
Keesokan harinya telah datang lagi. Liyura bangun dari tempat tidurnya. Kali ini dia tidak di Magic Forest, kejadian kemarin terasa seperti mimpi baginya.
Liyura menghela nafas dan bangun dari kasur. Kali ini di pikiran gadis itu adalah bagaimana cara untuk mengalahkan para Vampir agar Ia dapat pergi ke lantai selanjutnya.
Masalah yang lain adalah jika dia berhasil mengalahkan Vampir, dia juga harus mencari Administrator lantai 2 ini.
Liyura berharap kali ini dia tidak mendapat kesialan. Bagaimanapun dia berharap Nuzan Kyoro adalah Administrator lantai. Dia tidak mau payah-payah mencari lagi di seluruh lantai yang luasnya satu dunia di Real World hanya untuk mencari satu orang atau satu makhluk saja.
Masalahnya karena di sini tidak ada teknologi maupun sihir di lantai 2, maka akan sulit baginya mencari keberadaan Sang Administrator Lantai.
Liyura tidak ada waktu untuk memikirkannya lagi. Dia juga masih ada yang harus di lakukan. Terutama dia masih merasa aneh dengan para Jenderal Wisteria yang mungkin terlihat berbeda dari biasanya.
Sejak mereka menjalankan misi bersama saat Kompetisi Pemburu Vampir, perilaku mereka berubah ketika kembali ke Lembah.
Liyura juga semakin curiga karena Ryan merasakan hal yang sama. Liyura juga terpikir untuk pergi ke tempat ujian kedua di mulai. Yaitu Ruang Senjata Mistis.
Dia sepertinya harus ke sana jika waktu yang tepat datang. Dia tidak bisa mengajak Ryan karena dia ingin Ryan menyibukkan para Jenderal agar Ia tidak ketahuan pergi ke tempat itu.
Liyura tersenyum sendiri. Dia mengangguk dan kali ini dia ingin pergi berendam air panas di kediaman Rachel seperti biasanya.
***
Saat Liyura selesai, dia tidak mau lagi menggunakan Kimono. Karena rambut dan matanya telah berubah, dia takut dia tidak akan cocok mengenakannya lagi.
Liyura melihat ke arah cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Sedari malamnya, dia tidak berhenti untuk berkaca. Tidak bisa di pungkiri jika perkataan Aver tentang dirinya adalah benar.
Aver mengatakan Liyura terlihat seperti Half Iblis dan Elf. Rambutnya yang pirang dan satu garisnya berwarna oranye tua tapi tidak mendominasi seluruh rambutnya. Sedangkan mata hijaunya telah berubah menjadi warna semerah darah.
Liyira akan sangat tersiksa jika dia sampai menarik perhatian sekitar karena dirinya tidak salah lagi akan di targetkan sebagai Vampir. Karena ciri-ciri dirinya dan Vampir tidaklah berbeda malahan hampir terlihat sama ketika mereka membandingkan dengan warna mata.
Liyura menggunakan Gold Equip nya lagi. Dia tidak bisa hanya berdiam di dalam kamar ini. Tapi dia harus berusaha agar para Jenderal tidak mengetahui akan perubahan wujudnya.
Apalagi soal Rachel. Liyura tidak bisa percaya lagi pada gadis itu. Entah kenapa memikirkan tentang para Jenderal, membuat hatinya tidak tenang.
Liyura memiliki insting yang kuat akan suatu perasaan dan nalurinya. Jadi dia tidak pernah menganggap rendah dan sepele jika dia benar-benar memiliki firasat buruk karena hal itu biasanya memang selalu terjadi.
Liyura akhirnya memanggil Aver dengan teknik pikirannya. Saat Aver muncul, Liyura terlihat menatap Aver.
"Baik, aku tahu kau memanggilku untuk mengubah warna matamu dan rambutmu. Tapi Liyura karena ini sihir hitam, ini tidak akan berlaku selamanya. Sihir ini hanya akan bertahan selama 5 hari. Itupun setiap malam, rambut dan matamu akan berubah kembali menjadi semestinya."
"Tidak apa, Aver. Aku mengerti, 5 hari itu cukup untukku."
Aver terlihat mengelus puncak kepala Liyura yang lebih rendah tingginya darinya dan merapalkan mantra dengan cepat tapi berupa bisikan.
Aver menyentuh kepala Liyura dan hal yang terjadi selanjutnya adalah penampilan Liyura yang sama seperti kemarin. Rambut pirang dan mata berwarna hijau seperti Elf.
Aver menyingkirkan tangannya dan menghela nafas, "Apa yang ingin kau lakukan lagi? Aku akan melakukannya untukmu."
"Hmm, Aver. Apakah kau punya sihir yang bisa melihat masa lalu?"
"Masa lalu? Kenapa kau ingin melihatnya?"
"Tidak, aku hanya ingin melihat apa yang terjadi dengan para Jenderal. Ryan dan aku merasakan suatu perasaan yang sama. Itu adalah perasaan yang buruk. Jadi aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada para Jenderal selama aku tidak ada maupun saat mereka menjalankan misi saat Kompetisi Pemburu Vampir di adakan."
