Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 98 Bersenang-senang


Liyura dan yang lainnya masih bersantai di dalam Magic Forest sebelum Liyura akhirnya memutuskan untuk ke dunia luar.


"Baiklah. Amon dan Fiona, sebagai pengikutku sekarang kalian akan ikut bersamaku ke dunia luar lagi. Dan untuk Kenzie dan Vyone, untuk sementara kalian di sini saja, maaf jika aku menarik perintahku lagi mengenai menghancurkan Tempat Pelelangan. Kupikir, mereka berdua bisa menggantikan kalian untuk melakukannya."


Fiona dan Amon terkejut, "K-kami menghancurkan Tempat Pelelangan?"


Liyura tersenyum, "Apa ada yang salah? Kalian punya dendam pada Vampir, kan? Jadi kalian dapat bersenang-senang dengan menghancurkan mereka."


Fiona memandang Liyura yang berekspresi datar. Entah apa yang di lalui oleh gadis seperti Liyura yang dapat mengatakan hal seperti Pembantaian dengan sebutan Bersenang-senang.


"Baiklah, kami akan melakukannya."


Amon lebih terkejut lagi saat Fiona setuju. Bagaimanapun, pemuda itu akan menuruti permintaan Liyura serta Fiona.


Liyura akhirnya membawa mereka keluar dari dalam Magic Forest ke dunia luar. Liyura dan dua orang itu muncul di samping bangunan yang megah yang tidak jauh dari letak Castle.


"Kalian bisa langsung memulainya."


Liyura hanya berbalik dan memilih duduk di sebuah bangku yang agak jauh. Dia sepertinya menyukai Castle yang berdiri megah di samping bangunan Tempat Pelelangan.


"Bagaimana bisa? Kami saja tidak bisa lepas dari mereka, apalagi jika kami membunuh mereka."


Amon terlihat takut dan gemetar. Membayangkan dirinya membunuh adalah suatu mimpi terburuk yang di alaminya.


"Mau ku ajari?"


Liyura terlihat berekspresi datar. Dia merasa tidak akan menyesal jika membunuh Vampir, karena makhluk itu telah membuat seluruh Ras hanya sebagai mainan saja.


Apalagi Ras manusia. Liyura yang sekarang memang tidak pantas di sebut Manusia. Namun, dirinya di dunia nyata adalah termasuk Ras itu. Dia belum menemukan jati dirinya yang sekarang.


Tapi jika untuk membunuh para Vampir, entah kenapa hatinya telah membeku untuk bersimpati. Yang ada di pikiran dan instingnya hanyalah membunuh.


Bahkan Pedang emas Excalibur yang ada di pinggangnya seolah bergetar dan menginginkan pertumpahan darah. Liyura di butakan oleh itu semua, oleh gejolak aneh yang akan membuatnya seperti Iblis berwajah Malaikat.


Liyura akhirnya berdiri. Dia melihat suasana tampak hening. Dia menarik Pedang emasnya dari sarung yang terkait di pinggang, lalu menggunakan Skillnya secara otomatis tanpa aba-aba.


"Gold Wave!"


Sebuah pancaran gelombang terlihat sangat mematikan mengarah pada bangunan Tempat Pelelangan hingga membuatnya meledak seperti tersulut oleh api dan Bom.


Amon dan Fiona menelan saliva mereka. Bisa di bilang, jika mungkin Liyura telah membunuh sebagian Vampir di dalam sana.


Para Vampir yang melihat Tempat Pelelangan hancur berantakan dan terbakar, segera saja menatap Liyura dan seolah marah.


Mereka segera saja menyerang Liyura sekejap kemudian karena merasakan ancaman saat gadis itu menghancurkan Tempat Pelelangan. Liyura tidak terkejut dan berhasil mengantisipasi serangan tersebut dengan menyerang balik.


Dakam sekejap, para Vampir berkumpul untuk melawan Liyura secara bersama. Namun karena kalian telah tahu kemampuan Liyura, maka kalian pasti sangat nengetahui seberapa besar kekuatan gadis itu hingga sekarang.


Liyura menggunakan kuda-kuda terbaik yang dimilikinya untuk menyerang. Dan tidak butuh waktu lama, saat Pedang emas itu di ayunkan, semua Vampir yang bergerak untuk melawan menjadi terpental.


