
Liyura terbang di atas langit lagi dan mengawasi sekitarnya. Liyura melihat setitik salju turun ke atas kepalanya hingga rambutnya memutih di tutupi oleh salju.
Liyura akhirnya turun agar Ia terhindar dari salju dengan berlindung di pepohonan yang sedikit rindang di bawahnya. Pohon-pohon di sana juga menjadi memutih akibat salju yang menerpa mereka bahkan tanahnya juga, hingga sepatu atau alas kaki yang di kenakan Liyura sedikit berat.
Sebagai warga dari Indonesia yang tidak pernah melihat salju tentu dia merasa senang tapi sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat.
Liyura tetap waspada pada sekitar dan berjalan dengan santai dengan suara langkah kakinya yang lambat. Karena kewaspadaannya, dia mendengar suara dari jarak jauh.
Liyura terlihat mengeryit dan berjalan menuju arah suara yang terdengar. Saat Liyura sampai, dia melihat tiga orang, dua laki-laki dan 1 perempuan.
Liyura melihat salah satu lelaki itu berumur 17 tahun lebih tua darinya sedangkan lelaki lainnya berumur 13 tahun sedang memohon pada lelaki yang lebih tua.
"Kumohon jangan bunuh adikku."
Lelaki berumur 13 tahun itu bersujud memohon sambil menangis, sedangkan lelaki 17 tahun sedang mengayunkan pedang ke arah gadis yang berperilaku aneh.
"Bagaimana bisa kau masih menginginkan dia hidup?! Dia sudah menjadi Vampir! Jika dia tidak kubunuh, dia pasti juga akan menghisap darahmu! Biarkan aku melakukan tugasku!"
Lelaki 17 tahun itu juga hampir menebas perempuan yang terlihat masih berumur 12 tahun. Tapi Lelaki 13 tahun menghentikannya dengan mengayunkan sebuah pisau kecil ke arah Lelaki 17 tahun membuat serangannya sekali lagi terhenti.
"Kumohon jangan bunuh adikku, kumohon!"
Anak perempuan itu meronta kuat hingga pegangan lelaki 17 tahun terlepas, anak perempuan itu belari ke arah Kakaknya dan segera melindunginya.
Lelaki 17 tahun terlihat agak terkejut, dia akhirnya segera mengerti dan membuat keduanya pingsan bersamaan.
"Kau boleh keluar sekarang, aku tahu kau ada di sana."
Lelaki 17 tahun itu menatap sekitar mencari keberadaan Liyura hingga gadis itu akhirnya memilih keluar dari persembunyiannya.
"Kau siapa?"
Lelaki 17 tahun terlihat mengernyit dengan pakaian yang di pakai oleh Liyura terlihat berbeda.
"Aku adalah petualang. Dan kau?"
Liyura juga sedikit merasa aneh karena pakaian yang di pakai orang-orang itu seperti Kimono dari jepang di Real World.
"Aku adalah Pemburu Vampir, Kota ini telah lama diserang oleh sekumpulan makhluk penghisap darah itu."
"Aku mengerti. Kenapa kau tidak membunuh anak perempuan itu?"
Liyura menunjuk ke arah anak perempuan yang terbaring bersama kakak laki-lakinya. Pemburu Vampir terlihat berpikir dan akhirnya nenjawab.
"Kupikir perempuan itu akan berbeda dengan Vampir yang pernah kulihat, aku akan membiarkannya hidup karena dia terlihat baik dan tidak seperti Vampir yang lainnya."
Liyura terlihat mengangguk, "Dimana orang tua mereka?"
"Mereka di habisi oleh para Vampir dan menyisakan anak perempuan itu menjadi bagian dari mereka."
Liyura terlihat simpati dengan apa yang dialami oleh dua anak itu.
"Kau darimana? Kami tidak penah mengenal yang namanya petualang di sini?"
"Tenang saja, aku bukanlah Vampir, maupun bagian dari kalian. Aku hanyalah orang yang kebetulan lewat di sini. Dan aku dari kota Crowny."
Lelaki itu mengernyit, "Kau pasti dari kota yang jauh, nama kota di sini adalah Guren."
"Kota Guren? Sepertinya aku terlalu jauh menjelajah, baiklah aku akan membantu anak ini."
Lelaki itu akhirnya pergi dan meninggalkan Liyura bersama kedua anak itu. Liyura akhirnya membawa mereka ke dalam Dunia Segelnya yaitu Magic Forest.
Liyura akhirnya berjalan menuju kota dengan tenang dan akhirnya dia menemukan sebuah bangunan atau rumah warga yang banyak sekali di sekitarnya. Saat melewati rumah itu, dia merasakan hangat karena banyak sekali yang menyalakan perapian membuat suhu tubuhnya yang dingin akibat salju menjadi hangat kembali.
