
Liyura dan Zayn serta Evol berjalan masuk semakin dalam ke hutan yang entah seberapa luasnya.
Liyura juga semakin memperhatikan sekitar karena tadi jika dirinya lengah sedikit saja maka Zayn pasti tidak akan terselamatkan.
"Liyura, sepertinya Ryan ingin pergi ke dunia luar, dia terus merengek karena dia bosan di sini. Apa yang harus kami lakukan?"
Liyura menghentikan langkahnya, lagi. Dia menjawab pertanyaan Aver yang berbicara melalui pikiran.
"Baiklah, aku akan membiarkannya bergabung dengaku. Dan untuk Naomi, bagaimana keadaannya?"
"Dia tidak apa-apa, bahkan dia masih tertidur sampai sekarang."
"Oh ya, di situ sudah berlalu berapa lama?"
"Di sini sudah berlangsung 5 bulan."
Liyura akhirnya mengangguk dan menutup matanya, memikirkan dengan teknik pikirannya untuk mengirim Ryan ke dunia luar.
Tanda di kening Liyura bercahaya sebelum sekelebat bayangan keluar dari tanda itu yang ternyata adalah Ryan.
Liyura membuka matanya dan melihat Ryan telah ada di hadapannya dengan ekspresi senang, tapi langsung menjadi ekspresi datar ketika melihat sekelilingnya.
"Kita ada di mana?"
Ryan terlihat linglung dan melihat sekitar dengan bingung. Dia juga melihat ke arah Zayn dengan pandangan menelisik.
Sedangkan Zayn melongo melihat Ryan keluar dari ruang hampa. Mereka sama-sama terkejut ketika melihat satu sama lain.
Mereka saling menunjuk ke arah lawan masing-masing dan meneriakkan sesuatu yang membuat Evol segera tersadar dari mengantuknya diiringi beberapa burung yang beterbangan tidak tentu arah serta Liyura yang menjadi kaget setengah mati.
"Kamu?!!!"
"Kamu?!!!"
Mereka berdua kompak sekali, seperti dua kombinasi telah bersatu. Entah kenapa mereka mengatakan hal yang sama dan di waktu yang sama pula dalam mengatakan perkataannya, ditambah lagi dengan volume suara yang memang sama-sama kencang.
"Kau kenapa bisa ada di sini?!!"
"Kau kenapa bisa ada di sini?!!"
Kali ini mereka juga mengatakan hal yang sama juga. Liyura terlihat bosan sekarang. Melihat mereka seperti melihat dua orang bersaudara saja.
"A-aku hanya mengikuti Nona Liyura untuk melawan seseorang yang membuat adikku menjadi Vampir. Dan kau ke sini kenapa, Zayn?"
Ryan mengatakannya sambil melihat ke arah lain dengan menggaruk pipinya yang tidak gatal, ini adalah sutu kebiasaannya ketika gugup.
"Ohh, jadi adikmu yah yang menjadi Vampir? Dan yah, aku ke sini untuk membalaskan dendam adikku."
Ryan terlihat membulatkan mata-mata, "Memangnya kemana adikmu?"
Zayn menggeleng dengan sedih, "Dia telah meninggal. "
Ryan terlihat terkejut dan syok, "Sungguh? Tidak! Kau pasti bercanda! Bagimana bisa adikmu yang baik itu mati begitu cepat!! Kenapa, Zayn?!"
Zayn menggeleng lemah, dia serasa ingin menangis lagi. Sebelum Ryan ingin mengatakan sesuatu lagi, Liyura segera memotong perkataannya.
"Sudah, sudah. Ayo kita ke Rumah Labirin si Burung Hantu dan cepat kembali, aku masih banyak urusan. Aku yakin ini akan lama daripada yang seharusnya dan lagi apakah kalian mau dibantu oleh para Jenderal Wisteria? Mungkin mereka dalam perjalanan kemari karena sudah tahu persembunyian Nuzan."
