Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 94 Menjelajah


Liyura dan yang lainnya akhirnya menjelajahi Dimensi Vampir yang sekarang mereka pijak setelah bertemu Roh Bunga Wisteria dan menyimpan pohon Bunga tersebut ke dalam tanda Segel Magic Forest.


Setelah itu, Liyura dan yang lainnya saling berpencar lagi ke arah yang berlawanan. Kali ini mereka tidak akan saling mencari bersama lagi karena yang terpenting adalah menemukan keberadaan Vampir.


Liyura berpencar bersama Kenzie dan Vyone seperti biasa. Dengan kecepatan tinggi nereka berlari melewati tanah tandus yang luas dan membentang seperti laut membuat mereka dapat melihat apapun dengan sekali pandang karena tidak ada perantara yang menjadi penghalang penglihatan mereka.


"Kenzie, aku masih belum tahu kemampuanmu. Jika ada bahaya, ada baiknya kau menggunakannya, dan bukannya untuk melindungiku, tapi bertarung bersamaku. Lalu, itu juga berlaku bagimu, Vyone."


Ucapan Liyura terdengar jelas di telinga keduanya mmebuat mereka serentak mengangguk tanpa berniat melambatkan kecepatan lari mereka.


Kali ini Liyura berharap jika dia lah yang akan menemukan letak lokasi para Vampir yang menahan Jenderal Wisteria.


***


Sedangkan Celine dan Erza terlihat terbang melintasi langit seperti Ryan dan Arend. Celine terlihat sangat senang ketika terbang pertama kali dengan menaiki punggung Erza.


Mereka melihat lebih jauh ke depan untuk melihat lokasi jelas dari para Vampir. Namun, sepertinya mereka tidak menemukan apa-apa kecuali beberapa tebing dan gundukan tanah seperti makam di bawah mereka di gurun yang tandus itu.


"Sial! Seharusnya para Vampir itu ada di sekitar sini. Meskipun para Vampir itu tidak dapat bereproduksi untuk membuat Ras mereka semakin banyak, aku tidak mengira jika mereka akan menjadi se-sedikit ini karena kulihat Dimensi Vampir ini sepi sekali penghuninya."


Erza terlihat geram membuat wujud Burung Hantu besarnya terlihat lebih mengerikan. Celine juga terlihat kesal namun wajahnya masih tenang dengan pandangan datar.


"Kita akan menemukannya. Usaha kita sampai ke sini tidak boleh sia-sia!"


Celine mencoba menyemangati Erza dan dirinya sendiri. Dia menarik Busur Emas yang ada di punggungnya dan mengambil satu anak panah.


"Apa yang mau kau tembak?"


Erza terlihat penasaran saat merasakan Celine mengeluarkan senjatanya.


Celine hanya tersenyum miring, "Hanya berjaga-jaga. Lagipula aku punya seseorang untuk di bidik sebagai percobaan pertama menggunakan Busur dan anak panah ini."


Celine segera memposisikan anak panahnya tepat di Busur untuk melancarkan serangan. Dia mengarahkan senjatanya ke satu arah dengan Erza yang masih terbang bebas di udara dengan kecepatan yang standar.


Celine menutup salah satu matanya untuk memfokuskan bidikannya ke arah yang tepat. Dia menarik senar Busur dan anak panahnya untuk mulai membidik sasaran.


"Kuharap ini berhasil. Ini adalah percobaan pertamaku, jika aku meleset, mungkin aku tidak cocok dengan gelar Pemanah."


Celine dengan fokus mengarahkan anak panah dan saat menemukan posisi yang tepat, dia akhirnya menembakkan anak panah berwarna emasnya ke arah sasaran.


Dan---Tepat sasaran dengan sempurna.


Celine seketika menyuruh Eeza untuk turun ke bawah dan mendarat dengan perlahan. Saat kaki gadis itu menginjak tanah tandus dan melihat sasarannya, dia tersenyum.


"Kita mendapatkan Vampir."


