Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 44 Korban Serangan Vampir Lagi


Liyura dan yang lainnya segera mencari sosok perempuan yang tadinya tidak sadarkan diri akibat disiksa oleh Qin.


Liyura sekarang hampir tidak percaya jika gadis itulah tadi yang ternyata adalah salah satu Vampir Bulan.


Liyura tidak tahu berapa banyak Vampir Bulan tapi dia cukup yakin jika mereka ada 12.


Zayn terlihat lelah mencari ke sana ke mari bersama yang lainnya. Sedangkan Ryan tetap mengikuti meskipun dia lebih lelah dari Zayn.


Liyura yang melihat kedua orang itu langsung memerintahkan untuk istirahat.


"Kalian duduklah dulu dan aku yang akan melanjutkan mencari."


"Tapi..."


Ryan terlihat tidak setuju tapi apa boleh buat, mereka telah menyusuri hutan lebih dari 2 jam lamanya hingga mereka lelah sendiri. Tapi itu terkecuali bagi Liyura, poin HP nya kan fantastis. Mau dia berjalan seminggu lebih tanpa makan dan istirahat dia masih sanggup.


Zayn terlihat sangat kagum dengan Liyura. Sejak tadi mereka berjalan, Zayn tidak melihat setitikpun air keringat yang turun di kening Liyura. Bahkan gadis itu terlihat tidak kelelahan sama sekali.


Zayn langsung ambruk duduk di permukaan tanah setelah Liyura mengatakannya. Masa bodoh dengan mencari Vampir Bulan itu, asalkan dia beristirahat cukup, Vampir Bulan manapun akan Ia lawan dan kalahkan.


Ryan akhirnya mengangguk dan duduk di permukaan tanah di samping Zayn. Sedangkan Liyura segera menghampiri Evol.


"Aku akan pergi lagi. Aku serahkan mereka berdua padamu, Evol."


Evol kali ini terlihat kesal karena selalu ditinggalkan oleh Liyura bersama dua orang pemuda berisik. Evol merengek ingin ikut dengan meraung kepada Liyura.


Dan Liyura hanya menghela nafas, apa boleh buat, dia akan tetap bersama mereka jika Evol tidak mau ditinggalkan.


"Baik baik, aku akan di sini saja. Aku tidak bisa membiarkan mereka berdua seorang diri."


Liyura mengelus puncak kepala Evol yang terlihat hampir menyamai tingginya sekarang. Evol terlihat menggeram nyaman dan menutup matanya.


Liyura tersenyum dan beralih pada dua orang berisik yang sedang mengobrol dengan asik.


"Hey, kalian membicakan apa?"


Zayn dan Ryan beralih pada Liyura dan Evol yang sedang bersantai duduk di samping mereka.


"Ah tidak. Liyura, kapan kita akan kembali ke Lembah Wisteria? Aku takut jika kediaman itu diserang, maka tidak akan ada lagi yang cukup mampu menghalagi para Vampir itu."


Zayn terlihat merinding dan gemetar ketakutan membayangkan semua orang dihabisi begitu saja dan dihisap darahnya seperti ternak oleh para Vampir yang bersembunyi di balik kegelapan.


Liyura seakan mengerti apa yang dikatakan Zayn langsung tersenyum, "Tenang saja. Bukannya kau harus percaya dengan para Jenderal Wisteria? Jika mereka pintar, mereka tidak akan ke sini. Aku juga tidak mau Lembah Wisteria dihancurkan. Jika sampai begitu, tentu saja aku akan menggunakan Kartu As ku."


Zayn menatap Liyura bingung, "Apa yang kau katakan? Kartu As? Apa itu?"


"Itu adalah istilah di duniaku, artinya aku akan menggunakan senjata rahasiaku."


"Oh jadi begitu. Duniamu itu aneh ya."


Liyura hanya tersenyum dan beralih pada Ryan.


"Ryan, kita cari bersama-sama cara untuk mengembalikan adikmu."


Ryan terdiam dan mengangguk. Liyura melihat ke arah hutan dan tidak melihat hal yang mencurigakan.


***


Akhirnya setelah 1 jam berlalu tanpa ada yang berbicara satu kata pun, yang terdengar hanya angin semilir di sekeliling mereka yang menerpa tubuh dengan menimbulkan rasa hangat dan dingin bersamaan.


Liyura melihat ke arah atas di mana pohon rindang menjulang terlihat. Gadis itu merasa aneh karena cahaya matahari tidak bisa menembus pohon itu.


Dia berdecak membuat semua yang larut dalam pikirannya masing-masing mulai menatapnya.


Evol yang tertidur di samping tadi juga membuka matanya mendengar decakan Liyura.


