
"Tapi kakak.." ucap She Luan tak ingin meninggalkan semua orang.
"Luaner, ingatlah kedatangan Tao Li Yao hanya ingin menikahimu, dan...." ucap She Yang terpotong.
"Cukup paman! Aku telah memutuskan demi keamanan kalian, aku akan menerima lamaran Tao Li Yao. " ucap She Luan.
"Luaner! " bentak She Mei tak terima.
"Kakak...." ucap She Luan bersedih.
"Dengarkan ucapan kakakmu ini, mereka telah membunuh orang tua kita, mereka juga telah membuat kita harus bersembunyi seperti ini, bahkan kini ia meminta kamu untuk menjadi istrinya. Ingatlah Luaner, aku She Mei pemimpin keluarga She saat ini tidak akan pernah merestui hubungan kalian. " ucap She Mei keras, ia sendiri tak tega, namun keras kepala Luan sungguh membuatnya pusing tujuh keliling.
Ditengah perbincangan panas mereka, tiba tiba lonceng kota berbunyi tiga kali.
Dooong! Dooong! Doongg! Sontak penduduk kota segera keluar ditengah malam tersebut dengan perasaan khawatir, bagaimana tidak lonceng tiga kali tersebut pertanda peperangan akan terjadi.
"Keluarga She keluarlah dari kota Jingse atau kota ini akan menjadi ladang pembantaian oleh keluargaku. " teriak menggema keseluruh kota.
***
Ditengah asiknya berkultivasi, tiba tiba ia mendengar tiga kali lonceng menggema.
"Arghhh kota apa ini, ditengah malam begini mengganggu saja. " gerutu Cao Zhen Xin ingin kembali memejamkan matanya melanjutkan Kultivasinya.
"Keluarga She keluarlah dari kota Jingse atau kota ini akan menjadi ladang pembantaian oleh keluargaku. " teriak menggema keseluruh kota.
Mata Cao Zhen Xin kembali terbuka, dengan emosi yang meluap luap.
"Arghhh tidak bisakah orang itu diam. " ucap Cao Zhen Xin berdiri dan membuka jendela menatap kearah gerbang kota.
Matanya terbuka lebar, nyatanya para penduduk sedang berlari lari membawa barang mereka dan berdesakan keluar kota melewati gerbang Utara yang saat ini sangat ramai .
"Apa yang sebenarnya terjadi. " Cao Zhen Xin penasaran.
Meskipun emosinya masih meluap luap, karena ia sendiri harus menghentikan Kultivasinya padahal sedikit lagi ia menembus tingkat dewa sejati satu.
Swuuuush! Tubuhnya menghilang dan muncul didepan gerbang timur kota Jingse. Munculnya Cao Zhen Xin membuat keluarga She yang tersisa terkejut, terutama She Mei dan She Luan yang mengira Cao Zhen Xin telah meninggalkan kota.
"Apa yang telah terjadi? " tanya Cao Zhen Xin.
"Pergilah, ini bukan urusanmu. " tolak She Mei tak ingin mengikut sertakan orang lain.
Cao Zhen Xin menatap She Luan yang matanya memerah.
"Apa yang sebenarnya terjadi. " ucap Cao Zhen Xin bingung.
Karena ia tidak mendapat respon yang baik oleh She Mei dan Luan, ia melangkahkan kakinya kembali ke dalam kota. Namun langkahnya terhenti setelah She Mei muncul didepannya dan bersujud didepannya.
"Tu-tuan muda, aku tahu kamu orang baik, apakah kamu mau menerima satu permintaanku. " ucap She Mei masih bersujud.
"Nona Mei, apa yang kamu lakukan, cepat berdiri dan katakan apa permintaanmu. " ucap Cao Zhen Xin serius.
She Mei mengalihkan perhatiannya pada paman She Yang. She Yang yang mengerti kode She Mei segera menotok aliran darah She Luan dengan cepat. Swuuuush! She Yang membawa tubuh She Luan yang mematung.
"Tu-tuan aku ingin kau membawa adikku ketempat yang jauh dari sini, apakah..." ucap She Mei terpotong.
"Sebenarnya apa yang terjadi, katakan saja penjelasannya. " ucap Cao Zhen Xin.
