Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 72 Hal-hal Yang Tersembunyi


"Jadi, katakan padaku sesuatu yang kau tahu tentang keempat pelindungku?"


Suasana terlihat tambah hening, semuanya melihat ke arah Arend yang menatap Liyura tajam.


"Itu mudah, hanya karena aku mengatakan sesuatu tentang keempat Tuan dari Raja Undead pada Ryan maka Ryan memberitahuku jika hal itu di anggap penting bagimu. Aku hanya tahu jika keempat pelindungmu itu adalah orang yang kuat karena aku saja kalah dari salah satu dari mereka. Mereka di juluki Sang Dewa Kematian pada masa jayanya. Mereka telah membantai lebih dari milyaran makhluk hidup yang pernah ada."


"Sifat mereka itu seperti Monster. Bahkan mereka itu sendiri terlihat lebih menyeramkan dari Monster. Mereka juga menaklukkan Raja Raios, Raja dari Ras Naga pada masanya. Umur mereka mungkin tidak lebih dari 19 tahun. Masih sangat muda dan mereka juga berumur panjang karena suatu alasan."


"Tapi mereka memghilang bak di telan bumi karena suatu alasan pada suatu hari hingga semua orang yang takut pada mereka terlihat girang menyangka jika Sang Dewa Kematian telah mati. Tapi ternyata ketika aku menyelidikinya, mereka hanya tersegel di dalam pedang mereka masing-masing. Pedang itu kemudian di perebutkan karena memiliki sesuatu kekuatan yang besar dari segala pedang yang ada."


"Selama berabad-abad, banyak sekali pertarungan untuk merebut pedang Sang Dewa Kematian sampai suatu hari, pedang itu hilang tersebar di seluruh dunia atau bisa di sebut seluruh Mozart ini."


"Dan ya, segel yang mengekang mereka itu di dalam pedang akan terlepas jika seseorang yang terpilih datang ke dunia ini dengan langsung memiliki salah satu pedang legendaris tanpa adanya halangan apapun yang menghentikannya untuk memilikinya, seakan takdir telah menolak semua hal buruk yang akan terjadi padanya sebelum dia mendapatkan pedang itu. Dan orang yang terpilih itu akan mencari semua pedang yang tersebar di seluruh Mozart hingga dia akan bertarung mati-matian dengan penghuni semua Ras Underworld untuk mendapatkannya, dan dengan darah yang mengalir dalam sebuah perang tiada akhirlah yang dapat membayar dan memutus segel yang menjadi kekangan Sang Dewa Kematian."


Jantung Liyura terdengar berdetak setiap saat ketika dia mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Arend dengan lantang.


"Sebelum mereka tersegel, mereka juga berjanji dan perjanjian itu tertulis di Prasasti yang terletak di suatu Kerajaan yang di sebut Kelahiran Nephilim dan Jatuhnya Iblis. Aku tidak tahu itu di mana tapi di kerajaan itulah Prasasti perjanjian Sang Dewa Kematian sebelum tersegel di dalam pedang mereka masing-masing yang di sebut dengan pedang Penghancur Roh. Bahkan pedang itu masih terkenal sampai sekarang karena Legenda tidak akan pernah mati."


"Orang seperti Raja Undead yang menjadi Entrant (Pembantu) bagi keempat pelindungmu itu sebenarnya pura-pura tidak tahu akan hal yang terjadi pada Tuannya. Tapi itu semua terjadi ada alasannya, bukankah begitu, Raja Undead?"


Arend terlihat menatap Aver dengan pandangan menanyakan seakan dirinya sudah tahu jika itu memang benar.


"Apa itu benar, Aver? Kau berbohong padaku?"


Aver terlihat menatap Arend dengan tajam, "Kau harus jujur, Raja Undead. Kau sudah menganggap gadis itu sebagai Tuanmu, 'kan?"


Semuanya terlihat menunggu perkataan Aver, Aver terlihat menghela nafas.


"Yang di katakannya itu benar, maaf Liyura aku berbohong padamu jika aku tidak mengetahuinya dan selalu mencari alasan untuk tidak membahas hal itu. Tapi aku punya alasan di balik itu, bukan alasan biasa tapi karena aku sudah bersumpah untuk tutup mulut pada siapapun soal hal yang terjadi pada Tuanku. Aku tidak bisa melanggar sumpah itu karena hal itu adalah bentuk kesetiaanku pada mereka."