"Begitu? Kenapa kau memintanya padaku? Seharusnya kau mengatakan hal itu pada Elder dari Ras Burung Hantu yang kemarin. Dia lebih tahu dariku jika hal mengenai ini. Bahkan jika mungkin umurku lebih tua darinya dalam beberapa abad, tapi dia di cintai oleh Mana, jadi jika ada hal yang kau inginkan, kau bisa katakan padanya. Kau bisa katakan padaku jika itu adalah sihir yang tidak terlalu sulit di lakukan. Bukannya aku tidak bisa, tapi aku belum mengerti tahap hal itu, melihat masa depan saja aku tidak bisa lalu melihat masa lalu? Tentu saja aku juga tidak bisa. Masih belum bisa untuk sekarang dan lagipula aku malas mempelajarinya."
Liyura terlihat bingung karena Aver berbicara terlalu panjang tanpa di ringkas. Dan lagi dia juga berpicara terlalu cepat membuat Liyura tidak mengerti apa yang di katakannya.
Liyura menghela nafa sdan akhirnya mengangguk, "Aku akan menemui Dobutsu milik Celine itu. Aver, kau bisa membantuku hal lain mengenai sihir, 'kan?"
"Hah? Maksudmu adalah Ares dan Eden?"
"Ya, nama yang kau berikan terlalu bagus untuk mereka. Hingga aku memanggil mereka seperti itu saja."
Liyura tidak bisa menjawab dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah benar orang yang sudah tua akan kembali sifatnya saat masih anak-anak? Dia merasa Aver berada dalam fase itu.
"Hm? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang menempel di wajahku?"
"Kau... sangat kekanak-kanakan, Aver."
"Hah? Kau tahu umurku berapa?! Bahkan kau masih belum di ciptakan aku sudah ada di dunia ini!"
Liyura tetap menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Aver merasa kesal, "Memangnya kenapa aku menyebut mereka seperti itu? Lagipula nama itu tidaklah buruk."
"Tapi aku 'kan sudah menamai mereka, Aver! Seharusnya kau memanggil mereka dengan sebutan itu! Bukannya menamakan mereka dengan nama yang tidak jelas!"
"Tidak jelas? Bukankah itu sesuai dengan mereka? 'Orang bertudung' dan 'Si Badut' Sangat cocok menamai mereka seperti itu."
Liyura merasa jengkel, "Hah... terserah lah."
Liyura akhirnya memasukkan Aver kembali ke dalam tanda segelnya tanpa persetujuan dari lelaki itu. Liyura akhirnya keluar dengan santai karena dirinya tidak perlu khawatir akan di curigai sebagai Vampir lagi.
Liyura di tengah perjalanan bertemu dengan Zayn yang sedang berjalan memutar sedang memikirkan sesuatu. Liyura menaikkan alisnya tinggi, dengan usil dia memikirkan suatu hal yang konyol.
Liyura berjalan mengendap-endap dari arah punggung Ryan dan bersiap untuk mengagetkannya. Tapi entah karena karma mungkin, di belakangnya juga terlihat Ryan yang juga ingin mengejutkan Liyura.
Saat Liyura hampir berada di dekat Zayn, Ryan segera mengagetkannya terlebih dahulu membuat Liyura terkejut.
"Kyyaaaa!"
Zayn juga terkejut hingga menatap ke arah suara yang di dengarnya. Liyura yang melihat Ryan ada di belakangnya hanya menampilkan cengiran khasnya.
Setidaknya Ryan terlihat kembali ceria sejak dia bertemu dengan Liyura. Sedangkan Zayn yang bingung terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ryan kemudian terbahak kencang melihat ekspresi kesal Liyura yang membuatnya tidak bisa menahan tawanya. Liyura memukul keras kepala Ryan hinga tawanya terhenti dengan suara menyedihkan yang di buat-buat.
"Kau merusak rencanaku, Ryan!"
"Hahahah! Suuruh siapa sih Nona ingin mengejutkan Zayn, jadi kena karma~"
Liyura terlihat merasa dongkol, karena Zayn mendengar hal itu langsung membuatnya merasa mengerti dan menghampiri keduanya.
"Hai~ aku daritadi di sini untuk menunggu kalian, tidak kusangka Liyura ingin mengagetkanku. Aku salut padamu, Ryan! Aku tidak mau mati terkejut."
"Heh, siapa yang ingin menolongmu, Zayn. Aku hanya ingin membalas perlakuan Nona Liyura. Bleh!"
Seperti anak kecil, Ryan terlihat menjulurkan lidahnya dengan ekspresi jelek yang di buat-buat pada Zayn. Melihat itu, kali ini Liyura lah yang terbahak karena ekspresi Ryan yang terlampau lucu.
Sedangkan Zayn yang melihat Ryan segera kesal dan menghampiri Ryan dengan ekspresi marah. Melihat hal itu, Ryan segera lari terbirit-birit sambil terbahak, Zayn juga langsung mengejarnya.
Hari itu, sepertinya adalah hari cerah sebelum badai untuk mereka. Setidaknya itulah ungkapan yang tepat bagi mereka untuk sekarang. Biarlah mereka bersenang-senang terlebih dahulu agar mereka siap untuk menerima sesuatu yang besar.
****
Maaf Author tidak UP sampai 10 chapter, Author punya kesibukan akhir-akhir ini...
Arigatou untuk dukungannya....