar! sang kakek tersebut seketika terpental kearah depan sejauh lima meter.
"Ughhh! ternyata pemuda itu sangat hebat. " ucap Kakek tua tersebut yang merasa sakit dipunggungnya.
Cao Yuan sekali lagi menghentakan kakinya dan muncul didepan kakek tersebut.
"Maaf kelancanganku kek! " ucap Cao Yuan tiba tiba langsung kembali melancarkan tinjunya kewajah kakek tua tersebut.
Baaaams! Dhuaaar! Ledakan kembali terjadi, namun Cao Yuan menghentikan aksinya dan menatap sang kakek tersebut dengan tenang.
"Kakek! aku tidak tau masalah apa kakek ingin membunuhku, namun aku tidak bisa membiarkan kakek melukaiku tanpa alasan. " ucap Cao Yuan kemudian kembali melesat.
Sang kakek langsung menyeimbangkan tubuhnya, seketika melihat serangan tinju dari pemuda didepannya, Kakek itu langsung memutar tongkatnya untuk menepis tinjuan dari pemuda yang ia serang.
Pertempuran mereka semakin menjadi jadi, Cao Yuan terus saja menggempur kakek tersebut dengan tangan kosongnya. Hingga sebuah jurus yang telah lama tak ia gunakan akhirnya ia gunakan juga.
"Gerakan Dua Puluh Naga! " teriak Cao Yuan kemudian kecepatannya meningkat, serangan yang tidak bisa ditebak membuat sang kakek bertambah kewalahan dalam menghindari serta memblokir serangan yang menuju kearahnya.
"Argghhh! Seratus Gerakan Tongkat Naga! " teriak kakek tersebut marah ketika ia hanya bisa menghindari serangan pemuda tersebut tanpa dapat membalas serangan.
Dua jurus yang bertemu dengan menggunakan gerakan masing masing beradu, namun terlihat jelas bahwa jurus yang dikeluarkan kakek tersebut banyak memiliki celah membuat jurus Dua Puluh Naga Cao Yuan sangat mudah dalam memblokir dan menyarangkan serangannya.
Swuuush! Baaaams! Dhuaaar! sang kakek tersebut seketika terpental setelah tangan dari Cao Yuan mampir di perutnya.
"Argghh! siapa sebenarnya kamu anak muda! " ucap sang kakek tersebut sambil mengelap darah merah yang keluar dari bibirnya.
"Cao Yuan. " ucap Cao Yuan dingin.
"Jika kakek tidak terus memaksaku aku tidak mungkin akan melukai kakek, tapi melihat kakek sepertinya ingin membunuhku maka aku tidak akan tinggal diam. " ucap Cao Yuan kembali melesat.
Baaaams! Dhuaaar! sang kakek yang sudah melihat pemuda tampan tersebut melesat kearahnya segera memblokir serangan tinju dengan tongkat Naganya, namun saat berbenturan sekujur tubuhnya merasa sangat kebas, tak memungkinkan bahwa dirinya pun terhempas kebelakang sejauh dua puluh meter. Jelas dapat diartikan ranah kultivasi pemuda didepannya berada jauh diatasnya, namun kakek tersebut tidak mengerti bahwa ranah kultivasi pemuda didepannya sama dengan ranah kultivasinya. Hanya saja saat ini Cao Yuan memiliki sedikit Qi sehingga Cao Yuan tak bisa langsung membunuh kakek tersebut.