
"Aku kalah padamu, Liyura."
Liyura menatap ke arah Aran dengan pandangan puas.
"Kau tidak memintaku bertanggung jawab untuk adikmu, kan?"
"Tidak, lagipula aku tau benar bahwa Cello lah yang salah. Aku akan membiarkanmu pergi dan kami tidak akan mengganggumu lagi."
"Baiklah. Suatu hari nanti jika kalian membutuhkan bantuanku, maka aku akan membantu Party mu sebagai bentuk jika aku bersalah juga karena membunuh adikmu."
Aran tersenyum dan mengangguk puas, "Baiklah, kalau begitu aku mohon bantuanmu suatu hari nanti."
Aran segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Liyura. Pemuda itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Kita teman? Memang ini mungkin terlihat tidak masuk akal tapi aku bukan orang bodoh untuk menyinggung orang sekuat dirimu."
Liyura tersenyum dan membalas uluran tangan Aran hingga mereka bersalaman menandakan teman.
---
[ Anda sekarang berteman dengan Aran! Kalian dapat mengirim pesan satu sama lain dan dapat mengetahui keberadaan teman kalian ]
---
Liyura dan Aran tersenyum dengan notifikasi masing-masing. Panel console yang menandakan pertarungan mereka berhenti dan diganti dengan nama pemenang Duel yaitu Liyura.
Mereka akhirnya kembali ke sebuah penginapan dengan tatapan orang-orang yang menatap mereka penasaran dengan pemenang duel.
Martin segera menghampiri Aran dan menanyakannya. Aran dengan senyuman kecut mengatakan jika dirinya kalah.
"Apa?! Tidak mungkin kakak kalah dengan gadis itu! Bukankah level kakak lebih tinggi darinya?!"
Ucap Martin tak terima karena dia seakan tidak percaya dengan ucapan Aran.
"Aku memang kuat tapi aku juga tahu jika ada yang lebih kuat lagi dariku seperti gadis itu. Sayangnya aku tidak bisa merekrutnya dalam Party karena sepertinya dia tidak akan setuju. Kemampuannya sangatlah hebat dan tidak terkalahkan. Aku yakin jika kita menyinggungnya lagi mungkin Party Hero hanya akan tinggal nama saja."
Martin menggeram kesal dengan ucapan Aran. Martin sangat marah karena Cello sudah dianggap sebagai adiknya juga seperti hubungan Aran dan Cello.
Martin menatap Liyura yang tengah duduk tenang di penginapan tanpa menghiraukan orang-orang yang membicarakannya.
"Lagipula aku sudah berteman dengannya. Dia juga mengaku salah pada kita karena membunuh Cello hingga dia pasti akan menolong kita jika kita dalam kesulitan."
Martin akhirnya menyerah tapi dia tetap merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan Liyura. Dia menatap gadis itu sekali lagi dengan tatapan benci hingga Liyura merasakannya. Gadis itu juga menatap Martin dengan tajam hingga pemuda itu terimidasi sendiri lalu membuang pandangannya.
Liyura tersenyum miring dan akhirnya kembali ke penginapan kamarnya.
---
Liyura masuk ke dalam kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya ke kasur empuk.
"Hah, gara-gara aku membantai banyak makhluk aku hampir lupa jika ada yang juga tidak boleh kubunuh dengan mudah. Sepertinya aku harus bisa mengendalikan diri, aku terlalu bersenang-senang dengan perang sampai aku hampir menjadi penggila pertarungan."
Liyura teringat dengan Aran dan dia memikirkan ucapan pemuda itu setiap saat.
"Heh, pertama kalinya aku disadarkan oleh orang luar daripada keluargaku."
Liyura mengganti pakaiannya dengan baju tidur dengan Systemnya dan segera menutup matanya.
---
Di tengah malam yang dingin, Martin berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sendirian. Tidak lama, terdapat 2 orang dengan kecepatannya secepat angin langsung tiba di dalam kamarnya, entah lewat darimana.
Martin segera menghampiri sekitar 2 orang itu dan segera menjelaskan situasinya.
"Aku memanggil kalian kemari untuk membunuh seorang gadis."
Perkataan Martin membuat 2 orang itu mengernyit tidak mengerti. Hanya untuk membunuh seorang perempuan pemuda itu merekrut Assassin terbaik seperti mereka. Apa ini lelucon?!
