Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 104 Inkarnasi Roh Bunga Wisteria


Liyura dan yang lainnya terlihat telah sampai ke Dunia Luar setelah keluar dari Portal yang di buat oleh Rena atau Vampir Bulan Sabit.


Liyura melihat sekitarnya yang memang telah hancur lebur dan terlihat mengerikan. Teriakan beberapa manusia masih terdengar di telinga gadis itu maupun yang lainnya.


Ryan yang ikut mendengarnya segera saja mengepalkan tangan sambil menahan amarah dalam dirinya yang tiba-tiba tersulut.


"Kalian semua, selamatkan Manusia yang masih belum di tangkap oleh para Vampir."


Ryan langsung saja berlari mencari manusia lain yang masih belum di tangkap oleh para Vampir bersama Arend yang masih berwujud Burung Elang Harpa kecil yang bertengger di pundak kanannya.


Liyura yang nelihat Ryan langsung berlari membuat gadis itu hanya membiarkannya. Dia sepertinya mengetahui jika Ryan saat ini sedang marah besar, apalagi tempat tinggal dari para manusia yang ada di sekeliling mereka telah hancur lebur dan tidak terbentuk lagi.


Liyura merasa jika dia sangat tidak menyangka jika Vampir akan menjadi se-kejam itu hanya untuk menduduki Ras paling kuat setelah mengalahkan Ras Burung Elang Harpa? Lalu, jika eksistensi Ras Naga kembali, bisa di pastikan jika Ras Vampir akan tiada karena Ras Naga sendiri adalah Ras yang melegenda dan lebih kuat dari Ras manapun.


Dan Ras Naga sangat menyukai pertarungan namun mereka sangat malas untuk melakukan sesuatu tapi karena mereka berumur panjang maka mereka pikir jika mereka akan melakukan sesuatu setelah mereka bertembah tua? Entahlah, sulit sekali mendeskripsikan suatu hal yang bahkan mereka semua tidak mengetahuinya.


Liyura menatap sekeliling, setelah Ryan berlari pergi dan mencari seseorang saja yang masih belum di tangkap oleh para Vampir, maka kali ini giliran Celine dan Erza yang pergi.


"Kami akan ikut mencarinya dan menyusul Ryan. Sebaiknya mungkin Liyura dan yang lainnya mencari Vampir Bulan dan Raja Ras yang mungkin berada di suatu tempat?"


Liyura mengangguk, dia membiarkan Celine dan Erza pergi untuk menyelamatkan para manusia yang masih belum di tangkap oleh para Vampir.


Tentu tidak perlu di ragukan lagi jika mereka---para Manusia tidak di bunuh begitu saja karena pasti para Vampir itu akan mempersembahkan darah para manusia tersebut pada Raja Ras atau menjadi makanan para Vampir Bulan.


Liyura dan yang lain segera bergerak ke arah lain dan berusaha mencari Vampir Bulan dan Raja Ras yang pastinya sekarang berada di tempat yang sama.


Namun sebelum Liyura beranjak, dia menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba saja ia melihat seorang gadis kecil yang seumuran dengan Naomi atau adik dari Ryan terlihat sedang melawan salah satu Vampir dengan Sihir Cahaya? Dan lagi, Liyura sangat terkejut jika sosok dari gadis itu sama seperti dirinya, bahkan Liyura sendiri merasa seperti menatap cermin dengan wujudnya ketika masih kecil atau berumur 13 tahun.


Liyura tertarik untuk menghampirinya. Saat jarak mereka lumayan dekat, gadis itu segera saja menyerang dan mengarahkan suatu bola cahaya yang entah sejak kapan muncul dari tangannya.


Gadis itu menembakkan bola cahaya tersebut dan dengan telak mengenai Vampir hingga Vampir itu menjerit dan menjadi abu seketika seakan ia terkena sinar matahari pagi yang paling ia takuti selain Bunga Wisteria.


Mengingat Bunga Wisteria, Liyura merasa harus meletakkan bunga itu kembali ke dalam area Lembah bunga tersebut secepatnya agar lebih efisien mengusir para Vampir yang berada tidak jauh dari Bunga tersebut nantinya.


Atau lebih tepatnya, Bunga itu akan membuat para Vampir yang berada dalam jangkauannya akan mati menjadi abu setelah menjerit dan berteriak kesakitan.


