
Keesokan harinya di Kediaman Rachel, Celine terlihat membuka matanya. Langit-langit kamar lah yang pertama di lihat oleh gadis itu.
Saat Celine mencoba bangun, dia melihat seorang gadis yang umurnya sama seperti Liyura sedang membantunya bangun dan bersandar di kepala tempat tidur.
"Siapa kau?"
"Kau tidak ingat aku? Aku adalah Dobutsu mu."
"Kau si Burung Hantu? "
Gadis itu mengangguk, "Kau menamaiku saja, aku tidak mau di panggil begitu."
Celine terlihat berpikir, "Aku akan menamakanmu Erza. Karena itu nama kakakku, saat melihatmu, aku seperti melihat kakakku lagi. Kau mau kan di namakan Erza?"
"Baik, kenapa tidak? Nama itu bagus."
Celine tersenyum, "Aku merasa kepalaku sedikit pusing, apa ini karena efek dari kita berpindah tempat?"
"Iya itu benar, kau harus istirahat dulu untuk sementara waktu. Aku tadi melihat sekitar ternyata dunia manusia ini sudah banyak yang berubah, ya."
"Ya, itu benar, kau sudah hidup berapa lama?"
"Umurku sekarang sudah 7,000 tahun."
"Tujuh ribu tahun?! Bahkan aku masih belum tercipta, kau sudah ada ya."
Erza mengangguk, dia melihat ke arah jendela. Sosok Erza memang terlihat sama dengan kakak dari Celine. Bahkan semuanya sama, seakan Celine bertemu dengan kakaknya lagi.
Warna rambut Erza yang berwarna hitam panjang sepertinya mengingatkannya pada kakaknya, apalagi wajahnya yang memang hampir sama dan menyerupai Erza.
Hening sesaat sebelum ada yang membuka pintu. Seorang Maid datang.
"Nona Rachel menyuruh Anda untuk datang, Nona Celine."
"Kau tidak lihat jika dia sedang istirahat, kenapa tidak Nonamu saja yang ke sini."
"Maaf tapi ini perintah."
Sebelum Erza melawan lagi, Celine menghentikannya dengan berdiri dari tempat tidur.
"Aku sudah tidak apa-apa. Mungkin ini penting jadi aku akan ke sana."
"Aku akan ikut denganmu."
Celine mengangguk dan mereka berjalan menyusuri koridor untuk sampai ke tempat ruangan di mana Rachel berada dan sedang menunggunya.
Saat masuk ke sebuah ruangan, Rachel terlihat sedang menikmati teh hijau dengan santai sambil tersenyum manis saat setelah dia melihat Celine.
Erza melihat ke arah Rachel dengan tajam, entah apa maksudnya. Rachel mempersilahkan keduanya masuk dan Maid yang mengantar mereka tadi undur diri.
Rachel dan Erza duduk di bantal empuk di lantai yang memang sudah di sediakan di depan meja tempat Rachel duduk.
"Ada apa memanggilku, Nona Rachel?"
Rachel terlihat tersenyum lagi, "Hanya mengingatkanmu jika kau besok akan langsung di berikan misi pertama dan hari ini kau telah resmi menjadi Pemburu Vampir bersama anak bernama Ryan dan Dobutsu nya."
Erza terlihat berdecih, "Tidakkah kau lihat jika dia masih membutuhkan istirahat? Bisakah misinya di undur sampai dia sembuh?"
"Tapi!---"
"Tidak apa-apa, Erza. Aku akan melakukan misi itu bersama Ryan besok."
"Tapi kau tetap bisa bersama Dobutsu mu. Karena aku tahu setiap Tuan dan Dobutsu nya tidak bisa di pisahkan."
Rachel tersenyum miring kali ini, "Kalian hanya harus ingat, mulai sekarang karena kalian menjadi anggota Pemburu Vampir, maka seperti namanya kalian tidak akan santai-santai saja di kediaman para Jenderal lagi. Kalian akan di berikan misi yang sama untuk membunuh Para Vampir namun untuk misi pertama, sebagai pengalaman kalian maka kalian akan menyelesaikan misi secara bekelompok minimal 2 orang bersama Dobutsu nya masing-masing."
"Baik, aku mengerti. Aku akan menyelesaikan misinya besok."
Celine hanya mengangguk dan menatap Rachel. Sedangkan Rachel terlihat tersenyum lagi.
"Bagus jika begitu, aku harap kalian dapat menyelesaikan misi kalian secara mandiri meskipun kalian di tugaskan dengan berkelompok, karena misi kedua kalian akan mengerjakannya dengan individu."
Erza entah kenapa terlihat tidak senang dengan Rachel. Menyadari itu, Celine segera undur diri dan tidak mau lebih lama lagi ada di sana.
