Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 99 Vampir Bulan Sabit


Liyura menatap tajam, dia melihat penampilan Vampir Bulan Sabit yang bernama Rena yang terlihat berbeda sejak mereka terakhir kali bertemu.


"Apakah kau datang ke sini untuk mengambil adikmu kembali?"


Liyura membunuh Vampir yang menyerangnya tanpa menoleh dengan mengayunkan pedang emasnya menebas tepat di leher Vampir itu membuat darah merembes mengotori Gold Equip dan pedangnya.


Rena yang melihatnya hanya bergeming. Dia tidak terlihat takut maupun berani. Dia hanya terdiam. Menyaksikan sesama Ras nya terbantai.


"Adikmu sudah menjadi Undead pengikutku. Dan aku tidak bisa mengembalikannya padamu lagi."


Rena akhirnya menatap Liyura. Matanya menjadi berwarna merah menyala seketika.


"Qin. Adikku sudah mati? Lalu, apa peduliku? Dia sudah menyiksaku dan kau sudah mengetahuinya. Lalu, apa yang akan kau lakukan padaku? Kau juga akan membunuhku, kan?"


Rena menangis, namun bisa di bilang, dia mengeluarkan Twilight nya atau Air Mata Darah. Dia mencintai adiknya, tapi dia di siksa oleh adiknya sendiri. Sejak awal, dia sama sekali tidak ingin menjadi Vampir Bulan Sabit jika bukan karena Raja nya lah yang memintanya dan menjadikannya Slave.


Liyura serasa muak, tapi yang akan membunuh Vampir Bulan Sabit di depannya bukanlah dirinya. Namun Liyura berhak untuk membuat Vampir bernama Rena itu merasakan sakit yang luar biasa darinya, rasa sakit yang lebih menyakitkan dari kematian.


"Aku tidak akan membunuhmu, namun aku hanya akan membuatmu merasakan suatu Neraka dalam kehidupan ini. Yang akan membunuhmu, adalah orang-orang yang telah kau sakiti."


Liyura bersiap, dia tidak merasakan apa-apa saat menyerang Rena dengan pedangnya. Tidak ada rasa kasihan dan simpati sedikitpun, bahkan ampunan pada gadis Vampir di hadapannya.


Liyura sebenarnya sangat marah. Dia sangat kesal dengan para Vampir yang selalu merampas kehidupan makhluk hidup yaitu hidup para Ras, seakan mereka lah yang berhak mencabut nyawa seluruh makhluk se-enaknya.


Liyura tidak segan untuk langsung menodongkan pedangnya pada Rena tepat di leher gadis itu.


"Kau tidak ada niatan untuk melawan? Aku tidak akan ragu untuk menyakitimu, aku akan memberikan dirimu merasakan seluruh penderitaan dari setiap Ras yang kalian---para Ras Vampir habisi dan menghancurkannya menjadi abu."


Liyura menendang tubuh Rena hingga terpental jauh, namun gadis itu tidak mengaduh dan mengerang meskipun hanya karena tendangan Liyura tesebut membuatnya mengeluarkan darah hitam pekat.


Liyura menghampirinya, gadis itu sebenarnya bosan jika Rena tidak melawan, tapi kemarahannya membuat gadis itu tidak dapat membedakan dan menoleransi lagi pada Vampir di hadapannya, yang telah membuat beberapa Ras hancur.


"Hadapi aku! Tunjukkan dirimu adalah seorang Vampir Bulan Sabit! Jika tidak, kau harus membawaku ke tempat dimana Raja mu berada."


Vampir lain segera saja menyerang Liyura saat melihat Rena tidak berdaya di hadapan gadis itu. Liyura tanpa menoleh langsung menebas kepala Vampir yang berniat menyerangnya hingga Vampir tersebut ambruk dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


"Katakan. Jangan sampai aku mengulanginya untuk ketiga kali. Aku tidak mau bersimpati pada Ras seperti dirimu yang telah merugikan dan membuat penderitaan pada Ras lainnya."


Rena berdiri, "Aku... akan menunjukkan tempat Raja berada."


Liyura terlihat tidak percaya dan langsung waspada jika apa yang dikatakan Rena hanyalah bualan dan jebakan saja.


Ryan terlihat melihat Liyura dan seorang gadis Vampir di hadapannya, saat pemuda itu telah selesai dengan pertarungannya, dia segera menghampiri Liyura.


