
Liyura tidak merasakan apapun lagi, seolah ia tertidur dan berakhir dalam mimpi. Sebelum ia mulai tidak sadar, ia merasakan ada seseorang yang memapahnya karena tiba-tiba ambruk.
Entah kenapa dia tidak bisa sadarkan diri ... mungkin itu semua karena perbuatan gadis Vampir bernama Ivone?
Liyura membuka matanya dan hanya melihat kegelapan tiada akhir di sekelilingnya. Dan saat itulah ia mulai tersiksa dengan teriakan-teriakan semua makhluk yang pernah di bunuhnya.
Mungkin untuk sekarang, dengan menjadi makluk yang berdarah dan berhati dingin, ia tidak akan terlalu trauma dengan semua itu, seakan sudah siap menanggung apapun risiko yang ia lakukan.
Tapi, Liyura melihat cahaya berpendar dari arah sesuatu berwarna emas. Liyura melihat cahaya itu membentuk seseorang dan terlihat melayang ke arahnya.
"Gawat. Jika kau di sini, siapa yang akan menghentikan para Vampir di luar sana? Melihat petualangan dan perjuanganmu, aku tidak sabar untuk segera bangkit bersama saudara-saudaraku!"
Liyura melihat ke arahnya, suara itu terdengar familiar, Liyura pernah melihatnya di saat ia hampir kalah bertarung melawan seekor Magic Animal di Magic Forest sebelum kenjadi Dunia Segelnya. Dan ia lah yang memberikan sebuah Skill padanya, melalui suara itu.
"Kau adalah ... salah satu Sang Dewa Kematian."
Sosok itu tersenyum dan akhirnya membentuk wujud dirinya. Sama seperti warna pedang Excalibur, dirinya juga terlihat berwarna serba emas, apalagi rambutnya yang hampir sama warnanya dengan Zayn, namun sosok di depannya lebih agung tanpa Aura sekalipun.
"Namaku Winter Carrison. Panggil saja aku sesuka hatimu tapi aku menyukai diriku di panggil White atau Gold seperti penampilanku. Padahal aku tidak mau menjadi seorang budak dari seseorang yang di takdirkan menjadi kunci kami semua bangkit kembali ketika si Nenek Sihir itu dengan bodohnya menyegel kami semua dalam pedang, aku sangat tidak suka padanya, hanya karena ia punya Tongkat Semanggi Suci yang ciri-cirinya adalah permata berbentuk lima daun yang terlihat menempel, maka ia menganggap dirinya sebagai seorang Dewi, padahal dia hanya keturunan Ras Turkien dan setengah Ras Wizard. Hmph, sekarang karena ia juga telah mati karena menyegel kami semua, maka aku akan merelakannya."
Sosok itu masih mengoceh tidak jelas membuat Liyura pusing. Rasanya seperti terkena ceramah Aver yang sehari saja belum tentu berakhir.
"Dan kau? Kau sebenarnya masih sangat lemah, padahal sudah kuberi kekuatan, Pedangku hanya merespon saat kau benar-benar tulus menginginkan kekuatan dan sangat siap untuk membunuh tanpa ragu. Jika kau mundur, maka pedang itu akan berbalik menguasaimu, itu karena pedangku tajam dua bilah jadi kedua sisinya akan sama-sama membuat kulit kita robek atau bahkan luka berat jika tidak sengaja bersentuhan saja. Pedang sama seperti pisau, tapi jangkauannya lebih luas meskipun bertarung dalam jarak dekat dengan musuh. Pedangku akan memakan jiwa dari penggunanya jika pengguna tersebut lemah, bahkan jika pedang tersebut telah mengklaim pemiliknya sekalipun. Namanya saja dulunya pedang itu adalah potongan dari Pedang Penghancur Roh jadi semua sudah jelas, pedang itu sangat berbahaya, tapi sayangnya itu tidak berlaku bagi kami yang terbiasa menganggap pedang bukanlah lawan maupun pelindung dan alat, tapi seorang teman yang akan membantu untuk memberantas musuh bersama-sama."
"Jika kau ingin kekuatan, kau bisa mendapatkannya, tapi kekuatan yang besar akan memiliki tanggung jawab yang besar juga, sama seperti yang di ajarkan Kakak Merahku. Katakanlah, sebut namaku lagi jika kau butuh bantuan, kau hanya punya 3 permintaan sekarang, setelah itu, saat kau membutuhkan pertolongan, aku hanya akan berperan sebagai penonton sampai kau menyelesaikan tugasmu mencari semua saudaraku."
Setelah itu, tanpa sempat bertanya, Liyura tiba-tiba membuka mata dalam sekejap dan terbangun dengan keringat dingin.
