Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 32 Kedamaian


Saat menutup mata, Liyura merasakan dirinya tersedot ke dalam lubang hitam tak berdasar hingga dia merasakan terlempar oleh waktu dan sampai di Magic Forest.


Liyura membuka matanya saat sampai dan segera pergi melangkah ke dalam goa yang di tempati oleh Aver dan yang lainnya.


Saat Liyura masuk ke mulut gua, dia melihat Ryan sedang berlatih bersama Aver dengan duel. Pertarungan itu berimbang tapi Ryan kalah pada akhirnya dari Aver.


"Lemah! Jika kau ingin melindungi adikmu kau harus kuat! Jika kau tidak bisa melatih diri, kau akan kehilngan orang yang kau sayangi!"


Perkataan Aver membuat semangat Ryan menjadi membara dan dia bangkit kembali untuk melanjutkan latihan.


Liyura kagum dengan Ryan, saat melihat pemuda itu, dia seakan melihat dirinya sendiri yang dulu saat berlatih bersama kakeknya.


Liyura tersenyum miris karena sekali lagi mengingat keluarganya, dia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam gua tanpa mengganggu latihan dua orang itu.


Saat masuk, Liyura disambut dengan Evol yang masih tertidur pulas di tempat yang sama dan posisi yang sama ketika dia meninggalkan Magic Forest.


Gadis itu mengedarkan pandangan dan melihat Eden serta Ares yang masih bertengkar tanpa melihat situasi dan sekitarnya.


Liyira menjadi pusing seketika ketika masuk lebih dalam ke dalam goa. Itu karena perdebatan dua orang itu yang masih saja memperdebatkan nama terkeren diantara mereka. Ck! Benar-benar kekanak-kanakan.


Liyura tidak percaya jika umur mereka sudah ratusan bahkan ribuan tahun di lihat dari sifat mereka yang seperti anak kecil yang memperebutkan mainan saja.


Liyura menatap iba pada Evol karena Jaquin itu harus mendengar ocehan unfaedah dua orang itu yang kemungkinannya setiap hari.


Liyura menghampiri Evol dan mengelusnya lembut, Evol menggeram nyaman dan membuka matanya.


"Evol, bagaimana kabarmu?"


Evoo mengaum lemah dan mengelus lengan Liyura dengan kepalanya. Evol juga menjilati pipi gadis itu hingga membuat Liyura merasa geli.


"Evol, kau sudah tidak apa-apa, 'kan?"


Liyura menatap khawatir karena sebelumnya Evol terkena Racun Sihir dari bangsa Goblin. Evol sekali lagi menggeleng mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Kalau begitu, bagaimana jika kau ikut aku ke luar? Pasti pertengkaran mereka membuatmu terganggu."


Evol terlihat berpikir tentang permintaan Liyura dan akhirnya mengangguk sambil mengaum lembut, setuju.


Liyura tersenyum dan akhirnya dia berjalan keluar dari mulut gua bersama Evol yang mengekorinya di belakang.


Saat sampai di luar, Liyura masih melihat pertarungan antara Ryan dan Aver yang sengit dan berisik karena dentingan pedang.


Liyura mengajak Evol untuk berjalan-jalan di sekitar hutan dan tidak jauh dari goa. Evol mengikuti Liyura di sampingnya dan juga sesekali melihat ke arah sekitar yaitu para Magic Animal yang bersikap hormat pada Liyura karena gadis itu adalah Tuan mereka.


Liyura hanya menanggapinya dengan tersenyum, Dia masih belum terbiasa tapi dia pasti dapat membiasakannya. Liyura melihat-lihat pohon sekitar dan juga buah-buah yang ajaib di semua pohon yang ada di pinggir jalan yang di lewati mereka.


Semuanya tampak segar dan kelihatan lezat tapi Liyura memilih untuk tidak memetiknya. Liyura dan Evol menikmati pemandangan siang hari yang begitu damai dengan suara kicauan burung yang membuat hati dan badan menjadi rileks.


Saat beberapa lama, akhirnya mereka berbalik kembali ke arah goa saat mereka telah puas berjalan-jalan.


Tiba di goa kembali, hari telah sore karena matahari yang entah buatan atau tidak telah tenggelam di ufuk barat di dunia segelnya. Liyura melihat jika pertarungan Ryan dan Aver telah selesai dan sepertinya mereka berdua telah masuk ke dalam goa.


Liyura dan Evol akhirnya ikut masuk ketika cuaca hampir malam. Saat di dalam, Aver masih mengomeli Ryan yang kalah telak bertarung dengannya dan menjelaskan panjang kali lebar tentang kelemahan dan kelebihan pemuda itu.


Sedangkan Ryan hanya mengangguk-angguk paham saja. Ryan terlihat kotor dan berlumpur di semua tubuh dan pakaiannya. Liyura melihat tangan pemuda itu yang kasar dan lecet akibat terus-terusan memegang pedang tanpa henti.


Liyura memilih menghampiri keduanya dan segera duduk di samping Ryan.


"Sudahlah, Aver. Biarkan dia membersihkan diri dulu. Aku yakin jika Ryan sudah kelelahan dan mungkin sudah tidak kuat menahan omelanmu lagi. Biarkan saja dia, bukankah pertarungan tadi sudah cukup?"


Liyura tersenyum tulus dan memandang Ryan dan mengkodenya untuk mandi membersihkan diri. Ryan hanya mengangguk dan berjalan ke belakang goa yaitu sebuah pemandian tersembunyi yang memang di sediakan.


"Kenapa kau memotong penjelasanku?! Dia juga harus tahu akan kelemahannya agar dia bisa belajar!"


