Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 79 Berpindah Haluan [1]


Liyura sama sekali tidak merasakan lelah, rasanya dia seperti punya banyak nyawa dan jantung membuatnya tidak takut untuk kalah dan mati sekalipun. Mungkin menjalankan Ritual itu membuatnya mendapatkan suatu hal yang tidak terduga.


Liyura kali ini merasa ingin mencoba kemampuan barunya lagi, siapa tahu selain kekuatan matanya, dia masih punya kemampuan lagi. Fisik Liyura kali ini perlahan berubah. Dia tidak menyadari jika tekad dan hasratnya itu mampu membuat sihir penyelubung untuk menutupi sosoknya itu perlahan musnah dan hilang.


Saat melihat tampilan fisik Liyura yang berubah, sosok Rachel merasa mulai waspada dan menghilangkan semua hal yang membuatnya meremehkan Liyura. Seakan ada sesuatu yang berdering di kepalanya untuk tunduk di hadapan gadis itu.


Liyura hanya menghela nafas. Rasanya penglihatannya sekarang sangat asing saat mata hijaunya kembali menjadi warna merah darah. Rasanya seperti terlihat mata itu di lumuri oleh darah dari semua makhluk yang pernah di bunuhnya.


Mata Liyura terlihat seperti predator Monster yang mengintai mangsanya dan mengunci pandangannya untuk siap memburu dan membunuh, seakan kekuatannya itu hanya berfungsi untuk mengambil kehidupan seluruh makhluk.


Liyura melihat pedang Excaliburnya lagi. Dia melihat suatu Aura saat melihat pedang dengan mata merahnya yang menyala. Liyura kali ini menatap sosok Rachel yang ternyata adalah sosok Vampir.


Ini mungkin adalah suatu kemampuannya yang lain. Tanpa aba-aba, Liyura juga melangsungkan serangan balasan karena sudah melawannya sedari tadi tanpa memberikan perlawanan balik. Saat Liyura menyerang, Vampir itu terlihat meladeni Liyura dan tidak menghiraukan sesuatu yang berdering di kepalanya---sesuatu yang membuatnya ingin tunduk pada gadis itu.


Liyura kali ini bertarung seperti orang yang sangat berpengalaman, bahkan trik murahan dari Vampir itu sama sekali dapat Liyura tangani dengan mudah yang biasanya semua petarung akan langsung tertipu.


Liyura mengayunkan pedang Excalibur nya lagi, dia berusaha menebas Vampir itu secepat mungkin yang ia bisa lakukan. Liyura merasa sangat yakin jika dia harus membunuh Vampir itu, namun karena hanya Vampir itu yang mengetahui keberadaan para Jenderal, Liyura memberikan keringanan dan saat jarak mereka semakin dekat, Liyura menyentuh Vampir dengan sosok Rachel dan akhirnya mereka menghilang saat Liyura menutup mata. Sebenarnya dia tidak perlu untuk memegangnya namun Liyura hanya takut jika Vampir itu akan lari dan menghindar saja.


Mereka berdua menghilang dalam sekejap ke dalam Dunia Segel milik Liyura. Saat sampai, mereka menghentikan pertarungan karena Vampir yang terlihat terkejut dengan suasana yang terlihat berubah begitu saja.


"Dimana ini?!"


Vampir itu merasa sangat tidak suka dengan Dunia Segel.


"A-aura kuat macam apa ini..."


Karena mereka, para Vampir memiliki insting serta indra ke-6, mereka wajar merasakan aura dari para penghuni yang ada di Dunia Segel.


"Kau berada di duniaku. Aku tidak akan membunuhmu sebelum kau memberitahuku tempat dimana para Jenderal berada."


Liyura mengkode Vampir itu untuk mengikutinya ke sebuah goa dimana tempat itu terdapat keberadaan makhluk lain...


***


Sedangkan di Dunia Segel, dimana Aver dan yang lainnya berada...