Fiona dan Amon terlihat terkejut dan takjub. Tapi mereka melihat jika Vampir lainnya juga berniat menyerang mereka membuat Fiona langsung dalam mode waspada. Dia memang belum pernah membunuh tapi dia akan mencobanya sekarang karena cara satu-satunya untuk membunuh Vampir itu adalah memikirkan tentang Ras Demi-Human nya yang terbunuh karena para Vampir di depannya membuat dadanya merasakan perasaan gejolak aneh dan sesak saat itu juga.


Perasaan itu kemudian berkumpul dan menjadi satu dalam dirinya membuatnya memiliki perasaan amarah untuk di jadikan kekuatan tempurnya. Dia tidak mau menjadi lemah lagi. Dia ingin membalaskan dendamnya!


Wujud Fiona perlahan berubah, wajahnya yang cantik sudah tidak ada lagi, hanya wajah yang mengerikan dan membuat semua yang menatapnya menjadi merinding. Kali ini jiwanya di kuasai oleh sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya---yang memang sudah menunggu untuk terbangun sejak lama.


Jiwa Liar nya sebagai seorang Ras Demi-Human atau Manusia setengah Hewan. Saat dia dalam mode normal, maka dia akan memiliki jiwa seperti manusia dan akan berpikir melalui logika dan perasaan, namun saat ini bukan Jiwa Manusia nya lagi yang menguasai dirinya, tapi jiwa dirinya sebagai setengah Hewan seperti Singa Betina yang mencoba berburu dan menangkap mangsanya menggunakan Insting, sebelum mangsanya di tangkap atau mati, dia tidak akan pernah melepaskannya sedikitpun dan beralih pada mangsa lain.


Jiwa Setengah Hewan yang dimiliki oleh Fiona membuat Aura pembunuh sangat pekat keluar dari dirinya hingga membuat Amon bergidik dan serasa ingin pingsan akibat tidak kuat menerimanya, Aura yang hanya di peruntukkan untuk membunuh Para Vampir hingga ke akar-akarnya. Karena itulah Amon juga merasakannya, karena dalam dirinya juga mengalir darah Monster Haus Darah itu. Secara otomatis Aura itu juga dapat berdampak padanya.


Fiona merasakan suatu perasaan yang amat membuatnya bergairah untuk membunuh dan memburu mangsanya. Dia tidak memikirkan apa-apa lagi dan langsung menyerang dengan kuku-kuku panjang nya yang tajam yang entah sejak kapan muncul di antara kuku yang tadinya masih normal.


Fiona yang hanya bersenjatakan kuku panjang dan fisiknya saja ternyata sangat ampuh untuk membunuh dan mencabik para Vampir yang mendekatinya. Liyura yang merasa tidak ingin ikut campur segera saja menjauh dan melayang ke atas pohon tinggi di dekat Tempat Pelelangan yang di hancurkan dan telah berkobar di selubungi oleh api panas.


"Bersenang-senang lah, dan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang kalian tunggu-tunggu untuk membalas dendam kecuali hari ini dan sekarang, karena pertempuran ini sebenarnya hanyalah pemanasan saja. Kalian akan lebih lelah lagi saat pertarungan selanjutnya."


Liyura segera menghilang secepat kilat ke arah Castle hitam pekat dengan Panji-panji bergerak seiring dengan angin yang berkibar dengan jaya.


Liyura segera saja menjatuhkan Panji-panji itu dan segera menghancurkannya dengan cepat lalu masuk ke Castle tanpa permisi setelah membunuh para pengawal yang melihatnya dengan pedang emas di tangannya.


Liyura melihat ke arah sekitar dan memanjat dinding Castle dari dalam karena Liyura sama sekali tidak menemukan adanya tangga untuk membawanya ke menara di atas sana yang menjadi puncak Castle.


Setelah memanjat, Liyura mengeluarkan Skill Wings Angel nya untuk terbang di atas Menara dan melihat sekitar Castle yang sangat kacau akibat amukan Fiona. Liyura juga melihat Amon terlihat ikut bergabung dengan Fiona dengan membunuh Para Vampir yang ada di mana-mana.


Liyura kemudian menatap langit, dia tersenyum saat melihat Ryan dan Arend terbang menuju ke arahnya.