Mereka berdua terdiam mendengar perkataan Liyura dan saling menatap dan mengangguk bersamaan.
"Baiklah."
"Baiklah."
Liyura hanya mengangguk lemah mendengar perkataan mereka ucapkan bersamaan lagi. Liyura kemudian memberikan Ryan pedang putihnya hingga pemuda itu menangkapnya refleks akibat pelatihannya dengan 3 pengikut Liyura.
"Kenapa Nona menyerahkannya padaku?"
Ryan terlihat formal sekali pada Liyura membuat Liyura merasa risih. Liyura melihat tangan yang menggenggam pedang putihnya, tangan yang terlihat lecet dan terlihat memerah karena kelamaan memegang pedang dalam 5 bulan ini bersama latihan sihirnya.
"Ambillah pedang itu saja. Setelah aku membelikan pedang untukmu, aku akan mengambilnya lagi. Lagipula kau sudah dapat memegangnya."
Liyura tersenyum manis dan segera menghampiri Evol yang menunggunya sedari tadi. Ryan dan Zayn mengikuti langkah gadis itu di belakangnya.
Ryan melihat pedang putih di tangannya dan menggengamnya dengan erat, dia mengaitkan pedang itu di pinggangnya dan berjalan beriringan dengan Liyura serta yang lainnya.
Suasana hutan terlihat mencekam dan terlihat gelap serta sunyi. Pergerakan apapun dapat di dengar oleh mereka dari jarak jauh akibat ke-5 indra ketiganya aktif.
Liyura menatap sekitar terlihat waspada, dia tidak bisa membiarkan seseorang yang menyerang Zayn tadi lolos lagi ketika gadis itu menemukannya.
Karena terlalu sepi, Zayn tiba-tiba menguap dengan suara yang kencang membuat semua perhatian ketiga makhluk lain menatapnya, bahkan Evol pun menatap Zayn dengan mengernyit tidak mengerti karena konyolnya sikap manusia di sampingnya.
Zayn yang akhirnya di pandangi menjadi salah tingkah, dia melihat ke arah lain sekan tidak ada yang terjadi, sedangkan Ryan terlihat menahan tawa ketika mendengar suara Zayn yang menguap.
"Pffft... Hahahhahahahahah!! Zayn, ekspresi menguapmu lucu sekali!"
Liyura jadi pusing ketika mendengar tawa Ryan yang nyaring dan memekakkan telinga. Berkat Zayn dan Ryan, suasana menjadi tidak semencekam tadi.
Bahkan Evol pun merasa tidak ngantuk lagi karena perilaku dua manusia itu. Sedangkan Liyura menjadi mengingat masa kanak-kanaknya yang tidak pernah sebahagia mereka.
Meskipun Liyura sedikit iri pada mereka berdua karena terlihat begitu akrab tapi bukanlah keluarga. Tapi Liyura segera menepis keiriannya karena dia juga terpikir dengan segala penderitaan mereka masing-masing.
Dia merasa tidak enak jika menghentikan perilaku mereka yang memang terlihat menggelikan, tapi biarlah mereka melupakan setidaknya sedikit saja penderitaan dan beban yang mereka tanggung.
Evol yang mengerti tentang perasaan Liyura ketika melihat dua orang itu akhirnya memilih berdiam diri dan berusaha bertahan dari suara nyaring mereka ketika bercanda.
Liyura menatap ke arah lain dan merasakan jika angin kencang datang tiba-tiba membuat keduanya berhenti bercanda lagi.
Ryan dan Zayn dalam ekspresi serius memperhatikan sekitar seperti mereka tidak pernah bercanda sedari tadi.
Liyura tersenyum dan bersyukur karena memiliki rekan seperjalanan yang membuatnya tidak terlihat bosan. Dan tiba-tiba, terlintas di pikirannya untuk mencaritahu bagaimana keduanya dapat bertemu.
