
Liyura hanya mendengus saat mendengar perkataan Arend yang mengatakan jika sebaiknya bayi yang sedang di gendong oleh Ryan di berikan pada seseorang saja daripada akan menghampat mereka nantinya.
"Aku setuju. Kita saja sudah punya Inkarnasi Roh Bunga Wisteria sekarang, jadi kita tidak butuh siapapun lagi untuk menjadi pengikutmu. Meskipun Dunia Segel sangat besar namun perjalanan kita masih jauh untuk menampung para makhluk sebanyak ini. Saranku, kita tidak akan membuat makhluk yang tidak berguna menjadi pengikutmu agar tidak menambah beban."
Liyura menghela nafas, apa boleh buat, dia hanya bisa mengangguk karena Aver adalah Penjaga dari Dunia Segelnya maka jika suatu hal berkaitan dengan Dunia Segelnya tersebut maka saran Aver tidak boleh di bantah.
Aver terlihat puas saat Liyura mengangguk, setidaknya meskipun semua orang akan tunduk pada gadis itu, Liyura akan tunduk padanya juga jika menyangkut sarannya.
"Ok, tapi kita akan menyerahkan bayi tersebut pada siapa?"
Ryan terlihat berpikir, "Ha! Aku tahu. Aku akan membawanya pada seseorang saja. Mungkin saja dia akan menerimanya karena sedari dulu dia sangat menginginkan seorang anak."
Liyura sangat penasaran dengan orang yang di bicarakan Ryan, namun dia hanya mengangguk saja.
"Kalau begitu, aku akan memasukkannya terlebih dahulu ke Magic Forest, karena prioritas utama kita adalah menemukan dan mengalahkan Nuzan Kyoro terlebih dahulu."
Liyura melihat semuanya sangat setuju dengannya. Namun gadis itu merasa tidak tega dengan bayi yang di gendong oleh Ryan.
"Baiklah kalau begitu kita akan lanjut mencarinya, kita tidak boleh lengah lagi dan segera mengalahkannya secepat mungkin. Karena tugas kita masih banyak."
Liyura mengatakannya sambil tersenyum, dia tidak mau selama-lamanya terjebak dalam Lantai 2 dan menunggu para Player lain juga berpindah ke Lantai tersebut.
Saat mendengar perkataan Liyura, mereka juga langsung mengangguk karena sangat setuju dengan keputusannya.
"Itu bagus, kalau begitu, ayo kita akhiri penderitaan tiada akhir di Lantai ini. Lalu, kita akan lanjut ke Lantai berikutnya."
Liyura tersenyum mendengar perkataan Arend dan hanya diangguki oleh Ryan dan yang lainnya.
"Ngomong-ngomong soal Lantai, apa maksud kalian sebenarnya? Jadi, apakah ada dunia lain selain di sini?"
Aver melihat ke arah Ryan yang di penuhi dengan tanda tanya dari ekspresi wajahnya. Liyura melirik Undead itu dan seolah menanyakan melalui tatapan matanya untuk segera memberi tahu Ryan. Karena mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya pada pengikut Liyura yang masih tidak mengetahui tentang eksistensi Mozart.
Aver yang melihat lirikan dari Liyura segera saja menghela nafas.
"Aku akan menjelaskannya nanti padamu, Ryan. Prioritas utama kita sekarang adalah menemukan dan mengalahkan Raja Ras Vampir beserta para Vampir Bulan. Aku janji, nanti saat kita menyelesaikan pertarungan ini, aku akan memberitahu semuanya padamu, aku tidak akan meragukan dirimu yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dari anak seumuranmu. Karena kau adalah muridku, tentu saja aku bertugas untuk membimbingmu dan memberitahumu segala sesuatu yang tidak kau ketahui."
Ryan terkejut dengan perkataan Aver, itu karena perkataan dari Undead itu adalah yang pertama kalinya yang paling membuat pemuda itu terharu.
Ryan tiba-tiba saja tersenyum, "Terima kasih untuk semuanya, Guru. Terima kasih sudah membimbingku dan menjadikanku orang yang berguna, aku... sampai kapanpun tidak akan bisa membalas budimu."
Liyura berusaha menahan tawanya melihat Ryan saat ini sangat berbeda dengan saat ia menebas para Vampir tanpa berkedip menggunakan Katana berwarna hitam yang terkait di pinggangnya, yang juga berwarna sama dengan milik Aver.
Liyura hanya tersenyum pada akhirnya saat melihat mata Ryan yang terlihat berbinar-binar menatap Aver, seakan Undead itu adalah panutan yang paling ia banggakan. Padahal mereka berbeda Ras, tapi dapat akrab hanya dengan hubungan Guru dan Murid.
Arend terlihat cemberut dengan kedekatan Ryan dan Aver, memang benar jika pemuda itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan Aver untuk berlatih, jadi sangat mungkin jika Ryan akan lebih akrab dengan Undead itu daripada dengannya.
