Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 76 Membuat Ikatan Baru


Liyura melihat ke arah mereka, "Apa... yang terjadi?"


Mereka semua menatap Liyura balik dengan lekat.


"Inilah akibat jika kita melakukan Ritual Pembatalan. Dia akan terlihat berbeda."


Erza melihat ke arah Aver dan Arend. Sedangkan mereka hanya menghela nafas.


"Dia terlihat seperti... Half (setengah) Iblis dan Elf."


Arend menyuarakan kata-katanya, Aver terlihat menghela nafas lagi.


"Tidak apa. Saat kekuatan yang kita segel terlepas, wujud Liyura akan berubah lagi, aku yakin itu."


Liyura memandang mereka dengan bingung, "Apa yang terjadi padaku? Aku hanya merasakan pusing dan setelah itu aku tidak ingat lagi. Bahkan aku merasa, diriku terlihat lebih segar dari biasanya, seakan beban yang ada di pundakku juga terangkat."


"Jadi itu juga dampaknya."


Arend terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ryan terkejut dengan perubahan Liyura.


Ryan kemudian menyodorkan sebuah cermin yang selalu di simpannya kepada Liyura. Liyura memandang Ryan aneh dan akhirnya dia melihat pantulan dirinya di cermin.


Liyura terkejut melihat salah satu garis rambutnya berubah menjadi warna oranye tua yang keren dan matanya berwarna semerah darah.


"I-ini kenapa bisa begini?"


Tapi Liyura tidak memungkiri jika wajahnya jauh lebih muda dan cantik dari sebelumnya. Wajahnya juga putih bersih bagaikan porselin dan permata.


"Aver, Arend, dan Ryan... katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


"Kami melakukan Ritual Pembatalan Pembangkitan untukmu, Liyura."


Erza lah yang menjawab membuat gadis itu menatap dirinya, "Ritual Pembatalan Pembangkitan?"


Liyura menatap Erza lekat. Dia tidak mengerti apa yang di lakukan semua orang yang ada di depannya.


"Itu adalah sebuah Ritual agar kami bisa membatalkan kebangkitanmu. Karena hal itulah penampilanmu berubah, itu sudah hal yang wajar. Sungguh ajaib kami masih bisa berhasil untuk membatalkannya. Karena jika tidak, kami akan mati dan kau akan bangkit tapi jika kau tidak bisa mengendalikan kekuatan besar yang di berikan padamu, kau juga akan mati."


Erza menatap Liyura balik dan bersimpuh di depannya. Arend menghela nafas sedangkan Aver juga ikut bersimpuh dan menepuk pundak Liyura.


"Itu semua kami lakukan agar kau tidak mati. Kau memiliki takdir yang besar untuk masa depan Mozart. Juga takdir yang lebih berat dan mengagumkan yang hanya kau lah yang mendapatkannya."


Liyura menatap bingung kesemuanya. Dia menatap Aver yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


Seakan Aver sangat-sangat berharap suatu harapan pada Liyura, yang tidak Liyura mengerti adalah dia terasa seperti terlahir kembali. Entah kenapa itulah yang Ia rasakan sekarang.


"Ritual Pembatalan Pembangkitan, ya. Aku tidak peduli akan hal itu tapi karena kalian melakukannya demi aku, aku berterima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian."


"Itu mudah, kau hanya harus menjalani takdirmu, meskipun Ritual ini di lakukan untuk menyelamatkanmu, kami bisa di anggap telah lari dari takdir. Kau hanya perlu berlatih dengan keras lagi untuk menjadi kuat dan ketika hari seperti ini tiba lagi, maka kau akan siap mengemban takdir yang memilihmu."


Liyura memandang mereka semua, kali ini bukanlah pandangan datar yang biasanya. Maupun pandangan usil yang selalu di tunjukkannya tapi adalah tatapan yang membuat orang yang melihatnya terharu.


Liyura menunjukkan sisi lemahnya untuk pertama kali di depan semua orang yang memang baru di kenalnya beberapa bulan ini maupun yang baru-baru ini.


Dia memang adalah orang yang keras di luar tapi dirinya di dalam sangat rapuh dan lemah. Liyura dapat mengalahkan berapapun pejuang di medan perang, dia rela terluka dan mati tapi dia melakukan itu semua hanya untuk melindungi apa yang ingin di lindunginya.


