
Akhirnya malam hari tiba. Dan rencana mereka untuk mencari keberadaan para Jenderal Wisteria gagal total. Sedangkan Liyura sama sekali terlihat diam di luar dan hilang entah kemana ke dalam hutan Magic Forest, mungkin dia ingin mengunjungi berbagai macam penghuni yaitu Magic Animal yang telah menjalin Kontrak Darah dengannya.
Dan lain lagi dengan Kenzie yang masih terbaring dan menahan sakit, namun karena telah biasa tersakiti maka kutukan itu sebenarnya tidak terlalu menyiksanya. Yang jadi masalah adalah Liyura, saat tadi siang gadis itu kemudian bergegas keluar dari Goa saat setelah menyalurkan perasaannya pada semua orang.
Kenzie tersenyum miring dengan miris, rasanya sangat tidak nyaman saat berada jauh dari orang yang menolongnya. Apakah ini karena ungkapan dirinya sendiri untuk menjadi pengikut setia Liyura dengan Kontrak Nyawanya?
Kenzie juga berpikir jika sebelumnya alasan ia bersedia menjadi pengikut Liyura adalah untuk membalaskan dendam para Ras Turkien pada Ras Vampir yang selalu diinginkannya.
Namun, harapan itu sedikit-demi sedikit luntur saat dia bertemu Liyura. Entah kenapa, rasanya hidupnya jadi lebih berwarna, entah kenapa, rasanya dia memang hanya di takdirkan untuk menjadi pengikut gadis itu.
Kenzie tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya lagi. Dia melihat tangannya sendiri yang masih terdapat pola rumit berwarna hitam yang menjalar kecuali di wajahnya.
Kenzie kemudian tertidur, lebih tepatnya berusaha untuk tidur karena kepalanya serasa ingin pecah karena terlalu memikirkan banyak hal.
Sedangkan Liyura, gadis itu benar-benar menyendiri di hutan sampai malam hari tiba dan masih tidak berniat untuk pulang ke Goa, tempat Aver dan yang lainnya tinggal.
Liyura dengan miris menatap ke arah Bulan dengan langit gelap di atasnya, dia tidak tahu jika itu adalah Bulan sungguhan atau bukan karena tanah yang di pijakinya sekarang adalah Dunia Segel.
Liyura duduk di atas tanah dengan rumput di sekitarnya, dia melihat semua Magic Animal menghampirinya dan berkumpul mengelilinginya. Liyura tersenyum saat Magic Animal itu serasa mencoba menenangkan pikirannya, mungkin karena mereka terikat kontrak dengannya, maka Magic Animal tersebut dapat merasakan perasaan Liyura saat ini karena terhubung dengan kontrak darah tersebut.
"Terima kasih."
Liyura melihat ke arah Bulan lagi lalu merebahkan dirinya di atas rumput hijau sambil melihat langit. Gadis itu menutup matanya, dia teringat dengan kedua kakaknya. Biasanya saat dia seperti ini, mereka lah yang mencoba menghiburnya dengan bertingkah lucu atau membuatkannya sesuatu dan selalu menemaninya serta menjadi sandaran keluh kesahnya.
Liyura tidak bisa membayangkan jika kedua kakaknya itu tahu jika Liyura di Real World sedang koma sekarang? Liyura membuka matanya lagi, dia melihat Magic Animal terlihat mengelilingi gadis itu hingga membentuk lingkaran di antara dirinya.
Tanpa Liyura sadari, para Magic Animal menyalurkan Mana dan HP atau bisa di sebut juga sebagai Energi Kehidupan mereka padanya. Saat gadis itu baru menyadarinya, dia langsung terbangun begitu saja.
"Jangan sekarang. Aku baik-baik saja, simpanlah energi kehidupan kalian untuk pertarungan yang akan kubutuhkan. Terima kasih sudah menemaniku, kalian boleh pergi."
Setelah mengatakan itu, mereka semua terlihat membungkuk hormat ke arah Liyura dan segera bubar meninggalkan gadis itu sesuai perintahnya.
Liyura membaringkan dirinya lagi dan menutup matanya. Tanpa di sadarinya, kali ini ada seseorang yang menghampirinya. Indra pendengaran Liyura yang sangat tajam membuat gadis itu membuka matanya dan terkejut dengan seseorang yang menatap dirinya yang sedang berbaring.
"Kenzie!"
Liyura terbangun sekali lagi. Pikirannya tidak bisa tenang.
"Maaf jika aku mengejutkan Liyura, tapi apa Liyura tidak mau kembali ke dalam sana? Yang lainnya mengkhwatirkanmu."
"Untuk sekarang tidak. Lagipula tidak ada yang berbahaya di sini. Kau bisa kembali, bukankah kau sedang sakit karena kutukanmu?"
Kenzie menggeleng, "Aku tidak bisa tidur. Tapi bukan karena kutukan ini."
Liyura merasakan angin semilir tiba-tiba saja berhembus, diiringi Kenzie yang duduk di atas rumput hijau di sampingnya. Pemuda itu juga menatap Bulan.
