
Masih di dalam Hutan, Celine terlihat ketakutan dengan cahaya yang berpendar yaitu dari arah Ryan dan Arend.
Celine terlihat sibuk mencari Dobutsu agar Ia dapat menyelesaikan misinya. Celine terlihat kelelahan dalam mencari. Bukan karena beban Busur emas yang terkait di punggungnya, tapi karena dia terus-terusan berjalan lah yang membuatnya kelelahan.
Celien sejak tadi sama sekali belum melihat tanda-tanda adanya Dobutsu. Dia bahkan terlihat bosan untuk mencari.
Nafas Celine terlihat terengah-engah. Dia menatap sekitar dan tidak melihat keberadaan satupun Dobutsu.
"Aku harus kuat. Tapi dimana sebenarnya keberadaan dari Dobutsu? Hah, tapi aku sangat lelah."
Celine tidak menyerah dan terus mencari keberadaan Dobutsu tanpa menyerah, "Tadi itu sebenarnya cahaya apa ya? Itu muncul dari arah orang itu. Hmm, karena aku masih belum tahu namanya, aku panggil begitu saja, nanti akan aku tanyakan setelah aku lulus dari ujian ini."
Celine terus mencari keberadaan Dobutsu, dia mencari ke seluruh tempat itu hingga akhirnya Ia memilih untuk ke tempat Ryan berada.
Celine berjalan ke arah barat tempat Ryan berada dan dia melihat cahaya tadi. Celine bergerak perlahan menuju cahaya hingga dia melihat siluet Ryan dan seekor Dobutsu menjadi menghilang.
"Eh? Sepertinya itu tadi adalah orang yang lulus sepertiku menghadapi ujian. Jadi dia telah lulus lagi, ya? Aku tidak boleh menyerah!"
Celine akhirnya melihat para Dobutsu yang ada di sekelilingnya bergerak bubar. Celine bingung ingin memilih hewan mana yang akan jadi Dobutsu nya.
"Kau terlihat gelisah? Ada apa?"
Celine terkejut dan melihat ke segala arah, "Siapa yang berbicara?"
"Ini aku, aku ada di atas pohon."
Celine melihat ke atas pohon dan melihat seekor Burung Hantu yang sedang bertengger sambil menatapnya.
"Kau... kau bisa bicara?"
"Tentu aku aku bisa, levelku dengan para Dobutsu lainnya di hutan ini jauh lebih tinggi."
"Kau tahu cahaya apa itu tadi?"
"Kau tidak tahu? Itu adalah sebuah pertanda jika leluhur kami telah terbangun dari segelnya karena seorang Anak Adam. Dan kau, Anak Hawa kenapa ada di sini?"
"Anak Adam? Anak Hawa? Nama ibu dan ayahku bukan bernama begitu yang kutahu."
"Tidak, bukan begitu, itu hanyalah panggilan dari kami pada Ras Manusia. Kau kenapa menanyakan cahaya itu?"
"Sebenarnya yang kau sebut Anak Adam itu tadi adalah temanku. Aku tidak tahu kenapa dia bisa membangkitkan Leluhur dari para Dobutsu, tapi aku merasa ada yang aneh saja."
"Kau ke sini sebenarnya untuk apa? Apakah kau ke sini punya tujuan seperti Anak Adam tadi?"
"Iya, aku ingin mencari hewan di sini untuk menjadi Dobutsu ku."
"Hmph! Pada akhirnya kau memang bicara seperti itu, tapi apa kau tahu jika nanti pasti kami hanya akan di jual oleh Ras Manusia sepertimu. Lebih baik kami terkurung saja di hutan palsu ini daripada jika kami keluar, kami hanya akan mati oleh kalian para Ras Manusia!"
"Tidak, aku sungguh-sungguh membutuhkan Dobutsu untuk lulus dari sebuah ujian ini. Tapi aku tidak akan pernah jahat pada para Dobutsu."
"Maaf saja, tapi aku tidak akan percaya."
Celine terlihat menghela nafas. Dia tidak tahu lagi apa yang harus Ia lakukan.
"Jika begitu, bagaimana jika kau bertarung denganku, jika kau kalah, kau harus menjadi Dobutsu ku."
"Apa untungnya bagiku?"
"Aku akan memberikan apapun padamu."
Burung Hantu terlihat berpikir dan akhirnya terbang turun ke hadapan Celine.
"Apapun? Lagipula jika kau berbohong aku punya kemampuan untuk membunuhmu dan kembali ke sini."
"Baik, aku tidak akan berbohong padamu."
"Ok kalau begitu, kita bertarung!"
Celine mengambil Busur dari kaitan di punggungnya dan bersiap memanah ke arah Burung Hantu.
"Itu! Itu Senjata Mistis! Darimana kau mendapatkannya?"
"Kau tahu senjata ini?"
"Iya, darimana kau mendapatkannya?"
"Aku mendapatkannya dari aku menyelesaikan ujian untuk menjadi Pemburu Vampir."
"Kau mengikuti ujian ini untuk melawan Vampir hingga mendapatkan Senjata Mistis?"
Celime mengangguk membuat Burung Hantu terkejut.
"Jadi kau kau sini untuk menyelesaikan ujian agar dapat menjadi Pemburu Vampir?"
Celine sekali lagi mengangguk, "Itu benar, aku melakukannya untuk membalas dendam pada para Vampir atas kematian dari kakakku."
"Kau bisa mempercayaiku, aku bukanlah orang yang pembohong. Aku selalu memegang kata-kataku sampai kapanpun."
Burung Hantu menegakkan badannya dan menatap menelisik ke arah Celine dengan pandangan tajamnya.