Setelah mengatakan itu, Celine segera menghampiri sesuatu---seseorang dengan tubuh yang tertancap anak panah emas milik gadis itu.


"Bagus. Sisanya biarkan aku yang urus saja." Tiba-tiba Erza berubah menjadi sosok gadis manusia dan menghampiri seseorang itu lebih dulu.


"Yah, benar di Vampir."


Erza melihat mata merah Vampir tersebut yang terlihat menyala saat menatapnya dari balik tudung hitam yang menjuntai dan menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna. Darah merah yang kental terlihat mengalir deras karena di sebabkan anak panah Celine yang menancap di punggungnya.


"Jadikan dia tawanan saja, Erza. Kita akan menemukan lebih banyak dari ini nanti. Ada baiknya jika kita tidak lama-lama berpencar, karena lebih baik bertarung bersama, apalagi jika bersama dengan Liyura dan Ryan. Meskipun kemampuan kita cukup untuk menghadapi para Vampir, sepertinya akan sulit jika jumlah mereka lebih banyak dari yang kita perkirakan. Mengambil tindakan sekarang adalah keputusan yang terbaik."


Erza menghela nafas, mau bagaimana lagi... karena sekarang dia hanya bisa mematuhi perintah Celine. Seperti kata Ryan, jika Dobutsu harus mematuhi perintah Tuannya.


"Baik, kau yang memimpin."


Dan karena itulah, terkadang dalam Ras tersebut, lahirlah seseorang yang akan di cintai oleh Mana yaitu Erza untuk generasi sekarang. Meskipun di cintai oleh Mana adalah sebuah anugerah karena seseorang dapat mengendalikan aliran Sihirnya sesuai keinginan dan tidak akan pernah menghilang maupun berkurang, tapi seseorang itu tidak boleh memiliki pasangan hidup atau pasangan hidupnya tersebut akan mati.


Biasanya seseorang yang di cintai oleh Mana akan menjadi Elder atau bisa di sebut Tetua dari Ras. Dan kedudukannya bahkan lebih tinggi dari Raja Ras yang memimpin seluruh Ras.


Dan dalam satu generasi, seseorang yang di cintai oleh Mana dapat mati juga seperti hal nya manusia, namun yang membedakan mereka adalah, mereka berusia panjang dan tidak akan menua bahkan tanpa di ketahui hitungan abad yang ada. Jika seseorang yang di cintai oleh Mana mati, maka akan terlahirlah dalam bentuk yang baru tapi bukan reinkarnasi.


Erza akhirnya selesai mengikat Vampir itu dengan Tali Sihirnya yang memungkinkan seseorang yang terjerat sangat sulit untuk terlepas.


Celine membawa Vampir itu bergelantungan di bawah Erza yang terlihat terbang sekejap kemudian setelah merubah wujudnya menjadi Burung Hantu yang sangat besar lagi.


"Apakah berat? Kita bisa berjalan."


Celine hanya khawatir, namun Erza tidak terlihat memedulikan massa yang bertambah karena Vampir tersebut.


"Jangan khawatir, selain di cintai oleh Mana, julukanku adalah yang 'Yang paling Terkuat'."


Celine mengangguk saat mendengar perkataan Erza. Gadis itu melihat Vampir yang entah kenapa menjadi tenang saat di bawa terbang dan bergelantungan di bawah mereka. Celine menahan tali yang menghubungkannya dengan tali yang mengikat Vampir itu di tubuh besar Erza yang berubah menjadi wujud Burung Hantu.


"Sepertinya, jalan kita akan mudah..." Mereka terbang ke Barat dan tidak di ketahui tujuan jelas mereka. Mereka hanya terbang dengan mengikuti angin semilir yang berhembus ringan, seolah memberikan gambaran pada mereka, hawa yang tidak mengenakkan tentang apa yang terjadi di atas tanah tandus kian generasi di masa lalu yang pernah terjadi.


***


Sedangkan Liyura, sesuati harapannya, gadis itu menemukan lokasi tepat Ras Vampir saat melihat sebuah pemukiman dengan Castle yang berdiri megah dengan agung berwarna hitam pekat.


