
Keesokan harinya tiba di Magic Forest, Liyura kali ini bangun terlebih dahulu dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari segelnya menuju dunia luar.
Liyura membuka matanya dan bangun dari tempat tidur. Gadis itu sedikit menguap lebar dan meregangkan ototnya.
Dia melihat situasi sekitar yang masih malam dan sunyi di kota Guren ini. Tidak disangka ternyata dia hanya tidur 1 jam padahal di dunia segelnya dia telah berada di sana seharian.
Liyura akhirnya turun dari kasur penginapan dan memilih keluar setelah mengenakan kembali Gold Equipnya dari System Room dengan membawa pedang Bulan Sabitnya.
Liyura kali ini tidak ingin mencolok sehingga dia mengenakan sebuah tudung berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan juga membuatnya hangat di tengah salju seperti ini.
Liyura mengambil tudung itu di lemari kamar penginapannya dan segera keluar dari penginapan.
Liyura memperhatikan sekitar dengan seksama, dia melihat jalanan yang sangat sepi karena semua orang yang tertidur.
Liyura nerasakan hawa dingin menusuk kulit tangannya tapi tudungnya menjadi penghalang hawa dingin itu masuk.
"Ahhh!"
Liyura berbalik ke arah suara yang terdengar memecah keheningan malam, dia menyelinap dengan hati-hati ke arah suara itu berasal dan menemukan sesosok manusia yang berlumuran darah dengan sosok yang menghisap darah seseorang itu melalui lehernya.
Liyura dapat mendengar suara tegukan darah yang mengalir di tenggorokan seorang Vampir dengan begitu deras. Liyura sedikit ngeri tapi dia memasang aba-aba untuk menyerang.
Saat Vampir itu menyadari kehadiran Liyura, dia menatap gadis itu dengan pandangan yang sangat lapar seakan semua darah yang tersedot habis tadi tidak dapat meredakan rasa dahaganya.
Liyura tidak takut, dia akhirnya menarik pedangnya. Sang Vampir hanya menyeringai sebelum dia balik menyerang Liyura terlebih dahulu.
Vampir itu menyerang Liyura menggunakan cakarnya yang tajam tapi dapat dihindari oleh Liyura dengan gerakan refleksnya yang tidak kalah cepat.
Vampir itu menggeram marah, dia menyerang Liyura kembali tapi dengan tenang Liyura menghindari setiap serangan yang begitu cepatnya dari Vampir, bahkan Liyura sempat menutup mata.
"Dasar manusia! Kenapa kau tidak menyerah saja dan berikan darahmu yang enak itu padaku!"
"Aku bukanlah manusia yang bodoh karena memberikan darahku pada Monster sepertimu."
Vampir itu sekali lagi menggeram, Dia menyerang balik Liyura kembali dan kali ini lebih cepat dari sebelumnya hingga Liyura akhirnya menangkis dengan pedangnya karena dia tidak mau meremehkan serangan Vampir itu lagi.
Jika di lihat, kecepatan mereka berimbang dan bahkan Liyura terlihat mendominasi pertarungan. Setiap serangan yang di arahkan menimbulkan Damage yang cukup besar sehingga serangan nyasar mereka dapat membuat bangunan mendapatkan kerusakan cukup serius.
Vampir akhirnya mundur beberapa langkah dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya akibat serangan Liyura yang dapat mendominasinya.
"Uhuk.. Siapa kau sebenarnya?"
"Aku adalah seorang petualang, dan aku bukanlah seorang Pemburu Vampir."
"Kau...Uhuk bukan seorang Pemburu Vampir?"
Liyura menjawabnya dengan menggeleng, "Aku menyerangmu karena kau telah membunuh sesama bangsaku. Memang aku manusia tapi mungkin kau sudah tahu aku bukanlah manusia yang sama yang pernah di lihat olehmu."
Vampir itu memegang dadanya yang terasa nyeri, Dia memuntahkan darah segar semakin banyak.
