Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 103 Gadis Yang Memiliki Takdir Cahaya


Sedangkan Liyura dan yang lainnya sedang melawan para Vampir... para Vampir yang berada di Dunia Luar kedatangan seorang tamu di dalam Lembah Wisteria setelah Lil pergi.


Al, yaitu Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat menyambut dirinya dengan bertekuk lutut di hadapannya.


"Tuan..."


Seseorang yang datang melalui Portal itu membuka tudung yang di kenakannya. Dan menampakkan sosok yang agak menyeramkan dengan jubah tempur yang di kenakannya. Rambutnya bersurai merah menyala seperti api yang berkobar. Umurnya mungkin jika di umpamakan manusia adalah berusia 30 an tahun.


Wajahnya terlihat tegas dan sangat sulit untuk mendeskripsikan wajahnya dengan jelas. Rambut merah menyala nya menjuntai sampai ke punggung, tapi sosok nya itu adalah seorang laki-laki.


Dia menatap Al, Vampir yang menyamar menjadi Ray dengan tersenyum miring, "Aku datang ke sini untuk memberi tahu kalian tentang perintah Raja yang selanjutnya, yaitu..." Bola mata yang se-merah darah tiba-tiba saja menyala dan berkobar dalam matanya itu, "Bunuh semua Manusia dan persembahkan Darah mereka pada Raja!"


Setelah dia mengatakan hal tersebut, Vampir lainnya yang menyamar menjadi Jenderal terlihat bersorak seolah senang.


"Tuan Varam. Kami ingin memberikan informasi penting."


Al terlihat masih berlutut di hadapan Vampir itu membuat Vampir yang di panggil Varam itu terlihat menatap ke arahnya dan membantu Al berdiri.


"Katakan, dan langsung ke intinya."


"Elder Ras Vampir kita, atau Vampir Bulan Purnama telah berkhianat dan sekarang berada di pihak musuh, Tuan."


Tatapan mata Vampir yang di panggil Varam itu terlihat lebih menyala dan menandakan dirinya marah hingga mereka semua serasa merasakan panas yang membara di dalam ruangan.


"Apa? Elder berkhianat? Dan kalian baru memberitahunya sekarang?! Apa ada hal lain lagi, katakan sekarang juga!"


Al terlihat menunduk dalam, "Maafkan kesalahan Hamba, Tuanku. Hamba pantas di hukum olehmu! Tapi masalah Elder kita yang berkhianat itu adalah karena suatu makhluk yang tidak di ketahui asal-usul dan Ras nya pasti mencuci otak Elder kita!"


Vampir yang di panggil Varam itu terlihat mengernyit, "Makhluk yang tidak di ketahui asal-usul dan Ras nya maksudmu? Apakah yang kau bilang adalah seseorang yang telah memporak-porandakan Dimensi Vampir kita? Dan dia juga di duga mencuci otak Elder? Itu tidak mungkin terjadi, Elder adalah orang yang bahkan lebih kuat dariku dan hampir setara dengan kekuatan Raja, jika sampai ia ada di pihak musuh, maka tidak ada pilihan lain selain Raja kita turun tangan untuk melawan musuh tersebut!"


Al terlihat mendongak, "Tuanku, sekarang ini makhluk itu sedang ada di Tahta Emas dan mungkin saat ia menyadari jika Raja tidak ada di sana, maka ia akan kembali ke sini. Kekuatan makhluk itu sangat kuat jika bahkan Elder yang lebih kuat dari kita dapat kalah darinya."


Vampir yang di panggil Varam terlihat berekspresi serius dan seolah berpikir, "Masalah ini akan serius dan Raja akan benar-benar marah besar jika sampai Elder kita memang berkhianat. Dan bagaimana dengan Ras Turkien yang di bawa oleh Noel?"


Al menjadi pucat, "Itu... sepertinya Ras Turkien itu telah di tangkap oleh musuh dengan bantuan Elder. Aku yakin Tuanku, karena Elder telah di kalahlan dan di cuci otaknya membuat Elder pasti akan memberitahu semua rencana kita pada makhluk itu, jadi bagaimana? Kita akan membunuh Elder atau merampasnya lagi? Karena dirinya yang di cuci otak hanyalah dugaan saja karena bahkan Adik dari Nona Rena telah di jadikan Undead oleh pengikut makhluk itu."


Varam terlihat kesal, "Ini gawat. Masalah ini tidak sepele yang terlihat. Jika benar Elder memang telah berkhiat, ini akan membuat kita di rugikan, apalagi kita masih tidak tahu betul kemampuan musuh yang akan kita lawan. Bagaimana sebenarnya caramu bekerja, Jenderal Al?"


Al dan yang lainnya terlihat bersujud di hadapan Varam.


"Ampuni kami, Tuanku. Berilah kami keringanan untuk memperbaiki masalah ini. Apalagi sekarang bukan hanya Elder saja yang tidak memihak Ras Vampir agung kita, tapi Lil juga telah menjadi Vampir bebas dan memilih keluar dari Ras."


Seakan di pukul dengan telak, Varam terlihat memukul dinding kokoh yang ada di sampingnya membuat dinding itu terlihat hancur remuk.