"Woiii!!! Nona Liyura! Apa yang Nona lakukan tanpa membiarkan kami bergabung?!!"


Liyura melambaikan tangannya pada Ryan, "Kalau begitu ayo Bersenang-senang!"


Ryan dan Arend terbang dengan cepat, dan Ryan mengulurkan tangannya pada Liyura dengan kecepatan terbang Arend di atas rata-rata. Liyura memegangi dengan cepat uluran tangan Ryan dan menonaktifkan Skill Angel Wings nya. Gadis itu malah memilih untuk terbang bergelantungan dengan tangan Ryan sebagai tali penghubungnya agar tidak jatuh.


"Nona! Naiklah!"


Liyura menggeleng dan malah menyuruh Arend untuk turun membuat Burung Elang Harpa besar itu segera menurutinya. Arend dengan tatapan jahil segera saja terbang dengan kecepatan penuh membuat Ryan sulit untuk memegangi Liyura dengan erat.


Lalu dengan kecepatan yang tinggi pula Arend segera mendarat membuat tanah yang di injaknya berbunyi 'Bum' yang membuat para Vampir menoleh ke arahnya. Bahkan bisa di lihat tanah yang di pijaki Arend terlihat retak.


Segera saja Liyura turun lebih dulu dan melepaskan tautan tangannya dari Ryan. Ryan juga terlihat turun membuat Arend langsung berubah menjadi wujud manusianya yang tampan.


Ryan menatap marah pada Arend karena tadi dia hampir membuat dirinya dan Liyura terjatuh akibat kecepatan terbangnya. Arend menyengir seolah tidak bersalah, dia menggunakan Sihirnya ke arah Ryan membuat pemuda itu terkejut, tapi ternyata Arend melakukannya karena para Vampir terlihat akan menyerang pemuda itu.


Ryan menghela nafas saat melihat Vampir itu langsung hangus seketika setelah Arend menggunakan Sihirnya.


"Aku jadi bertanya-tanya, kenapa bisa Ras mu kalah dari para Vampir jika kekuatan Sihirmu saja se-kuat ini, Arend?"


Liyura langsung terbahak menahan tawanya, "Vampir yang kita hadapi dan dia hadapi itu sama. Bukan Vampir gila yang menyerang kita dengan membabi-buta seperti yang kita saksikan di depan ini. Namun, yang akan kita lawan adalah Vampir waras yang Psikopat dengan menginginkan pertumpahan darah di antara para Ras dan membuat mereka melemah hingga Ras Vampir lah yang menjadi yang terkuat."


Ryan mengerjap, entah kenapa di saat bertarung seperti ini, dia merasa tenang dan tidak khawatir selama ada Liyura dan Arend yang akan selalu menjadi tameng pelindung dirinya. Ryan tersadar saat Arend menyentil dahinya membuat pemuda itu mengaduh.


"Aduh, sakit!" Ryan mengelus dahinya dan bertanya, "Baiklah, kalau begitu, kita jadi bersenang-senang atau tidak?"


Arend kali ini tersenyum, "Kau bisa memulainya lebih dulu Ryan."


Ryan segera saja mengangguk dan menarik Katana Hitam pekat nya dari dalam sarung pedang.


"Hidup pengikut Nona Liyura!"


Liyira membelalak saat mendengar teriakan Ryan menggema di seluruh penjuru karena pemuda itu menggunakan Sihir yang dapat membuat suaranya menjadi sangat besar dan kencang.


Setelah itu, Ryan segera saja menebas dan menggunakan Sihirnya untuk membuat para Vampir tumbang dan terbunuh. Ini adalah pertarungan besar pertama yang Ryan alami. Tapi pemuda itu terlihat bersemangat hingga detak jantungnya berdetak lebih cepat yang biasanya menandakan perasaan khawatir, melainkan perasaan gairah membunuh untuk segera membalaskan dendam atas kematian keluarganya.


Liyura juga ikut membasmi para Vampir yang seperti menjadi gila karena gadis itu menghancurkan Tempat Pelelangan.


Liyura akhirnya melihat---melihat sesosok yang seolah di carinya selama ini. Pandangan gadis itu mengarah padanya, pada sesosok gadis cantik yang berpura-pura di siksa oleh Qin. Ya, dia adalah Vampir Bulan Sabit, Rena.