Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 107 Ruth, Aura Sihir, dan Witch Hunter


Liyura melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Erza yang tiba-tiba menunduk ternyata menitikkan air matanya. Itu membuat gadis itu tidak percaya apa yang di lihatnya membuatnya mengerjap, dan menatap fokus sang Elder Ras Burung Hantu.


"Dia ... menangis?"


Ryan yang juga melihatnya hanya terbelalak, "Anda benar, Nona. Nona Erza sedang menangis, apa dia sedang mengingat masa lalunya?"


Perkataan Ryan mengundang tanda tanya pada Aver, "Itu mungkin saja. Karena yang kutahu, dia sangat marah pada Vampir Bulan itu, dan amarahnya akan sulit kita hentikan jika dia benar-benar serius, karena Elder dari Ras Burung Hantu adalah makhluk yang di cintai oleh Mana."


Vyone mengangguk, "Benar sekali. Aku setuju, apa yang akan kita lakukan, Master? Apa kita biarkan saja dia atau kita akan bersenang-senang dengan para Vampir?"


Semuanya terdiam---menunggu perintah dari Liyura. Gadis itu juga terdiam dan tidak memikirkan perkataan yang ada di sekitarnya.


"Liyura?"


Aver mencoba memanggil Liyura karena gadis itu seakan terpaku dengan hanya menatap Erza. Waktu seakan membeku saat itu juga, dan semuanya terhenti.


"Pembalasan dendam sesungguhnya, tidaklah harus ada. Apapun itu, kita bisa saling memaafkan. Namun, kita juga makhluk hidup, meskipun kita bukan manusia yang selalu salah dan benar di setiap waktu, kita juga dapat seperti mereka yang terkadang memiliki emosi dan perasaan. Semua dapat kita selesaikan baik-baik, tapi kita memilih untuk membalas menyakiti orang lain dengan apa yang terjadi pada kita. Tidak ada yang boleh egois, karena dengan begitu, rasa nasionalisme di antara perbedaan makhluk dan ras, akan renggang dan akan terjadi perpecahan yang mengakibatkan perang yang tidak akan kunjung berakhir."


"Maka, yang harus kita lakukan, adalah saling memaafkan dan melupakan yang terjadi. Tapi jika perasaan dendam tersebut masih ada, ingatlah, ingatlah selalu, kenangan indah yang pernah di lakukan, mungkin itu akan membantu, luka yang tidak berdarah yang tidak sengaja tertoreh."


"Apapun itu, tersenyumlah, dan sambut hari esok dengan gembira, hilangkanlah, segala sesuatu yang membuat hati sesak, karena sesungguhnya itu hanya akan membuat kita tersiksa. Masa depan menanti, takdir menunggu untuk hadir, masa lalu ada untuk di kenang dan bukannya untuk di ulang."


Liyura menatap ke arah Erza kembali, dia melihat sesosok Naga transparan berwarna Putih terang. Mata Liyura membulat karena menyadari jika waktu terhenti.


"Sang Iblis berwajah Malaikat, terlahir dari jutaan penderitaan dan kebahagiaan setiap Ras dan Makhluk yang berbeda di Mozart. Untuk itulah, Sang Dewa Kematian sekalipun, akan tunduk padanya sesuai perjanjian di Prasasti yang telah mereka buat sendiri. Dengan Kontrak Nyawa."


"Sang Takdir---"


"Siapa kau? Apa kau sedang berbicara padaku?"


"---Telah membawa suatu tatanan baru di Mozart, dan semua harus mematuhinya sebagaimana keinginannya bagi yang terpilih. Suatu kemungkinan, sebuah monarki akan tercipta dengan sendirinya dalam Under World yang ia ciptakan."


"Kubilang siapa dirimu? Dan kau Ras Naga?! Bagaimana bisa Ras Naga ada di sini?!"


Liyura terlihat kesal karena perkataannya sama sekali tidak di hiraukan sedikitpun. Naga putih transparan itu menegakkan tubuhnya dan mendekat ke arah Liyura dengan tubuh besarnya yang agung.


"Namaku, Ruth. Aku adalah salah satu di balik Magnet yang terhubung dengan Raios. Kudeta yang di lakukan oleh makhluk Under World membuat Ras kami terbagi menjadi dua Faksi. Faksi ku dan Faksi-Nya. Dan 'Sang Takdir' lah yang akan membantu kami menyelesaikannya setelah membangkitkan Sang Dewa Kematian."


