Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 108 Murid Baru Aver


Liyura terlihat berdiri pada akhirnya. Sikapnya berubah kembali menjadi dirinya yang biasanya. Entah apa yang terjadi, mungkin hanya Aver yang tahu.


"Vyone dan Kenzie, bunuh semua Vampir yang ada di hadapan kalian. Kalian tidak keberatan kan, memangsa Ras kalian sendiri, karena kalian berbeda."


Vyone dan Kenzie terlihat bergerak dan menunduk hormat, "Sesuai yang Master katakan."


Mereka segera melesat ke arah kumpulan para Vampir yang hampir ribuan jumlahnya. Aver terlihat mengangguk, karena tidak ada hal lain lagi yang perlu ia khawatirkan, ia segera menyusul Vyone dan Kenzie yang nelesat dengan kecepatan Vampir mereka dan segera memecah formasi dari para Vampir dalam sekejap.


Fiona dan Amon juga ikut menyusul saat Liyura menyuruh mereka. Sedangkan gadis itu sendiri, dia kembali duduk tanpa memedulikan adanya pertumpahan darah tepat di depan matanya. Seolah itu adalah hal yang biasa.


"Untuk sekarang, yang bisa kulakukan, adalah mengumpulkan para pengikut setia mau itu adalah pengikut dari Faksi Sang Dewa Kematian maupun dari Faksi Ruth. Untuk keberadaan Ras Naga, mungkin mereka hampir bangkit seutuhnya lagi untuk bersiap menjadi Magic Animal terkuat se-Mozart."


Liyura tersenyum. Dia menutup matanya dan terlihat santai seolah ia bukannya berada di antara pertarungan hidup dan mati dan teriakan para Vampir yang menggema di kedua telinganya.


"Sebentar lagi, jika aku bisa melaksanakan misiku untuk menjadi kuat dan membalaskan dendamku pada dua orang itu, aku akan berhasil Log Out dari game ini. Mungkin setelah aku menemui System Alpha."


Liyura tersenyum dan membuka matanya kembali, ia menghela nafas, banyak hal yang harus ia lakukan sebenarnya, apalagi petualangannya masih sangat panjang. Tapi, itu akan mudah jika ia membangkitkan Sang Dewa Kematian lebih cepat karena ia pun juga harus mengumpulkan dua pedang Sang Dewa Kematian terdebut yang di juluki Pendekar Pedang Kembar. Entah seperti apa sosok mereka, Liyura menantikannya untuk bangkit juga. Mereka mungkin adalah Legenda yang terlupakan sekarang di Mozart, karena keberadaan mereka, sama sekali tidak diingat kembali karena lamanya abad yang bergulir tanpa adanya Sang Dewa Kematian lagi.


Kira-kira, apa yang membuat mereka tersegel oleh Roh Bunga Wisteria atau Penyihir Putih Pertama di Mozart? Liyura sekali lagi teringat dengan gadis yang ada di dalam Dunia Segelnya sekarang. Inkarnasi Roh Bunga Wisteria yang tidak sengaja ia temukan.


Inkarnasinya ...


Liyura tersenyum miring, entah apa yang ia pikirkan, mulai sekarang, dirinya yang bernama Liliana Yunivera di Real World akan sejenak ia lupakan. Karena identitasnya sekarang adalah Liyura!


***


Aver terlihat menebas semua Vampir yang ada di depannya. Dia melihat di antara kerumunan, Vyone dan Kenzie terlihat telah membunuh hampir ratusan Vampir dalam sekejap setelah beberapa menit berlalu.


Lalu, ketika ia melihat ke arah Amon dan Fiona, Aver menghela nafas, "Merepotkan. Kenapa orang lemah seperti mereka di jadikan pengikut? Sepertinya Tuan Putri dari Ras Demi-Human sudah melemah dari beberapa abad yang lalu. Andaikan jika hubunganku dengan Raja Ras Demi-Human terdahulu terputus, maka mereka tidak akan mau menjadi pengikut Liyura. Lagipula, kecil kemungkinan Ras Demi-Human sekarang ada di kondisi terendah seperti Ras Burung Hantu dan Ras Elang Harpa. Payah ... sejak Tuan di segel, Ras di Mozart berada dalam titik terendah dari seluruh kekuatan mereka, karena mereka memang sudah kehilangan Tuannya untuk sesaat. Tapi ..."


