Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 100 Mengaktifkan Sihir Teleportasi


Liyura menyuruh Ryan dan Arend berkumpul, serta Fiona dan Amon juga setelah gadis itu berhasil menenangkan amukan Fiona. Liyura kemudian melihat sekitarnya yang sangat berantakan dengan mayat-mayat para Vampir di sekeliling mereka, juga darah-darah merah pekat yang menggenang hingga membuat aroma busuk.


"Kita akan ke tempat Raja Ras Vampir. Tapi sebelum itu, kita tidak tahu jika Portal yang ada di hadapan kita ini memang jebakan atau tidak, namun jika benar ini jebakan, aku sudah memikirkan cara untuk kita kembali ke tempat asal dari tempat yang antah-berantah akibat Portal yang membawa kita ke tempat lain."


Ryan ikut berpendapat, "Itu tidak masalah, Nona. Tapi memang ada baiknya jika kita memasuki Portal tersebut karena hanya inilah jalan satu-satunya kita menemukan Raja atau tidak. Kalaupun kita malah berada di tempat yang antah-berantah, kita punya cara untuk kembali."


Ryan kemudian melihat Erza, itu benar, dengan adanya Ras Burung Hantu yang di cintai oleh Mana, tidak ada yang perlu mereka khawatirkan mengenai hal tentang Sihir karena mereka tidak akan kekurangan apapun mengenai Mana karena adanya gadis itu.


Liyura tersenyum dan menyuruh mereja semua untuk masuk secara bergiliran. Ryan pertama masuk bersama Arend, sebagai Dobutsu dan majikan. Lalu Celine dan Erza yang ikut menyusul setelah kedunya masuk. Setelah itu, Amon dan Fiona juga ikut masuk setelah Liyura memerintahkan mereka untuk masuk terlebih dahulu. Hingga yang terakhir adalah Liyura.


Dan bersamaan dengan Liyura masuk ke dalam Portal, Portal tersebut menghilang tanpa jejak setelah itu.


***


Mereka sama-sama merasakan berada di antara perputaran waktu saat mereka masuk dalam Portal. Lalu saat mereka menginjakkan kakinya, mereka melihat suasana sekitar yang ternyata adalah suasana dalam suatu Kerajaan.


Liyura juga telah sampai dan melihat raut kernyitan di antara semuanya yang seolah tidak mengerti. Tanah yang di pijaki mereka terlihat sebuah lantai marmer yang indah dengan pola-pola khusus membentuk suatu bentuk tertentu.


Liyura melihat di setiap tiang penyangga Kerajaan atau Castle itu terdapat sebuah Panji-panji berkibar dengan lambang yang terlihat lebih agung dengan Panji yang berkibar di Castle yang berada di Dimensi Vampir.


"Kita tidak salah tempat, kan?"


Setelah Celine menanyakan itu, Liyura segera memanggil Aver untuk memperjelas situasi mereka saat ini. Saat Aver muncul dengan cepat, Undead itu melihat sekitarnya dan terkejut.


"Ini?!"


Aver melihat sekeliling seolah memastikan, "Bukankah ini Istana Tuan ku?!"


Liyura mengangkat alis seolah bertanya-tanya, apakah yang di masud Aver adalah Keempat Pendekar Pedang Kembar? Setelah itu, Liyura melihat Aver segera mengucapkan mantra Sihir yang tidak Liyura mengerti hingga sesuatu di sekeliling mereka hancur seolah suasana Istana di hadapan mereka hanyalah cermin belaka.


Aver menghela nafas, "Siapa yang bisa membuat Ilusi semacam ini? Ini jelas adalah Ilusi tingkat tinggi dan hanya beberapa orang terdahulu saja yang dapat memecahkan Ilusi ini. Untung saja Istana yang kita lihat hanyalah replika belaka dan bukannya kebenaran."