"Hey! Namaku paling bagus ya! Namamu itu artinya Eden yang artinya taman Eden sangat tidak berkelas dengan namaku Ares yang artinya Dewa Perang!"


"Kau!! Namamu itu jelek! Kau sangat tidak berpendirian dengan arti nama Dewa Perang! Liyura memberikan aku nama Eden karena aku itu istimewa!"


"Hah?! Istimewa?! Bah, kau terlalu memandang dirimu tinggi, Eden. Namamu itu jelek!"


"Apa katamu?! Sini kau, Ares Bodoh!!"


Begitulah, keseharian di dunia segel terus-menerus. Sedangkan Jaquin kecil bernama Evol sudah terlihat terbiasa dengan hal berisik tadi.


Tapi lain halnya dengan Aver yang sedang membaca buku dan memerlukan ketenangan.


"Sudah diam! Sebentar lagi giliranku untuk mengajari Ryan, kalian harus diam!"


Ares dan Eden merasa kesal satu sama lain, namun siapa sangka mereka begitu kompak saat bersama. Bahkan kerjasama mereka hampir mengalahkan Liyura.


"Kau yang diam!"


"Hey! Kau lah yang diam!! "


Dan, akhirnya ruangan menjadi berisik kembali. Evol terlihat menguap bosan dan berharap Liyura datang. Dia sangat merindukan majikannya itu sekaligus seperti orang tua bagi Evol.


Akhirnya Liyura sampai di dalam goa bersama seorang Vampir membuat mereka semua terjaga dan suasana kembali hening.


Eden berkata dengan mengernyit, "Ini aura milik Liyura... dan?"


"Dan Vampir, Bodoh!" Ares menjawabnya dengan memukul punggung Eden dengan keras.


"Ahh!! Sialan kau, Ares!"


Mereka saling bertengkar kembali membuat Aver semakin tidak tenang. Itu memanglah Aura Vampir. Yang dirasakan mereka semua itu sama.


Lalu, seperti yang mereka rasakan, Liyura memang membawa sosok gadis yaitu Rachel namun dia hanyalah sosok palsu. Liyura menjadi menghela nafas saat melihat sekeliling yang terlihat berisik.


"Emm, Eden dan Ares bisa kalian diam?"


Liyura merasa sakit kepala saat dia mendengar suara pertengkaran, Evol yang merasa Liyura tidak nyaman, akhirnya mengaum dengan keras seperti perpaduan auman Singa dan Harimau.


Semuanya menjadi hening karena terkejut dengan Auman Evol yang sangat nyaring hingga goa bergetar dengan kencang sampai mereka tidak menyadari jika beberapa bukit yang tidak jauh dari letak goa, terlihat longsor.


Liyura merasakan sakit pada telinganya kali ini, dan tidak hanya dia, Vampir dengan wujud Rachel terlihat memegangi telinganya erat karena sensitif akan suara apalagi suara nyaring yang sangat dekat jaraknya.


"Baiklah, aku ingin minta kalian semua untuk menjaga dia." Liyura menunjuk ke arah Vampir dengan sosok Rachel membuat semuanya menatap ke arahnya. Evol sedikit menggeram dan Aver memandang sinis, serta Ares dan Eden menatap dengan tidak bersahabat.


"Aku ingin kalian membuatnya buka mulut dan mengatakan yang sebenarnya tentang keberadaan para Jenderal. Dengan cara apapun," Liyura menatap Aver, "dan tidak boleh ada yang mencobanya dengan ramuan yang dapat membuat Vampir ini mengatakan semua rahasianya."


Aver menghela mafas, "Serahkan saja pada 'Si badut' dan 'Orang bertudung', aku tidak mau mencampuri urusan membosankan ini."


Liyura tersemyum, "Ini hanya agar kalian melakukan suatu hal saja karena kalian dalam waktu senggang. Lagipula sepertinya akan menyenangkan, aku harus mengurus sesuatu di luar sana."