"Aku ingin bertanya, apakah seorang Vampir dapat kembali menjadi manusia?"
"Heh, kau bercanda! Uhuk... Seorang Vampir tidak akan pernah kembali menjadi manusia lagi meskipun dia adalah manusia sebelum menjadi Vampir, tapi mungkin dia dapat mengembalikan---"
Sebelum vampir itu menyelesaikan kata-katanya, sebuah pisau melayang dan membunuhnya seketika. Liyura tersentak dan melihat sekeliling berusaha mencari seseorang yang membunuh Vampir itu.
Dia kemudian melihat sekelebat bayangan berwarna hitam melesat di atas atap dengan kecepatan kilatnya setelah Liyura menyadari kehadirannya.
Liyura akhirnya menggunakan Skill 'Angel Wings' nya dan akhirnya mengeluarkan sepasang sayap indah di punggung miliknya, Liyura yang juga menggunakan tudung dengan percaya diri mengejar sekelebat bayangan yang membunuh Vampir itu.
Kecepatan terbang Liyura mengalahkan kecepatan lari dari seseorang itu membuat Liyura menyerangnya dalam kesempatan itu.
"Fly Guns!"
Pedang Bulan Sabit yang ada di tangan Liyura menjadi bergerak sendiri seakan memiliki jiwa dan bergerak sesuai pikiran Liyura. Pedang Bulan Sabitnya menusuk sesosok itu yang bergerak dalak kecepatan kilat dan berhasil melukainya hingga dia terjatuh dari atap.
Liyura mendarat dengan mulus dan akhirnya sayapnya hilang dengan sendirinya sesuai apa yang di pikirkannya.
Pedang yang tertusuk tadi akhirnya kembali ke tangan Liyura kembali dengan melayang membuat si sosok menjadi ngeri.
"Siapa kau sebenarnya?"
Sosok itu berbicara dan terlihat kesakitan karena pedang Liyura berhasil melukai perutnya membuat darah merembes.
Akan tetapi anehnya darah itu berwarna hitam pekat seperti tinta. Liyura mengernyit dan memandang curiga.
"Kau lah yang siapa? Kenapa kau membunuh Vampir itu tadi?"
"Heh, tentu saja dia pantas dibunuh!"
Luka yang tadinya terdapat di perut vampir itu menutup sendiri, meregenerasi dan menyembuhkan luka yang sangat parah seperti tidak pernah tergores sekalipun.
Setelah lukanya sembuh, dia hendak bergegas pergi tapi Liyura segera menghadangnya.
"Siapa kau sebenarnya?! Aku yakin para Merpati tidak akan sekuat dirimu!"
Liyura sekali lagi mengernyit tidak mengerti. Siapa katanya? Merpati? Dia tidak salah dengar 'kan? Siapa yang disebut Merpati?
"Kau tidak tahu? Heh, jika kau tidak membiarkan aku pergi aku akan menghisap darahmu yang lezat itu!"
Vampir kali ini menyerang Liyura yang menghadangnya, Liyura segera menangkis semua serangan menggunakan pedang Bulan Sabitnya. Dan kali ini Liyura lengah hingga cakar tajam yang di gunakan Vampir itu menggores lengannya hingga berdarah.
Liyura mundur dan memegangi lukanya. Memang dia tidak merasakan sakit tapi dia tetap tak terbiasa. Vampir itu menjadi senang saat Liyura terluka, tapi pemandangan selanjutnya membuat Vampir itu terkejut hingga terbelalak.
Luka yang ada di lengan Liyura juga pulih dan meregenerasi karena itu di sebabkan jumlah Poin HP nya yang fantastis, Sejak tadi sekalipun dia hanya menghabiskan total poin HP nya hanya sebanyak 5 poin.
Vampir itu terkejut melihatnya, pasalnya hanya Vampir lah yang dapat meregenerasi tubuhnya yang terluka tapi dia yakin jika Liyura bukanlah seorang Vampir karena dia tidak merasakannya.
