Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 63 Ujian Ketiga Ryan [1]


Ryan melihat di sekelilingnya terdapat berbagai macam senjata yang beragam bentuk dan jenisnya.


Ryan tidak merasakan keanehan lagi tapi dia merasa takjub. Interior ruangan yang mereka masuki sangat indah bak ada di kerajaan dongeng-dongeng pengantar tidur.


"Tidak usah terkejut begitu. Sebelum kalian memilih, aku harus mengatakan sesuatu dulu. Peraturannya yang pertama, jika kalian telah memilih senjata yang kalian inginkan, maka kalian hanya harus berada di tempat yang sama atau kalian tidak akan selamat. Yang kedua, jika kalian telah memilih senjata yang kalian pilih, kalian harus menjadi seperti patung sampai setelahnya nanti kalian akan tidur. Yang ketiga, itulah ujian ketiga dilaksanakan. Jika kalian tidak berhasil dalam ujian ketiga ini, jangankan menjadi Pemburu Vampir, kalian tidak akan menjadi apa-apa dan akan mati sebelum kalian menjalankan misi pertama."


"Tempat ini dinamakan Ruang Senjata Mistis karena senjata yang ada di tempat ini dirancang dan ditempa khusus oleh penempa profesional untuk menghadapi dan membunuh Vampir. Bukankah lucu jika kita disebut Pemburu Vampir tapi senjata kita bahkan tidak bisa menggores mereka karena para Vampir memiliki kekuatan meregenerasi yang cepat. Karena itulah, kalian tidak bisa sembarangan menjadi apa yang kalian inginkan tanpa ada jalan yang harus di tempuh."


"Aku tidak tahu ujian apa yang akan menunggu kalian tapi kalian harus menyelesaikannya secepat mungkin karena jika kalian terlalu lama menyelesaikan ujian ketiga ini, kalian akan terjebak selamanya di dunia mimpi tidak berujung. Di setiap senjata yang ada di sini berbeda dengan senjata biasa untuk membunuh manusia karena senjata yang ada di dalam sini adalah senjata khusus untuk membunuh para Vampir."


"Kekuatan dari semua senjata ini tidak bisa diremehkan. Kalian semua harus menyelesaikan ujian ketiga ini dengan cepat atau kalian akan mati diserap energi kehidupannya oleh senjata tersebut."


Ryan terlihat berpikir, dia semakin penasaran ujian ketiga apa yang akan di laluinya? Remaja itu tidak terlihat takut sama sekali malahan dia semakin penasaran ujian seperti apa yang akan mengujinya?


Ryan mengangguk dan langsung mencari ke segala arah di mana senjata berada. Remaja perempuan itu juga langsung melesat dan mencari.


Berbagai macam senjata ada di ruangan ini dan sangat lengkap. Ryan mempunyai suatu cara untuk memilih yaitu dengan instingnya. Aver pernah menceritakan manfaat dari insting ketika disaat yang genting.


Ryan menatap ke segala arah dan menatap semua senjata yang sangat bagus dan membuatnya tidak bisa berhenti untuk berbinar.


Ryan akhinya menemukan suatu Katana berwarna hitam pekat. Entah kenapa itu mengingatkannya pada pedang milik Aver yang selalu menemaninya berlatih.


Ryan merasakan jika dia sepertinya berjodoh dengan pedang itu membuatnya segera menyentuhnya dan menjadi patung.


Tidak lama, Ryan merasakan jika dirinya pusing dan menutup matanya.


***


Saat membuka mata, dia sangat terkejut. Ryan tidak tahu dia ada dimana sekarang. Sampai dia melihat suatu rumah yang membuatnya sangat Familiar.


Ya, itu adalah rumahnya, Ryan terlihat melihat sekeliling, tidak salah lagi jika dia berada sekitar rumahnya. Ryan melihat jika 2 adiknya sedang bermain dengan gembira bersama dirinya. Ryan saat itu masihlah kecil dan mungkin masih berumur 6 tahun.


Mereka sangat senang dalam bermain bersama. Ryan terlihat sedih karena dia tidak dapat bersama seperti dulu lagi.


Suasanapun berubah, Ryan terlihat terkejut dan segera menghampiri rumahnya. Dia melihat semuanya termasuk dirinya menangis karena seorang wanita paruh baya sedang terbaring sakit yang tidak lain adalah Ibunya.


Ryan merasa jika saat ini dia ada di ingatannya yang dulu. Ryan kemudian menghampiri ranjang dari ibunya.


Ryan merasakan jika matanya terlihat buram karena air mata yang entah sejak kapan telah membasahi pipinya.


Suasana berubah lagi. Kali ini dia tiba-tiba saja ada di luar rumah dengan Ryan kecil yang lebih muda darinya sedang berlari dari arah belakangnya dan menuju masuk ke rumahnya.