Mata Liyura berkedut kesal. Tangannya terlihat mengepal namun dalam sekejap ia menghela nafas.


"Baiklah, Ruth. Dari tadi kau bicara apa?"


Ruth akhirnya terdiam. Dia mengeluarkan cahaya dari mulutnya hingga cahaya itu melayang dengan sendirinya menuju ke arah Liyura. Lalu, tiba-tiba cahaya itu masuk ke dalam tubuh gadis itu membuat Liyura terkejut.


"Itu adalah sebagian jiwaku. Dan itu akan berguna suatu hari nanti. Tidak ada manusia yang boleh melihat dan berbicara pada Naga, atau manusia itu akan meninggal dalam sekejap karena tidak kuasa dengan Aura mendominasinya. Kita akan bertemu lagi, L-I-Y-U-R-A."


Dan saat itu pula, Naga putih itu perlahan menghilang dan tersapu angin dalam sekejap. Waktu berjalan normal lagi seakan menit-menit yang di jalani Liyura, tidak pernah terjadi.


"Kau kenapa, Liyura?!"


Aver terlihat melihat Liyura dengan pandangan khawatirnya. Hingga akhirnya gadis itu tersadar sepenuhmya seolah ia baru saja bangun tidur dari mimpinya.


"Tidak apa. Apa yang kalian katakan tadi?"


Ryan terlihat khawatir dan curiga jika Liyura menyembunyikan sesuatu, tapi ia langsung saja cepat tanggap memahaminya, asalkan itu tidak akan mengganggu kefokusan Liyura saat ini.


"Kami bertanya, apa yang akan kita lakukan?"


Aver terlihat tidak peduli meakipun ia merasakan hal yang sama dengan Ryan. Ia adalah makhluk yang paling berfikiran positif se-Mozart.


"Kalian lakukan sesuka hati kalian. Mau itu berperang bersama Vampir itu atau melakukan sesuatu pada Erza dan siapa namanya tadi? Varam? Terserah saja."


Ryan menjadi bingung, Liyura seakan menjadi berbeda. Tapi ia mengiyakannya. Aver langsung saja memberi perintah.


"Kalau begitu, bunuh semua Vampir."


Mereka semua mengangguk, bahkan Vyone dan Kenzie. Tidak terkecuali Fiona dan Amon yang sedari tadi diam. Aver menyuruh mereka semua untuk berpencar karena para Vampir yang akan mereka habisi, mungkin hampir mencapai ribuan.


"Oh ya, Ryan. Kau cari bersama 'Si Elang' keberadaan Raja Ras yang memenjarakan Jenderal Wisteria. Keluarkan Dobutsu mu itu, dia akan lebih berguna untuk mencari dari atas."


Aver terlihat hampir berlari namun ia terhenti kembali.


"Dan Ryan ..." Ryan menatap Aver kembali, "Bawa gadis di belakangmu itu, yang menjadi Tuan dari Elder Ras Burung Hantu. Untuk sementara, Elder akan tetap seperti itu sampai ia menyelesaikan pertarungannya. Sedangkan Liyura, dia sedang menyembunyikan suatu hal dari kita, jadi untuk sekarang biarkan dia sendiri dulu."


Ryan akhirnya mengangguk. Dia menatap Celine dan akhirnya mengeluarkan Arend dari dalam Katana hitamnya.


"Awas kau, ya! Akan ku hukum kalau sampai aku di paksa masuk kembali!"


Arend terlihat cemberut yang seolah bercanda, namun saat melihat ekspresi Ryan, ia menjadi serius.


"Apa yang terjadi?"


Arend melihat ekspresi Ryan terlihat kosong. Saat menatap balik Arend, tatapannya seakan tatapan seekor Monster. Arend yang melihatnya menjadi bergidik sesaat, dia merasakan Aura hitam kental milik Ryan tiba-tiba saja keluar menyeruak hingga Arend dan Celine terpaksa melangkah mundur dengan refleks.


Aura Sihir adalah Aura yang hanya di pancarkan oleh Penyihir atau Ahli Sihir. Untuk Ryan, karena dia menguasai hal-hal semacam Sihir, maka dia juga mempunyai Aura Sihir dalam dirinya yang memancarkan inti Mana nya.