"Lagipula aku sudah bilang akan membunuhmu jika kau tidak jujur tentang perkataanmu. Jadi baiklah, ayo kita lakukan Kontrak Darah agar kita tidak bisa meninggalkan satu sama lain."
"Kontrak Darah?"
Berbeda dengan Ryan yang mengerti tentang sihir, Celine masihlah tidak tahu mengenai hal magis seperti itu. Celine terlihat bingung dengan ucapan Burung Hantu.
"Kontrak darah adalah semacam janji agar kita tidak saling meninggalkan. Pokoknya semacam itulah, kau punya Kertas Mistis, 'kan?"
"Kertas? Oh! Aku punya..."
Celine mengeluarkan sebuah kertas kosong dan polos yang ada di saku jubahnya. Celine menyerahkannya pada Burung Hantu.
"Kali ini aku akan melakukan Kontrak Darah denganmu tanpa bertarung. Aku harap kau memang bisa benar-benar bekerja sama denganku dalam menghadapi dendam kita bersama yaitu untuk membunuh para Vampir."
"Aku berjanji akan hal itu. Nah, bagaimana cara melakukan Kontrak Darah?"
Burung Hantu meletakkan Kertas Mistis di tanah dan menggores salah satu kakinya hingga darah mengalir dan menetes ke Kertas Mistis itu.
Celine takjub karena kertas itu sama sekali tidak basah dan terlihat tidak menyerap darah yang menetes seperti kertas biasanya bisa di bilang seperti anti air?
"Sekarang giliranmu."
Celine menatap ke arah Burung Hantu dan akhirnya mengangguk, dia menggigit salah satu jarinya hingga berdarah dan meneteskan darah itu ke kertas.
"Sekarang bagaimana?"
"Kertas itu akan bereaksi sendiri."
Seperti kata Burung Hantu, kertas itu bercahaya dan terobek sendiri hingga menghilang.
"Sudah, hanya seperti itu?"
"Ya, hanya seperti itu, tapi dampaknya kau sudah terikat denganku. Kontrak darah itu adalah sebuah perjanjian antara Dobutsu dan Tuannya. Jika Tuannya mati, Dobutsu juga akan mati. Seperti kita bertukar jiwa melalui darah tadi."
"Sugoi! Aku belum pernah mendengar hal yang seperti itu!"
Mata Celine terlihat berbinar, memang wajar karena gadis itu baru pertama kali melihat hal semacam sihir, sangat berbeda dengan Ryan maupun Liyura yang menganggapnya hanya biasa saja.
"Hah... baiklah, kau tahu cara bagaimana kita keluar?"
"Eh, kata para Jenderal kita akan langsung keluar jika kita telah menemukan Dobutsu."
"Sepertinya ini semacam ujian. Sayangnya kau tidak bisa sihir, maka mungkin akulah yang harus turun tangan."
Ras Burung Hantu adalah Ras Dobutsu paling misterius di antara Ras lainnya. Ras itu juga ikut berkecimpung dalam hal magis maupun sihir. Mereka juga bisa di sebut Ras tertua setelah Ras Elang Harpa.
Bedanya, Ras Elang Harpa lebih di hormati sebagai Raja dari seluruh Ras karena mereka terkenal dengan kemampuan dalam hal kekuatan yang bahkan Ras Singa saja kalah.
Sedangkan Ras Burung Hantu terkenal dengan kepandaiannya dalam hal sihir, sangat cocok untuk di jadikan Dobutsu seorang Penyihir.
Tapi, karena ulah para Vampir beberapa abad yang lalu, kepunahan beberapa Ras tidak dapat di hindari. Bahkan demi melawan para Vampir, kepunahan Ras Elang Harpa adalah yang paling membuat di sayangkan.
Karena dengan tidak adanya mereka, Ras Naga akan menjadi yang terkuat dan tidak akan tertandingi lagi.
Para Ras lain, sangat tidak menyukai Ras Naga, karena mereka terkenal angkuh dan sombong pada semua makhluk karena ke-agungannya.
Meskipun mereka membenci Ras Naga, mereka tidak bisa menyangkal jika Ras itu memang pantas menduduki peringkat pertama sebagai Ras yang terkuat.
Burung Hantu terlihat menggambar sebuah Pentagram tapi berbeda dengan Pentagram yang di buat oleh Ryan.
"Kau sedang membuat apa?"
"Diam saja dan lihatlah. Jika aku memerintahkanmu untuk masuk ke dalam lingkaran Pentagram ini, kau harus menurutiku agar aku tidak meninggalkanmu sendiri di sini."
Celine terlihat tidak mengerti tapi dia hanya mengangguk. Celine menunggu Burung Hantu menyelesaikan apa yang di kerjakannya.
Tidak lama kemudian, Pentagram itu terbentuk dan bersinar membuat Celine tidak bisa berpaling melihat ke arah lain selain Pentagram itu.
"Sekarang cepat lompat ke dalam lingkarannya!"
Burung Hantu berteriak membuat Celine refleks menurutinya hingga dia merasakan di lempar ke dalam mesin waktu dan akhirnya keluar dengan tubuh yang serasa ingin hancur.
Seperti yang di alami oleh Zayn maupun Kei, Celine juga terlihat muntah darah dan lemas seketika.
Tapi gadis itu terkejut setelah dia melihat ke arah sekelilingnya yang merupakan sebuah taman dari bagian Kediaman para Jenderal Wisteria.
Celine terlihat takjub tapi dia merasakan darah keluar dari hidungnya membuatnya semakin pusing dan akhirnya dia ambruk pingsan.