Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 34 Tentang Liyura


Malam hari tiba kembali bagaikan waktu cepat berlalu. Liyura kali ini terlihat sedang berbaring nyaman di dalam sebuah ruangan kamar yang membuatnya aman.


Liyura mengingat-ingat kembali perkataan Rachel, yang selalu terngiang-ngiang di telinganya seperti suara nyamuk yang berdenging.


"Kelemahanmu adalah kau itu tidak punya suatu kebencian. Kau kuat tapi kau tidak punya alasan untuk berjuang, entah perjuangan macam apa yang kau lakukan, kau tetaplah kau dan meskipun kau kuat melebihi aku sekalipun, kau tidak punya tujuan dan alasan menggunakan kekuatan yang besar itu. Kau terlalu naif dan terlampau baik pada semua orang. Kau menyembunyikan semuanya dengan baik, bahkan sifat rapuhmu dapat kau tutup dengan rapat dariku."


Liyura memejamkan mata saat kata-kata itu terngiang kembali bagaikan kaset rusak di telinganya.


Liyura tidak menyangka akan ada orang yang menyadari kelemahan maupun kelebihannya dan itu pula orang yang mengetahuinya adalah orang asing seperti Rachel.


Padahal dia sudah dapat membohongi semuanya, kedua kakaknya dan ayah maupun kakenya.


Liyura menghela nafas dan menatap langit-langit kamar yang terasa asing baginya.


Rasanya dia berada di tempat yang jauh dari rumah. Entahlah kenapa dia merindukan bangunan di Real World yang di sana banyak sekali kenangan kelam dirinya dalam mencapai kekuatan seperti sekarang.


Liyura memejamkan mata dengan perlahan, dia diam-diam ingin melupakan semua hal dan melangkah dengan jalan baru, tapi itu seperti sama saja baginya karena dia tetap memilih ada di jalan darah dan di penuhi teriakan orang yang di bunuhnya.


Dia rela mengemban dosa sebesar apapun untuk mencapai ambisi maupun keinginannya.


Tidak lama, Liyura merasakan jika kegelapan menyambutnya seakan siap menyuguhkan sebuah mimpi buruk yang nyata baginya.


 ***


Dan keesokan harinya tiba menggantikan malam yang di penuhi kegelapan. Liyura membuka matanya karena celah-celah cahaya matahari mengusik ketenangannya.


Liyura bangun dengan posisi terduduk dan melihat matahari yang menyinari bumi dan terasa hangat saat menyentuh kulitnya.


Suasananya sangat tenang membuat Liyura merasa semangat untuk menjalani hari. Pintu terbuka membuat perhatian gadis itu refleks tertuju pada pintu masuk kamar.


Para pelayan masuk dengan hati-hati dan melihat Liyura yang telah sadar. Mereka kemudian membersihkan ruangan kamar yang berantakan karena Liyura.


Liyura akhirnya memutuskan bangun dan mandi.


 ***


Kali ini, Rachel yang datang ke kamarnya dengan pelayan yang pergi setelah menerima perintah darinya.


Liyura agak sedikit terkejut tentang kehadiran Rachel tapi dia pandai menyembunyikan ekspresinya.


"Ada apa kau kemari?"


"Mau lanjutkan latihan? Kali ini aku tidak akan mengujimu seperti kemarin tapi hanya latihan biasa untuk meregangkan tubuh di pagi hari seperti berolah raga. Kau mau?"


Dengan senyum manis di bibirnya membuat Liyura tidak bisa menolaknya. Dia tidak tahu apa rencana yang di suguhkan gadis itu padanya tapi dia terlihat tidak khawatir.


Rachel kali ini membawa Liyura ke taman Bunga Wisteria yang tergantung di pohon dengan lebatnya.


Warna ungu dari bunga itu membuatnya seperti tersihir dengan keindahan dari bunga tersebut.


Liyura baru pertama kali melihat bunga. Sejak dia kecil, yang Ia tahu hanyalah belajar pedang, maupun belajar mengenai ilmu pengetahuan.


