
Saat Liyura membuka mata, gadis itu sudah melihat pemandangan langit-lagit kamar penginapan yang di sediakan Rachel.
Liyura bangun dan melihat beberapa Maid yang telah ada di ruangan dengan menyiapkan makanan dan juga membersihkan ruangan.
Liyura sedikit risih, "Kalian tidak usah repot-repot, kalian hanya menyajikan makanan untukku saja."
Sepertinya Rachel berlebihan. Liyura tersenyum canggung dan hanya berjalan ke luar kamar.
"Tapi ini adalah perintah Nona Rachel jadi kami harus melaksanakannya. Maaf jika Anda merasa risih."
Saat Liyura hampir keluar dari kamar, para pelayan mengucapkan sesuatu.
"Ah ya, Nona Rachel memanggil Anda untuk segera pergi ke Dojo."
"Hmm, kalau begitu tunjukkan jalannya, aku masih tidak mengerti letak ruangan."
Para pelayan mengangguk dan segera berjalan duluan pergi ke Dojo atau bisa disebut ruang latihan.
Liyura mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor dengan lantai kayu sederhana yang menjadi tempat berjalannya.
Bangunan ini seperti bangunan-bangunan yang ada di Jepang, serasa Liyura ada di negara itu sendiri.
Liyura melihat ke halaman taman yang di tumbuhi Bunga Wisteria dengan lebatnya membuat dirinya merasa tenang melihat bunga berwarna ungu itu.
Para pelayan akhirnya menunjukkan jalan menuju dalam suatu ruangan yang ternyata di dalamnya kosong. Liyura melihat jika seorang gadis sedang berdiri tidak jauh darinya dengan senyuman manisnya itu.
Liyura melihat sebilah pedang yang tersarung di pinggang gadis itu yang ternyata adalah Rachel yang menunggunya.
Pelayan menyuruhnya masuk membuat Liyura menghampiri Rachel. Saat jarak mereka sekitar 2 langkah, Liyura berhenti melangkahkan kakinya dan melihat dengan seksama gadis yang ada di hadapannya.
"Ada apa kau menyuruhku kemari?"
"Hmm, aku hanya ingin mengujimu Liyura apakah kau pantas pergi ke Lembah Malam untuk menemui Nuzan. Aku takut terjadi apa-apa padamu. "
"Tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja seburuk apapun keadaannya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku punya suatu urusan dengan Nuzan dan tentu saja ini hanya urusan pribadi, jika dia memang ingin melawanku aku pun juga tidak akan segan-segan untuk membunuhnya."
"Begitu, ya."
Senyuman Rachel sirna dan di gantikan dengan tatapan datar, "Tapi aku masih akan tetap mengujimu. Kekuatanmu itu bisa di bilang seimbang dengan Ray, jadi aku tidak mungkin membiarkan orang sepertimu menjadi korban dari kekejaman Nuzan."
Rachel tersenyum kembali dengan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya. Gadis itu menarik pedang dari sarungnya dan segera melesat tanpa aba-aba menuju ke arah Liyura dengan kecepatan yang tinggi.
Liyura hanya terkejut tapi langsung dapat mengantisispasi serangan Rachel yang memang terlihat ceroboh dan tidak beraturan, tapi Liyura tahu benar jika gadis di depannya tidak dapat di remehkan.
Bagaikan sedang menari, Rachel menyerang Liyura dengan beberapa teknik uniknya yang membuat Liyura hampir terpojok jika dia tetap tidak menghindar.
Liyura bahkan tidak menggunakan pedangnya untuk melawan Rachel membuat Rachel merasa di permalukan.
"Keluarkan Katanamu!"
Rachel mempercepat tempo serangannya tapi itu tidak membuat Liyura menaati perintahnya, bahkan Liyura dengan mulus dapat menghindari semua serangannya hanya dengan menghindar lebih cepat.
Rachel merasa takjub juga dengan kemampuan Liyura. Menghadapi seorang Jenderal sepertinya biasanya akan sangat merepotkan tapi gadis di depannya bahkan terlihat melawan hanya dengan menghindar.
Saat beberapa lama, akhirnya Liyura memutuskan menarik pedang Bulan Sabit yang ada di pinggangnya, yang sama sekali belum pernah di sentuhnya dalam pertarungan melawan Rachel.
Saat Liyura menarik pedangnya, Rachel merasakan sebuah tekanan yang sangat berat menghantam tubuhnya begitu saja. Rachel terlihat terkejut dengan betapa indahnya ukiran dari pedang Liyura yang berbeda dari Katananya.
Rachel akhirnya mundur 5 langkah dari Liyura. Rachel masih memperharikan pedang putih dan cantik di tangan Liyura.
"Katana apa itu? "
Pertanyaan Rachel membuat Liyura menatap ke arah pedangnya, gadis itu kemudian menatap ke aah Rachel lagi.
Kali ini pandangan Liyura menunduk ke arah pedang putih yang ada di tangannya. Itu benar, yang dia katakan benar. Sejak dia kecil, dia telah di kenalkan pada sebilah pedang oleh keluarganya.