Liyura melihat jika gadis itu menyadari keberadaannya membuat ia menoleh ke arah gadis itu secepat mungkin. Tatapannya terlihat tajam dengan mata hijau zamrud yang sama seperti milik Liyura dan rambut emas yang bergerak karena semilir angin.


Tatapannya melembut dan menjadi tenang saat melihat Liyura. Gadis itu menghampiri Liyura untuk melihatnya lebih dekat.


"'Sang Takdir..."


Liyura terkejut, ia mengerjap, dia melihat kembali gadis itu yang terlihat menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bawalah anak yang memiliki Takdir Cahaya ini bersamamu. Ia akan menjadi obat dari kegilaan perang dan kunci dari melenyapkan Kegelapan. Bawalah Ia ke dalam jalan penuh dosa-Mu, maka Ia akan membantumu untuk di berkati oleh Sihir Cahaya."


Liyura serasa mendengar hal itu dari dalam kepalanya dan bukannya dari mulut gadis itu sendiri.


Liyura merasa benar-benar sedang berhadapan dengan dirinya sendiri saat ia masih lebih muda dari sekarang. Gadis di depannya juga memiliki tatapan yang se-familiar dirinya. Seakan-akan mereka seperti saudara kandung kakak dan adik yang sebenarnya.


Liyura tidak bisa mengalihkan dirinya sedikitpun membuat gadis itu terpaku pada sosok kecil di hadapannya.


Sampai akhirnya gadis itu terlihat pusing akibat dari luka dalamnya saat Vampir yang belum menjadi abu tersebut menendangnya hingga menabrak dinding. Gadis itu terlihat gemetaran dan tidak bisa bertumpu pada kedua kaki lemahnya lagi membuat gadis itu ambruk seketika ke tanah.


Liyura dengan refleks segera berlari dan memegangi tubuh gadis itu terlebih dahulu sebelum jatuh dengan sempurna ke tanah kotor yang telah ternodai dengan jejak darah para manusia yang melakukan perlawanan pada para Vampir.


Liyura menggendong anak tersebut dengan erat. Dia merasa jika dia harus menolong anak tersebut tanpa memikirkan keluarga gadis itu akan mencarinya karena pasti jika gadis itu memiliki keluarga sekalipun, atau orang tua maupun saudara, mereka pasti telah di tangkap oleh para Vampir.


Liyura tidak berniat untuk melepaskan gadis itu, saat tatapannya bertemu dengan Aver, Undead itu menghela nafas. Tuannya yang sekarang sangat merepotkan di bandingkan keempat Tuannya yang dulu, yang tidak pernah menolong orang sedikitpun, berniat untuk menolongnya saja tidak.


Tapi Liyura? Bahkan entah sudah angka yang ke-berapa kali gadis yang di gendong Liyura itu yang telah menjadi salah satu dari orang yang di tolong oleh Tuannya tersebut. Karena memiliki Dunia Segel, maka Liyura berpikir jika tanpa seorang pun ada di dalamnya selain ketiga Undead itu pasti akan terlihat sepi.


Liyura yang melihat Aver menghela nafas segera saja menaikkan salah satu alisnya. Liyura kemudian memasukkan anak gadis tersebut ke dalam Dunia Segelnya, karena lebih baik anak itu sekarang berada di dalam tempat yang aman.


"Begitu rupanya. Ternyata gadis itu adalah Inkarnasi dari Roh Bunga Wisteria."


Aver mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti akan suatu hal. Kenzie dan Vyone masih terdiam seperti patung dan seolah hanya bergerak setelah Liyura memerintahkannya.


"Kenzie, Vyone. Bunuh semua Vampir yang kalian lihat, tidak terkecuali sedikitpun. Sebelum kalian membunuhnya, siksa mereka terlebih dahulu sampai mereka memohon untuk mati."


Liyura hanya mengatakannya dengan pandangan sangat datar, mata merahnya terlihat kelam dan kosong, seakan mendambakan darah dari sebuah pertarungan.


Kenzie dan Vyone hanya membungkuk hormat dan langsung pergi untuk segera menjalankan perintah Liyura.


Sedangkan di tempat itu hanya Liyura dan Aver saja membuat situasi terlihat hening mencekam. Liyura terlihat memunggungi Aver untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya saat ini.