"Nona, siapa dia?"


Ryan tidak mengenalnya tentu saja karena ia belum bertemu dengan Rena saat di Lembah Malam. Namun, Liyura tidak ada niatan untuk menyembunyikan pada Ryan tentang identitas dari gadis Vampir di depannya ini adalah Vampir Bulan Sabit.


"Dia Vampir Bulan Sabit, namanya Rena."


Ekspresi Ryan menjadi mengerikan setelah mendengar kalimat dari Liyura.


"Dia? Gadis lemah ini adalah Vampir Bulan Sabit?"


Ryan mengeratkan pegangan pada pedangnya hingga tangannya bergetar. Ekspresi Ryan tidak dapat di artikan dengan jelas seolah berbagai macam ekspresi berkumpul menjadi satu menggambarkan perasaannya.


Ryan marah, tapi dia seolah tidak sanggup untuk menebas Vampir Bulan Sabit yang ada di depannya karena Vampir itu seolah membuat hatinya sesak.


"Kenapa? Kenapa kau diam saja dan tidak melawan?! Tunjukkan jika dirimu adalah Monster Haus Darah seperti yang kau lakukan saat membunuh mangsamu! Jangan membuatku tertawa dan memiliki rasa simpati pada makhluk sepertimu! Sudah cukup semua penderitaan dan kesedihan yang kualami! Nyawa harus di bayar dengan nyawa! Meskipun bukan kau sekalipun yang membunuh keluargaku, aku akan tetap membunuhmu juga!"


Ryan menarik nafas sedalam mungkin, bisa di rasakan oleh pemuda itu sendiri jika aliran Mana nya tiba-tiba bergejolak dan mengalir tidak beraturan dalam dirinya. Itu bisa terjadi karena emosi Ryan saat melihat dan mengetahui Vampir Bulan Sabit yang terlihat seperti seorang gadis lemah tanpa kekuatan untuk menyerang sedikitpun.


"Ryan, tenangkan dirimu. Kali ini kita tidak boleh membunuhnya dulu, kita harus tahu dimana keberadaan Raja nya yang bersama dengan para Jenderal Wisteria. Hanya dia, petunjuk satu-satunya menuju mereka. Saat kita telah menemukannya, kau boleh membunuhnya tanpa se-izin ku setelah itu."


Ryan membuang pandangannya, dia seolah jijik dengan gadis yang terlihat lemah di hadapannya yaitu seorang Vampir Bulan Sabit.


"Jangan membuatku tertawa, Nona. Ini adalah kesempatanku untuk membunuhnya! Dia telah membunuh keluargaku! Ras nya juga membuat adikku menjadi Vampir! Kematian masih belum cukup untuk menebus semua hal yang di lakukan oleh dirinya dan Ras Vampirnya! Apalagi Raja mereka, para Burung Hantu ini tidak pantas untuk mendapat satu keadilan pun setelah apa yang mereka perbuat pada beberapa Ras lain!"


Ryan terdiam, dia menunduk seolah mengheningkan cipta, Liyura segera menepuk pundaknya membuat Ryan seketika mendongak.


"Jangan lupakan jika bukan hanya dirimu yang ingin membunuh para Vampir. Semuanya di sini saling bekerja sama untuk hal itu. Jangan lupakan juga jika tujuan kita yang lainnya adalah menyelamatkan para Jenderal Wisteria."


Ryan akhirnya mengangguk seolah tersadar, "Maaf, Nona. Aku sudah kehilangan kendali dan tidak bisa berpikir jernih. Aku menyadari jika diriku egois dan ingin membunuhnya sekarang juga. Aku sudah buta akan dirinya yang seorang gadis dan lebih tua dariku sekarang, karena apa yang di lakukan dirinya beserta Vampir lain dan Raja mereka, sudah melebihi batas untuk menorehkan segala luka dan penderitaan."


Ryan memegangi dadanya, rupanya dia masih tidak merelakan keluarganya hancur dalam sekejap akibat para Vampir itu. Amarah dan perasaan ingin membunuh tiba-tiba terasa lagi di dalam hatinya yang tadinya tenang.


Liyura menepuk pundak Ryan, "Kita hadapi segala hal bersama. Jangan lupakan lagi jika kau adalah pengikut setiaku."