Aura Sihir biasanya hanya terpancar ketika pengguna dalam suatu emosi tidak menentu untuk yang kesekian kali. Aura hitam pekat milik Ryan, di artikan jika dirinya benar-benar marah, kesal, dan emosi negatif lainnya, sesuatu dengan Inti Mananya yaitu Sihir Hitam. Lalu, untuk Aura berwarna putih adalah kebalikannya. (Jangan lupakan Ryan mempunyai 2 inti Sihir dalam dirinya)


Ryan terlihat sadar kembali beberapa saat kemudian, membuat Arend menghela nafas dan segera menghampirinya.


"Jangan melepas Aura Sihir mu sembarangan. Itu akan mengundang musuh yang kuat---Para Witch Hunter."


"Witch Hunter?"


Arend mengangguk, "Para Pemburu Penyihir. Meskipun kita berada di Lantai 2 yang di juluki Lantai tanpa Sihir, ketika menyadari adanya Aura Sihir bahkan di tempat tersembunyi di Mozart pun, para Witch Hunter akan dapat menemukannya. Berbeda saat kita melakukan Sihir dan Mantra, Aura Sihir pertanda undangan kematian untuk para Witch Hunter."


Ryan terdiam, dia terlihat hampir syok dan terkejut. Wajar saja dia masih pemula dalam hal Sihir karena baru mempelajarinya meskipun telah berkembang pesat.


"Aku mengerti, Arend. Terima kasih telah memberitahuku. Banyak hal yang harus kuketahui jika aku ingin tetap berada di sisi Nona Liyura."


Arend hanya mengangguk, rasa marahnya hilang seketika. Bagaimanapun juga, sebagai Dobutsu dari pemuda di hadapannya ini, dia sangat bertanggung jawab untuk melindunginya.


"Sepertinya Nona mu itu berperilaku aneh, ada apa dengannya?"


Saat melihat Ryan tersadar, ia segera melihat Liyura yang sedari tadi hanya duduk diam di tanah dengan menunduk. Entah apa yang di pikirkannya. Ryan menjawab dengan gelengan lemah ke arah Arend. Sebenarnya, karena itulah ia tidak sengaja mengeluarkan Aura Sihirnya, dia khawatir pada Liyura dan kesal dengan Vampir Bulan Setengah Lingkaran yang berhadapan dengan Erza.


"Ini situasi yang buruk, entah apa yang terjadi, tapi Nona Liyura tiba-tiba berubah setelah melihat Nona Erza. Ini di luar kemampuanku meskipun aku mencoba untuk berpikir logis tentang apa yang terjadi. Dan lagi, Guru Aver sepertinya juga penasaran dengan apa yang di lihat Nona Liyura ketika melihat Nona Erza, tapi sepertinya Guru memilih untuk diam dan memerintahkan yang lain untuk membunuh para Vampir yang mencapai ratusan atau mungkin ribuan itu dengan cara berpencar."


Ryan menjelaskan dengan detail pada Arend apa yang terjadi menurutnya. Arend hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti setelah Ryan selesai menjelaskan.


"Untuk seseorang yang terpilih seperti Nona mu itu, dia pasti melihat sesuatu dalam diri Elder sebagai bentuk dari dirinya benar-benar orang yang terpilih. Entah apa yang di lihatnya, mungkin itu membuatnya dilema hingga dia butuh menenangkan diri dan mendinginkan kepalanya untuk memproses apa yang telah terjadi dan sesuatu yang di ketahuinya. Tapi mungkin, Nona mu itu tidak akan menyembunyikan ini lebih lama."


Ryan hanya menunduk, dia terlihat menghela nafas, apa boleh buat, sekedar tugasnya hanya untuk menjalankan perintah dari Liyura, sebagai salah satu pengikutnya.


Arend menepuk pundak Ryan yang lebih rendah darinya. Ia mengerti akan perasaan Ryan yang telah menerima Liyura sebagai panutan dan penyelamatnya, apalagi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dengan tekad yang kuat meskipun tidak ada yang mengetahuinya selain pemuda itu sendiri. Menyadari kenyataan memang sulit, tapi daripada hidup dalam suatu mimpi indah tiada akhir namun itu hanya kebohongan belaka, itu lebih mengarah pada sakit hati.