Liyura menatap sekitar dan melihat semua warganya menatap dirinya aneh karena pakaian yang dikenakannya. Semua orang di sana sama seperti Pemburu Vampir tadi yaitu mengenakan Kimono.
Liyura akhirnya masuk ke salah satu penginapan dan segera menyewa kamar. Saat masuk ke dalam kamar, dia langsung tidur dan memfokuskan dirinya untuk masuk ke dalam dunia segelnya.
--
Saat di Magic Forest tempat segel Liyura, anak laki-laki dan perempuan sedang kebingungan melihat sekitar mereka.
"Dimana ini?"
Mereka tidak lagi melihat salju yang turun tapi di sekitarnya masih terdapat hutan seperti musim semi.
Anak laki-laki itu melihat adiknya baik-baik saja segera memeluknya.
"Syukurlah Naomi kau tidak apa-apa."
Lelaki itu mendengar suara langkah kaki membuat dia melepaskan pelukannya, langkah kaki itu semakin mendekat dan akhirnya keluarlah seorang gadis yang sangat cantik bak dewi dengan pedang di pinggangnya yang bercorak emas seperti rambutnya.
Matanya berwarna hijau zamrud menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Pakaiannya juga terlihat aneh akan tetapi elegan dan cocok untuk dijadikan jubah tempur tapi pakaian yang digunakan gadis itu bukanlah zirah. Yah itu adalah Liyura.
"Siapa kau?"
"Hmm, kalian sudah sadar? Kalau begitu ikutlah denganku."
Liyura bukannya menjawab tapi dia segera berbalik setelah mengatakannya. Anak lelaki itu tidak mengerti tapi akhirnya menurut juga.
Liyura membawa mereka ke suatu goa dan sesuatu yang tidak kedua anak itu mengerti kenapa setiap ada binatang buas yang lewat, mereka selalu menghormati gadis itu seperti mereka menghormati majikan mereka.
Dan lagi binatang buasnya sangatlah besar hingga lebih besar dari binatang buas yang pernah di lihatnya.
Saat sampai di Goa, Liyura mempersilahkan mereka masuk. Setelah mereka masuk, mereka terkejut lagi dengan 3 orang laki-laki setengah baya maupun yang hampir sama umurnya dengan gadis yang membawanya sedang bertengkar.
Anak laki-laki itu juga melihat seekor macan tutul dengan sayap di kedua bagian punggungnya sedang tertidur.
"Kalian jangan takut dengan mereka, mereka tidak seperti apa yang di lihat."
Mendengar perkataan Liyura, akhirnya mereka semua terdiam.
"Nah, sekarang kau boleh bertanya apapun."
Anak laki-laki itu menatap Liyura dengan pandangan meneliti, dia akhirnya menyampikan pertanyaan-pertanyaannya.
"Kau sebenarnya siapa?"
"Aku adalah petualang dari kota Crowny dan mungkin aku tersesat sampai ke benua yang lumayan jauh."
"Aku dan adikku ada dimana?"
" Kau ada di dalam dunia segelku yaitu Magic Forest."
"Dunia segel?"
"Ya, aku yakin belum saatnya kau tahu karena dunia yang kau tempati ini adalah dunia yang telah aku segel di dalam diriku sendiri."
"Bisakah kau mengembalikan kami?"
"Bisa, tapi ada syaratnya."
"Apa itu?"
Anaka laki-laki itu terdiam cukup lama, "Apa keuntungannya bagiku?"
Liyura tersenyum dengan pemikiran anak itu. Dia mengangguk-anggukkan kepala dan terlihat berpikir.
"Mungkin aku dapat mengabulkan semua keinginanmu tanpa terkecuali."
"Kau bisa mengubah adikku menjadi manusia kembali?"
"Tentu saja bisa. Dan aku tidak berbohong untuk itu, asalkan kau menjadi pengikut setiaku seperti mereka."
"Baiklah jika kau bisa mengubah adikku menjadi manusia lagi tentu aku akan menjadi pengikutmu."
"Petama-tama kau harus belajar bermain pedang, itu adalah salah satu syarat lain."
"Pedang?"
"Aku akan melatihmu."
Liyura mengeluarkan sebuah pedang berwarna putih dari System Room dan membuat anak itu terkejut karena Liyura mengeluarkan pedang dari ruang hampa.
"Ambillah pedang ini sebelum aku membelikan pedang untukmu."