Ryan mengangguk pada akhirnya. Dia mundur untuk menghadapi Vampir lain agar amarahnya sedikit mereda. Ryan memang adalah pemuda yang penurut jika bersama Liyura, karena gadis itu lah yang menyelamatkan dirinya serta adiknya, yang mempertemukan dirinya dengan Zayn maupun Arend secara kebetulan hingga membuat dirinya menjadi murid dari Aver, Ares, dan Eden.


Liyura kemudian berpaling ke arah Rena yang masih terus terdiam.


"Tunjukkan jalan memuju Raja mu."


Rena langsung mendongak menatap Liyura. Dia berbalik dan memunjukkan jalan. Liyura segera saja mengikuti pergerakannya dan tetap waspada.


Sedangkan tepat saat itu juga, Celine dan Erza terlihat terbang di atas pertarungan dan segera turun di hadapan Liyura dan Rena membuat mereka berdua berhenti berjalan.


"Siapa dia, Liyura?"


Erza terlihat dengan wujud manusianya sedetik kemudian setelah mendarat. Gadis itu juga terlihat memegangi tali yang mengekang seseorang dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya serta di punggungnya terdapat anak panah berwarna emas.


Sedangkan Celine juga terlihat bertanya-tanya dengan seorang gadis yang terlihat berantakan dengan sedikit noda darah di sudut bibirnya yaitu Rena.


"Kalian sepertinya sudah tahu siapa dia."


Sekejap kemudian, Erza terlihat mencekik Rena dengan kecepatan tinggi hingga menjatuhkan seseorang yang bersamanya yang terikat dengan Tali Sihir.


"Kau adalah salah satu Vampir Bulan yang telah menghancurkan Ras ku! Jangan seperti orang bodoh dan diam saja seperti Vampir lemah! Hadapi aku seperti kau menancapkan kuku tajammu itu tepat di jantung Raja dan Ratu Ras Burung Hantu."


Mata Erza terlihat tajam, matanya berkobar kemarahan yang sangat tidak dapat ia tahan lagi. Celine terlihat marah juga setelah mengetahui siapa gadis itu, namun ia terlihat menitikkan air mata akibat tidak kuasa menahan amarahnya.


"Kenapa? Kenapa kau bersikap lemah saat kau membunuh banyak makhluk yang tidak berdosa? Jangan buat kami ragu untuk membunuhmu!" Celine menggigit bibir bawahnya, hingga darah terlihat mengalir, "Jangan kira jika kau seperti ini kami akan berbelas kasihan padamu. Nyawa harus di bayar dengan nyawa!"


Celine menendang Vampir lain yang menyerang ke arahnya, hingga Vampir itu terpental jauh akibat tendangannya yang seolah mengandung semua amarahnya. Celine mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.


"Jangan buat kami memiliki hati pada kalian! Bahkan Ras Vampir tidak akan pantas untuk mendapatkan ampunan sedikitpun dari para Ras yang telah kalian hancurkan!"


Erza terlihat kesal, dia mengeratkan tautan tangan yang mencekik Rena hingga Vampir Bulan Sabit itu terlihat terangkat ke atas hingga tidak berpijak pada tanah lagi.


"Lawan aku! Kau harus menanggung kematian yang lebih menyakitkan dari hukuman dalam Neraka!"


Mata Erza berkilat tajam, Liyura melihat hal itu. Tapi gadis itu memilih untuk diam, dia tidak berhak untuk menghentikan kemarahan Celine dan Erza. Itu terkecuali untuk Ryan karena pemuda itu masih Pengikutnya maka apa yang ia perintahkan adalah mutlak karena Ryan termasuk dengan orang yang mengikuti dirinya.


Sederhananya seperti itu, tapi Liyura merasa berhak untuk menghentikan amarah Celine dan Erza sebagai rekan atau teman dengan tujuan yang sama, yaitu membunuh dan membuat Ras Vampir menghilang seutuhnya dari Mozart.


"Kalian bisa hentikan untuk membunuhnya sekarang. Atau kita tidak akan pernah tahu dimana Raja nya berada. Karena dia tadinya ingin menunjukkan jalan dimana Raja nya berada. Lalu, jika kalian membunuhnya dulu, kita tidak akan menemukan keberadaan Raja Ras Vampir, si Nuzan Kyoro."


Erza terdiam, dia melepaskan tautan tangan yang mencekiknya hingga Rena kembali jatuh ke tanah dengan terbatuk-batuk. Erza menatapnya dengan berdecih dan mengalihkan pandangannya pada seorang Vampir yang terikat dengan Tali Sihir.


