
Liyura di pindahkan ke ruangannya oleh beberapa Maid di kediaman Rachel. Karena mereka telah mengalahkan Liyura, itu artinya mereka akan menjalankan ujian kedua yaitu membunuh Vampir di luar Lembah Wisteria.
Mereka akhirnya berjalan dengan terpencar karena ujian ini adalah ujian bertahan hidup, mereka berempat yang lolos akhirnya berpencar ke segala arah untuk membasmi Vampir yang berkeliaran saat hari telah malam saat itu.
Ryan pun juga begitu, dia sama sekali tidak gugup maupun takut karena dia mempunyai sihir yang akan membantunya dalam pertarungan melawan para Vampir di sana.
Apalagi dia tidak khawatir akan kalah karena jika memungkinkan dia akan menggunakan sihir cahayanya untuk membuat para Vampir menghilang dengan sendirinya.
Kali ini mungkin akan cukup sulit bagi peserta lain yang tidak mempunyai inti sihir seperti yang di miliki Ryan. Tapi mereka cukup mengakui kekuatan mereka.
Ryan berlari ke arah barat dan terpisah dari 3 orang lainnya yang berlari ke arah berlawanan. Kali ini adalah pertarungan hidup dan mati. Jika kalian kalah dari para Vampir, kalian pasti akan mati dihisap darahnya atau mungkin dibunuh. Itu tidak ada bedanya sama sekali.
Ryan terlihat santai karena dia sudah pernah melawan para Vampir sebelumnya bersama Liyura, Zayn, dan Kei. Ryan sebenarnya malah berpikiran hal lain sejak tadi.
Masalahnya adalah tentang Liyura, apa mungkin gadis itu kalah begitu saja? Sepertinya tidak mungkin. Setahu pemuda itu, Liyura adalah gadis yang kuat dan baik pada semua orang.
Bahkan Ryan tidak percaya jika Liyura akan kalah begitu saja, tapi dia akui Liyura mungkin memiliki suatu masalah kenapa dia dapat tumbang begitu saja hanya dengan Skill ganungan.
Atau mungkin ada hal lainnya yang tidak pemuda itu ketahui tentang apa yang terjadi sebenarnya? Ryan akhirnya menggelengkan kepalanya. Dia menatap ke arah depan, di luar Lembah Wisteria adalah hutan yang sangat luas, dan berbatasan dengan hutan ini adalah Desa Guren. Para Vampir tinggal di hutan ini untuk menghindari sinar matahari, karena bagaimanapun hutan ini tampak seperti hutan yang ada di Lembah Malam.
Ryan memperhatikan sekitar, suasana sangat hening, bahkan dia tidak mendengar apa-apa kecuali angin yang berhembus di sekitarnya.
Ryan hanya menghela nafas, dia sama sekali tidak ada niatan untuk mencari Vampir, biarlah mereka sendiri yang datang padanya. Ryan sekarang malah memikirkan adiknya, Naomi.
Dia takut jika dia harus membunuh keluarga satu-satunya itu jika sampai Naomi ingin menghisap darah manusia seperti yang terjadi pada Leo, adik dari Zayn.
Dia tidak mau menanggung penyesalan yang tidak akan pernah di lupakan olehnya seperti yang dialami Zayn. Entah berapa lama lagi penderitaan tiada akhir akan menimpa mereka.
Para Vampir telah ada sejak beberapa ribuan tahun yang lalu, dan telah ada banyak generasi ke generasi yang telah melawan mereka tapi mereka semua tidak ada habisnya untuk dibunuh.
Rantai makanan berlaku di lantai ke-2 ini, Ryan menatap sekitar saat dia mendengar sesuatu bergerak dari arah semak-semak. Meskipun pendengarannya tidak sensitif tapi pendengarannya tetap dapat berfungsi dengan normal karena suasana yang cukup hening membuatnya dapat mendengar apapun bahkan suara kecilpun.
Ryan menatap Pedang Bulan Sabit yang diberikan Liyura padanya, pedang itu sebenarnya sama sekali tidak cocok dengan Ryan. Tapi setelah dia menjadi Pemburu Vampir, dia akan mendapatkan senjatanya sendiri dan akan mengembalikan pedang itu pada pemilik aslinya, Liyura.
Ryan terlihat menatap semak-semak yang bergarak, dan setelah sesuatu keluar, dia menghela nafas. Sesuatu itu ternyata hanyalah seekor Tupai biasa dengan membawa buah Pohon Ek yang ada di tangan kecilnya dan memanjat pohon di sebelah Ryan berdiri sambil memanjat dengan cepat.
Ryan melanjutkan langkahnya dan menatap sekitarnya lagi. Apa dia harus menggunakan Sihir pencariannya untuk mencari Vampir yang ada di sekitarnya?
