Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 50 Glamor


Liyura dan yang lainnya terasa bosan karena mereka sama sekali tidak bisa menembus atau merusak ilusi yang ada di dalam rumah reyot itu untuk sampai ke kediaman Vampir Bulan.


"Hah...andai saja kau tidak membunuhnya tadi, mungkin dia bisa menunjukkannya."


Zayn terlihat memijat keningnya. Dia serasa sangat lelah karena sedari tadi sudah memikirkan berbagai cara. Liyura tetap tidak menyerah untuk mencari cara.


"Ada 3 macam hal yang berhubungan dengan kunci kita untuk pergi ke kediaman Vampir Bulan itu. Yaitu rumah ini dipasangi sihir atau ilusi atau juga bisa Glamor."


Liyura tahu hal semacam itu karena dia pernah membicarakan tentang hal tersebut dengan Lucia tentang hal semacam sihir.


Entah darimana gadis itu mempelajari hal yang tabu, tapi Liyura tetap percaya pada penjelasan dari Lucia. Bagimanapun juga Ras Elf memang terkenal bijak dan pintar.


"Hmm, aku ingat guru Aver juga pernah memberitahu hal tersebut. Perbedaan ketiganya adalah cara menggunakannya, matra yang diucapkan, dan juga hal-hal aneh yang akan terjadi. Jika Sihir, itu tidak mungkin berhubungan dengan hal ini. Karena sihir tidak mungkin bertahan lama kecuali jika itu sihir hitam. Jika ilusi, itu mungkin dapat berhubungan, karna eksistensi ilusi itu sendiri meliputi tipu daya dan arti 'menyembunyikan suatu hal dengan hal lain', Tapi, jikalau itu Glamor, itu adalah semacam ilusi tapi berbeda. Terkadang tidak ada yang bisa membedakan ilusi dengan Glamor maupun sihir. Tiga hal ini memang adalah hal yang tabu."


Liyura terlihat memuji Ryan. Sepertinya Ryan banyak belajar dari Aver dengan mendengar. Pemahamannya bahkan jauh lebih tinggi dari Liyura.


"Bagus, oh ya, aku baru ingat, kau punya dua sihir di dalam dirimu, Ryan. Sihir hitam dan Sihir cahaya. Kau bisa menganalisis hal ini, agar kita cepat sampai di kediaman Vampir Bulan."


"Ah ya aku lupa jika aku punya. Baik, akan kugunakan."


Ryan masuk ke dalam rumah reyot itu dan mengucapkan pelafalan mantra dalam bahasa latin yang tidak Liyura maupun Zayn mengerti.


"Lux Magia - Destroy!"


Sinar terang benderang muncul di tangan Ryan. Sedangkan Ryan sedang menutup mata sambil memikirkan suatu hal yang berhubungan dengan kediaman Vampir Bulan.


Ryan akhirnya membuka mata tiba-tiba membuat sihir di tanganya menjadi meledak membuat suara ledakan sampai di telinga Liyura.


Liyura terlihat khawatir tapi dia juga yakin dengan kemampuan Ryan. Aver dan yang lainnya sangat percaya pada remaja itu, kenapa dia tidak?


Liyura melihat jika rumah reyot itu juga ikut meledak hingga muncullah suatu portal sihir dengan Pentagram kuno di bawahnya yang muncul.


Ryan menghampiri keduanya, dia tersenyum.


"Ternyata ini adalah Glamor, untung saja jika Glamor ini adalah Glamor tingkat rendah jadi aku tidak sulit menghancurkannya. Saat Glamor dihancurkan, maka akan keluar portal yang tadinya tidak mucul atau tertutupi. Karena kita tidak tahu apa kata kuncinya, maka aku hancurkan saja."


Liyura terlihat tidak mengerti tapi dia mengangguk, melihat Ryan, dia seperti membaca buku Harry Potter.


"Oh ya, ayo kita masuk ke portal agar kita langsung sampai ke kediaman Vampir Bulan sebelum yang membuat Glamor ini tahu akan hal tersebut."


Liyura dan Zayn menatap masing-masing dan mengangguk bersamaan diiringi ketiganya masuk begitu saja ke dalam portal mengambang berwarna putih seperti putaran lubang hitam yang tidak berdasar.


***


Mereka keluar dalam sekejap dan mendarat di tanah, akan tetapi kondisi Zayn terlihat buruk.


"Uhuk...uhuk...."


Zayn terlihat muntah darah begitu saja. Liyura mengernyit sedangkan Ryan menghela nafas.


"Hah, aku lupa tentang risiko seseorang yang menggunakan portal untuk pertama kali bagi yang tidak mempunyai unsur sihir di tubuhnya."


"Apa?"


Ryan mengangguk, "Karena Zayn tidak sama seperti kita, dia akan muntah setelah melewati portal yang akan membuatnya pusing, itu saja hanya kemungkinan ringannya, sedangkan kemungkinan buruknya adalah dia akan keluar dengan tubuh yang terpotong. Mungkin karena dia punya tenaga dalam, maka risikonya tidak buruk."