Swuuuush! Swuuuush! Tiba tiba ratusan keluarga Tao yang dipimpin oleh Tao Li Yao anak dari pemimpin keluarga Tao muncul.
"Tuan muda, cepatlah aku tak memiliki banyak waktu. Ini cincin ruang, berikan pada adikku untuk biaya hidupnya. " ucap She Mei memberikan cincin ruang.
"Apa yang harus aku lakukan. " ucap lirih Cao Zhen Xin menatap She Luan yang kini meneteskan air matanya, namun ia sendiri tidak bisa berbuat apa apa karena peraliran darahnya disumbat.
Melihat sekitarnya, kedua alis Cao Zhen Xin menyatu melihat ratusan orang yang tiba tiba muncul didepan She Mei dan She Yang. Dengan kepintarannya, ia segera dapat menyimpulkan situasi yang terjadi. Tanpa persetujuan She Luan, ia langsung membopong tubuh She Luan dan menghilang lalu terbang menjauh dari kota Jingse. Kini mata mereka berdua bertatap tatapan saat terbang.
"Aku tidak tahu apa masalah yang terjadi, namun sepertinya kamu dalam bahaya, jadi aku harus membawamu pergi. " ucap Cao Zhen Xin pergi dengan kecepatan maksimalnya.
Air mata She Luan terus mengalir kepipi, sehingga Cao Zhen Xin menghentikan terbangnya dan turun dihutan yang entah ia sendiri tidak mengetahui namanya. Swuuush! Swuuush! Dengan segera ia menotok peraliran darah She Luan.
"Katakan sebenarnya ada masalah apa? " tanya Cao Zhen Xin.
She Luan mengelap air matanya, setelah itu ia menjelaskan semua masalah dengan singkat. Cao Zhen Xin mengepal tangannya.
"Tuan muda, biarkan aku membantu kakakku. " ucap She Luan hendak terbang.
"Tunggu! " ucap Cao Zhen Xin.
Sontak She Luan menghentikan keinginannya dan matanya kembali bertatap tatapan.
"Ada apa tuan muda. " ucap She Luan.
"Kamu tidak akan kesana sendiri, aku akan menemanimu. " ucap Cao Zhen Xin serius.
"Tuan, aku benar benar tidak ingin merepotkan mu, silahkan kamu melanjutkan perjalananmu. " ucap She Luan menghentakan kakinya terbang ke langit.
"Heemm. " hanya itu saja yang keluar dari mulut Cao Zhen Xin.
Swuuuush! Setelah itu ia menghentakan kakinya dan menyusul She Luan yang kembali ke gerbang kota Jingse.
***
She Yang dan She Mei yang tidak ingin memberikan adiknya kepada Tao Li Yao kini bertempur melawan ratusan anggota keluarga Tao. Li Yao yang mengamati pertempuran mencoba mencari keberadaan She Luan.
"Mei! Yang! Dimana Luaner! " ucap keras menggema Li Yao.
"Hahahaha untuk apa mencarinya, karena aku telah menyembunyikannya disuatu tempat yang tidak bisa kamu jangkau. " ucap She Yang.
"Bedebah! " teriak Li Yao menghilang lalu muncul didepan She Yang dengan mencengkeram lehernya.
"Katakan dimana Luaner! " ucap She Yang.
"Apakah karena ranah kultivasimu yang tinggi dapat membunuhku seperti semut, dengan begitu aku mau memberitahu keberadaannya. " ucap She Yang.
Berbeda dengan She Mei yang sedang melawan puluhan anggota keluarga Tao, ia terus membunuh hingga muncul tiga tetua berkekuatan Dewa sejati tingkat lima menghentikan aksi She Mei.
"Cantik, kenapa kamu sangat mengerikan. " ucap salah satu tetua.
"Diam bedebah! " ucap She Mei menghunuskan pedangnya kearah tiga tetua.
"She Yang jawablah, atau tangan kirimu akan ku hancurkan. " ucap Li Yao.
"Cih! " ludahan She Yang.
"Hitungan ketiga kamu tidak mau memberitahunya maka tanganmu benar benar aku hancurkan. "
"Satu."
"Dua!"
"Ti..." ucap Li Yao tiba tiba terhenti.