Liyura melempar pedang Bulan Sabit ke arah anak itu dan langsung menangkapnya dengan kedua tangan tapi dia seperti merasakan beban yang sangat berat.
"Ayunkan pedang itu. "
Anak itu berusaha mengayunkan dengan tangan kanannya tapi tangannya gemetar tak kuat menahan berat pedang.
Liyura yang melihatnya hanya menghela nafas dan akhirnya menggunakan Skill Fly Guns membuat pedang itu seolah memiliki jiwa dan terbang ke arah Liyura hingga gadis itu memegangnya dengan satu tangan.
"Aku akan mengajarimu sesuatu tentang pedang ini agar kau bisa berguna bagiku di masa depan dan juga bayaran adikmu berubah kembali menjadi manusia."
"Aku akan melakukan apapun asalkan adikku menjadi manusia. Kau boleh mengajariku teknik pedang."
Dengan tekad yang kuat, anak itu terlihat menggebu-gebu dengan perkataannya seakan adiknya adalah sesuatu yang berharga baginya lebih dari nyawanya sendiri.
Liyura tersenyum sekali lagi dan akhirnya mengkode anak itu untuk keluar terlebih dahulu dari dalam Goa.
Anak itu hanya menuruti Liyura dan keluar dari goa tanpa berkata apapun. Setelah anak itu tidak ada, Liyura segera beralih pada ketiga laki-laki setengah baya di hadapannya.
"Apakah ada diantara kalian yang dapat melatih anak itu selain aku? Aku tidak bisa berada di sini terlalu lama tapi akan kuusahakan aku yang mengajari anak itu lebih dalam tentang Pedang. Kali ini aku butuh bantuan kalian selama aku tidak ada untuk mencari cara bagaimana mengembalikan adiknya."
Ketiganya berpikir, "Kenapa kami harus melatihnya? Apakah kau tidak cukup kekurangan dengan kami sebagai pengikutmu?" Kata Ares terlihat mengitimidasi.
"Bukan begitu, aku hanya ingin menambah anak itu menjadi pengikutku karena aku melihat potensi yang dalam pada dirinya untuk belajar pedang. Aku mohon kalian mengajarinya selama aku tidak ada untuk mencari cara mengembalikan adiknya menjadi manusia."
"Baiklah kalau begitu kami akan melatihnya dalam menggunakan senjata apapun secara bergantian." Kata Aver akhirnya.
"Terima kasih kalau begitu. Dan yah aku tahu jika waktu di sini lebih cepat dari pada waktu di dunia luar."
"Ya kau benar, 1 hari di dunia luar sama saja 1 bulan di sini. Dan mungkin kelihatannya kami membutuhkan waktu beberapa tahun untuk dapat melatihnya."
"Itu tidak masalah. Baiklah, terlebih dahulu aku akan melatih anak itu untuk beberapa hari di sini sebelum aku pergi keluar."
Mereka mengangguk bersamaan dan akhirnya memilih mengurusi urusan pribadi mereka lagi.
Liyura segera keluar setelah membuat adik dari anak itu tenang. Setelah berada di luar, Liyura melihat anak laki-laki itu sedang terduduk di atas batu besar dan sedang merenung.
"Bisa kita mulai latihannya?"
Mendengar perkataan Liyura, anak itu mendongak dan akhirnya loncat dari batu besar ke hadapan Liyura.
"Jelaskan terlebih dahulu tentang dirimu semuanya tanpa terkecuali atau berbohong karena aku dapat mendeteksi kebohongan."
"Namaku adalah Ryan. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ayahku sudah tidak ada saat aku berumur 6 tahun hingga kami hanya dirawat oleh ibuku. Nama adikku tadi adalah Naomi. Kelebihanku adalah aku dapat mendengar maupun mencium dengan jelas di sekitarku. Aku hanya menginginkan Naomi, adikku menjadi manusia lagi apapun caranya akan aku lakukan."
Liyura terlihat berpikir dengan menatap mata anak itu hingga akhirnya dia tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai saja latihannya. Ikut aku."
Liyura mengajak Ryan ke atas gunung di Magic Forest yang cukup tinggi dengan tempat goa yang ada di kaki gunung itu. Liyura dan Ryan mendaki jalan setapak yang sangat sulit dilewati hingga mereka sampai hampir di puncak, Liyura menghentikan langkahnya.
"Kau harus sampai di kaki gunung sebelum sore."
Setelah mengatakan itu, Liyura memunculkan sayapnya dan terbang ke atas langit meninggalkan anak itu sendiri di tengah hutan di atas gunung.
Anak itu terlihat hampir kebingungan karena jelas yang dia tau jika hari ini masih pagi di luar Goa tadi tapi setelah sampai di gunung ini suasananya berubah menjadi malam yang mencekam.