Aver melihat ke arah Liyura yang ada di belakangnya. Lalu tersenyum miring yang terlihat mengerikan.


"Kekuatan para Ras di Mozart akan pulih ketika Tuan telah kembali dan bangkit. Kali ini, Roh Bunga Wisteria sekalipun, tidak akan bisa menyegelnya kembali seperti dulu."


Aver lanjut membunuh dan menebas para Vampir di hadapannya hanya dengan satu serangan. Ia berlari melesat melewati kerumunan para Vampir yang seperti lalat yang sedang mengerubungi sampah atau makanan. Undead itu berlari ke arah Fiona yang terlihat lengah dan hampir kalah dari para Vampir yang menyerangnya dari segela arah.


Sedangkan Amon, gadis itu terpisah dari pemuda ber Ras Vampir setengah Ras Turkien hingga beberapa meter membuat pemuda itu tidak dapat menolong Fiona dan fokus dengan pertarungannya sendiri.


"Kalian akan kulatih nanti agar bisa bertarung dan membunuh dengan benar. Jika sekali saja kalian tidak berbakat untuk bertarung, maka jangan harap Liyura akan menjadikan kalian pengikut lagi. Karena orang lemah tidak ada dalam daftar untuk menjadi pengikut kami."


Aver menebas semua Vampir yang mengerumuni Fiona dengan sekali tebas hingga darah terlihat merembes kemana-mana membasahi tanah kotor yang mereka pijak.


Fiona terlihat ambruk dan terengah-engah sambil memegangi lukanya yang di dapat dari serangan beberapa Vampir tadi. Setelah melenyapkan semua Vampir yang ada di sekeliling gadis itu, Aver melemparkan Potion penyembuh ke arahnya dan segera melesat kembali ke arah Amon untuk membantu pemuda itu.


Amon yang sekarang berada dalam pertarungan, ia malah mencemaskan keadaan Fiona saat ini, tanpa memedulikan dirinya sendiri. Namun, saat melihat Vampir yang menebasnya menggunakan cakar tajam yang di milikinya, ia menjadi serius dalam pertarungan.


Tapi, karena banyak sekali Vampir yang menyerangnya, ia tidak bisa bertahan lama untuk bisa menang. Untuk itulah, Aver datang di saat yang tepat dan segera menebas semua Vampir dengan pedang hitamnya yang terlihat bersinar di aliri Mana berwarna serupa.


Aver terlihat melemparkan Potion pada Amon seperti yang di lakukannya pada Fiona.


"Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kata-katamu. Tapi ... aku ingin menjadi kuat bukan hanya untuk membunuh, tapi aku ingin melindungi seseorang yang berharga bagiku. Lebih baik melindungi daripada membunuh, karena aku bukan Dewa Kematian yang dapat mengambil nyawa dengan sesuka hati."


Amon mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan punggung tangan dan langsung meminum Potion yang di berikan Aver. Seketika itu juga, semua luka yang di sebabkan serangan para Vampir, menjadi menghilang dalam sekejap.


Amon tersenyum dan melihat Aver sekali lagi yang terlihat terdiam dan tidak mampu berkata-kata saat mendengar perkataan dari seorang bocah seperti pemuda di hadapannya.


"Yah itu terserah padamu, tapi jika kau masih ingin tinggal dan menjadi pengikut Liyura, kau harus menjadi kuat agar tidak menjadi beban pada orang-orang di sekitarmu. Sejak awal, orang lemah memang hanya ada untuk di buang dan di diskriminasi oleh orang kuat. Karena dengan begitu, orang lemah tersebut akan punya tekad untuk menjadi kuat agar dirinya berguna dan di akui."


Aver menebas Vampir yang terlihat melesat ke arahnya dan menerjang dengan cakar tajam di tangannya. Tanpa melihat dan memunggungi Vampir itu, Aver hanya menatap ke arah Amon tanpa mengalihkan perhatiannya pada siapapun, namun saat Vampir itu mendaratkan cakarnya untuk menebas Aver, tiba-tiba saja tubuhnya meledak hingga menimbulkan hujan darah yang membasahi sekitar, termasuk baju tempur Aver dan pakaian yang di kenakan Amon saat ini yang terlihat melongo memandangi hal keren di depannya.


Dalam sekejap, Amon tersenyum setelah beberapa saat, itu membuat Aver bertanya-tanya namun ekspresi datarnya masih terpampang dalam wajahnya itu.