"Liyura tidak perlu menyembuhkan kutukanku ini. Jika aku menjauh dari Liyura maka Liyura tidak akan ikut mati denganku."
Liyura terdiam, "Tidak bisa, Kenzie. Hanya ada dua pilihan untuk menyelamatkanmu dan itu memang sama-sama sulit. Tapi lebih baik kita lakukan 'Persatuan Jiwa' saja, daripada kau menanggung kutukan itu seumur hidup. Dan aku tidak mau kau menjadi Vampir sempurna seperti Vyone, itu akan membuatmu kehilangan semua perasaanmu dan akan mematuhiku tanpa kau menolaknya. Dan aku tidak menyukai hal itu."
Liyura terlihat berbaring lagi, kali ini dengan menghela nafas lelah karena semua hal yang di laluinya akhir-akhir ini.
"Melakukan 'Persatuan Jiwa' hanya akan membuat kita terikat selamanya, aku yang berjanji menjadi pengikut Liyura dengan Kontrak Nyawaku sendiri akan tidak berguna lagi jika kita melakukan hal itu."
Kenzie akhirnya terdiam. Tiba-tiba saja dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya lagi, tapi dia masih bisa menahannya, entah sampai kapan.
"Kenzie, aku tidak keberatan untuk terikat denganmu. Aku rela melakukan apapun untuk semuanya, bukan hanya pada dirimu. Aku rela melakukan apapun demi orang-orang yang setia padaku. Tidak menghianatiku sedikitpun, karena aku membenci Penghianat, maka dari itu, aku---"
"Tidak bisa, Liyura. Aku tidak mau kita melakukan 'Persatuan Jiwa'. Yang di katakan Undead itu benar, Liyura tidak boleh terikat dengan siapapun. Meskipun aku kuat karena telah menerima Twilight dari Vampir Bulan, aku masih tidak sekuat dirimu, jadi aku hanya akan menjadi beban saja. Lebih baik aku menjadi pengikutmu dan tidak lebih dari itu."
Liyura terdiam. Dia merasakan sakit di kepalanya dan rasa kantuk tiba-tiba saja datang.
"Yang terpenting, jangan sampai kita melakukan 'Persatuan Jiwa', lebih baik aku menjadi Vampir saja meskipun Liyura tidak menyukainya, itu akan membuatku tenang."
"Oiiii!!! Bawa ke sini Nona Liyura cepat, di luar sangat dingin!!!"
Ryan berteriak keras membuat para Magic Animal tergangggu dengan suaranya. Kenzie yang mendengarnya hanya mengangguk. Kenzie menatap Liyura lalu dengan perlahan menggendongnya agar tidak membuat gadis itu terbangun. Mungkin karena terlalu lelah sampai tidak menyadari jika dirinya masih ada di atas rumput dan bukannya tempat tidur.
Kenzie membawa Liyura ke arah Goa dan masuk ke dalamnya. Saat melihat Kenzie menggendong gadis itu, semuanya menatap tajam, tidak terkecuali Vyone dan Ryan.
Kenzie menurunkan gadis itu dengan perlahan ke arah sofa di dekat Aver yang terlihat serius membaca sebuah buku yang telah menguning karena termakan usia.
Sesaat setelah dia menurunkan Liyura, Kenzie merasakan sakit kembali membuat dia ambruk. Rasa sakitnya semakin terasa dan lebih menyakitkan jika di biarkan semakin lama.
Ryan menghampirinya dan membantu menopang Kenzie berdiri, "Hati-hati. Aku akan membantumu berjalan. Pasti sakit karena kau rela terkena kutukan demi membuka Portal. Harusnya aku saja yang terkena kutukan itu."
Kenzie tidak menjawab dan hanya tersenyum, "Jika kamu merasa berhutang, maka kamu tidak boleh membenciku. Aku tahu tatapanmu yang selalu menatap tajam bahkan saat tidak bersama Liyura sekalipun."
Ryan terdiam. Rasanya kata-kata Kenzie terasa menyadarkannya. Ryan hanya mengangguk sebagai jawaban, "Aku akan mencari cara untuk menyembuhkan kutukanmu tanpa melakukan dua pilihan yang di berikan Guru Aver dan Nona Vyone."
Kenzie hanya diam setelah itu. Ryan memapahnya hingga membantu Kenzie duduk. Saat duduk, Kenzie terlihat langsung berbaring. Rasanya dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya menjadi lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
Ryan menatap pola rumit yang terbentuk di kulit Kenzie secara permanen berwarna hitam, "Ini akan sulit. Tapi aku yakin dapat mencari tahu bagaimana cara menyembuhkan kutukan ini."