Ryan akhirnya turun dari tempat dia dan Liyura mendaki dan akhirnya dia tidak tau jika dia telah menginjak perangkap membuat dirinya terjatuh di dalam lubang.
Ryan terlihat kesakitan akan tetapi dia tidak menyerah hingga dia berlari turun ke bawah gunung hanya dengan mengandalkan pendengaran dan penciumannya yang tajam.
Sekali lagi dia hampir melewati sebuah tali yang merupakan jebakan di tanah yang akan dilewatinya membuat dia terhenti dan melompati jebakan sambil berlari lagi.
Ryan terlihat terengah-engah karena nafasnya tidak beraturan membuat dia cepat lelah. Ryan terlihat berhenti di perjalanan dengan memegang kedua lututnya di ikuti suara detak jantung yang berdebar kencang akibat kelelahan.
Dia menyeka keringat yang mengalir begitu saja dari keningnya dan kembali berlari tidak memedulikan rasa sakitnya.
Gerakannya semakin cepat dan lincah dalam menghindari jebakan tapi tidak jarang dia terkena jebakan yang sama hingga sekali lagi dia seakan terlempar begitu saja di dalam pegunungan itu.
Nafas Ryan semakin sesak karena udara di gunung ini sangatlah tipis, entah kenapa gunung ini tidak mempunyai oksigen sama sekali membuatnya kesulitan untuk bernafas.
Ryan sekali lagi tidak menyerah dan segera berlari sekencang-kencangnya turun dari pegunungan selama yang dia bisa.
Sedangkan di suatu Goa, Liyura menyuruh Aver untuk memperlihatkan keberadaan Ryan karena Raja Undead itu masihlah penjaga hutan ini membuatnya tahu pergerakan apapun semua binatang yang ada di sini tanpa terkecuali.
Liyura melihat Ryan yang berlari sekuat tenaga menghindari semua jebakan yang terpasang di setiap jalan setapak yang ada di gunung itu.
Liyura tersenyum saat melihat Ryan yang tidak menyerah meskipun terkena jebakan beberapa kali membuatnya terlempar di permainkan seperti benda dia tetap tidak menyerah dan terus berlari untuk turun dari gunung saat merasakan dia tidak dapat lagi menahan nafas tak beraturan dan sesak di dadanya.
Akhirnya setelah 3 jam berlalu, Ryan akhirnya sampai di kaki gunung dan langsung berjalan menuju Goa, anak itu terhenti di pintu masuk Goa dengan nafas terengah-engah dan akhirnya tersenyum setelah menyeka keringatnya.
Dia menatap Liyura dan yang lainnya lama, "Aku berhasil..." Tidak membutuhkan waktu lama hingga Ryan ambruk tidak sadarkan diri akibat kelelahan.
Aver segera membopong tubuh kecil Ryan dan segera membaringkannya di tempat tidur yang telah di beli Liyura melalui System Alpha yang menyediakan apa saja dari dunianya.
"Anak ini tangguh juga. Dia dapat keluar dengan selamat dari gunung yang terkenal jebakannya itu sebagai ajang bagi Magic Animal terkuat di hutan ini." Kata Aver setelah membaringkan dan menyelimuti Ryan.
"Yah, jika begitu aku mempunyai semangat tersendiri untuk mengajarinya. Lagipula aku masih belum pernah menjadi guru dan mungkin aku bisa mewariskan kekuatanku padanya." Kata Ares.
"Hmm. Tidak buruk juga anak ini. Selalu ingin membuatku tertawa senang dan kagum karena kepintarannya menghindari setiap jebakan dan juga berbagai ekspresi yang menunjukkan tekadnya." Kata Eden dengan menahan tawanya mengingat Ryan.
Sedangkan Liyura hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan perilaku Eden tapi dia juga turut senang karena akhirnya dia dapat mengajari seseorang maupun anak seperti Ryan.
Dengan tekadnya pasti dia akan melampaui dirinya suatu hari nanti. Dan Liyura yakin jika Ryan adalah anak yang baik di lihat dari tampangnya yang polos dan baik pada siapapun.
Liyura tersenyum dan memantapkan hatinya untuk mewariskan semua tekniknya pada Ryan dengan senang hati.
Liyura akhirnya memilih menghampiri Evol yang masih tertidur panjang sejak Jaquin itu sembuh dari Racun Sihir yang di deritanya beberapa hari yang lalu.
Liyura tidak sabar menunggu hari esok hingga dia memutuskan tidur di samping Evol membiarkan ketiga lelaki setengah baya yang menjaganya.