"Baiklah, kalau begitu, maukah, Undead sepertimu mengajariku arti dari kehidupan dan cara untuk menjadi kuat? Tanpa jalan pintas hingga aku benar-benar memiliki sesuatu yang istimewa yang kegunaannya bukan untuk membunuh, tapi melindungi orang yang berharga bagiku. Kekuatan memiliki banyak jenis, kan. Mana mungkin tidak ada kekuatan untuk melindungi seseorang."


Aver mengangkat dagunya dengan angkuh, melihat Amon yang entah sejak kapan bertekuk lutut di hadapannya dengan tekad yang besar untuk menjadi kuat. Itu membuat Aver tersenyum dan membantu Amon berdiri tegak kembali.


"Aku pernah menjadi Guru, karena itu aku akan menerimamu. Menjadi Guru itu berarti aku juga harua banyak-banyak belajar agar muridku tidak akan bisa melampauiku nantinya. Tapi kekuatan untuk melindungi memang ada, tapi terlebih dahulu, sebelum kau melindungi seseorang, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Akan lucu kan jika kita ingin melindungi seseorang tapi kita tidak bisa melindungi diri kita sendiri?"


Amon tersenyum, "Terima hormatku, Guru. Aku akan menjadi kuat dan melindungi seseorang yang berharga bagiku, tanpa jalan pintas."


Aver memegang dagunya dengan jari telunjuk dan seolah berpikir, "Tapi, jika kau hanya mengekspresikannya melalui perkataan tanpa melalui tindakan, aku tidak suka itu. Yang kubutuhkan hanyalah bagaimana caramu bekerja untuk menjadi kuat, bukan hanya belajar dengan tekun saja. Tapi juga Berlatih untuk memperbanyak pengalaman."


Amon hanya mengangguk, seumur hidupnya, ia tidak terpikir untuk mempunyai seorang Guru yang akan membimbingnya ke jalan yang benar dan melatihnya untuk menjadi kuat agar tidak di diskriminasi oleh siapapun.


"Kalau begitu, latihan pertamamu akan di lakukan sekarang, tanpa belajar sedikitpun, karena kau bukan Ryan, maka kau tidak perlu mendengar semua hal yamg kuketahui."


Aver terlihat mengeluarkan sesuatu, dan itu adalah Pisau belati yang sama seperti milik Erza.


"Ambil ini, dan gunakanlah untuk membunuh, kali ini untuk membuktikan kepantasanmu menjadi muridku."


Amon menatap pisau itu lama dan langsung mengambilnya. Ia dengan aba-aba dari Aver, langsung saja menyerang lagi setelah memulihkan luka dan staminanya.


Aver juga ikut membantu dan telihat takjub dengan beberapa serangan Amon yang tiba-tiba saja berkembang pesat.


"Ternyata kekurangannya adalah, dia tidak punya senjata untuk melukai. Jadi, jika dia punya Pisau sekalipun, tidak ada satupun makhluk yang tidak bisa di bunuhnya. Lalu, serangannya begitu efisien dalam membunuh, termyata ia tidak berbakat memyerang dengan tangan kosong, namun harus memiliki perantara senjata, atau mungkin ia akan cocok juga dengan Pedang atau Katana, lalu, mungkin lebih cocok lagi ia menggunakan belati saja daripada Long Sword."


Aver menganalisa dengan teliti kekurangan dan kelebihan yang di miliki Amon. Karena pernah menjadi guru Ryan sebelumnya, ia sangat berpengalaman dalam hal mengajar dan tidak menyadari jika ia punya bakat dalam bidang tersebut karena penjelasannya mudah di mengerti dan tidak bertele-tele atau langsung ke intinya.


Sedangkan Amon, dalam sekejap ia membunuh semua Vampir yang mengerumuninya hanya dengan bersenjatakan pisau belati yang ada di tangan kanannya.


Kali ini, kemenangan di tentukan bukan dalam hal kekuatan, tapi dalam hal kecerdikan juga. Awal yang baru bagi semuanya, termasuk Liyura sekalipun, yang tidak lama lagi, akan bertemu makhluk-makhluk Mozart yang belum tentu dapat di temui siapapun hingga ia menjadi satu-satunya orang yang akan membebaskan segel Sang Dewa Kematian.