Erza menendang Vampir itu ke hadapan Liyura, "Ada baiknya dia jadi tawanan, tapi jangan jadikan Ia pengikutmu. Jika kau mau, siksa dia dan jadikan dia Undead saja."


Liyura menatap orang yang memunduk. Dia berjongkok di hadapannya yang terlihat duduk di tanah yang kotor dan membuatnya mendongak untuk menatap gadis itu. Liyura melihat wajah yang pucat dengan mata yang berwarna semerah darah. Bisa di pastikan jika Vampir ini belum menghisap darah membuatnya hampir berada di ambang kematian untuk saat ini. Apalagi dengan darah yang terus merembes di punggungnya yang tertancap anak panah emas milik Celine.


"Kalian sadis sekali. Tapi mungkin Vampir ini akan berguna jika di jadikan Jenderal oleh Ares. Dia pernah cerita jika dia kekurangan Jenderal, dan mungkin Vampir ini akan sangat membantunya melengkapi anggota Jenderal nya."


Liyura akhirnya memasukkan Vampir itu ke dalam Dunia Segel Magic Forest dan bertelepati dengan Aver yang selaku seorang Penjaga dalam dunia miliknya.


"Sekarang, tunjukkan dimana keberadaan Raja mu."


Celine dan Erza terlihat menantikan pergerakan Rena setelah Vampir itu terbatuk-batuk karena tercekik. Rena akhirnya berdiri dan berbalik membelakangi Liyura dan yang lainnya.


Tiba-tiba saja dia mengarahkan salah satu tangannya ke udara hingga di udara tersebut membentuk suatu pusaran lubang hitam tidak berdasar.


Rena menutup matanya dan seolah berkomat-kamit, lama-kemalaan pusaran itu membentuk suatu Portal besar hingga yang lainnya yang masih bertarung menatap ke arah Portal yang tingginya terlihat sampai ke arah langit.


Rena terdiam dan berbalik menatap semuanya. Gelarnya yang seorang Vampir Bulan Sabit sepertinya bukan omong kosong saja jika ternyata Vampir itu dapat membuat Portal dengan mudah.


"Masuklah, dan Temuilah Raja di sebelah Tahta Emas dan di dekatnya akan terlihat Penjara Suci yang tersegel oleh orang yang kalian cari."


Rena terlihat menghilang dalam sekejap bagai hanya sebuah mimpi dan keberadaannya seolah tidak pernah ada. Gadis itu meninggalkan Portal besar yang terbuka lebar di hadapan mereka.


"Aku yakin ini jebakan. Tidak ada hal yang tidak bisa di curigai jika menyangkut para Vampir itu."


Erza menggeram marah, sedangkan Celine telah berniat masuk membuat gadis itu segera menarik pergelangan tangan Celine.


"Erza. Yang di katakan gadis itu tidak salah. Kita harus mempercayainya sekali saja. Karena yang di katakannya tadi adalah... Kejujuran."


Erza terdiam, "Apa yang membuatmu yakin?"


Celine menutup matanya seolah membayangkan, "Tatapan matanya yang menyiratkan kesedihan mendalam, entah apa yang terjadi padanya namun kali ini aku berani bertaruh jika kita mengikuti jalannya dan menemukan kunci teka-teki yang di berikannya, kita akan sampai ke tempat Raja."


Celine lalu membuka matanya lagi, "Ayo kita masuk, tidak ada salahnya untuk mempercayai musuh sekali-kali. Jika memang kita hanya di jebak, dia tidak mungkin menyerah untuk melawan kita jika kekuatannya saja telah bisa membuat Portal. Karena sesungguhnya Vampir Bulan Sabit itu sekarang sedang sedih karena suatu hal. Jika dia bersungguh-sungguh untuk melawan, kita harus mengerahkan seluruh kemampuan kita. Tapi karena adanya Nona Liyura dan pengikutnya, maka hal itu tidak perlu kita cemaskan."


Liyura merasa hangat hingga bibirnya membentuk senyuman, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tamatlah para Vampir yang telah mengusik gadis bernama Celine itu, karena Liyura menyadari jika Celine lebih kuat dari apa yang di lihatnya ketika merasakan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika gadis itu sama seperti dirinya, seperti air yang tenang namun mengerikan ketika air itu sungguh-sungguh berniat ingin menghancurkan sesuatu bahkan yang sekokoh Menara sekalipun.