Ryan juga ikut masuk ke dalam rumah. Dia melihat pemandangan mengerikan. Dia melihat darah dimana-mana. Semuanya, semuanya telah terbunuh dengan tragis kecuali Naomi, adiknya.


Ryan kecil menangis keras, dia menatap semuanya dan merasakan jika Naomi masih hidup karena dia merasakan nafas yang memburu saat dia menatap adiknya.


Ryan kecil langsung menggendong Naomi di punggung dan segera keluar dari rumah untuk mencari pertolongan.


Sedangkan Ryan masih menatap jasad dari ibu dan satu adiknya lagi. Dia bersimpuh di tanah dan ingin menyentuh tubuh mereka.


Tapi Ryan hanya menembusnya. Ryan yang melihat hal itu menjadi terkejut dan gemetaran. Dia kemudian keluar dari rumah dan mengikuti Ryan kecil tadi dengan menggendong adiknya.


Ryan juga berlari diantara salju yang turun dan segera menyusul Ryan kecil yang hampir jatuh ke jurang. Ryan ingin sekali menolongnya tapi tubuhnya hanya bisa menembus.


Ryan terlihat menghela nafas, dia melihat Naomi nertingkah aneh seperti apa yang terjadi di masa lalunya. Ryan merasa sangat sedih melihat adiknya yang menjadi seorang Vampir.


Naomi terlihat ingin menyerang Ryan kecil tapi langsung dihentikan. Ryan kecil terlihat sedih dan segera menatap Ryan.


"Ini semua gara-gara kau! Jika saja kau bisa datang tepat waktu, kau pasti bisa menyelamatkan adik dan ibumu! Ini semua karenamu, Ryan! Kau lah yang membuat mereka terbunuh!"


Ryan kecil menatap Ryan dengan air mata yang mengalir dengan tatapan kebencian. Jantung Ryan terdengar berdetak lebih kencang daripada biasanya.


Ryan terlihat terkejut dan segera menunduk, "Ya, itu benar, akulah yang membuat mereka terbunuh! Aku lah yang membunuh mereka! Aku tidak pantas hidup lagi!"


"Ya! Sebaiknya kau mati saja Ryan! Kau mati saja! Kau tidak pantas hidup lagi..."


Ryan terlihat gemetaran. Ryan kecil segera menghampirinya, diiringi Naomi yang menghilang.


"Ayo, kau harus mati, kau tidak pantas hidup, Ryan."


Ryan kecil terlihat tersenyum mengerikan dan muncullah pedang hitam pekat yang dipilih Ryan sebagai senjatanya.


"Bunuh dirimu sendiri, Ryan. Itulah jalan terakhir untuk menebus dosamu. Bunuh dirimu sendiri dengan pedang ini."


Ryan terlihat menatap sebuah pedang yang ada si tangan Ryan kecil, Ryan terlihat mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang itu namun sesuatu menghentikannya.


"Ryan, kau adalah muridku yang berharga! Kau tidak pantas untuk mati! Kau jangan dengarkan dia!"


"Kau tidak boleh mati! Kau sudah berjanji menjadi pengikutku! Aku memerintahkanmu untuk tetap hidup atau aku akan membawamu lagi ke dunia ini jika kau mati dari alam baka, Ryan!"


Ryan menatap satu tangan yang menahannya lagi untuk mengambil pedang pekat. Dia melihat Liyura sedang menatapnya dengan mata hijau zamrudnya yang terlihat bersinar terang.


"Ryan, dasar bodoh! Jika kau mati aku tidak akan pernah memaafkanmu! Awas saja jika kau mati ya aku akan membuatmu hidup kembali bagaimanapun caranya!"


Ryan kali ini menatap satu tangan yang menahan lengannya untuk bergerak menyentuh pedang hitam pekat. Dia adalah Zayn dengan wajah marahnya.


"Ryan...Jika kau mati aku akan sedih, kita itu teman 'kan. Kita sama-sama kehilangan orang yang kita sayangi karena Vampir, seharusnya kau mebalas dendam dulu pada para Vampir yang telah membunuh keluargamu sebelum kau mati dengan tenang, Ryan."


Ryan melihat Kei yang sedang menatapnya sedih sambil menggenggam tangannya dengan dua tangan yang dimiliki Kei.


"Kakak...Aku sayang kakak. Kakak rela meninggalkanku? Aku menunggu kakak mengubahku menjadi manusia lagi dan kita akan bahagia bersama."


Ryan merasakan Naomi memeluknya erat di punggung. Sangat hangat membuatnya tidak kuasa menahan rasa sedihnya.


