Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 65 Rasa Curiga


Ryan dan Celine menyadari jika mereka tertidur di lantai Ruang Senjata Mistis membuat mereka langsung bangun dan berdiri. Mereka sama-sama merasakan sakit di kepala mereka membuat mereka sama-sama memegangi kepalanya itu yang terasa berdenyut.


Ryan kemudian berdiri dengan sempoyongan dan dirinya menyadari jika salah satu tangan kanannya sedang menggenggam sebuah Katana berwarna hitam pekat yang sangat keren.


Ryan tersenyum melihat Katana itu dan tentunya dia yakin jika dirinya telah berhasil melewati ujian ketiga.


Ryan berdiri dan berjalan ke arah Rachel yang telah menunggunya dengan menampilkan senyuman manisnya itu. Melihat Ryan yang telah sadar kembali dan berhasil lulus dari ujian ketiga membuat senyum Rachel menjadi semakin lebar.


"Selamat kau telah lulus ujian ketiga. Kau telah resmi menjadi Pemburu Vampir."


Ryan hanya mengangguk, dia kemudian melihat gadis remaja yaitu Celine juga terlihat sadar dan terlihat berjalan ke arahnya dan Rachel.


Rachel mengucapkan selamat seperti yang dikatakannya pada Ryan, Celine juga mengangguk.


"Nah karena kalian telah lulus ujian, kalian boleh istirahat dulu tapi besok kalian akan memulai misi pertama kalian, jadi selesaikan misi kalian sebaik mungkin."


Mereka mengangguk bersamaaan, "Oh ya aku lupa, kalian besok akan memiliki misi yang sama jadi kalian akan bekerja sama dalam menghadapi Vampir. Nah sebagai pembawa pesan dari kami, para Jenderal Wisteria maka dari itu kalian juga akan memilih Dobutsu atau binatang kalian sendiri nanti. Dan itulah ujian terakhir kalian."


Ryan terlihat menghela nafas, masih ada ujian keempat yang akan menantinya ternyata. Ryan menatap ke arah gadis yang ada di sampingnya setelah Rachel membubarkan mereka dan akan kembali ke kediamannya.


"Ayo ikut aku keluar dari sini."


Mereka semua langsung mengikuti langkah Rachel yang ada di depan mereka. Pertamanya tidak ada yang aneh tapi setelah mereka membuka pintu keluar pertama seperti ketika mereka akan masuk ke sini, mereka terlihat merinding.


"Akhhh!!"


Mereka menatap sekitar yang terlihat gelap. Rachel tersenyum, "Jangan menatap apapun, hiraukan saja."


Rachel terlihat menuntun mereka dalam gelap, lorong yang terlihat sempit membuat Ryan dan Celine meraba-raba dinding, entah kenapa jalan ini tidak sama seperti jalan yang tadi mereka lewati untuk masuk.


"Ah~ kalian tidak usah takut begitu, jalan keluarnya sudah ada di depan, kalian akan beristirahat dan nanti siang kalian akan melaksanakan ujian keempat."


Rachel terlihat tersenyum dalam kegelapan dan mereka menyusuri lorong itu. Tidak beberapa lama mereka mendengar suara teriakan tadi, entah kenapa kali ini Celine lah yang merasa aneh.


Mereka kemudian membuka pintu kedua untuk keluar, dan kali ini mereka melihat seseorang dengan tubuh yang kerempeng kurus yang sedang terbaring menyambut mereka.


Ryan terlihat biasa saja dan tidak tekejut, tapi Celine terlihat sangat syok. Celine menutup hidungnya agar bau mayat itu tidak tercium olehnya.


"Siapa dia?"


Celine terlihat menanyakannya pada Ryan. Ryan hanya menjawab dengan gelengan menandakan dirinya juga tidak tahu.


Ryan bergerak untuk memeriksa mayat itu membuat Ryan terkejut, "Dia adalah orang yang juga lolos di ujian pertama dan kedua. Apa yang terjadi sebenarnya, Nona Rachel?"


Ryan akhirnya menatap curiga, dia menatap ke arah Rachel dengan sedikit berekspresi menelisik gadis itu.


"A-aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. Aku sudah yakin jika aku telah membawanya ke kediaman."


Rachel terlihat sangat mencurigakan. Ryan menatapnya sangat tajam membuat Rachel terlihat menatap ke arah lain untuk menghindari tatapannya. Keringat dengan perlahan mengucur di sekitar wajahnya membuat Ryan semakin terlihat curiga.


"Ah... di sini sangat panas, ayo kita keluar secepatmya."


Ryan mengernyit, sangat panas katanya? Lalu apa gunanya fentilasi udara yang ada di ruangan ini? Meskipun ruangannya memang agak pengap dan gelap tapi mustahil jika sampai harus berkeringat seperti Rachel.


