Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 113 Raja Ras Vampir [2]


Liyura akhirnya memutuskan untuk tetap menebas Penjara emas yang mengurung para Jenderal Wisteria. Saat ia hampir menebasnya lagi, tiba-tiba saja ada yang menghentikan laju pedangnya yang hampir menebas Penjara Emas dimana Jenderal Wisteria terkurung di dalamnya.


Liyura melihat dengan tajam ke arah sesuatu. Lebih tepatnya sesosok tinggi dan terlihat agung menatap ke arahmya. Namun, bagi gadis itu, di tekan dengan Aura paling kuat sekalipun, karena ia mempunyai Skill legendaris Death Aura miliknya, semua Aura petarung sekalipun, tidak akan mampu menekan dirinya.


"Jangan hentikan aku."


Dia menatap tanpa takut, sedangkan Aver mulai tersenyum miring dengan kemunculan seseorang yang selama ini mereka cari dan selalu pikirkan.


Liyura pikir, seorang Raja Ras Vampir adalah orang yang sudah tua karena berumur panjang, jadi dia tidak mengira jika Raja Ras adalah seorang tau bangka seperti Aver. Namun ...


Sulit untuk menjelaskannya.


Mau di lihat dari manapun, seorang Raja Ras Vampir di hadapannya ... sangat berbeda dengan apa yang Liyura pikirkan. Bukannya ia merasa kagum atau apalah, dia hanya tidak menyangka.


Ryan juga terlihat melotot, sejak awal dia sudah merasakan suatu kehadiran dengan Aura Pembunuh yang sangat gelap nan pekat. Dan saat itulah ia yakin jika Aura tersebut berasal dari Raja Ras Vampir yang mereka cari.


Tapi ketika melihat wajahnya dan sosoknya itu ... mereka semua bungkam.


"Raja Ras Vampir?! Bagaimana mungkin Raja Ras Vampir itu adalah Perempuan?!"


Benar sekali. Itulah yang mereka pikirkan. Bahkan Liyura terlihat sangat bingung dengan keadaan saat ini.


"Kenapa tidak di panggil Ratu Ras Vampir saja? Kita kan jadi salah paham."


Liyura merasa hampir terbahak, bahkan di hadapan sang Raja Ras Vampir sendiri. Dia menatap ke arah seorang gadis yang lebih tua darinya beberapa tahun terlihat menggunakan jubah panjang yang menjuntai menyentuh tanah, rambutnya berwarna hitam legam, dan matanya sewarna darah. Bedanya adalah, Rambutnya sangat panjang melebihi punggungnya. Dan juga ... kakinya tidak menyentuh tanah.


"Kalau tidak salah, nama Raja Ras Vampir adalah Nuzan Kyoro, kira-kira kenapa bisa perempuan?"


Liyura teringat dengan Lucia. Hanya gadis itulah biasanya yang akan membuatnya terbahak seperti sekarang. Ah, mungkin gadis itu merindukan Ras Elf tersebut.


"Namaku bukan Nuzan Kyoro. Sebenarnya aku bukanlah Raja Ras Vampir yang asli. Tapi karena dia mewariskan galarnya padaku, sampai aku di jadikan Vampir sekalipun. Maka aku juga berhak melakukan Ritual Pembangkitan untuk membangkitkannya. Namaku adalah Ivone."


Liyura akhirnya bergenti tersenyum. Jadi, dugaannya mungkin benar tentang Raja Ras Vampir yang lama.


"Lalu, dimana dia sekarang? Kenapa tiba-tiba menyerahkan semuanya padamu? Apa dia itu pengecut?"


Ivone terlihat menatap tajam, matanya bersinar sesaat namun meredup kembali.


"Dia sedang berada dalam Tidur Abadi nya sekarang. Itu karena tubuhnya makin melemah dari abad ke abad, jadi dia perlu tubuh baru untuk menampung jiwanya. Dan aku lah yang akan menjadi wadahnya. Tidak peduli apa yang terjadi, jika aku berhasil melakukan Ritual Pembangkitan, maka aku akan berhasil menyatu dengannya."


Ave dan yang lainnya terlihat menghampiri ke posisi Liyura saat ini.


"Jadi, untuk itulah mengetes kecocokan tubuhmu dengan wadah dari jiwa Raja Ras Vampir, maka kau harus melakukan Ritual Pembangkitan yang biasanya hanya Raja Ras Vampir saja yang melakukannya. Kenapa kau lebih memilih menjadi wadahnya daripada terbebas darinya? Kau itu dulunya Manusia, kan."


Liyura terlihat serius, sudah berapa banyak Vampir yang menjadikan Manusia sebagai bagian dari Ras mereka agar Ras tersebut dapat berkembang biak tanpa bereproduksi karena Kutukan dari Ras Turkien.