Tiba-tiba saja gadis itu berbalik menatap Aver dan segera menanyakan tentang perkataan Undead tersebut mengenai gadis yang di temukannya.


"Hmm... aku sudah mengatakannya, jika gadis itu adalah Inkarnasi dari Roh Bunga Wisteria, Penyihir Putih pertama di Mozart yang nenyegel keempat Tuanku. Inkarnasi berbeda dengan Reinkarnasi. Di mana Inkarnasi adalah seseorang yang memiliki kekuatan yang di miliki oleh orang yang di Inkarnasikannya. Sedangkan Reinkarnasi adalah... memiliki segala hal yang di miliki orang lain dengan jiwa yang berbeda. Bisa di bilang, gadis itu akan memiliki kekuatan dari Penyihir Pertama di Mozart, dan ada kemungkinan, gadis itu lah yang akan menjadi kunci untuk Tuanku bebas kembali dengan membuka Segel Pengorbanan yang di aktifkan oleh Penyihir Putih."


Liyura menatap Aver, "Inkarnasi? Bagaimana kau tahu hal itu, Aver? Hanya dalam sekali lihat?"


Liyura terdiam.


Dia tidak bicara lagi. Karena tidak ada lagi yang ingin ia tanyakan. Semuanya jelas. Roh Bunga Wisteria memiliki Inkarnasi yang akan bertugas untuk menjadi pengikutnya, lalu, selanjutnya siapa lagi?


Aver juga diam, namun ia ingin mengatakan sesuatu, "Jika bisa, aku tidak ingin gadis itu yang akan melepas Segel Pengorbanan, aku ingin dirimu sendiri Liyura, yang melepas segel itu. Aku mohon."


'Aku mohon' Liyura melihat nada rendah Aver yang terlihat memelas dan tulus. Liyura hanya mengangguk.


"Aku akan berusaha menjadi kuat dan pantas untuk melepas Segel itu."


Liyura kemudian berjalan pelan ke sebuah bangunan yang tidak lagi terbentuk, dengan stamina dan kekuatan yang di milikinya, bukan hal yang sulit untuk mengangkat dinding yang telah hancur dan retak.


Saat dinding itu di angkat dan di pindahkan, Liyura melihat bayi yang menagis keras. Gadis itu melihat mayat orang tuanya yang terhimpit oleh dinding yang hancur.


Liyura dengan sedikit gemetaran segera mengangkat anak tersebut ke dalam pelukannya. Saat anak itu merasakan tangan hangat Liyura, segera saja anak itu berhenti menangis dan tertidur lelap.


Liyura tersenyum, ternyata setelah memiliki pengikut baru yaitu Inkarnasi dari Roh Bunga Wisteria maka ia akan menjadikan bayi tersebut sebagai bagian dari dirinya.


Liyura menggendong dengan hati-hati bayi yang terlihat tertidur itu dan berusaha agar tidak memegangnya se-erat mungkin karena takut jika badan kecilnya akan remuk dengan fisik gadis itu yang terlampau kuat di balik lengan rapuh yang terlihat dari luar.


Liyura membawa bayi itu ke posisi Aver dan memperlihatkannya pada Undead itu. Aver yang melihat benda kecil rapuh yang di peluk erat oleh Liyura hanya menghindar.


"Jauh-jauhkan makhuk itu. Atau aku dapat tidak sengaja membunuhnya nanti."


Liyura tersenyum dan segera membawa bayi itu berjalan-jalan di sekitar tempat tersebut. Liyura melihat Kenzie dan Vyone telah kembali dengan bersimbah darah di seluruh baju yang mereka kenakan.


Bau amis tercium sangat menyengat saat Liyura menghampiri keduanya, sontak itu juga membuat bayi yang ada di gendongannya menangis keras membuat Kenzie dan Vyone entah kenapa menutup telinganya.


"Master, ini berbahaya bagi pendengaran, bisakah saya membunuhnya?"


Liyura terkejut, apa yang perlu di takuti oleh bayi yang ada di gendongannya ini. Liyura nenjawab dengan menggeleng, entah kenapa Liyura tidak kesal ketika mendengar tangisan bayi itu dengan keras hingga bahkan Kenzie dan Vyone menutup telinga mereka karena Vampir memiliki indra pendengaran yang tajam.