Zayn menatap Liyura penasaran, "Tidak ada apa-apa." Kata Liyura akhirnya.


Akhirnya suasana kembali hening. Liyura tidak sekalipun menurunkan kewaspadaannya pada sekitar.


Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang keluar dari semak-semak, membuat Liyura berdiri dari duduknya dan menghampiri orang itu.


Liyura melihat seorang anak laki-laki dan perempuan yang ada di hadapannya. Tapi mereka berdua cukup muda, bahkan lebih muda dari Zayn dan Ryan.


Umur keduanya mungkin sekitar 10 tahun dan sedang gemetaran menatap Liyura.


"Kalian kenapa bisa sampai di sini?"


"K-kami hanya kabur dari kediaman para Vampir."


"Apa maksudmu? Dimana tempatnya?"


"D-di... Letaknya agak jauh... A-a-aku bersama adikku tidak mau ke sana lagi..."


Anak itu gemetaran. Dia menatap adik perempuannya yang ada di punggungnya sedang terluka parah. Meskipun sekilas, Liyura juga melihat ada tanda titik dua yang ada di leher anak perempuan itu.


"Ayo, duduklah dulu. Aku bukan orang jahat, lebih tepatnya aku adalah pembunuh para Vampir itu."


Anak laki-laki itu ragu, tapi akhirnya membaringkan adiknya di dekat Ryan. Ryan merasa sangat empati apa yang terjadi pada kedua anak itu.


"Nak, dimana orang tuamu?"


Ryan berkata hati-hati pada anak laki-laki itu. Sedangkan yang di tanya langsung menangis.


"I-ibu dan Ayah sudah dibunuh oleh para Vampir itu! Mereka membunuh ayah dan ibu!! Hiks..."


Ryan menatap nanar, dia segera memeluk anak itu agar menenangkannya. Dia merasa teringat dirinya sendiri. Dia melihat ke arah anak perempuan yang masih tidak sadar di sampingnya. Membayangkan jika dia adalah Naomi, adiknya.


Liyura merasa sangat tertekan. Dia tidak mengira banyak sekali yang menjadi korban dari serangan Vampir. Dia mengeluarkan sebuah Potion atau ramuan berbentuk botol kecil dan segera meminumkannya ke mulut anak perempuan itu.


Anak perempuan itu langsung saja matanya terbuka dan kejang-kejang, dia meronta sampai urat-urat yang ada di seluruh tubuhnya muncul.


Liyura langsung saja menahan tubuh anak itu bersama Zayn atas permintaannya. Anak perempuan itu meronta kuat dan menatap Zayn serta Liyura dengan tajam.


Matanya bertransformasi menjadi warna merah dari warna hitam. Liyura menahan dengan kuat tubuh anak itu agar tidak menyakiti siapapun.


Dengan poin STR nya, kekuatan fisiknya bukanlah hal yang main-main. Akhirnya anak perempuan itu tenang semakin lama dan akhirnya terpejam kembali.


Setelah itu pula, Liyura melepaskan tangannya yang digunakan untuk menahan pergerakan anak perempuan itu.


"Hah... Anak ini telah menjadi Vampir. Pasti dia sekarang merasakan rasa haus karena kebangkitan pertamanya. Aku tadi hanya memberikannya ramuan penenang agar dia tidak menyakiti siapapun. Sayangnya Ryan, dia tidak seperti adikmu, Naomi. Di dalam dirinya sekarang tidak ada yang lebih penting daripada menghilangkan dahaganya akan darah."


Liyura mengatakannya dengan ekspresi yang mengerikan. Dia bukannya jijik atau semacamnya melihat hal yang ada di depannya. Lebih tepatnya dia marah pada para Vampir itu.


Begitu kejamnya mereka pada seluruh keluarga yang mereka bunuh tanpa pandang bulu. Ryan terlihat merinding saat melihat Liyura, memang benar saat itu Liyura mengeluarkan aura pembunuh yang pekat membuat sekitarnya merasa tidak nyaman, tidak terkecuali Evol.


Evol terlihat meringkuk takut melihat Liyura. Dia tidak pernah melihat majikannya itu semarah ini sebelumnya.


"Apa dia akan sadar?"


Anak laki-laki itu menanyai Liyura saat keadaan menjadi tenang. Liyura hanya mengangguk.


"Dia akan sadar ketika pengaruh ramuanku sudah habis, aku tidak bisa membiarkan dia menyakiti siapapun. Mungkin sekitar seminggu dia akan sadar."


Liyura berbalik dan duduk di dekat Evol. Dia berusaha mengontrol emosinya yang meluap-luap saat ini dengan terus terdiam.


Ryan dan Zayn menanyakan hal-hal yang umum pada anak laki-laki itu sehingga dia mengatakan hal yang sebenarnya.