Liyura melihat sekitar dan menyadari jika dia terbangun seolah habis bermimpi. Ia melihat yang lain, Aver sekarang bertarung melawan Ivone bersama yang lain, namun sepertinya, dengan kekuatan Aver sekalipun, mereka masih kurang kuat untuk melawannya, mungkin karena Gelar yang ada pada Ivone. Entah ia akan menjalankan Ritual Pembangkitan apa, namun tugasnya sekarang adalah menghentikannya dan cepat-cepat menyelesaikan urusannya di Lantai 2 ini, karena dengan sangat jelas, gadis itu masih memiliki banyak hal yang harus ia lakukan.
Gadis itu berdiri kembali sambil meregangkan tubuh, sedikit tidur membuat staminanya pulih, bahkan ternyata, ceramah dari orang yang bernama Winter itu atau salah satu Sang Dewa Kematian, malah membuatnya bersemangat!
Liyura mengambil kembali pedang yang ia jatuhkan secara tidak sadar hingga menancap di tanah. Pedang Excalibur nampak berbeda di matanya, apalagi matanya sekarang bukanlah mata biasa. Memang tidak sampai menyamai Mata Naga yang dimiliki Arend, tapi benar-benar sangat bermanfaat karena dapat melihat pancaran Aura yang sama saja seperti Molekul---tidak terlihat, dan tidak di rasakan jika tidak benar-benar ada niat untuk merasakannya, kecuali memang dengan tubuh yang sensitif dan mata yang istimewa.
Liyura melihat Aura emas dan hitam bercampur menjadi satu mengelilingi pedang emasnya. Itu mungkin karena ia baru saja bertemu dengan pemilik asli pedang entah dimana, mungkin di alam mimpi ataukah kesadaran jiwanya?
Liyura mengeratkan pegangannya pada pedang yang ada di tangannya. Pedang bukanlah pajangan, jika kita mempunyai sebuah pedang, akan lebih baik jika kita menggunakannya untuk melindungi, bukan membunuh, lain hal nya dengan para Sang Dewa Kematian, membunuh adalah hobi mereka.
Liyura merasakan aliran Mana dalam dirinya mengalir deras, hanya di Mozart lah ia dapat merasakan suatu Aura maupun desiran Mana dalam dirinya. Yang belum ia rasakan adalah, jenis Inti Sihirnya.
Di Mozart, seseorang yang memiliki Inti Sihir yang banyak, di anggap lemah. Seperti Ryan, dia memiliki 2 Inti Sihir, yaitu Hitam dan Putih. Sedangkan jumlah inti sihir lebih dari itu, maka sama saja orang itu sama sekali tidak akan berguna. Yang paling di anggap berharga adalah seseorang yang hanya memiliki satu inti sihir sama seperti Aver.
Tapi sebenarnya, rahasia yang tidak di ketahui siapapun, seseorang kuat dan berguna, bukan terletak pada Inti Sihir, tapi cara bertarung, kemampuan, kecerdasan, ketangkasan, dan bakat yang di punya lah yang menjadi penentu.
Kenapa orang yang memiliki Inti Sihir lebih dari 2 adalah orang yang lemah? Jika mereka berlatih sedemikian rupa untuk menjadi Penyihir, mereka tentu saja akan sulit untuk naik Level, apalagi bagi para Player tidak terkecuali, karena di Mozart, semuanya memiliki aturan yang bebas namun harus tetap menjalankan aturan yang tertulis maupun tidak tertulis agar dapat bertahan hidup.
Kembali ke cerita, Liyura hanya menghela nafas, jika pun ia di takdirkan memiliki banyak jenis Inti Sihir dalam dirinya, itu juga tidak masalah, dia akan menjadi orang pertama yang berguna dalam segi manapun.
Liyura terlihat berjalan nornal ke arah pertarungan yang terlihat sama-sama bertukar serangan saat ini, bahkan jurus mereka yang nyasar, membuat tanah yang terkena serangannya menjadi retak, hancur, dan terbelah begitu saja.
Ivone mungkin memang adalah yang terkuat setelah Nuzan Kyoro sendiri. Liyura tidak tahu ada hubungan apa sebenarnya antara gadis Vampir itu dengan Raja Ras Vampir yang umurnya mungkin sama dengan Aver sekarang.
Lalu, sebenarnya apa yang di rencanakan para Vampir yang menjajah Lantai 2 tanpa Sihir? Apakah mereka akan beralasan hal yang tidak logis, meskipun tidak ada kaitannya untuk sekarang, yang ada di benak Liyura dan yang lainnya saat ini adalah pemikiran individu mereka tentang Ras Vampir yang telah menjajah Lantai 2 dan malah meninggalkan Dimensi Vampir mereka sendiri di Lantai 40.
Kali ini, pertarungan sebenarnya akan dimulai, mungkin beberapa chapter selanjutnya akan menjadi penentu dalam sebuah akhir Season.