Liyura berjalan ke arah tempat keluar goa. Tapi saat melihat Evol, gadis itu merasa harus mengunjunginya. Liyura menghampiri Evol dan mengelusnya pelan tanda perpisahan sampai jumpa sekali lagi.


Evol terlihat sangat menggemaskan saat bersama Liyura, padahal ukurannya tidaklah kecil seperti dulu lagi yang bisa Liyura gendong di lengannya, namun sekarang malah Evol dapat mengangkut Liyura di punggungnya yang besar. Tidak lama lagi, Evol akan menjadi dewasa.


Liyura merasa sangat tenang saat bersama Evol. Semua bebannya menjadi sangat ringan dan menghilang secara tiba-tiba. Liyura serasa dapat bernafas dengan teratur kembali.


Mereka semua tidak memandang gadis itu, melainkan Vampir yang terlihat gemetar dengan semua aura penghuni goa. Dia tidak menyangka jika dia akan di kepung dan menjadi tawanan musuh seperti ini.


Tapi ke-setiaannya hanya pada Raja nya seorang saja. Namun, apakah benar? Bukankah sesuatu di kepalanya terdengar seperti saran agar dia tunduk pada Liyura. Liyura bukanlah Rajanya. Namun Vampir itu merasa ragu untuk sekarang.


Bahkan jika mungkin, entah kenapa dia malah lebih takut pada sosok yang ada di hadapannya ini daripada takut pada Rajanya. Liyura terlihat tersenyum miring dan masih tetap mengelus Evol.


Liyura akhirnya menatap Vampir yang terlihat ambruk dengan pandangan kosong setelah menerima Aura yang di keluarkan oleh Aver. Suasana mendadak menjadi hening. Gadis itu menghela nafas membuat pandangan semua mata di ruangan itu menatap ke arahnya tidak terkecuali satupun.


"Aku akan pergi. Anggap saja kalian bersenang-senang, aku hanya butuh informasi dari Vampir ini mengenai keberadaan para Jenderal Wisteria."


Aver akhirnya mengangguk, "Tadinya aku bosan, namun sebelum kau kirim Ryan untuk berlatih di Dunia Segel ini, aku akan ikut mencari informasi darinya," Ave merasa tertarik, "aku akan membuat dia mengatakan semuanya."


Selanjutnya, Liyura merasa tenang, untuk urusan kali ini, dia tidak dapat mengandalkan siapapun kecuali tiga orang itu; Aver, Ares, dan Eden membuat Liyura kali ini tersenyum lembut.


Saat merasa urusannya sudah selesai, dia menyudahi dirinya mengelus Evol dan segera pergi dari Goa itu.


***


Saat Liyura telah kembali ke dunia luar, Aver merasa ada yang aneh dengan Vampir di hadapannya. Tidak hanya dia, Ares dan Eden yang biasanya langsung memperebutkan nama terbaik kali ini juga ikut berpikir dan merasakan suatu hal juga yang hampir sama seperti Aver.


"Tunjukkan dirimu yang sebenarnya."


Aver terlihat mengucapkan kata-kata itu dengan suara penekanan dan perintah, nadanya cukup untuk membuat orang gemetar dan langsung menurutinya---seakan dia punya suatu jiwa kepemimpinan yang dapat membuat semua makhluk dapat tunduk dan mematuhi perintahnya.


Vampir itu dengan refleks langsung berubah kembali menjadi wujud yang semula. Yang tadinya dia menjadi sosok Rachel, dia menjadi sosok gadis cantik yang lebih tua dari Liyura beberapa tahun, dengan rambut hitam tebalnya lalu mata yang berwarna merah darah yang hampir sama warnanya dengan warna mata Liyura namun berbeda.


Struktur wajahnya juga sangat jauh berbeda dengan Rachel. Pakaiannya saja yang tidak berubah, yaitu menggunakan Kimono dengan corak Kupu-kupu berwarna ungu. Vampir itu terlihat ingin mengatakan sesuatu membuat taringnya yang mencuat terlihat di antara gigi-giginya itu.