"Tolooong!!!"
Ryn terlihat berhenti berjalan saat mendengar sebuah suara dari kejauhan dengan diiringi burung-burung yang beterbangan menjauh dari asal suara itu.
Ryan tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah asal suara dan menemukan salah satu temannya yang tadinya ikut lolos dalam pertarungan melawan Liyura sedang terpojok dengan Katana yang telah patah di sebelahnya.
Dan dihadapannya telah ada sesosok Vampir yang menyerupai Monster dengan tubuh yang sangat tinggi. Ryan langsung saja menghampiri keduanya dan berada di hadapan Vampir itu.
"Siapa kau? Jangan halangi aku untuk membunuhnya, atau kau ingin menggantikan dia?"
Ryan tidak membalas, dia melihat seorang remaja yang lebih muda darinya telah meringkuk ketakutan dengan mata yang berair seakan air mata akan tumpah kapan saja.
Tangannnya gemetar saat menatap Vampir dihadapan Ryan. Sedangkan entah kenapa pemuda itu sama sekali tidak takut pada sosok di hadapannya.
Saat dia menatap Ryan, remaja itu bersiap mundur pelahan dan akhirnya lari terbirit-birit secepat mungkin dari sana. Ryan yang menyadarinya berdecak kesal, sudah ditolong tapi langsung melarikan diri, mengatakan terima kasih pun tidak.
Ryan menatap Vampir di hadapannya. Dia telah siap melancarkan sihir cahaya jika dia tidak bisa mengalahkan Vampir itu. Ryan terlihat mengaliri Mana pada pedang Bulan Sabit, dia bukanlah pemilik pedang ini jadi dia tidak bisa mengeluarkan Skill yang dimiliki pedang itu terkecuali Liyura, karena Liyura adalah pemilik sah dari pedang itu.
Pedang Bulan Sabit memancarkan aura putih di sekeliling pedang di iringi tangan kiri Ryan yang tidak memegangi apa-apa menjadi mengeluarkan secercah sinar terang berwarna seperti cahaya matahari membuat Vampir itu mundur.
Pedangnya yang biasanya terasa berat kali ini sangat ringan karena Mana dari Ryan membantu menurunkan Massa pada pedang itu. Yang bisa mengangkat pedang itu dengan tangan kosong mungkin hanya Liyura karena gadis itu juga adalah pemilik pedang ini sekaligus tuannya.
Ryan menarik napas sebelum menyerang, dia menggunakan kuda-kuda sempurna yang diajarkan oleh ketiga pengikut Liyura dan segera bersiap menyerang.
Vampir itu terlihat takut dengan cahaya yang ada di tangan Ryan yang berpendar di matanya seakan dapat membakarnya hanya dengan setitik cahaya di tangan kecil pemuda itu.
Serangannya cukup lembut namun mematikan. Vampir itu tidak bergeming saat diserang, saat pedang Bulan Sabit hampir mengenai tubuh Vampir itu, terlihat semacam pelindung tak kasat mata hingga Ryan terpental mundur dan hampir terjatuh jika dia tidak menjaga keseimbangannya.
Ryan berdecih hingga cahaya yang berpendar di tangan kirinya menjadi tambah besar dan sangat terang. Vampir itu mundur lagi untuk menghindari cahaya yang ada di tangan Ryan.
"Pengecut kau! Jika kau berani hadapi aku tanpa cahaya itu!"
"Tidak ada kata pengecut dalam pertarungan hidup dan mati! Aku tidak bisa bertarung adil karena jika aku melakukannya maka aku akan mati! Aku tidak akan terima jika aku dikalahkan olehmu!"
Ryan berteriak sekuat tenaga dan melesat kembali ke arah Vampur itu. Kali ini dia dengan tekadnya dapat menembus perisai yang menutupi tubuh Vampir itu.
Ryan dengan sihir cahaya di tangan kirinya langsung mengarahkan tangannya itu ke pelindung tak kasat mata yang melindungi tubuh Vampir itu hingga Ryan mendengar sesuatu yang pecah hingga sihir cahayanya berhasil mengenai tubuh Vampir itu hingga terbakar setelah cahaya itu menyentuh dirinya.
Teriakan pilu terdengar hingga Vampir itu mundur lagi sambil berusaha menghilangkan cahaya yang membakar tubuhnya secara perlahan dan terasa sakit.
Ryan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyerang Vampir yang telah Ryan hancurkan pelindungnya itu. Ryan menancapkan pedang Bulan Sabitnya ke arah Vampir tersebut tanpa ampun dan ragu setelah pemuda itu mengingat kembali apa yang telah Vampir lakukan pada keluarganya.