Dia selalu di ajari mandiri karena dia adalah sosok yang tidak mempunyai seorang Ibu. Dari lahir sudah terbiasa di rawat oleh ayah maupun kakek dan kedua kakaknya.


Sampai dia besar pun dia harus belajar pedang tanpa pilihan dan tidak punya satu detik pun waktu luang. Semuanya di isi dengan hobinya yang bermanfaat.


Seperti jika dia bosan, dia mempunyai banyak pilihan yang harus dilakukan. Terutama belajar pedang. Meskipun hanya dengan pedang kayu, tapi dia sama sekali tetap menyukainya.


Selain itu, dia juga bisa memasak. Memasak adalah pilihan kedua baginya ketika dia terlihat bosan untuk belajar pedang.


Lagipula dengan memasak dan makan masakan itu membuatnya lupa dengan semua hal karena perutnya yang kenyang.


Kadang dia juga mengisi waktunya di rumah dengan membaca semua buku yang ayah maupun kakeknya tulis jika mereka sempat.


Itu adalah sebuah buku yang memuat sebuah teknik pedang turun temurun di keluarganya sejak zaman dahulu. Dia membacanya sambil memakan masakannya dan terkadang berbicara sendiri mengenai teknik itu dan mempraktekannya.


Untuk itulah setelah masuk ke dunia ini, dia tidak bodoh amat untuk menyesuaikan diri. Tapi jika di pertanyakan bagaimana rasanya hidup di dunia lain, itu rasanya seperti kita telah bereinkarnasi.


Rasanya Liyura tidak mau pulang ketika dia berada di tempat ini. Rasanya sangat tenang dan terkadang dia juga sedikit berjuang untuk melawan musuhnya dalam menyelesaikan misi.


Liyura pernah bermimpi jika dia ingin sekali mengelilingi dunia karena dia tidak mau hanya jalan di tempat saja di negaranya tanpa melakukan suatu hal yang pasti akan di sesalinya saat dia sudah berusia senja.


Liyura sama sekali tidak mau kehilangan satu ambisinya meskipun keinginannya itu tidak dapat tercapai. Dia adalah orang yang tidak pernah menyerah akan satu hal dan memiliki sifat yang keras kepala daripada kedua kakaknya.


Dia adalah orang yang mandiri dan berpendirian kuat daripada orang lain. Dia adalah orang yang kuat, bahkan tidak ada siapapun yang dapat menyentuh ujung rambutnya saja di Real World karena tidak ada yang pernah berani menantangnya barang seorangpun.


Dia adalah orang yang di segani oleh siapapun karena sikapnya yang lumayan datar dan juga cuek pada sekitar padahal dia sangat berandai-andai memiliki kehidupan seperti teman-temannya di sekolah seperti merayakan sesuatu di restoran dengan makan besar atau mengidolakan seseorang.


Dia sih bisa melakukannya tapi dia terkekang dengan kebiasaannya yang sama sekali tidak pernah ada di dalam daftar hobinya.


Rasanya menjadi dirinya sangat sulit. Liyura hanyalah seorang gadis biasa awalnya tapi hanya karena cinta konyol yang dapat mencelakakannya.


Liyura mengepalkan tangan saat dia mengingat bagiamana dengan jelasnya Reino mengatakan jika dia menyukai Lidya daripada dirinya.


Sejak itulah Liyura bertekad tidak akan jatuh cinta lagi jika akhirnya membuat dia sakit. Tapi dia juga bersyukur karena Reino, dengan itu dia akan tutup mata soal perasaannya dan memilih untuk mengubur hatinya dalam-dalam.


Bisa dibilang Liyura yang sekarang tercipta menjadi pribadi yang lain karena patah hati. Untuk itulah, dia rela menebas apapun dan siapapun tanpa merasa iba dan simpati karena dia tidak memiliki hati lagi.