Aver dan yang lainnya memandang dengan tatapan normal, seakan mereka sudah terbiasa, karena mereka sebenarnya pun bukan manusia juga. Hal seperti ini pasti di anggap normal, kan?


"Seperti kata Liyura, dimana para Jenderal Wisteria?"


Aver mengatakan langsung ke inti tanpa memedulikan apapun. Lagipula jika tidak mau menjawab, dia akan melihat suatu hal yang membuatnya senang... Membantainya tentu saja.


Atau menyiksa Vampir ini? Meskipun wajahnya cantik tapi masih lebih cantik Liyura, tapi bukan itu alasan mereka untuk tidak sungkan menyiksanya jika tidak memberi tahu keberadaan para Jenderal, namun itu adalah karena mereka yang memang cukup bosan.


Aver yang tidak mendengar jawaban apapun merasa telah bersiap untuk menggunakan cara kekerasan, jika itu pada lawan jenisnya sekalipun. Dalam soal pertarungan dan perintah Liyura maupun permohonannya, dia harus mengabulkannya tanpa terkecuali. Bisa di bilang apa yang pernah di katakannya saat bersama Arend adalah benar, bahwa Liyura saat ini adalah Tuannya.


Liyura adalah Tuannya sebelum ke-4 Pendekar Kembar---Tuannya yang sebenarnya kembali. Aver sepertinya menunggu aba-aba dirinya sendiri telah siap untuk melakukan tindak kekerasan jika menanyakan langsung saja Vampir itu tidak mau menjawab sedikitpun.


"Kuulang sekali lagi, aku yakin telingamu tidak bermasalah, dimana para Jenderal Wisteria berada?"


Vampir itu menunduk. Dia masih duduk di tanah tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya. Saat Aver masih tidak mendapatkan jawaban, dia akhirnya berjongkok di hadapan Vampir itu dan membuatnya mendongak dengan menyentuh secara kasar dagu gadis Vampir itu.


Mata hitam pekat Aver serasa sangat mendominasi atau seperti ingin memanipulatif seseorang di depannya. Aver memandanginya dengan tajam, jarak mereka lumayan sangat dekat, dan posisinya sangat pas.


"A-aku..." Gadis Vampir itu menelan salivanya saat di tatap oleh Aver kian tajam, "Aku tahu dimana mereka, namun aku tidak bisa memberitahukannya."


Aver kali ini melepaskan tautannya yang menyentuh dagu milik Gadis Vampir itu. Dia menjauhkan jaraknya sedikit membuat mereka berdua memiliki jarak yang besar lagi. Aver merasa frustasi, jika tidak bisa di beritahukan, bagaimana caranya mengetahui keberadaan para Jenderal Wisteria tersebut?


Ares dan Eden saling menatap di belakang Aver yang masih berjongkok di hadapan si gadis Vampir. Mereka berdua memiliki pikiran yang sama, yaitu berharap Aver lah yang dapat mengatasi masalah yang di berikan oleh Liyura. Lebih tepatnya melempar masalahnya pada mereka, kan? Karena Liyura sedari awal tidak pintar untuk mencoba mencari keberadaan sesuatu kecuali tempat, karena dia memiliki Magic Map.


Yang dia ketahui adalah tentang ilmu pengetahuan dan cara berstrategi maupun kemampuannya dalam berpedang dan menggunakan senjata apapun. Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan nya masing-masing, tidak terkecuali Liyura sekalipun.


Aver tiba-tiba saja menatap Ares dan Eden membuat mereka tersentak seketika. Aver menatap mereka untuk segera ikut campur mengatasi masalah ini. Mereka menghela nafas secara bersamaan dan ikut berjongkok mengelilingi gadis Vampir itu.


"Bagaimana kami bisa tahu keberadaan Jenderal Wisteria jika kau tidak memberitahukannya?"