"Bukan urusanmu. Tugasku adalah melakukan Ritual Pembangkitan dengan menyingkirkan kaliam semua. Saat ini, seluruh komando Ras Vampir, ada di dalam genggamanku. Jika aku memerintahkan para Vampir Bulan itu membunuh kalian, maka mereka tidak akan ragu untuk melakukannya. Patuhi aku jika kalian tidak ingin ada yang terluka."


Ryan hanya menghela nafas, Liyura tetatp diam. Aver ingin menjawab namun Arend yang lebih dulu berkata dengan nada yang blak-blakan.


"Untuk apa kami berjuang selama ini jika saat kami akan bertarung dengan musuh kami yang sebenarnya, kami malah menyerah? Tidak ada yang di untungkan maupun yang di rugikan di sini. Bahkan bukankah sejak awal kita telah menyatakan perang pada pihak masing-masing? Lalu, atas hak apa kau memerintahkan kami untuk patuh padamu?! Sebelum kami membalaskan dendam, tentu saja kami tidak akan menyerah dan membuang semua kemarahan dan kekesalan kami pada Ras seperti Vampir yang telah membuat keseimbangan Lantai menjadi Hancur!"


Ryan terlihat terkejut. Dia melihat kedua kalinya Arend terlihat sangat serius. Sedangkan Ivone yang mendengarnya hanya diam, sama seperti Liyura dan Aver.


"Dan, itulah jawaban kami, Ivone. Seperti yang ia katakan, sejak awal kita telah menyatakan perang secara tidak langsung, bahkan aku sudah membunuh semua Vampir yang ada kecuali Vampir Bulan yang tinggal menunggu untuk ajal mereka mati di tanganku, atau di tangan para Pengikutku. Tidak ada pilihan lagi bagi kalian. Terima lah kemurkaan Ras yang kalian sakiti dan hancurkan!"


Liyura menodongkan pedangnya tepat di leher Ivone, tapi gadis tersebut sama sekali tidak bergeming meskipun pedang Liyura sedikit melukainya hingga mengeluarkan darah.


"Sayangnya kalau begitu, mari kita selesaikan dengan bertarung."


Mereka semua mengangguk, Ryan dengan sekejap berada di antara dua Vampir Bulan dan terlihat menggunakan Sihir Pengekang pada mereka agar tidak kabur dan ikut bertarung.


Liyura menarik pedangnya kembali dan terlihat memegangnya dengan erat, sambil melihat darah yang mengotori bilah pedangnya yang berkilauan seperti emas.


"Sekali lagi, mungkin aku harus membunuh Ras manusia yang menjadi Vampir tanpa keinginan mereka sendiri. Tapi, aku tidak pernah merasa menyesal, karena dengan menbunuh mereka, mereka akan terbebas dari penderitaan yang mereka alami saat menjadi Vampir tanpa keinginan jiwa mereka sendiri."


Liyura akhirnya mengeluarkan pedang berwarna hijau dari System Roomnya. Saat melihat Liyura mengeluarkan benda dari ruang hampa, Ivone merasa harus waspada.


"Kau bukan berasal dari Mozart. Orang sepertimu terpilih menjadi seseorang yang memimpin Sang Dewa Kematian? Meskipun kami permah bersumpah padanya, sekarang tidak lagi karena Sang Dewa Kematian tidak akan kubiarkan untuk bangkit kembali."


Saat mendengar hal itualah, Aver hampir lepas kendali. Bagaimanapun juga Empat Pendekar Kembar awalnya tetap adalah Tuan pertama nya, maka Aver yang mendengar hal tersebut, langsung saja menendang Ivone sekuat tenanga.


Dengan mudah, gadis itu terlempar dengan cepat ke arah samping akibat tendangan Aver yang mengenai telak di tubuhnya.


Liyura terlihat tidak merespons apapun, perkataan Ivone membuatnya berpikir, apa yang membuat gadis di depannya mengatakan jika dirinya bukan berasal dari Mozart? Meskipun itu memang sebuah kebenaran?


"Kembalilah ke tempat asalmu, di dunia manapun, jika kau melarikan diri dari dunia tersebut hanya karena berharap dunia lain lebih indah dari dunia mu sendiri, maka kembalilah. Karena biasanya orang yang seperti itu hanya akan merepotkan orang lain saja."


Liyura menggeleng keras setelah ia berpikir.


"Apa yang membuatmu yakin jika aku bukan berasal dari Mozart?"


Ivone menatap Liyura dan berdiri dalam sekejap.


"Itu mudah. Karena kau kuat."


Sekejap, Liyura merasa ... kehilangan dirinya sendiri dengan matanya yang berkunang-kunang. Penglihatannya menjadi gelap seketika, tapi sebelum itu, ia mendengar suara parau dan suara lembut yang perlahan menghilang.