Liyura bertanya, "Istana Tuan mu, Aver? Apa maksudmu adalah Keempat Pendekar Pedang Kembar?"


Aver terbelalak, dia tidak menyangka jika Liyura menyadari apa yang di pikirkannya.


Aver menjawab dengan berdehem, "Bisa di bilang begitu. Untuk itulah aku terkejut, karena Istana Tuan ku tidak mungkin di temukan dengan mudah, apalagi sekarang Istana itu tidak di ketahui keberadaannya lagi sejak Tuan ku tersegel dan menghilang."


Aver menjawab dengan jujur karena takut jika Arend mengatakan hal yang sebenarnya lagi membuat Undead itu akan ketahuan jika berbohong. Itu bisa di lihat ketika datang ke tempat itu lebih dulu, Arend juga sama terkejutnya namun ia langsung menyadari jika Istana yang nereka lihat hanyalah replika dan Ilusi belaka.


Liyura mengangguk-anggukkan kepalanya, "Lalu, kita ada di mana sekarang?"


Mereka semua sama-sama melihat ke seluruh penjuru dari tempat mereka pijak sekarang, yaitu tempat yang hampir sama dengan Dimensi Vampir dengan kaki mereka sekarang menginjak tanah tandus yang gersang namun bukan padang pasir.


Tapi yang membedakannya dengan di Dimensi Vampir adalah jika di sekitar mereka terdapat pepohonan seperti pohon Kelapa yang menjulang di sekitar mereka dengan ketinggian mencapai 5 meter dari permukaan tanah.


"Kita ada di mana?"


Celine terlihat memegangi lengan Erza yang berada di dekatnya, dia tidak takut, namun dia hanya khawatir meskipun Liyura telah mengatakan jika mereka tersesat di tempat yang antah-berantah maka tidak sulit untuk gadis itu membuat mereka kembali.


"Tenanglah, kita berada di tempat yang tepat."


Aver terlihat meyakinkan mereka semua saat melihat pemandangan di depannya.


"Akan ku bawa kalian menuju tempat yang akan kalian tuju."


"Kau ingin menggunakan Sihir Teleportasi tingkat tinggi. Karena kau akan menggunakan banyak Mana, kau menggunakan aku untuk menjadi hahan bakar agar kita berhasil mengaktifkan Sihir Teleportasi."


Aver mengangguk, "Mohon bantuannya, Elder."


Erza segera menghampirinya setelah Celine melepaskan tautan tangan mereka. Setelah itu, Erza dan Aver terlihat sibuk membuat Pola Pentagram di tanah tandus yang mereka pijak tempat di bawah pohon yang seperti pohon Kelapa yang menjulang tinggi.


Sambil menunggu mereka, Liyura melihat Amon dan Fiona yang terlihat menyendiri dengan yang lain membuat gadis itu segera menghampiri keduanya.


"Kalian bergabunglah. Kita semua sama-sama bekerja sama untuk mengalahkan para Vampir seperti tujuan kalian. Lagipula kita kan telah saling kenal dan sama-sama membutuhkan satu sama lain, maka tidak ada alasan kalian bersikap menyendiri dan menghindari kami."


Amon dan Fiona terlihat mengangguk, mungkin karena gadis ber-Ras Demi-Human itu terlihat pertama kalinya mengamuk di Dimensi Vampir membuat ia tidak percaya diri mendekati siapapun karena terguncang dengan kekuatan yang di milikinya.


Sedangkan Amon berniat menemani Fiona sebagai seorang adik laki-laki yang menjaga kakak perempuannya.


Setelah mendengar perkataan Liyura, Fiona sedikit lebih tenang. Itu membuat Liyura tersenyum selembut mungkin dan menarik pergelangan tangan Amon dan Fiona hingga mereka tertarik untuk menghampiri semuanya.


Saat Liyura kembali ke dalam kelompok pengikutnya, ia melihat Ryan dan Arend terlihat membantu membuat Pentagram di tanah tandus itu bersama Erza dan Aver yang terlihat tidak ingin siapapun ikut campur.