"Aku ingin bertanya, Apakah kau tahu dimana keberadaan Dia yang di katakan oleh Vampir yang kau bunuh?"
"Aku tidak akan memberitahukan keberadaan Tuanku!"
"Oh jadi dia Tuanmu? Katakanlah jika tidak kau akan menerima akibatnya."
"Tidak akan pernah!"
Liyura menghela nafas dan sedikit bingung apa yang harus di lakukannya agar Vampir itu berbicara. Tiba-tiba Aver menelepatinya.
"Aku punya ramuan agar dia dapat mengatakannya, kau ambillah ramuan itu saja."
"Baiklah, pasti itu akan sangat membantu."
Liyura menutup matanya dan memikirkan jika ramuan yang di berikan Aver ada di tangannya. Dan sesuai kehendaknya, ramuan itu muncul bak dari ruang hampa membuat Vampir itu sekali lagi terkejut.
Vampir itu mengeluarkan keringat dingin. Dia belum pernah setakut ini pada manusia yang pernah di hisap darahnya. Dia pikir manusia hanyalah makanan yang di buat hanya oleh bangsa mereka---Untuk dimakan.
Liyura membuka matanya dan melihat ramuan itu, dia langsung membuka botol ramuan dan memberikan isinya secara paksa pada Vampir itu.
Setelah memasukkan ramuan ke mulutnya, Vampir itu terdiam seakan ada yang menghalanginya untuk mengatakan sesuatu sebelum Liyura menanyakannya.
"Siapa Dia yang dimaksud oleh vampir yang kau bunuh?"
"Dia adalah Tuanku, namanya Nuzan Kyoro. Aku di perintahkan ke sini untuk membunuhnya agar dia tidak sempat membocorkan perihal Tuan pada siapapun."
"Dimana Nuzan Kyoro ini?"
"Dia ada di Lembah Malam di sebuah rumah labirin, kami semua tinggal dengannya sebagai bawahan dan majikan."
"Siapa itu Merpati?"
"Merpati adalah sebutan dari Pemburu Vampir yang memburu kami."
"Mereka tinggal dimana? Para Merpati itu?"
"Mereka tinggal di sebuah Castle Kuno di dalam Lembah Wisteria."
Sebelum sempat Liyura bertanya lagi, Vampir itu menggorok lehernya sendiri dengan kuku panjangnya hingga dia akhirnya mati mengenaskan.
Liyura menggelengkan kepala, Dia sangat kagum dengan kesetiaan Vampir di hadapannya.
Liyura akhirnya melangkah tapi dia mendengar langkah lain yang membuatnya berhenti berjalan. Liyura melihat dua orang lelaki dan perempuan yang menggunakan Kimono berwarna hijau dan kupu-kupu berwarna kuning.
Sejenak hening sebelum perempuan itu mengecek keadaan Vampir yang telah mati di bawah kaki Liyura.
"Menyedihkan. Dia bunuh diri."
Perempuan itu meludahi Vampir yang telah mati dan menatap laki-laki yang ada di belakangnya.
"Bagaimana sekarang, Ray?"
"Kita kembali ke Lembah Wisteria."
Mereka sama sekali tidak menghiraukan Liyura tapi Liyura memilih menghentikan mereka.
"Siapa kalian?"
Langkah keduamya terhenti dan berbalik ke arah Liyura mereka baru tersadar jika ada sosok lain di antara mereka.
"Kami adalah Pemburu Vampir dari Lembah Wisteria."
"Bolehkah aku ikut dengan kalian? Aku mungkin mendapatkan informansi penting dari Vampir itu sebelum dia bunuh diri."
Mereka saling bertatapan seakan berbicara dalam pikiran dan serempak mengangguk, Mereka mengkode Liyura untuk mengikutinya di belakang.
Liyura hanya mengangguk dan segera mengekor ke tempat Lembah Wisteria. Perjalanan akhirnya dimulai dan mereka di perjalanan sempat menebas para Vampir dengan Katana milik mereka yang bukan Katana biasa.
Katana : Pedang panjang dari Jepang