Sudah cukup untuk semua penderitaan yang di alaminya! Dia juga manusia, jadi untuk sekarang dia ingin bersenang-senang dengan caranya sendiri di dunia ini.


Memulai perang? Ikut berperang? Membunuh? Menyakiti? Akan Ia lakukan sepuasnya di sini tanpa ada yang mengekangnya.


Dan yang pasti dia juga tidak akan berperilaku seperti monster jika itu pada orang yang baik. Liyura adalah seseorang yang tidak suka memilih tapi dia juga bukan seseorang yang gampang memilih.


Memang yang di katakan Rachel benar, kelemahannya dia itu tidak memiliki suatu kebencian membuat dia tidak memiliki suatu alasan untuk berjuang.


Dia kuat, tapi dia juga lemah dan rapuh. Dia baik, terlalu baik malahan. Liyura hanyalah menebas kejahatan dan hal yang tidak pantas ada di dunia ini.


Rachel menatap Liyura dengan masih tersenyum, entah apa yang di rencanakan oleh gadis itu tapi yang pasti Liyura tidak tahu itu adalah sesuatu yang buruk ataupun baik.


Liyura memegangi kepalanya yang berdenyut sakit memikirkan semua beban yang di tanggung di pundaknya seorang diri tanpa ada yang menyadarinya.


Dia juga teringat dengan Ryan yang pastinya menunggu dirinya untuk mengembalikan adiknya, Naomi menjadi seorang manusia kembali.


Liyura merasakan patah semangat seketika saat memikirkannya. Sesungguhnya meskipun dia dapat mengalahkan Nuzan Kyoro ini belum tentu itu adalah kunci untuk Naomi menjadi manusia kembali.


'Ini rumit. Apa yang harus kulakukan? Apa benar dengan ungkapan 'Semua masalah ada solusinya barang sesulit apapun' itu adalah sesuatu hal yang pasti?'


Liyura tergerak hatinya untuk menyentuh Bunga Wisteria yang tergantung di atasnya. Bunga yang dangat indah membuat pikiran negatifnya sirna seketika.


Liyura menatap dengan sendu bunga itu dan segera melepaskan sentuhannya. Liyura menatap Rachel yang sedari tadi tersenyum tanpa alasan yang jelas dengan senyuman yang amat lebar.


Liyura baru menyadari jika seekor Kupu-kupu berwarna kuning bertengger di jari Rachel dengan tenang tanpa takut pada gadis itu.


Rachel memandangnya dengan senang. Dia melihat Kupu-kupu lainnya dan segera mengahampiri kumpulan Kupu-kupu itu.


Liyura mengubah ekspresinya menjadi ikut senang, dia melihat Kupu-kupu berwarna ungu terbang ke arahnya dan bertengger di tangannya.


Liyur menatap sayap Kupu-kupu yang cantik itu tapi tidak lama kemudian, Kupu-kupu itu terbang kembali menuju langit membuat Liyura mengikuti kemanapun arah Kupu-kupu itu pergi.


Liyura merasa hari ini dia berpetualang tentang ekspresinya. Meskipun Liyura tidak ingin membuka luka lama yang ada pada dirinya tapi dia tetap tidak bisa membalikkan fakta jika kenangan kelam itu adalah kenangan miliknya dan apapun yang Ia lakukan tidak akan mengubah apapun karena masa lalu hanyalah kenangan yang terekam dalam otaknya dan tidak mungkin bisa dapat di hilngakan dengan mudah.


Yang bisa gadis itu lakukan sekarang hanyalah mengubah masa depannya dengan melangkah maju menuju kebahagaiannya yang telah menunggunya untuk mencapai tujuan itu.


Melodi indah seakan terngiang di kepalanya bagaikan memutar kenangan miliknya kembali, melodi indah namun dia merasa asing dengan melodi itu tapi juga terdengar Familiar.


Liyura menutup mata dan menikmati semua perjalanan hidupnya, apapun yang Ia lalui dia tetap akan ada di jalan yang sama dengan jalan yang di pilihnya.