"Kau harus membunuh dirimu itu Ryan! Kau tidak pantas untuk hidup lagi! Kau lah yang telah membunuh keluargamu! Kau lah yang bersalah atas semua yang terjadi! Kau harus mati!"


Ryan masih menangis dalam diam, dia mendongak saat dia merasakan seseorang menyentuh pipinya.


"Ryan sayang. Kau tidak bersalah. Ibu dan adikmu mati karena Vampir itu bukanlah kesalahanmu, Nak. Maaf ya ibu dan adikmu tidak bisa menemani kalian lebih lama. Tapi satu hal yang harus kau tahu, ibu menyayangimu."


Ryan menatap dengan mata yang sangat sedih, air mata masih tidak bisa berhenti turun mengaliri pipinya.


"Kak Ryan jangan jadi orang menyedihkan! Kakak itu sangat kuat! Ayahpun jika masih hidup pasti akan sangat bangga pada kakak! Ayo kakak kalahkan para Vampir sebagai bentuk balas dendam karena telah menbunuhku dan ibu."


Ryan melihat seorang remaja kecil sedang memeluknya dari arah depan, sedangkan Naomi memeluk dari arah belakang punggung Ryan dengan erat.


"Tidak! Kau itu Pembunuh, Ryan! Kenyataan itu tidak akan pernah bisa terbantahkan! Kau harus membunuh dirimu sendiri untuk menebus dosamu!"


Ryan kecil terlihat marah bahkan wajahnya sangat mengerikan. Matanya yang berwarna biru menjadi warna merah darah.


"Nah, Ryan. Kami percaya padamu untuk menjadi Pemburu Vampir. Kalahkanlah para Vampir, kami akan selalu ada di sampingmu dan akan selalu menolongmu dalam kesulitan, kau tidak kesepian sekarang,"


Liyura terlihat tersenyum diiringi mereka semua memeluk Ryan dan menyalurkan sesuatu padanya. Tubuh Ryan bercahaya terang dan tubuhnya terangkat ke udara.


Beberapa saat kemudian, Ryan turun kembali dan terlihat matanya yang sebiru langit kelihatan bersinar terang dengan menatap tajam Ryan kecil di hadapannya.


"Lux Magicae - Sursum Lucem Ac Tenebras!!!"


Dari tangan Ryan terlihat sebuah cahaya yang sangat terang dan sangat besar. Cahaya itu diarahkan pada Ryan kecil yang terlihat terkejut dan ketakutan.


"Berhenti! Ryan kau itu tidak pantas untuk hidup! Kau harus membunuh dirimu sendiri!"


Ryan tidak menghiraukan dan terlihat siap menembakkan bola cahaya dan akhirnya bola cahaya itu dilemparkan dengan satu tangannya hinga mengenai telak Ryan kecil hingga teriakan pilu mengisi seluruh tempat.


"Kau adalah pembunuh!!!!"


Cahaya yang sangat terang membuat Ryan kecil hilang. Semuanya langsung menjadi putih hingga Ryan menutup matanya.


***


Ryan membuka matanya lagi dan sekarang dia ada di tempat berbeda dengan warna putih di sekelilingnya.


Ryan melihat ke arah lain dan tidak menmukan siapa-siapa. Ryan hanya melihat sebuah Pedang pekat yang mengambang di udara.


Pedang itu mengeluarkan aura bewarna hitam. Pedang itu terlihat sangat keren dan sangat kuat.


"Kau pantas menjadi tuan dari pedang itu."


Ryan menatap ke sekeliling tapi tidak ada seseorang pun yang bersama dengannya.


"Kau tidak perlu mencariku. Aku ada di hadapanmu."


Ryan refleks melihat ke depan, yaitu pedang yang mengambang setinggi perutnya dan menatapnya intens.


"Kau sudah berhasil mengalahkan masa lalumu. Kau telah berhasil menjadi Tuan dari pedang ini. Sebenarnya kau itu adalah orang yang beruntung. Karena tanpa diketahui, kau memilih pedang terkuat di Ruang Senjata Mistis. Maka ujian ketigamu juga akan sangat sulit. Tapi selamat karena kau telah berhasil lulus dalam ujian. Pedang ini akan menjadi Partnermu untuk membunuh Vampir."


Ryan kemudian bergerak menyentuh pedang itu dengan tangan kanannya. Pedang yang dikelilingi aura berwarna hitam langsung menghilang terserap dalam tubuh Ryan.


Ryan merasakan inti sihir kegelapan yang dimilikinya menjadi kuat. Ryan menatap pedang yang ada di tangannya dan tersenyum.


Dia kemudian merasakan dirinya ditarik dan langsung menyadari jika dirinya sedang terbaring di lantai Ruang Senjata Mistis.