Liyura masih tidak mengerti. Dia seakan bodoh jika harus membicarakan tentang hal semacam sihir.


"Tenang saja, Zayn akan mengalami ini hanya satu kali, jika dia melewati portal lagi, dia akan baik-baik saja karena pengalaman pertamanya tidak membuatnya menagalami risiko yang besar."


Zayn tetap batuk darah sekali lagi dan akhirnya dia berdiri.


"Apa kau ingin istirahat? Kau tidak terlihat baik, Zayn. Kau bisa beristirahat di Dunia Segelku."


"Apa? Ku kira Nona sudah pernah masuk. Mungkin karena Nona juga sama sepertiku, yaitu mempunyai sihir di dalam diri Anda."


Liyura berpikir keras, di dalam dirinya terdapat sihir? Apakah itu mungkin? Dia kan sudah mengambil Class Knight.


Liyura mengangguk dan segera menghampiei Zayn, dia menepuk-nepuk punggung Zayn agar lebih tenang.


Zayn terlihat berantakan. Karena tadi mereka masuk ke portal, rambut pemuda itu jadi berantakan karena hal tersebut. Belum lagi karena dia bertarung dengan Vampir tadi, pakaiannya sedikit kotor.


Liyura terlihat menatap iba pada Zayn. Dia akhirnya mengirim Zayn ke Dunia Segelnya tanpa se izin pemuda itu. Lagipula tanpa bertanya, Liyura sudah tahu jawabannya.


Mengenal watak dari Zayn, pemuda itu pasti akan memaksakan dirinya untuk ikut. Saat Zayn berhasil masuk ke dalam Dunia Segelnya, Liyura dan Ryan berjalan mencari kediaman Vampir Bulan.


Keduanya melihat hal yang menabjubkan, "Ini benar-benar indah."


Mereka melihat sebuah kolam air yang sangat jernih dengan ikan yang berenang ria di dalamnya. Liyura juga melihat Paviliun yang sedikit kuno di seberang kolam ikan tersebut.


Liyura dan Zayn saling menatap dan segera mengangguk bersamaan untuk mengunjungi Paviliun tersebut.


Mereka telah ada di depan pintu masuk, tidak ada yang menjaga di sekitarnya. Liyura memberanikan diri untuk membuka pintu setinggi 2 meter membuat pintu itu mengeluarkan suara berderit yang keras.


Saat mereka melihat keadaan di dalam. Sangat indah. Itulah yang mereka pikirkan. Mereka semua tidak percaya jika di hadapan mereka tersebut adalah kediaman salah satu Vampir Bulan.


Mereka melihat ke arah sekitar yang sangat sepi. Bahkan angin semilir saja yang terdengar melalui indra pendengaran mereka.


Mereka langsung masuk begitu saja ke dalamnya tanpa takut akan terjadi sesuatu. Banyak hal yang ingin mereka ketahui tapi mungkin mereka akan menemukan jawabannya sebentar lagi.


***


Mereka masuk ke dalam Paviliun kuno, di dalamnya ternyata sangat gelap, bahkan mereka sama sekali tidak dapat melihat tangan mereka sendiri.


Liyura terlihat curiga. Dia segera membuat persiapan untuk menarik pedangnya jika ada serangan yang datang.


Ryan juga begitu. Karena dia mempuanyai sihir, kali ini, dia akan menggunakan sihir yang dimilikinya sebagai perlawanan pada musuh.


"Lux Magia - Lumen Est..."


Sebuah sinar muncul dari tangan Ryan. Keadaan yang gelap, menjadi terang benderang. Ryan dan Liyura meligat sekitar dan tidak menemukan apa-apa di dalamnya.


'Apakah ada suatu sihir lagi?'


Liyura terlihat kesal karena jika yang di pikirkannya memang benar, dia tidak tahu harus melakukan apa. Karena dia sama sekali tidak emiliki suatu pemahan mengenai sihir secara mendalam seperti Ryan, jiia urusan bertarung dia yakin dengan kemampuannya.


"Ryan, cobalah deteksi lagi, apakah ada semacam sihir lagi?"


Ryan mengangguk, dan segera merapalkan mantra.


"Lux Magia - Deprehendatur!"


Sianar menyala kembali dari tangan Ryan, kali ini lebih terang dari sebelumnya dengan Mana yang meledak, menyebar begitu saja ke seluruh ruangan. Ledakannya hanya berupa beberepa cahaya yang menari-nari seperti mencari sesuatu di sekeliling ruangan.


Cahaya itu lama-kelamaan meredup dan hilang.


"Tidak, tidak ada semacam sihir lagi di sini."


Ryan terlihat aneh, dia berpikir keras akan hal tersebut. Jadi, sebenarnya di mana tempat kediaman Vampir Bulan?


Liyura baru tahu jika dia seandainya memilih Class Penyihir atau Mage juga akan mebantunya dalam menyelesaikan misi seperti ini.


Liyura juga sudah menduga jika hal seperti ini tidak akan terjadi tanpa sebab. Dan setelah tahu, dia akhirnya semakin yakin jika ada seseorang sepertinya yaitu seorang Player, juga masuk ke lantai 2.