Liyura adalah orang yang rumit. Dia tidak mau membuka hatinya pada siapapun ketika ada yang berhasil menusuknya dari belakang dua kali dalam hidupnya Real World.


Pertama adalah Ayahnya yang selalu menganggap dirinya tidak ada karena dia adalah alasan di balik ibunya mati. Kedua adalah karena Reino, kekasihnya sendiri, memilih orang lain selain dirinya.


Liyura sesungguhnya sangat bersyukur jika dia mati. Penderitaan yang di alaminya bukan hanya ada di situ saja, penderitaan itulah yang menurutnya sangat membuat hatinya akan hancur kapan saja.


Liyura sebagai Liliana adalah orang yang berbeda. Jika dia bisa, dia tidak ingin menjadi Liliana lagi, dia tidak mau ada di Real World lagi. Dia hanya ingin di sini. Tidak peduli apapun yang akan di hadapinya nanti, Liyura yakin jika dia bisa melalui semuanya bersama dengan semua orang di depannya, yang selalu mendukungnya.


Menurut Liyura, inilah rumah yang sebenarnya untuknya. Tempat dia pulang adalah di Magic Forest untuk sekarang.


Liyura terlihat menitikkan air matanya. Dia tidak bisa menahan apapun lagi. Aver yang melihatnya terkejut dengan yang lain. Begitupun dengan Ryan juga Celine.


Melihat Liyura seperti ini, mereka meragukan jika orang yang selalu bertarung dengan para Vampir adalah orang lain. Tapi inilah kenyataannya, tidak ada orang yang sempurna. Bukan, tapi tidak ada makhluk hidup yang sempurna di dunia ini.


Bahkan di dunia manapun tidak ada bedanya. Sekuat-kuat appun manusia maupun makhluk hidup, memiliki sisi kelemahannya masing-masing.


Itulah prinsip yang ada di dunia ini. Liyura menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia ingin meredakan air mata yang selalu keluar begitu saja tanpa bisa dia tahan.


Ryan menatap Liyura iba dan sedih. Dia kemudian merangkul Liyura seperti merangkul kakaknya sendiri.


Liyura tidak bergeming. Tapi Ryan memeluknya erat. Lagipula, Liyura tidak salah, biarlah ini menjadi balasan bagi gadis itu karena telah menolong dirinya dan adiknya.


Setidaknya, itulah yang bisa dia berikan. Uang, harta, dan tahta, bukanlah satu-satunya hadiah yang tepat untuk membalas kebaikan orang lain.


Justru kabaikan yang lain adalah bentuk balasan yang tepat. Aver tersenyum, dia mengelus puncak kepala Ryan dan Liyura.


Aver pertama kali melihat dan merasakan hal yang seperti ini. Mungkin pemikirannya pada manusia itu salah. Justru mereka meskipun memiliki sisi yang buruk, mereka juga punya banyak sisi yang baik dan penyayang seperti ini.


Aver terlihat menatap langit, dia membayangkan keempat Tuannya, Pendekar Kembar yang akan muncul nanti.


Hari itu adalah hari yang paling tidak bisa di lupakan untuk semuanya. Celine terlihat terharu hingga Ia memeluk Erza yang lebih tinggi darinya.


Celien juga ingin menangis karena dia merindukan kakaknya. Peristiwa hari ini seakan memutar ulang memorinya akan hari-hari menyenangkan sebelum tragedi terjadi.


Erza menghela nafas dan terlihat memeluk balik Celine. Bagaimanapun, mereka kuat atau berani, mereka masihlah di sebut anak-anak bagi Aver, Arend, dan Erza. Karena umur mereka bahkan lebih dari hitungan abad yang ada.


Liyura terlihat berhenti menangis, kalian tahu? Perasaan yang di rasakannya selanjutnya adalah rasa bahagia, seakan beban yang tersisa di pundaknya pun telah di angkat.


Liyura merasakan perasaan lega, dia tidak merasakan sesuatu yang membuat hatinya mengganjal lagi. Liyura akhirnya tersenyum dan mengusap air matanya. Dia menepuk punggung Ryan yang memeluknya dan tersenyum sekali lagi.


"Terima kasih semuanya... Terima kasih karena kalian selalu ada di sisiku. Kuharap kita bisa seperti ini untuk selamanya."