"Tidak usah. Lagipula apa yang berbahaya dari ini? Dia hanyalah makhluk rapuh yang bahkan tidak tahu caranya berjalan dan berbicara."


Kenzie dan Vyone menatap satu sama lain, "Justru Master, apa yang membuat Master masih tetap bertahan untuk tidak membunuh makhluk itu karena bahkan benda itu tidak akan memberikan keuntungan apapun pada Master. Lantas, kenapa Master menjadi aneh dengan membiarkan benda itu berada di sisi Master?"


Liyura cemberut, rasanya ia ingin memukul Vyone yang mengatakannya dengan nada polos padahal tadinya gadis itu telah menebas dan menusuk jantung para Vampir dengan tatapan datar tanpa berkedip hingga baju yang bersimbah darah itu menjadi sanksi bisu mereka melakukan hal tersebut.


"Bodoh. Jika tidak mengerti kalian tidak usah menanyakannya. Apapun itu, jika aku salah kalian dapat memberitahuku, tapi untuk suatu hal yang seperti ini, jangan pedulikan diriku dan anak ini. Lalu, jangan mengatai dia benda, karena makhluk ini bernyawa."


Liyura langsung menghela nafas, ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menenangkan bayi yang ada di pelukannya agar berhenti menangis.


Setelah Kenzie dan Vyone datang, Ryan dan Arend juga datang dengan wujud Arend berbentuk manusia sedang menyeret Ryan yang terlihat seperti anak kecil yang merengek pada ibunya untuk membeli mainan.


"Lepaskan aku! Aku harus membunuhnya sekarang!"


Liyura terlihat penasaran namun ia masih menunggu Arend menghampirinya lebih dekat.


"Apa yang terjadi?"


Arend dengan segera saja melepaskan tautan tangannya yang memegang kerah jubah bersimbol Pemburu Vampir milik Ryan dari belakang.


"Dia ingin membunuh Vampir yang sedang sekarat yang telah membunuh salah satu anak kecil, Ryan yang marah akhirnya berniat untuk menyerang Vampir itu hingga ia menjadi sekarat, tapi aku menghentikannya setelah Kenzie dan Vyone datang dan membunuhnya dalam sekali tebas."


Arend melihat Kenzie dan Vyone dan tersenyum, "Yang tadi itu keren. Tapi Sihirku lebih keren. Sekali-kali, jika kalian ingin membunuh, tanyakan dulu pada seseorang yang berada di dekat orang yang ingin kalian bunuh."


Kenzie dan Vyone tidak menajwab dan seolah menjadi patung membuat Arend kesal.


"Lalu, dimana Raja Ras dan Vampir Bulan? Apakah kalian menemukannya?"


Arend bertanya dan di jawab dengan gelengan oleh Aver.


"Liyura mulai tadi terhambat karena gadis Inkarnasi Roh Bunga Wisteria dan Makhluk aneh yang di gendongnya itu."


Arend yang penasaran melihat sesuatu yaitu bayi yang ada di dalam pelukan Liyura membuat Arend tiba-tiba terbahak.


"Itu adalah bayi manusia. Begitu saja tidak tahu. Dan Liyura, jangan bilang jika kau tidak tahu caranya untuk menghentikan tangisannya?"


Liyura hanya menggeleng dengan polos membuat Arend terbahak sekali lagi. Ryan yang melihat bayi dalam pelukan Liyura segera saja mengulurkan tangannya.


"Apa?"


Liyura bertanya karena tidak tahu apa yang di maksud Ryan. Ryan segera saja merebut bayi itu dan menggantikan Liyura yang menggendongnya. Ryan dengan hati-hati menenangkan bayi itu hingga tertidur kembali dengan ayunan tangannya.


"Begitu saja tidak tahu. Untunglah karena aku punya dua adik sebelumnya jadi aku pernah merawat mereka yang bahkan masih bayi sekalipun seperti ini."


Liyura tersenyum dan akhirnya menyerahkan bayi pada Ryan membuat Ryan terlihat senang. Mereka akhirnya berjalan kembali untuk mencari keberadaan Raja Ras Vampir dan para Vampir Bulan.


"Oh ya, lebih baik kita berikan bayi ini pada seseorang saja. Itu akan lebih baik karena nanti dia akan menghambat kita." Arend tersenyum dengan mengatakannya.