Panji-panji berkibar seakan mereka akan berperang, Panji berwarna hitam dengan lambang Mahkota dan Permata Merah darah yang di desain agung dengan warna emas.


"Apakah ini adalah bentuk bahwa mereka adalah Ras Vampir? Aku baru tahu mereka punya lambang seperti bendera semacam ini."


Vyone mengangguk, "Benar sekali, Master. Ras Vampir memiliki panji-panji yang berkibar itu untuk menjadi sebuah tanda pengenal bagi mereka. Tempat mereka yang sesuangguhnya bukanlah di Lantai 2, namun di Lantai 40. Bisa di bilang saat ini kita berada di Lantai tersebut namun hanya Duplikatnya saja."


"Apa maksudmu, Vyone?"


Kali ini Kenzie mencoba menjelaskan, "Master, saat ini kita berada di Duplikat Lantai 40. Kita tidak benar-benar ada di Lantai tersebut, namun kita sama saja telah membuat sesuatu yang mustahil karena dapat menembus batasan Lantai tanpa mengalahkan Administratornya meskipun hanya sekejap."


Kali ini Liyura terdiam, meskipun dia masih sedikit tidak mengerti, hanya ada satu hal yang membuatnya takjub, ternyata para Ras di Mozart ini tahu akan dunia mereka. Sampai hal mengenai cara untuk berpindah Lantai dengan mengalahlan Administrator sekalipun.


Meskipun gadis itu sudah menyadarinya dari Aver, namun dia tidak berpikir jika seluruh Ras akan tahu kecuali Ras manusia dan beberapa Ras lainnya.


"Jadi, kita ada di Duplikat Lantai 40?"


Pertanyaan Liyura di benarkan oleh dua orang di belakangnya, "Benar sekali, Master."


Saat mendapatkan jawaban, Liyura memilih berbaur dengan para Vampir dengan mengubah warna bola matanya menjadi Merah darah. Karena sejak awal matanya memang berwarna seperti itu, hanya dengan sentuhan Sihir Aver, matanya hanya di ubah menjadi warna Hijau seperti sebelumnya.


Tapi karena ini adalah Dimensi Vampir, maka Liyura tidak akan segan memperlihatkan mata berwarna Merah Darahnya itu karena jika dia tetap tidak mengubah warna bola mata Hijaunya, dia akan menjadi pusat perhatian para Vampir dan akan menjadi target makanan mereka, meskipun dua Vampir di belakangnya akan melindunginya.


Tapi, Liyura tercengang saat melihat para Vampir yang jumlahnya tidak terhitung saat dia berada dekat dengan Castle atau bangunan yang menyerupai Istana zaman dahulu.


Liyura melihat semuanya, di sekitarnya adalah Vampir! Namun Liyura hanya bertingkah biasa saja dan mencoba menyamarkan aromanya yang dapat membedakan dirinya dengan Monster Haus Darah itu dengan terus dekat bersama Kenzie dan Vyone yang telah menjadi Vampir sempurna.


Dan jangan lupakan sebelum Liyura datang dengan turun tangan ke Dimensi Vampir itu sendiri, dia menggunakan tudung untuk membuatnya tidak mencolok tapi dia tetap masih menggunakan Gold Equip nya.


Liyura melihat sekitar yang terlihat mencekam dan tidak ada canda tawa sama sekali di antara para Vampir yang berseliweran di hadapannya. Bahkan dengan jelas, gadis itu dapat mencium aroma tidak sedap dan juga bau amis darah yang sangat pekat.


Apakah ini wajar? Atau mungkin ini berasal dari suatu tempat? Tidak menunggu lama gadis itu segera mencari asal aroma tersebut yang ternyata adalah sebuah bangunan yang mirip dengan tempat pelelangan.


Liyura masuk ke dalamnya bersama Kenzie dan Vyone membuatnya terkejut dengan apa yang di lihatnya.