Ares terlihat malas karena hal ini sama sekali tidak mendapatkan keuntungan sama sekali, hanya karena Liyura, dia jadi mendapatkan suatu hal yang tentu harus ia laksanakan.


"Aku tidak bisa memberitahukannya!" Vampir itu akhirnya berdiri membuat semuanya juga ikut berdiri. "Nyawaku bayarannya jika aku mengatakannya. Jadi kalian harus cari sendiri. Sayang sekali aku tidak bisa membantu kalian. Mau kalian membunuhku sekalipun, aku lebih baik mati di tangan musuh daripada harus mati karena mengatakan segalanya pada kalian!"


Gadis Vampir itu mulai merasa bangkit secara tiba-tiba, dia memikirkan cara untuk kabur dari Dunia Segel namun hal itu sangat sulit tanpa se-izin Liyura. Sedangkan Aver dan yang lain hanya menanggapi dengan ekspresi datar.


"Kau tahu? Kau mati pun tidak ada pengaruhnya bagi kami. Kau sudah membunuh, jadi kau pasti sudah mengira kan jika kau juga pasti ada kemungkinan untuk di bunuh. Untuk itu, lebih baik katakan saja keberadaan para Jenderal karena orang yang tidak berguna sepertimu malah membuat dirimu semakin menambah beban saja."


Ares terlihat serius dalam memgatakannya sambil menatap tajam. Dia jadi tidak merasakan ketertarikan untuk bersenang-senang lagi dan malah tambah bosan.


Sedangkan Eden langsung menghela nafas, "Ok, aku tidak akan ikut campur. Jika kalian mau aku bisa membunuhnya sekarang. Ada batasnya juga orang sepertiku bisa bosan. Dan hanya membunuhlah yang membuatku dapat menghilangkan rasa bosan itu."


Sedangkan Aver tetap terdiam, "Tidak ada cara selain memberikan ramuan yang membuatnya dapat mengatakan semuanya. Jadi, sepertinya aku akan mengingkari apa yang kukatakan pada Liyura."


Ares dan Eden terlihat tidak setuju, "Huh, boros sekali kau memberikannya pada Vampir ini. Bagaimana jika kau memberikan ramuan itu pada Arend si Raja dari Ras Elang Harpa, daripada memberikan padanya."


Ares melipat tangannya serasa kesal saat Aver ingin memberikan ramuan itu pada si gadis Vampir tersebut. Eden terlihat diam dan malah berjalan menuju sofa dan tiduran. Dia merasa sangat tidak tertarik dengan obrolan mereka yang sangat bertele-tele menurutnya.


"Jika kalian mau membunuhnya, bangunkan aku," Eden menutup matanya tanpa menunggu respon dari Aver dan Ares. Ares yang melihatnya membuat dirinya geram.


"Kau mau lepas tanggung jawab, ya! Sini kau, Eden!"


Sayangnya Eden telah pulas untuk tidur gara-gara dia sangatlah bosan. Aver menjadi menatap ke arah gadis Vampir itu lagi.


"Aku yakin ada yang aneh dari dirimu. Itu karena kau sama sekali tidak melawan kami dan malah bertindak seperti tawanan, jangan bilang kau merasa jika kau takut akan kematian? Karena kami dapat membunuhmu kapan saja?"


Gadis Vampir itu diam. Tidak berkata apa-apa dan terlihat malas untuk mengungkapkan sesuatu.


"Tidak, aku bukannya takut mati dan alasanku tidak melawan itu bukan urusanmu!"


Aver merasa sakit kepala tiba-tiba karena menanggapi sosok di hadapannya. Huh, rasanya masalah ini akan menjadi panjang untuk menyelesaikannya.


****


Halo, akhirnya novel "Chronicle Online" dapat kembali lagi setelah lebih dari satu bulan berhenti update.


Up novel akan berganti setiap hari kecuali hari Minggu dengan 2 chapter setiap harinya. Selamat Membaca~