Tapi karena mereka dalam mode serius sekarang membuat gadis itu menghentikan pertanyaannya untuk ditanyakan dan menelan perkataannya.
Liyura terlihat tersenyum menikmati keributan yang ditimbulkan Zayn dan Ryan kembali saat mereka tidak menemukan hal aneh.
"Hah! Lihat ekspresimu tadi! Begitu konyol! Dasar kau, Zayn! Emas karat!"
"Apa kau bilang, Bocah! Kau katakan sekali lagi akan ku hajar kau dengan teknikku!"
"Emas karat! Emas karat!" Ryan terlihat menunjukkan ekspresi konyol dan membuat Liyura terbahak dengan ekspresinya yang pasti membuat perutnya geli tidak sanggup menahan tawanya.
Sedangkan Zayn yang mendengarnya merasa dongkol saat melihat Liyura ikutan tertawa membuat wajahnya menjadi memerah karena malu.
"Awas kau ya! Sini kau Ryan bodoh!"
Ryan segera menyingkir menghindar saat tangan Zayn hampir mencapainya. Ryan berlari-lari riang di sekitar jalan dan memutari Evol dan Liyura agar Zayn tidak bisa menangkapnya.
"Emas karat! Coba tangkap aku!"
Ryan segera tertawa saat setelah mengucapkannya. Dia berlari memutari Evol membuat Evol jengkel jika dilihat dari ekspresinya.
Akhirnya karena Jaquin itu tidak tahan dengan kalakuan dua orang manusia seperti mereka membuatnya mengaum kesal. Bahkan bisa di rasakannya hutan di sekitar mereka seakan bergetar karena aumannya.
Burung-burung beterbangan dengan ketakutan saat mendengar suara sang Predator.
Sedangkan Zayn dan Ryan terlihat terkejut dan segera berlindung di belakang Liyura menbuat gadis itu yang gantiannya menjadi jengkel.
Evol terlihat marah dan menghampiri keduanya dengan ekspresi seakan ingin memangsa keduanya.
Tapi sebelum itu, Liyura memelototinya tidak kalah seram seperti melindungi dua orang yang dianggap seperti adiknya yaitu orang yang berlindung di belakangnya.
Keberanian dan kemarahan Evol menghilang seketika saat dia melihat ekspresi Liyura yang begitu menyeramkan. Bagaimanapun juga, Liyura sudah dianggap sebagai induk bagi Evol.
Mungkin karena sifat Jaquin yang tidak menyukai manusia mendarah daging di dalam dirinya membuat Evol merasa sangat marah ketika ada sepasang manusia yang mengusiknya, kecuali Liyura. Karena Evol memiliki hubungan yang sangat dekat dengan gadis itu dan akan selalu menaati apa yang di perintahkan Liyura.
Bahkan Evol tidak akan berani untuk menolak satu kalipun permintaan gadis itu karena permintaan Liyura adalah perintah baginya.
Sedangkan Liyura merasa bersalah karena menunjukkan ekspresi menyeramkan pada Evol, tapi dia tidak punya pilihan lain sebelum Evol menakuti kedua orang yang sedang berlindung di belakangnya menjadi semakin takut pada Jaquin itu.
Meskipun umur Zayn dan Ryan sudah dibilang Remaja tapi Liyura tidak mengerti kenapa mereka menjadi keseringan bercanda.
Liyura menghela nafas dengan keras dan menatap ketiga makhluk yang ada bersamanya.
Kali ini perasaannya mengatakan perjalanan mereka akan sedikit panjang. Liyura menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengacuhkan ketiganya dengan terus berjalan santai tapi tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaanya.
Di iringi ketiga makhluk yang tertinggal menjadi mengikuti langkah gadis itu, dan kali ini mereka menutup rapat mulut mereka masing-masing agar tidak mengusik Monster yang sebenarnya.