Ryan menatap dengan sangat tajam, Ryan merasa jika ada sesuatu yang tersembunyi dan menungu untuk terungkap. Ryan menghela nafas dan terlihat berdiri dari jongkoknya.


Ryan terlihat tidak peduli dengan mayat yang ada di hadapannya. Saat merasa aman, Rachel tersenyum dan segera menuntun mereka kembali ke kediaman.


***


Saat mereka sampai di kediaman, Rachel menyuruh mereka untuk beristirahat di kediaman miliknya.


Mereka mengangguk dan segera mengikuti Rachel menuju kediamannya. Saat di perjalanan, mereka terlihat tidak membicarakan apa-apa.


Mereka sama-sama memikirkan hal yang tadi dan tenggelelam dalam pikiran itu. Ryan berjalan menuju Kediaman Rachel membuatnya bertemu dengan Liyura di persimpangan jalan.


Liyura terlihat tersenyum dan menghampiri Ryan dan menhampiri pemuda itu. Ryan terlihat senang dan segera menghampiri Liyura juga.


"Bagaimana, Ryan? Kau lulus?"


Liyura menanyakannya sambil tersenyum dan meantap ke arah Rachel dan Celine yang ada di belakang Ryan.


"Ya, aku lulus, tapi masih ada ujijan keempat nanti siang."


"Wah ok kalau begitu semoga kau berhasil lulus ujian besok ya~"


Liyura terlihat tersenyum lebih lebar, entah kenapa mungkin suasana hatinya sedang baik. Dia menarik tangan Ryan dan segera pamit untuk membawanya.


Liyura mengajak Ryan ke arah bawah pohon yang ditumbuhi Bunga Wisteria. Liyura menagajak Ryan duduk berteduh di pohon itu.


"Ryan, kau telihat agak aneh sekarang, kupikir kau ada sesuatu, kau mungkin bisa menceritakannya padaku. Apa kau menemukan sesuatu yang aneh?"


"Kau tahu dari mana, Nona?"


Ryan terlihat terkejut karena Liyura dapat menebaknya dengan benar.


"Itu tidaklah penting sekarang. Kau menemukan hal yang mencurigakan seperti apa?"


"Aku curiga dengan Nona Rachel."


Liyura mengernyit mendengar jawaban Ryan, "Maksudmu, Ryan?"


"Saat ujian ketiga berlangsung, kami---bertiga yang lulus membunuh Vampir segera mengikuti ujian ketiga itu yaitu memilih senjata mistis kami. Tapi ada satu orang yang tidak mau mengikuti ujian itu membuat kami semua meninggalkannya. Tapi saat aku dan seseorang lagi mendapatkan Senjata Mistis, kami semua keluar dan melihat dia yang tidak mau mengikuti ujian ketiga, sudah mati menjadi mayat. Aku ragu jika dia mati tanpa alasan karena tubuhnya kurus sekali dari sebelum aku melihatnya. Aku menanyakan kepada Nona Rachel akan hal ini tapi dia tidak mengetahui hal itu, sejak hal itu aku curiga, aku takut dia menyembunyikan sesuatu karena ekspresinya menunjukkan begitu."


Liyura terkejut, dia hanya mengangguk, "Baik, jika begitu kita harus hati-hati padanya. Tentang hal yang tadi, kita harus menyelidikinya secara diam-diam, Ryan. Tugasmu hanyalah mengawasi Rachel untuk saat ini apakah dia benar-benar ada di balik pembunuhan tadi."


Ryan mengangguk, "Aku harap musuh kita tidak bertambah, karena manusia yang masih hidup pasti akan benar-benar punah jika sampai para Jenderal Wisteria ada hubungannya dengan Vampir apalagi Vampir Bulan."


Liyura hanya mengiyakan, dia menepuk pundak Ryan, "Jangan katakan pada siapapun dulu, bahkan pada Zayn sekalipun. Jika kau menemui keanehan lagi, kau hanya boleh mengatakannya padaku."


Ryan menghela nafas dan mengangguk, dia bangun dari duduknya dan segera bergerak untuk mengawasi Rachel secara diam-diam sedangkan Liyura tetap duduk santai di bawah Pohon Wisteria.


Liyura terlihat menghela nafas setelah melihat Ryan sudah tidak dapat dilihatnya lagi karena menghilang masuk ke dalam kediaman.


"Pasti ini akan jadi makin merepotkan kedepannya. Aku harap misteri ini tidak akan membuatku terkejut."


Liyura tersenyum menatap kelopak Bunga Wisteria yang berjatuhan menimpa dirinya. Liyura menatap langit dan berharap jika masalah ini dapat di selesaikan dengan cepat karena masih banyak yang harus Ia lakukan.