
Mereka terbang begitu tinggi di langit sampai apapun dari jangkauan jauh dapat mereka lihat. Liyura terlihat menikmati hembusan angin semilir yang menerpa dirinya membuatnya mengantuk.
Dia melihat ke arah Zayn yang sejak tadi tetap berbinar karena meniknati suasana alam sekitar dari atas langit.
Liyura menatap sekitar di bawahnya untuk melihat ada kejanggalan lagi. Liyura melihat tidak ada yang aneh hingga dia membuka Magic Map nya lagi dan cahaya yang tadinya masuk menjadi keluar kembali dan langsung terbang menunjukkan jalan menuju Lembah Malam.
Evol yang melihat setitik cahaya itu langsung cepat-cepat mengikutinya. Perjalanan hari itu begitu panjang dan mereka meniknati hembusan angin semilir yang menerpa wajah mereka membuat keadaan menjadi semakin tenang.
---
Sekitar 3 jam kemudian, mereka sampai di Lembah Malam, jika di lihat setitik cahaya tadi menjadi pudar dan menghilang.
Evol turun mendarat dengan mulus diiringi Liyura dan Zayn yang meloncat turun dari punggung Evol.
Liyura melihat ke arah sekitar dan memandangi tidak ada keanehan membuatnya sedikit menurunkan kewaspadaannya.
Liyura mengelus puncak kepala Evol dengan tulus dan berjalan di iringi Zayn yang mengikutinya di samping kanan Evol sedangkan Liyura di samping kiri Jaquin itu.
Liyura berjalan tidak tentu arah sambil menatap sekitar yaitu hutan yang rindang. Lama-kelamaan, dia merasa udara di sekitar menjadi lembab membuatnya agak kesulitan bernafas.
Liyura melihat ke arah Zayn dan Evol yamg masih terlihat baik-baik saja. Liyura melihat ke arah sekitarnya lagi dan dia melihat perubahan suasana dalam hutan menjadi sangat cepat.
Tiba-tiba saja saat mereka masuk hutan yang lumayan dalam membuat suasana seakan menjadi malam. Liyura tidak tahu apakah hal ini adalah ilusi seperti yang pernah di dengarnya dari Lucia atau bukan, tapi kali ini dia tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya.
Angin yang tadinya membuat mereka nyaman menjadi angin dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Liyua memang merasa ada yang aneh dengan sekitarnya.
Dia berpikir nama Lembah Malam sangat cocok dengan hutan ini karena suasana sekarang memang seperti saat ketika malam hari. Bahkan dia melihat cahaya matahari yang menyinari di atas langit tidak dapat menembus rindangnya pohon-pohon yang menjulang di sekitar mereka.
Liyura menajamkan ke-5 indranya untuk mengantisipasi serangan musuh. Dia melihat ke arah sekitar dan melihat ke arah Evol dan Zayn secara bergantian.
"Kalian jangan jauh-jauh dan jangan sampai terpisah. Aku yakin hutan ini bukan hutan biasa. Aku mana percaya jika di hutan ini terdapat sebuah Rumah Labirin."
"Oh kau juga tahu jika di Lembah Malam inilah tempat persembunyian Nuzan?"
Zayn balik bertanya, pemuda itu terlihat meneliti sekitar juga.
"Hmm, tentu saja aku tahu hal itu karena akulah yang mengetahuinya lebih dulu."
"Apa? Maksudmu kau lah yang tahu lebih dulu mengenai keberadaan Nuzan?"
Liyura mengangguk, "Apa ada cara bagaimana Vampir kembali menjadi manusia?"
Zayn menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Liyura.
"Kau ingin mengubah Vampir menjadi manusia?"
Liyura juga menghentikan langkahnya dan menjawab, "Tentu saja. Aku punya dua orang yang ingin kulindungi. Mereka sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dan mereka juga seumuran denganmu."
Zayn menatap Liyura dengan lekat, "Jadi, dimana mereka?"
"Ada di tempat yang jauh namun dekat. Mereka selalu ada bersamaku. Kau tidak perlu menanyakan hal ini, aku hanya ingin tahu bagaimana caranya mengubah Vampir menjadi manusia?"
Zayn menggeleng, "Aku juga pernah berpikiran seperti itu, tapi apa daya, aku juga pernah mempunyai seorang adik laki-laki, dia sangat periang dan polos serta baik. Tapi dia juga diserang oleh sekumpulan Vampir. Adikku dipermainkan oleh mereka hingga para Vampir itu mengubah adikku menjadi seperti mereka."
"Saat aku mengetahuinya, aku marah tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Seandainya dulu aku ada di sisinya tanpa mementingkan misiku sebagai Pemburu Vampir, hal itu tidak akan terjadi. Tapi, para Jenderal yang mengetahuinya menyuruhku untuk membunuh adikku sendiri agar dia tidak menderita karena kelaparan---haus dengan darah."
Hening sesaaat, Liyura merasa iba dengan Zayn. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menenangkannya.
"Dan bagimana selanjutnya? Apa adikmu selamat?"
Zayn menggeleng lemah, wajahnya terlihat sendu dan merasa bersalah.
"Aku membunuhnya!" Zayn segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Aku membunuhnya karena aku tidak sanggup jika adikku menjadi pembunuh! Aku sangat bersalah padanya! Mulai saat itu aku bersumpah untuk membunuh semua Vampir yang pernah kutemui bahkan Nuzan Kyoro ini, karena dia lah penyebab rantai kematian tiada akhir untuk para manusia!"
Liyura mendengar isakan yang sangat pilu dari arah Zayn. Liyura menghampiri pemuda itu dan menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan.