Setelah mereka kembali ke kamar yang di tempati oleh Celine, Erza segera melampiaskan amarahnya dengan menutup pintu dengan keras tapi menggunakan sihir.
"Sial! Kenapa bisa seseorang seperti dia menjadi pemimpin di oraganisasi ini?!"
"Tidak, Erza. Dia bukanlah pemimpin di sini. Dia adalah salah satu Jenderal yang bertugas untuk menugaskan para anggota yang baru terekrut ke dalam oraganisasi untuk menyelesaikan setiap misi. Dia lah juga yang mengatur semua tugas yang di lakukan oleh Pemburu Vampir, bagi yang tidak bisa menggunakan senjata maka akan di jadikan Maid maupun penjaga di sekitar Lembah Wisteria untuk menjaga keamanan."
"Jadi sistemnya sekarang seperti itu. Lalu siapa pemimpin dari organisasi ini?"
"Pemimpin organisasi ini begitu tertutup. Dia hanya akan menampakkan dirinya jika dalam urusan yang penting. Bahkan dia hanya menjalankan tugas untuk memburu Vampir Bulan."
"Vampir Bulan? Nama yang indah tapi sama sekali tidak cocok dengan mereka. Mereka adalah monster yang haus darah, sama sekali tidak pantas di kenal dengan nama seperti itu."
"Tapi itulah kenyataannya, Erza. Kau tahu? Dunia ini seakan semakin hancur ke depannya. Aku tidak tahu harapan seperti apa lagi yang dapat meneguhkan hati kita yang teruji karena masalah Vampir yang tidak pernah terselesaikan dari generesi ke generasi. Kuharap, hanya dengan seperti ini saja, aku juga ikut dalam membantu semua warga untuk membalaskan dendam mereka pada Vampir yang telah membunuh orang yang mereka sayangi."
Celine menatap pemadangan di luar jendelanya dengan pandangan yang sulit di artikan. Rambut hitam panjangnya terlihat indah dengan angin yang menerbangkannya perlahan.
Erza menghela nafas, "Aku benar-benar tidak tahu situasi apa yang terjadi untuk sekarang tapi kuharap aku juga bisa membantu. Aku juga! Aku juga ingin membalaskan dendam demi Ras ku yang telah di bunuh oleh para Vampir itu!"
"Bagaimana bisa Ras mu kalah? Bukankah kau punya hal semacam sihir?"
"Itu tidak akan berfungsi karena Vampir juga mempunyai kekuatan yang hampir setara dengan Ras ku. Tapi kemampuan mereka berbeda-beda. Kelemahan Ras ku adalah sihir yang tertanam dalam inti jiwa kami. Vampir yang berhasil menghisap darah kami, tentu tidak akan menua selama berabad-abad karena darah kami menyimpan suatu hal yang istimewa. Berbeda ketika mereka menghisap darah manusia, mereka akan jadi semakin serakah dan semakin kelaparan akan darah, umur mereka pun hanya akan bertambah beberapa tahun saja, berbeda dengan menghisap darah dari Ras ku."
"Itu... apakah itu alasan jika Vampir dapat hidup selama berabad-abad ini? Karena mereka ada yang berhasil menghisap darah dari Ras mu?"
Erza mengangguk, sorot matanya tajam dan ekspresinya menampakkan kemarahan yang terlihat jelas.
"Hanya aku saja yang tersisa mungkin dari Ras ku sendiri, karena aku begitu di cintai oleh sihir. Sehingga sihir akan sangat susah untuk meninggalkanku. Jadi, itulah alasannya aku juga dapat hidup sampai sekarang ini. Agar tidak ada yang menyadari, aku merahasiakan identitas diriku dan hidup dalam pelarian dari Vampir. Sampai aku dan beberapa Ras lainnya di kirim ke Lembah ini."
"Itulah yang menjadikan aku sulit untuk di temukan sampai sekarang. Tapi, Celine, aku merasakan keanehan pada diri gadis tadi. Dia tidak seperti manusia. Di lihat dari mataku yang bisa melihat dalam kegelapan dan aura, jelas dia sangat berbeda dengan manusia."
"Benarkah? Jadi siapa sebenarnya Jenderal? Tapi itu tidak mungkin. Karena Vampir sangat membenci Bunga Wisteria, mereka tidak akan berani dekat-dekat dengan Lembah ini."
"Ya itu benar, aku juga merasakan aura ketenangan saat melihat bunga berwarna ungu yang mekar di sekitar kediaman. Tapi bagaimana jika kubilang kekuatan bunga itu telah melemah hingga para Vampir seperti Vampir Bulan dapat mengalahkan kekuatan dari Bunga itu."
"A-apa? Itu tidak mungkin, Erza. Bunga Wisteria tidak mungkin kehilangan kekuatannya."
"Kalau begitu, aku ada satu pertanyaan, dimana sebenarnya kediaman milik Para Vampir?"