"Hah? Kau menyewa kami hanya untuk membunuh seorang gadis? Kau bercanda?"
Kata salah satu dari mereka hingga Martin menatapnya dengan pandangan menusuk.
"Kau tahu?! Ketua Aran yang kekuatannya sebanding dengan ketua kalian dikalahkan dengan mudah oleh gadis itu! Aku berpikir jika kalian berdua itu mungkin kurang untuk menghadapi gadis itu apalagi membunuhnya!"
"Kau meremehkan kami?! Seorang gadis kemampuannya setara dengan ketua Assassin terbaik di Mozart? Aku tidak percaya itu!"
"Kalian dapat membuktikannya sendiri. Kalian pergilah ke penginapan terbaik di sini dan temui kamar gadis itu lalu bunuh dia!"
Kedua Assassin itu akhirnya melesat secepat angin kembali ke arah penginapan.
---
Dia dalam kamar, Liyura tertidur dengan pulas sampai akhirnya dia mendengar jejak kaki yang pelan seakan mengendap-endap mendekatinya.
Liyura pura-pura tidur dan menunggu apa yang dilakukan orang itu. Tapi Liyura juga merasakan kehadiran lain di kamarnya. Gadis itu merasakan aura pembunuh yang begitu kuat hingga dia merasa terancam.
Salah satu dari mereka tersenyum mengerikan memandang Liyura, pemuda itu mengeluarkan sebuah pisau yang memang digunakan oleh Assassin seperti mereka.
Seseorang melayangkan pisaunya pada Liyura yang sedang tertidur, saat pisau itu hampir menusuk tubuhnya yang terbalut selimut, Liyura menghilang.
Assassin itu terkejut, dia tau jika tidak ada yang bisa menandingi kecepatan dari pisaunya tapi gadis itu melakukannya dengan nudah.
Assassin itu menoleh ke arah sekitar kamar yang gelap dan hanya di sinari oleh Rembulan. Assassin itu menatap ke arah langit-langit kamar dan melihat Liyura berdiri terbalik seperti Kelelawar di atas sana.
Assassin itu bergidik ngeri. Dia mengeratkan pegangannya pada pisaunya yang tadi gagal membunuh Liyura.
Liyura yang berdiri terbalik di langit-langit hanya tersenyum meremehkan.
"Jika kalian ingin membunuhku, setidaknya mungkin ketua kalianlah yang datang sebagai pencabut nyawaku."
Assassin itu menatap Liyura bagai monster hingga salah satu dari mereka naik ke jendela yang terbuka tempat mereka masuk tadi dan keluar dari sana dengan kecepatan yang tinggi meninggalkan temannya.
Salah satu Assassin satunya lagi merasa gemetar menatap Liyura dan berusaha melarikan diri.
"Jika kalian sudah di sini, kenapa ingin pergi? Kalian sudah mengganggu tidurku!"
Liyura meloncat tinggi dan menggunakan Skill Bare Hand nya untuk menumbangkan Assassin itu.
Liyura menendang dengan keras tubuh Assassin yang tidak sempat bersiap hingga akhirnya tubuhnya terlempar keluar kamar melalui jendela dan jatuh ke bawah menimbulkan suara Bum yang seru.
Liyura naik ke jendela melihat keadaannya dan tersenyum mengerikan. Dia menutup jendela itu dan kembali tidur seakan tidak terjadi apa-apa.
Liyura sangat tahu siapa yang menyuruh para Assassin itu membunuh mereka dengan tepat. Martin. hanya orang itulah yang sangat membecinya sejak kematian Cello.
Tidak ada yang lebih tepat darinya. Liyura menguap lebar dan bersumpah serapah pada para Assassin yang mengganggu tidurnya.
Dia sebenarnya ingin mengejar satu Assassin yang sempat lolos darinya tapi matanya tidak bisa terbuka lagi karena mengantuk.
Liyura akhirnya memutuskan untuk tidur dan memikirkan lebih lanjut besok. Dia sebenarnya juga tidak mau membesarkan masalah ini toh dia kan tidak apa-apa dan malah para Assassin itu yang ketakutan padanya tapi dia juga tidak bisa diam saja.
Karena dia telah berteman baik dengan Aran, dia hanya akan mengancam Martin besok, itulah janjinya pada dirinya sendiri.