Liyura mengelus punggung Zayn agar tenang, dia memang tidak ahli untuk mengatakan kata penghibur untuk seseorang tapi setidaknya dia dapat memberikan kehangatan pada orang seperti Zayn yang telah kesepian dan mungkin tersiksa dengan semua dosa yang tidak ingin dilakukannya.
Zayn terlihat tenang, "Aku merindukan hal seperti ini. Andaikan mereka---keluargaku masih ada, dan Nuzan beserta Vampir itu tidak pernah diciptakan, maka kami pasti tidak akan merasakan hal ini!"
"Aku benci dengan kehidupanku! Tapi aku tidak sanggup jika aku menemui mereka tanpa membalaskan dendam! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!"
Zayn terlihat menyedihkan bagi Liyura membiatnya terus berada di dekatnya sampai Pemuda itu tenang.
Setelah beberapa saat, akhirnya Zayn terlihat baikan. Liyura melihat pemuda di hadapannya itu menjadi terpikir untuk mengingat kedua kakaknya.
Liyura tidak akan pernah bisa membayangkan jika dirinyalah yang ada di posisi Zayn. Dia tidak akan pernah bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh pemuda itu.
Zayn terlihat mengusap air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
"Nah sekarang, mari kita balaskan dendammu dan aku akan mencari tahu bagaimana cara mengembalikan Vampir menjadi manusia."
"Seandainya cara itu memang ada, aku tidak mungkin membunuh adikku sendiri. Memangnya ada Vampir yang bisa diubah menjadi manusia?"
Liyura terdiam. Dia sebenarnya juga merasa tidak yakin tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. 'Setiap masalah pasti ada solusinya', dia berpegang teguh pada pepatah itu.
Liyura menyentuh kedua pundak Zayn, "Ada, pasti ada caranya. Aku tidak bisa mengingkari janjiku pada mereka yang ingin kulindungi. Aku tahu pasti ada cara agar Vampir menjadi manusia. Aku tidak akan mudah menyerah dalam mencari caranya."
Liyura akhirnya melepaskan tangannya dari pundak Zayn dan beralih pada Evol yang sudah menunggu di persimpangan jalan. Evol terlihat bosan karena untuk pertama kalinya dia selalu menunggu aktivitas yang dilakukan Tuannya.
Liyura mengajak Zayn untuk mengikutinya menuju Evol, tapi sesuatu menyerang Zayn dari samping di balik pepohonan rindang membuat Liyura refleks menangkap siluet senjata yang akan menyakiti Zayn.
Liyura berhasil menangkap sebuah panah yang dialiri cairan berwarna merah yang diduganya adalah darah.
Liyura ingin menyentuh cairan merah pekat itu tapi di hentikan oleh Zayn.
"Jangan! Berhenti! Kau tidak boleh menyentuhnya!"
Liyura segera menjauhkan tangannya dari cairan merah pekat itu. Zayn segera menyambar panah tersebut dengan kecepatan tekniknya.
Zayn terlihat menganalisis darah itu dan menciumnya, dia segera menjauhkan permukaan hidungnya dengan ekspresi terkejut.
"Sudah kuduga ini bukan darah biasa. Ini adalah darah para Vampir Bulan dari Burung Hantu. "
"Vampir Bulan dari Burung Hantu?"
Liyura merasa geli dengan istilah yang Zayn ucapkan.
"Ya, bisa dibilang ini adalah darah dari para Vampir Bulan. Ini sama seperti mereka setingkat dengan Jenderal Wisteria. Mereka adalah Vampir yang paling banyak membunuh manusia, untuk itulah mereka menjadi kuat. Dan mereka biasanya adalah pengikut Nuzan."
"Dan apa arti Burung Hantu?"
Zayn terlihat melihat sekitar, meskipun dia tahu bahwa hanya ada mereka di sekitarnya tapi dia tetap waspada, Zayn membuang jarak dengan Liyura dan membisikkan sesuatu.
"Itu adalah istilah kode untuk menyebut para Vampir di wilayah ini."
Zayn segera menjauhkan kembali dirinya dengan Liyura. Sedangkan gadis itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Jangan-jangan istilah Merpati adalah untuk Pemburu Vampir?"
Zayn mengangguk mantap, dia melihat sekeliling dan berusaha mencari siapa yang ingin mencelakakannya.
"Dan darah ini sepertinya kelihatan berbahaya karena kau melarangku menyentuhnya."
"Ya, ini disebut dengan Darah pengorbanan. Para Bulan biasanya meneteskan darah mereka pada seorang manusia setelah puas menghisap darah. Bisa dibilang karena darah inilah Manusia dapat berubah menjadi Vampir. Adikku juga ternodai darah seorang Vampir Bulan. Untuk itulah, dia menjadi Vampir."
"Dan bagaimana prosesnya?"
"Prosesnya saat darah itu menyentuh kulit kita. Darah para Bulan itu istimewa tapi darah Nuzan lebih istimewa. Darah para Vampir Bulan dapat merubah manusia menjadi Vampir sedangkan darah Nuzan dapat memperkuat kekuatan para Vampir Bulan."
"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan, sebelum itu aku akan menyimpan panah itu."
Liyura memgambil lagi panah yang ada di genggaman Zayn dan memasukkannya di System Room.
Melihat panah itu menghilang dengan abnormal membuat Zayn terkejut dan menjadi takjub.
"Apakah itu sihir?"
"Kau bisa menganggapnya begitu."
"Kau kemanakan panah itu?"
"Aku menaruhnya di ruangan khusus."
Mereka akhirnya berjalan dengan tenang tanpa menurunkan kewaspadaan mereka, kali ini mereka tidak tahu apa yang akan dihadapinya di depan...