Arend segera saja berdiri di antara Aver dan Ryan dan saling melirik mereka satu-persatu. Liyura dan yang lainnya yang melihat Arend terlihat tersenyum geli, ternyata Raja dari Ras Elang Harpa bisa juga ya cemburu dengan kedekatan Tuannya bahkan dengan Gurunya sekalipun.
Arend yang menyadarinya terlihat tak acuh dan masih berdiri diantara mereka. Sedangkan Ryan segera saja membuat Arend masuk ke dalam Katananya lagi membuat Raja Ras Elang Harpa itu akhirnya tersedot masuk ke dalam Katana dengan terpaksa.
Ryan menghela nafas, mungkin saat dia mengeluarkan Arend lagi nanti pasti dia akan marah, tapi setidaknya untuk sekarang ia akan membuat Arend berada jauh dari jangkauannya namun dekat.
Perlu di ketahui, saat Arend masuk ke dalam Katana nya lagi dengan perintah dari Tuan dari Dobutsu, maka Dobutsu tersebut tidak akan dapat keluar lagi sebelum Tuannya mengizinkan.
Aver kali ini juga menatap puas, dia merasa sangat bangga dengan Ryan. Aver mendekatkan dirinya pada pemuda itu dan menepuk punggungnya.
"Setidaknya, Liyura nantinya akan lebih membutuhkanmu daripada aku, karena aku yakin, dengan mewarisi kekuatan dari aku, 'Si Badut', dan 'Orang Bertudung', maka kau akan melampaui Ras Penyihir maupun Ras Elf sekalipun."
Ryan tersenyum lembut, dia mengangguk dengan mantap. Liyura melihat perasaan senang dari pemuda itu, bahkan senyuman masih belum luntur dari bibirnya saat Aver menghampiri gadis itu setelah mengatakannya.
"Liyura, kusarankan kita harus berpencar untuk memperluas pencarian. Mungkin saat salah satu dari kita menemukannya, kita akan mengirim sebuah sinyal untuk membuat kita berada di tempat yang sama."
Liyura tidak menjawab, tapi dia mengiyakannya beberapa saat kemudian.
Kenzie dan Vyone yang berada di barisan terakhir terlihat waspada menatap sekitar secara tiba-tiba. Karena insting Vampir mereka tajam, maka mereka akan menyadari terlebih dahulu akan sesuatu.
"Ada yang datang..,"
Kenzie dan Vyone hampir berkata secara bersamaan membuat Liyura menatap ke belakang ke arah mereka. Tapi sekejap kemudian, Liyura menatap ke depan lagi dan melihat kabut.
Aver berhenti berjalan di samping gadis itu karena juga melihat kabut putih yang aneh. Sedangkan Ryan, dia mengedarkan pandangan dengan waspada, tangannya terlihat memegangi Katana hitam yang terkait di pinggangnya.
Liyura bergerak mundur untuk tidak menjauh dari kelompoknya, mereka secara insting segera saling memunggungi setelah kabut pitih bergerak perlahan menutupi sekitar mereka.
"Sepertinya Ikan telah memakan Umpan. Bukankah sekarang waktunya untuk menangkapnya?"
Tiba-tiba saja Liyura melihat sebuah panah berwarna emas melayang dan melesat ke arah sesuatu yang ada di depan mereka. Dan ternyata itu adalah panah milik Celine yang tengah menaiki Erza dengan wujud Burung Hantu besarnya di atas langit.
Kabut tiba-tiba saja menghilang setelah itu dan menampakkan ratusan, tidak Ribuan Vampir yang sedang menuju ke arah Liyura. Tapi, mereka sama sekali tidak terkejut. Bahkan Liyura sepertinya telah menduganya.
Gadis itu melihat Celine telah mendarat bersama Erza sebagai tunggangan dan langsung beruabh ke wujudnya semula.
"Benar sekali. Jika Ikan telah memasuki perangkap dan memakan umpan yang di berikan, kita harus menangkapnya."
Eeza menjawab perkataan salah satu Vampir dengan sarkas, matanya berkobar menginginkan pertarungan dalam sekejap. Liyura segera saja mengeluarkan pedang Excalibur dari sarung pedang di pinggangnya.
Melihat hal itu, Ryan dan yang lainnya juga tengah bersiap untuk bertarung dan menunggu aba-aba dari Liyura. Tentang Amon dan Fiona, mereka terlihat baik-baik saja sekarang dan tidak merasa ragu lagi untuk membunuh. Karena itulah, Liyura tidak mengkhawatirkan mereka yang berada di samping Kenzie dan Vyone yang terlihat dalam mode bertarung.
Kali ini, mereka semua---seperti telah menanti-nantikannya, mereka tidak terlihat takut sedikitpun akan pertarungan yang tiada habisnya, yang akan membuat mereka merasakan keputusasaan, dan perjuangan yang luar biasa---itulah Perang.
Pertarungan kali ini akan menentukan sebuah alur dari takdir yang telah di tentukan sejak awal, Kebangkitan Sang Dewa Kematian menanti untuk terlepas dari segel yang mengekangnya setelah hampir 20 Abad yang lalu...