Ryan segera berdiri saat itu juga dan pergi begitu saja. Kenzie juga terdiam karena tidak bisa memikirkan apapun lagi kecuali menahan rasa sakitnya. Jika dia hanya orang biasa dan tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, maka dia akan sangat tersiksa saat merasakan sakit akan kutukan ini. Namun, kutukan ini tidak begitu sakit jika di bandingkan dengan perasaannya saat dirinya dan Liyura melakukan 'Persatuan Jiwa.'
Kenzie akhirnya tertidur setelah menahan rasa sakit itu semalaman.
***
Keesokan harinya, Liyura bangun lebih awal. Dia merasa sangat segar dan bugar karena beberapa Magic Animal yang mentransfer poin HP dan MP mereka padanya membuatnya jauh lebih bertenaga.
Liyura melihat Ryan juga sudah bangun dan sedang berlatih Sihir dengan Aver. Tapi sesekali mereka juga berlatih pedang karena kemampuan bertarung menggunakan senjata adalah yang terpenting.
Liyura melihat Kei yang dengan sabar mengurus Nica, adiknya dan Naomi, adik Ryan. Namun dia terlihat senang dan tidak mengeluh sedikitpun. Mereka telah tertidur sangat lama di dalam Magic Forest dan belum ada tanda-tanda keduanya akan bangun.
Liyura yang melihatnya menjadi gelisah. Dia tidak bisa mengatakan pada Ryan jika adiknya itu tidak bisa lagi menjadi manusia. Liyura tidak sanggup untuk mengatakan hal yang sebenarnya, karena hal itu akan membuat perasaan Ryan menjadi sedih dan akan menurunkan semangatnya kembali yang akhir-akhir ini telah hampir pulih menjadi sosok dirinya yang periang seperti dulu.
Sedangkan Ares dan Eden yang memang se-bangsa dengan Aver tentu saja tidak tidur semalaman karena mereka adalah Undead. Meskipun Dunia Segel Magic Forest ini aman, sebagai Penjaga hutan tersebut, Aver masih tidak terpecah fokus akan keamanan Dunia Segel sekalipun selama ini.
Jika ada yang berani masuk ke Dunia Segel dengan paksa ke dalam pikiran Liyura, maka dia lah yang akan mengatasinya sebagai pelindung dari privasi Dunia Segel ke dunia luar.
Dan lain lagi dengan Celine dan Erza yang masih tertidur lelap. Sebenarnya Erza tidak tidur karena dirinya masih lah Ras Burung Hantu yang memang aktif melakukan aktivitasnya setiap malam tanpa tertidur. Tapi karena dia mengantuk pagi ini jadi dia langsung saja tertidur tanpa memikirkan apapun di samping Celine dengan sama-sama menggunakan selimut yang entah di dapat darimana.
Lalu, tentang Kenzie, gejala kutukannya makin parah, tapi semuanya tidak menyadari akan hal itu.
Liyura terlihat menghampiri Kenzie yang masih tertidur dan dia lah yang menyadari pertama kali akan kutukan Kenzie yang makin parah setelah melihat pola rumit di seluruh tubuh pemuda itu, bahkan sekarang sudah menjalar ke wajahnya sebagian.
Liyura membangunkannya namun Kenzie tetap terdiam dan masih menutup matanya. Tapi beberapa saat kemudian, saat mata Kenzie terlihat terbuka, salah satu matanya berubah warna menjadi hitam pekat seperti milik Aver, dan sebagiannya lagi masihlah berwarna hijau zamrud.
Aver dan Ryan masuk ke dalam Goa saat setelah selesai berlatih. Ryan terlihat di banjiri keringat karena latihan kerasnya, apalagi metode pembelajaran yang di berikan Aver padanya terlampau sangat tegas dan tidak segan pada pemuda itu.
Aver melihat sekeliling mencari Liyura saat dia menemukan sofa yang di tiduri gadis itu sebelumnya telah kosong. Aver tanpa perlu pikir panjang langsung menemui Kenzie dan terkejut.
"Kutukannnya!"
Ryan yang mendengar perkataan Aver segera menghampirinya dan melihat apa yang terjadi. Ryan begitu ngeri dengan hanya melihat tubuh Kenzie, dia amat merasa bersalah.
Sedangkan Vyone datang begitu saja dan berdiri tepat di samping Aver dan Ryan karena merasakan suatu perasaan dan gejolak aneh yang sebenarnya adalah perasaan Liyura. Karena darahnya dan darah gadis itu berada satu padu dalam dirinya membuatnya secara tidak langsung dapat merasakan perasaan Liyura, namun Liyura tidak dapat merasakan perasaan Vyone.
"Master, jika Master mau aku dapat menjadikannya Vampir sempurna sekarang! Jika tidak, dia akan mati dan Master juga akan mati!"
Itu benar, karena yang paling dekat dengan Kenzie adalah Liyura seorang. Sedangkan Kutukan itu akan membuat pemilik kutukan dan seseorang yang dekat dengannya, akan mati.
Liyura menggigit bibirnya, kali ini dia memgalami pilihan yang sulit lagi. Lalu, apa yang akan di pilihnya? Karena pilihannya kali ini tidak boleh salah.