Setidaknya, setidaknya, Ryan telah berjuang dengan segenap jiwa dan raganya untuk semuanya---untuk Liyura---bahkan untuk Aver dan yang lainnya---menjadi yang terbaik dalam bidang Sihir melebihi anak seumurannya karena kemampuan pola pikirnya yang cerdas---lalu, mengorbankan dirinya sendiri untuk bertarung dan menanggung dosa dengan membunuh demi mencapai tujuan bersama.


Apakah ada yang kurang darinya? Itu hanya sebuah perasaan lega dan perasaan bebas. Bukan karena ia menyesal telah menjadi pengikut Liyura, tapi ia ... sejak membunuh, tidak pernah merasakan suatu perasaan yang dulunya pernah di rasakannya, sebelum ia menjadi seorang Pembunuh meskipun itu adalah membunuh para kawanan Vampir.


Ryan akhirnya memberi perintah pada Arend untuk mengubah wujudnya dan membawa Celine bersamanya di punggung Raja Ras Elang Harpa besar itu.


"Arend, kita cari keberadaan Jenderal Wisteria yang saat ini pasti sedang berada di tempat yang sama dengan Raja Ras Vampir."


Arend tersenyum dan segera saja terbang ke atas setelah Ryan dan Celine berada di punggungnya. Saat Arend terbang, Celine terlihat sedih yang saat ini berada di belakang Ryan dengan memegangi pundaknya agar tidak jatuh.


Gadis itu menangis melihat Erza yang saat ini terlihat seperti patung tidak bergerak sedikitpun dengan posisi menunduk dan duduk di atas tanah kotor bersama Vampir Bulan Setengah Lingkaran bersamanya.


"Pegangan yang erat, Celine. Arend itu jahil, jika kau sampai jatuh, aku takut kami tidak akan bisa menangkapmu."


Celine menatap Ryan yang ada di depannya sedang memunggunginya, rupanya meskipun tidak melihat ekspresi Celine, Ryan tahu jika gadis itu sedang menangis di belakangnya. Bisa saja itu mungkin adalah perasaan kecewa pada Erza yang sudah di anggap sebagai kakaknya selama ini.


Arend akhirnya terbang bebas meninggalkan posisi Liyura dan Erza yang terlihat termenung.


Sedangkan Aver, Fiona, dan Amon, terlihat masih berada di dekat Liyura bersama Vyone dan Kenzie.


"Liyura, perintahkan Slave mu untuk membunuh semua Vampir di depan sana."


Liyura menatap Aver. Tatapannya kosong sesaat.


"Aver, Ruth mendatangiku."


Wajah Aver terlihat terkejut dan mengeluarkan keringat dingin dalam sekejap. Mendengar perkataan Liyura, ia menjadi sangat syok.


"R-Ruth katamu? Apa yang ia katakan?"


"Dia membual dengan sangat panjang tentang hidup dan bagaimana menjalaninya, lalu," Liyura terdiam sesaat, tiba-tiba saja angin kencang menerpa dirinya hingga anak-anak rambutnya beterbangan mengikuti arung angin. "Dia memberikan setengah Jiwanya padaku. Dan terus mengoceh tentang Sang Dewa Kematian yang akan segera bangkit kembali."


Aver terlihat menunduk dan bergidik sesaat mendengar perkataan datar Liyura. Seakan ... gadis itu sekarang bukanlah dirinya yang sebenarnya.


"Jadi begitu rupanya."


Aver mengerti akan situasinya sekarang. Dia akhirnya tidak bingung kembali dan mendongak.


"Kita harus cepat-cepat ke Lantai berikutnya untuk memeriksa Inti Sihirmu. Secepatnya."


Perkataan Aver terdengar tidak masuk akal untuk topik yang mereka bicarakan sekarang. Tapi, Liyura terlihat mengangguk.


"Ada ... sesuatu yang memanggil dan menuntunku setiap saat saat aku bertarung, mungkin itu adalah salah satu dari Empat Pendekar Kembar yang tersegel dalam Pedang. Aku tidak begitu mengerti akan situasi tapi, Tongkat Cahaya yang ada di Magic Forest, aku merasakan adanya keberadaan Roh Bunga Wisteria di dalamnya."


Aver mengangguk, dia sudah mengiranya. Eksistensinya sebagai Penjaga Hutan lebih kecil daripada Eksistensi Liyura sebagai Pemilik Hutan Magic Forest dan Dunia Segel.


Sepertinya kali ini, Ramalan tidak akan meleset lagi.