Pedang itu bisa di bilang adalah teman sekaligus pelindungnya. Meskipun dia tahu jika dia menggunakan pedang untuk membunuh dia akan kehilangan sifat kemanusiaannya.
Liyura memandangi Rachel kembali, dia muak jika harus terus mengingat kenangan kelam yang di alaminya bertahun-tahun yang lalu seperti neraka baginya.
Rachel memiringkan kepalanya melihat tingkah Liyura seperti mengingat sebuah kenangan.
"Kau memiliki masa lalu yang kelam rupanya. Aku tahu mungkin itulah yang membuatmu menjadi sekuat sekarang. Aku tidak tahu apa yang kau lalui tapi aku merasa kagum padamu."
"Kagum padaku?"
Rachel tersenyum dan mengangguk, "Caraku menjadi seorang Jenderal sama seperti yang lainnya bukanlah cara yang mudah, bahkan tidak ada jalan pintas sekalipun jika aku menginginkan posisi yang aku dapatkan sekarang. Aku membantai para Vampir untuk membalas dendam awalnya tapi tidak kukira dengan itu aku harus di takuti oleh orang sekitar karena selalu bersimbah darah."
"Aku merasa kagum padamu, karena mungkin kita sama, hanya saja yang kita alami mungkin berbeda. Aku tau perasaannya ketika kesepian maupun sendiri. Di lihat kau begitu sedih saat menatap pedang yang bahkan bisa menusukmu itu aku tahu bagaimana perasaanmu."
Rachel tersenyum sekali lagi, Liyura merasakan hatinya menghangat saat dia menatap gadis itu. Entah kenapa dia seperti berhadapan dengan kedua kakaknya, yang selalu menyayangi dan melindunginya meskipun dia kuat.
"Hmm, aku tidak menyangka itu semua terjadi padamu juga. Jika kau tahu perasaanku seharusnya kau tidak usah bersusah payah mengujiku apa aku pantas ke Lembah Malam menemui Nuzan."
"Kata siapa aku mengujimu dengan kemampuan berpedangmu."
Rachel melipat kedua tangannya setelah dia memasukkan Katananya ke dalam sarung yang terkait di pinggangnya.
"Lalu?"
Sedangkan Liyura menatap aneh pada Rachel. Dia baru kali ini bertemu dengan seseorang yang sama dengannya, sulit ditebak. Itu lah yang ada di pikiran Liyura mengenai Rachel.
Dia juga merasa Rachel sangat pandai menyembunyikan sosok yang yang asli, Liyura dapat melihat Rachel seakan tersiksa dengan kepura-puraan yang di ciptakannya sendiri.
Liyura menatap lekat Rachel seperti meneliti gadis itu lebih dalam, sedangkan Rachel tetap tersenyum dengan tulus tapi Liyura menyadari jika ekspresinya palsu.
"Yah, aku bisa di bilang menguji mental atau pikiranmu. Kata siapa dalam pertarungan hanya melibatkan kekuatan? Kepintaran juga dapat menjadi kunci untuk menang dalam pertarungan, selicik apapun strategi yang kau persiapkan untuk melawan musuh itu tidak ada hubungannya lagi jika menyangkut nayawa banyak orang."
"Kau... menguji mentalku?"
Liyura menatap tidak percaya pada gadis di depannya, ujian macam apa yang di lakukannya tadi.
Rachel terlihat tersenyum lebih manis dan mengangguk, dia menghampiri Liyura dengan perlahan dan terhenti ketika jarak mereka hanya 1 langkah.
"Aku menguji dirimu akan sebuah kesabaran dan ketamakan untuk menang. Tidak kusangka kau akan semudah itu melawanku meskipun aku sudah mengerahkan 70% kekuatan fisikku. Aku sangat senang kau sama sekali tidak ada niat untuk menyerang balik lawan tapi terus menghindar. Meskipun kau lulus dalam ujianku, kau mempunyai kelemahan."
Rachel mendekat hingga jarak mereka tidak terbentang lagi. Rachel berbisik di telinga Liyura.
".................."
Perkataan Rachel membuat Liyura mundur beberapa langkah dengan sempoyongan. Dia menatap Rachel dengan pandangan yang amat terkejut.
Rachel tersenyum sampai matanya terpejam, "Aku hanya memberitahu kelemahanmu dan kau menjadi terkejut seperti ini. Apakah kelemahan yang di ucapkanku padamu memang benar adanya?"
Liyura menatap datar Rachel, 'Aku tidak bisa meremehkan gadis ini. Apakah semudah itu terlihat tentang diriku sampai dia melihatnya dengan jelas hanya dengan bertarung sekali denganku?'
Liyura memasukkan pedangnya ke dalam sarung membuat suasana yang sepi menjadi sedikit bergemerisik dengan suara pedang yang masuk dalam sarung.
"Rachel, sepertinya aku mulai kagum juga padamu, apa ini bukanlah kebetulan? Aku seperti melihat ke dalam cermin saat melihatmu."
Rachel membuka matanya setelah mendengar perkataan Liyura, "Seharusnya aku yang mengatakan itu."
Rachel tersenyum miring, dia kemudian berbalik dan pergi begitu saja keluar dari Dojo, meninggalkan Liyura yang masih mengingat kata-katanya...