Liyura terlihat terkejut, "Baik, kali ini akan kumaafkan tapi kau sudah keterlaluan, Aver. Aku bukannya ingin memaksamu untuk memberitahukannya padaku, tapi bukankah kau bisa bilang hal seperti tadi padaku tanpa berbohong? Kau bisa katakan padaku jika kau tidak bisa mengatakannya tentang hal itu maka aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengatakannya agar kau tidak berbohong."


Liyura menatap Aver serius. Dia sama sekali tidak menyangka Aver akan berbohong padanya tentang keempat pelindungnya yaitu di sebut Pendekar Kembar. Entah mereka berwajah sama atau tidak tapi Liyura jelas menunggu keberadaan mereka.


"Apakah kau berbohong juga tentang semua hal mengenai keempat pelindungku dan juga termasuk julukannya bernama Pendekar Kembar?"


"Jika julukan itu memang benar adanya Liyura, aku sudah seribu kali mendengar julukan itu di masaku. Aku hanya berbohong padamu tentang---"


"Baik, baik Aver. Aku akan memaafkanmu kali ini karena jika kau berbohong lagi aku akan menanyakannya pada Arend. Itu sudah bisa di terima untuk sekarang. Aku hanya perlu membangkitkan mereka 'kan untuk sekarang."


Aver mengangguk dan sekali lagi memandang tajam ke arah Arend dengan pandangan menusuknya.


"Arend, kau bisa teruskan penjelasanmu. Kumohon, aku sangat butuh penjelasan darimu karena Aver di tuntut untuk tutup mulut. Aku juga tidak mau jika dia melanggar sumpahnya. Aku sangat menghormati hal itu, jadi aku akan bertanya semua hal yang kupertanyakan padamu, jika kau tidak keberatan."


"Katakan apa keinginanmu jika aku bisa mengabulkannya."


"Aku hanya menginginkan 1 Reguler Dice. Aku butuh itu untuk sesuatu. Apakah kau punya?"


"Satu Reguler Dice ya? Kenapa tidak?"


Liyura kemudian mengeluarkan 1 Reguler Dice nya membuat yang lain merasa terkejut.


"Bagaimana kau bisa memilikinya?!"


Aver terlihat tidak terima jika Liyura menyerahkan Dice berharga itu kepada Arend.


"Aku memilikinya karena menyelesaikan misi mengalahkan Administrator di lantai pertama."


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"


"Karena kau tidak bertanya."


Aver terlihat menghela nafas, Liyura tidak bersalah dalam hal itu. Mungkin dia lah yang salah karena tidak menanyakannya.


"Lagipula aku masih punya satu Regular Dice lagi."


"Kau mengatakannya hanya seperti membuang batu saja. Kau tidak tahu apa kegunaan dari Regular Dice?!"


"Aku tahu tapi lebih berharga Gold Dice daripada ini."


Suasana seketika hening, Liyura langsung menyerahkan Reguler Dice pada Arend.


"Aku mempercayaimu, jika kau sampai menggunakan Dice ini untuk hal yang buruk, aku akan menuntutmu untuk mengembalikannya 2 kali lipat."


"Hmm, baiklah. Lagipula ini hanya untukku membangun wilayah yang telah lama kutinggali, hanya itu yang kuinginkan."


Liyura hanya mengangguk, "Kau bisa menjelaskan lagi."


"Iya tapi ini sudah malam, aku juga butuh istirahat, besok saja ya..."


Arend terlihat menguap, meskipun dia adalah Raja atau apapun itu, dia juga tetaplah makhluk hidup sama seperti yang lainnya. Bedanya mungkin Arend tidak akan bertambah tua dalam beberapa abad.


Liyura akhirnya menyadari jika hari telah berganti menjadi malam, Liyura akhirnya menghela nafas dan menyuruh semuanya beristirahat untuk sekarang.


Entah kenapa saat memikirkan tentang keempat Pendekar Kembar, dia memiliki perasaan yang cukup aneh, seakan takdir dirinya di dunia Game Chronicle Online akan segera dimulai dan mungkin juga di pertaruhkan.