"Kalian bisa diam saja. Ini tugas kami sebagai yang lebih tua dari kalian semua."


Mendengar hal itu dengan kata-kata lebih tua yang terdengar di tekankan dalam kata-kata Aver membuat Arend entah kenapa seperti tersulut amarah.


"Hey! Aku juga berhak untuk membantu! Lagipuka kalian lambat sekali dalam membuat Pentagram saja! Kita tidak boleh membuang-buang waktu!"


Ryan terlihat cemberut, "Dan meskipun begitu Guru, aku juga muridmu satu-satunya apakah salah aku membantu Guru ku sendiri?"


Ryan terlihat dengan ekspresi memelas karena dia memang menganggap Aver bukan hanya Guru saja baginya namun seperti Liyura yang menjadi bagian dari hidupnya yaitu seperti keluarga.


Bahkan saat pertemuan pertama mereka, Ryan tidak terlihat takut dengan wujud Aver, Ares, dan Eden yang memang terlihat menyeramkan jika di lihat oleh anak normal yang se-usianya. Namun berbeda dengan Ryan yang telah melihat pembantaian keluarganya oleh para Vampir, tidak ada yang lebih mengerikan daripada hal itu. Meskipun memang dia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


Aver terlihat dengan ekspresi datar, karena dia memang tidak bisa membuat ekspresi apapun karena wajahnya yang memang menyeramkan seperti mayat hidup.


"Baiklah, terserah saja, ayo kita selesaikan tanpa membuang-buang waktu lagi."


Mereka semua mengangguk dan akhirnya fokus membuat Pentagram yang akan membantu mereka mengaktifkan Sihir Teleportasi.


Tidak butuh 1 jam mereka selesai membuatnya membuat mereka langsung duduk melingkar dengan Pentagram di tengah-tengahnya dan saling menjaga jarak satu sama lain.


Aver menatap Ryan, "Kau tidak boleh ikut dalam hal ini, biarkan aku, Elder Ras Butung Hantu, dan Si Elang ini yang akan melakukannya."


Ryan terlihat kecewa tapi karena yang di katakan Aver benar jika dia sementara ini tidak boleh mengurangi Mana nya sedikitpun agar dapat memulihkan dirinya sendiri karena telah menghabiskan sebagian besar Mana nya untuk membuka Portal menuju Dimensi Vampir namun gagal karena tetap mengorbankan Kenzie dengan Kutukan Kesendirian.


Ryan akhirnya berdiri dan menghampiri Liyura. Liyura menenangkannya dengan menepuk pundak pemuda itu dengan lembut.


"Kau sudah banyak membantu dalam hal apapun, Ryan. Tidak ada salahnya jika kau mengistirahatkan dirimu untuk sementara."


Ryan mengangguk namun ekspresinya seperti tidak terima, itu membuat pemuda itu mulai berpikir jika dirinya tidak membantu apapun sama sekali.


Liyura tersenyum dan hanya menatap Aver dan yang lainnya yang terlihat memfokuskan diri untuk mengaktifkan Sihir Teleportasi dengan lancar.


"Hanya untuk menemui Raja Ras Vampir saja sudah se-susah ini, apalagi menghadapinya. Namun kita pasti dapat mengalahkannya karena kita berjuang secara bersama."


Mereka mengangguk, lebih tepatnya Celine, Ryan, Amon dan Fiona. Mereka sebenarnya berpikiran kebalikan dengan Liyura. Jika mungkin mereka menang dalam pertempuran bersama Vampir, itu pasti karena gadis yang ada di depan mereka ini, yang tanpa sadar membuat kesemuanya saling bertemu dan telah terhubung satu sama lain dalam tujuan yang sama entah kebetulan macam apa yang tiba-tiba datang karena seolah di katakan takdir itu tidak terlalu tepat.