"Aku tahu, Aver. Tapi itu sudah cukup jangan terlalu memaksanya, lagipula dia masih terlalu dini."


"Aku mendidiknya agar dia cepat menjadi kuat dan dapat melindungi adiknya!"


"Aku yang akan melindungi mereka jika mereka dalam bahaya. Lagipula aku juga iba melihatnya seperti itu. Tapi Aver terima kasih telah mendidiknya."


Liyura mengangguk dan membayangkan jika Ryan menjadi kuat dan dapat melindungi apapun yang dia mau.


Liyura melihat ke arah gadis cantik dengan Kimono berwarna merah muda sedang tertidur dengan menyelimuti dirinya.


Liyura menghampiri gadis itu yaitu Naomi dan mengelus puncak kepalanya.


"Kau beruntung mempunyai kakak yang sangat baik padamu. Semoga kau tidak pernah menjadi Vampir yang menyakiti bangsamu sendiri yaitu manusia sampai kapanpun dan tidak peduli kau menjadi apa."


Liyura melihat wajah cantik nan pucat Naomi. Liyura tersenyum dan memperbaiki selimut yang sedikit terbuka untuk menutupi tubuh gadis itu.


Liyura kembali ke tempat semula dan duduk di samping Aver. Liyura menatap kesal pada perdebatan Eden dan Ares yang tidak selesai-selesai sama sekali mulai dari siang.


Liyura sangat kagum karena mereka tidak lelah sekalipun saling teriak dan berbicara sepanjang hari tanpa berhenti, jika itu dirinya mungkin dia akan kehilangan suaranya karena terlalu banyak bicara.


"Aver, tolong hentikan mereka, telingaku sakit sekali. "


"Hmm, aku akan melakukannya, lagipula kepalaku juga terasa pusing saat mereka berdebat terus menerus."


Aver dengan kesal berdiri dari duduknya dan menghampiri Ares serta Eden dengan langkah tegapnya.


Saat tiba di posisi mereka, dia langsung menjewer telinga masing-masing seperti memberi hukuman pada anak kecil yang memperebutkan mainan.


"Kalian ini sudah tua! Jangan berlagak seperti anak kecil saja! Jika kalian bertengkar lagi, aku tidak akan menjewer kalian lagi tapi akan menendang kalian ke luar dari goa!"


Aver terlihat marah dan kesal dengan wajah menyeramkannya, membuat pertengkaran mereka terhenti dan terganti dengan permohonan untuk melepaskan jeweran Aver.


"Tolonglah! Lepas! Kami tidak akan bertengkar lagi kami janji!


Ares terlihat kesakitan yang dibuat-buat sedangkan Eden terlihat memohon dengan mata berkaca-kacanya yang membuat Aver ingin muntah.


"Aku suka kelucuan tapi ini sama sekali tidak lucu!"


Eden berteriak dengan kencangnya hingga jeweran mereka di lepas. Liyura yang melihat itu semua langsung terbahak saat melihat ekspresi Ares dan Eden yang seperti di marahi oleh ayahnya sendiri.


Ryan yang telah selesai mandi menjadi bingung sendiri dengan keadaan goa yang menjadi ramai, dia hanya diam dan duduk di samping Liyura yang masih tertawa panjang sambil memegangi peutnya dan mengusap setitik air mata di sudut matanya.


Setelah beberapa saat, akhirnya keheningan kenbali hingga Liyura meredakan tawanya. Dia hanya tersenyum sekali lagi melihat semuanya tadi.


Ryan hanya memandang aneh dan tidak memedulikannya. Dia akhirnya berjalan tidur di sebelah Naomi dan bersiap untuk tidur karena besok dia pastinya akan berlatih kembali.


Liyura menatap Eden sesaat sebelum dia menghela nafas.


"Kuserahkan Ryan pada kalian! Didiklah dia sebagai murid kalian agar dia menjadi kuat suatu hari nanti. Aku berhutang banyak pada kalian atas semuanya."


Liyura terlihat hormat pada ketiga orang di depannya seakan kejadian konyol tadi tidak pernah terjadi.


Aver mengangguk, "Anak itu seperti pedang yang siap ditempa. Jika kita memukulnya terus-menerus kita pasti akan mendapatkan pedang yang bagus, seperti anak itu. Aku tidak percaya dia dapat memahami ilmu kita dalam sekejap dan hanya salah di beberapa tekniknya saja. Semangatnya lah yang membuatku salut, dia sangat menyayangi adiknya."


Ares mengangguk-angguk, "Yah, dia pasti akan menjadi orang yang terkuat suatu hari nanti. Aku percaya itu karena Ryan memiliki potensi besar dari segi manapun."


Sedangkan Eden yang mendengar pendapat Aver dan Ares terbahak, "Kalian benar, pasti dia akan melampauiku nanti! Aku suka dengan semua strateginya dalam menghadapi musuh, yang tentunya itu akan sangat berguna saat dia dalam bahaya!"


Liyura sekali lagi tersenyum dan akhirnya pamit. Sebelum gadia itu pergi, dia beralih pada Evol dan mengingatkannya untuk kembali ke dunia luar berpetualang bersamanya.


Evol menjawab dengan mengaum rendah pertanda setuju, Jaquin itu sekali lagi menjilati pipi Liyura tanda perpisahan sebelum Liyura menutup mata dan memikirkan dirinya kembali ke dunia luar.


Dan sesuai pemikirannya, Liyura menghilang bak dihisap oleh sesuatu dari kehampaan dan menghilang seketika secepat cahaya dari hadapan mereka.


 


Jangan lupa


Like bila suka...


Vote, dan follow bagi yang menjadi pembaca setia Chronicle Online!!