Ryan berteriak sekuat tenaga untuk berhasil melukai Vampir itu tapi Vampir yang telah menyadari serangan Ryan langsung balik menyerang dengan mencekik leher pemuda yang menyakiti tubuhnya.
Ryan tidak sanggup untuk melawan dan nafasnya terputus- putus setelah beberapa lama dia tidak bisa menghentikan cekikan Vampir itu.
Dengan tangan kirinya yang masih terdapat secercah cahaya yang berpendar terang dengan langsung Ryan mengarahkan cahaya itu ke tangan Vampir yang mencekik lehernya hingga tangan itu melepuh dan terbakar menjadi abu membuat tangan Vampir itu mengilang dan menjadi buntung.
Saat cekikan itu terlepas, Ryan segera terbatuk-batuk dan bernafas normal lagi. Dia merasakan jika lehernya seperti ikut melepuh tadi akibat sinar yang mengenai tangan Vampir itu sangat dekat dengan sihir cahayanya.
Wajah Ryan memerah akibat kesulitan bernafas, Ryan meletakkan pedang Bulan Sabitnya dan memegangi lehernya yang terkena luka bakar tapi sepertinya tidak parah.
Ryan terus terbatuk-batuk hingga dia merasakan air mata mengalir di pipinya karena tidak sanggup menahan sakit yang mendera di lehernya akibat luka bakar itu.
Tapi dia tidak bisa tenang dan lengah begitu saja. Sebelum Vampir di depannya dikalahkan dia tidak mungkin bisa tenang.
Ryan yang bersimpuh tadinya langsung berdiri dengan perlahan saat setelah dia mengambil pedangnya kembali. Ryan dengan gemetaran berusaha berdiri dan melawan rasa sakit yang teramat sangat di lehernya.
Ryan memegang erat pedang Bulan Sabit dan mulai menggunakan Sihir Cahayanya lagi di tangan kirinya dengan merapalkan mantra dan berusaha menyerang lagi.
Sedangkan Vampir tadi masih berteriak pilu karena tangannya yang sakit akibat terkena cahaya itu dan juga tubuhnya yang terkena luka bakar dan melepuh akibat serangan sihir cahaya dari Ryan juga.
"Berani sekali kau melukaiku, Manusia! Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan akan menghisap darahmu itu!"
Vampir itu menggeram dan kali ini dialah yang bergantian menyerang Ryan. Ryan juga tidak bisa diam saja, dia segera melesat ke arah Vampir itu juga dan kali ini Ia mengandalkan pedangnya untuk melukai tubuh Vampir itu lagi.
Mana sihir yang melapisi pedang memang dirancang khusus untuk menembus tubuh sekuat baja sekalipun. Jadi Mana itu bisa dianggap berguna oleh Ryan.
Ryan tidak mengulur-ulur waktu hingga dia melapisi sihir cahayanya juga pada pedang Bulan Sabitnya.
Ryan terlihat kelelahan jika dilihat nafasnya yang terengah-engah tapi entah darimana dia masih dapat berdiri tegak dan memiliki stamina yang cukup untuk tetap melawan. Bahkan Mana sihirnya tidak terkuras sedikitpun.
Ryan terlihat hampir menyerah karena dia masih merasakan luka bakar di lehernya yang teramat sakit dan panas saat dirasakan.
Ryan dengan kekuatan terakhirnya segera menebas Vampir itu yang juga kelihatan ingin menyerangnya tapi digagalkan karena tangan kirinya masih berpendar sihir cahaya yang dapat membakar Vampir itu kapan saja.
Ryan tidak membuang waktu lama dan langsung mengakhiri semuanya dengan cepat dan alhasil tubuh Vampir itu berhasil terbelah diiringi tubuh itu ambruk ke tanah tanpa bergerak sedikitpun.
Ryan terlihat menghela nafas dan bersimpuh, dia dengan nafas terengah-engah masih mempertahankan kesadarannya. Ryan masih harus bertahan sebentar lagi untuk kembali ke Lembah Wisteria karena dia telah mengalahkan Vampir.
Ryan berdiri kembali dan dengan tubuh sempoyongan berjalan sambil menggeret pedang Bulan Sabit yang telah dilapisi oleh darah berwarna merah pekat milik Vampir tadi.
Ryan menggunakan sihirnya untuk mempercepat langkahnya sebelum dia kehilangan kesadaran hingga dia sampai lebih cepat daripada yang lainnya yang masih bertarung mati-matian juga dengan para Vampir.
Saat sampai di Lembah Wisteria, Ryan menuju ke kediaman Rachel dan akhirnya ambruk ke tanah, tapi sebelum itu para Maid yang melihatnya segera menahannya jatuh dan membawa Ryan ke tempat peristirahatan.
Malam itu, adalah malam yang paling melelahkan bagi semuanya.