"S****n! Lalu, bagaimana dengan para Manusia yang kalian tangkap akhir-akhir ini? Dan, apa kalian telah berhasil membuat Bunga terkutuk itu layu?"


Al hanya mengangguk, "Usaha kita tidak sia-sia, Tuanku. Para Jenderal Wisteria yang kita tangkap juga membuat keuntungan bagi kita. Kita sebentar lagi akan memulai perang dengan manusia yang ada di luar sana, dan kita harus memperlihatkan semua manusia yang kita siksa di hadapan para Jenderal Wisteria itu hingga mereka merasa lebih baik bunuh diri saja daripada melihat sesama Ras nya di bunuh tanpa ada seorang pun yang menghentikannya."


Varam terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ide yang bagus, kalau begitu, aku akan membuat Raja kita ikut dalam perang ini. Kali ini, kita akan buktikan di hadapannya sendiri jika jika bisa mengalahkan para manusia dan makhluk itu."


Mereka semua serentak mengangguk. Varam juga terlihat tersenyum miring seolah membayangkan jika mereka berhasil menang dalam pertempuran.


"Kalau begitu, kalian bisa memulainya sekarang, karena Raja kita tidak suka menunggu."


Mereka semua serentak tersenyum dan langsung pergi keluar untuk membuat kekacauan dan membuka kedok mereka yang tadinya berpura-pura menjadi Jenderal Wisteria.


Setelah mereka pergi, Varam juga pergi melalui Portal yang ia buat sendiri. Dia harus melaporkan pada Rajanya semua hal yang terjadi dan dia berharap Ras Vampir dapat jaya setelah mengalahkan Makhluk misterius yang menjadi ancaman kemenangan mereka yang tidak lain adalah Liyura dan pengikutnya.


***


Saat malam, para Vampir yang menyamar menjadi Jenderal Wisteria terlihat telah sampai di luar area Lembah dan akhirnya memporak-porandakan tempat tersebut yaitu tempat tinggal manusia yang tadinya terasa damai.


Mereka semua menjerit dan berteriak kencang saat para Vampir yang menyamar menjadi para Jenderal Wisteria terlihat menebas tanpa ampun manusia yang ada di dekat mereka. Sedangkan untuk wanita dan anak-anak mereka pisahkan dan di tangkap tanpa melukainya sedikitpun.


Tidak ada lagi kata damai dalam tempat yang telah hancur itu. Semuanya berlarian ke sana kemari untuk melarikan diri dari para Jenderal Wisteria yang ternyata adalah para Vampir.


Seorang wanita dan anaknya saling melindungi dan menatap drngan benci, "Kenapa? Kenapa para Jenderal Wisteria yang kami banggakan malah seperti ini?! Apa kalian juga telah berada di pihak para Vampir?!"


Salah satu Vampir yang menyamar menjadi Jenderal terlihat tersenyum mengerikan. Satu- persatu dari mereka mulai mengubah wujud mereka yang tadinya adalah para Jenderal Wisteria.


"Maaf sekali. Kami bukanlah para Jenderal sialan yang kalian agung-agungkan itu. Mereka tetaplah manusia biasa, jadi mereka pada akhirnya hanya akan tunduk dan sujud pada kami! Sekarang, para Jenderal kalian itu tidak akan menolong kalian lagi. Mereka sudah menjadi tawanan kami."


Wanita itu terkejut dan akhirnya menangis lebih keras. Ia sangat sedih karena tahu jika sosok di depannya adalah Vampir. Saat wanita dan anak itu terlihat akan di tangkap oleh salah satu Vampir, ada seseorang yang menyelamatlan mereka.


"Kalian para Vampir sangat kejam! Kalian akan mendapatkan ganjaran atas apa yang kalian perbuat!"


Seorang gadis terlihat dengan berani membusungkan dada dan melindungi wanita dan anak yang ada di belakang dirinya.


Entah siapa gadis itu, tapi dia terlihat marah dan muak. Gadis itu sekitar berumur 13 tahun sedang memberi kode pada wanita dan anaknya yang ada di belakang untuk segera lari.


Setelah wanita dan anak itu pergi, gadis itu mengeluarkan sebuah belati kecil namun terlihat sangat tajam.


"Aku akan menebas leher para Vampir seperti kalian!"


Gadis itu dengan berani langsung saja menyerang salah satu Vampir dengan langkah gesitnya. Vampir yang terlihat menjadi target perlawanannya malah terbahak.


"Hahaha!! Anak kecil sepertimu pasti akan berguna untuk menjadi Vampir dan mengabdi pada Raja! Jadi menyerahlah atau aku akan memotong tangan kanan nakalmu itu."


Gadis itu tidak mengidahkan perkataan Vampir yang di lawannya dan malah semakin cepat menyerang dan menorehkan luka-luka kecil di beberapa titik di kulit Vampir itu membuat darah merah pekat sedikit keluar.


Vampir itu segera saja menendang gadis itu ketika kecepatan menyerangnya melemah membuat gadis itu terlempar dan terhempas hingga akhirnya menabrak dinding rumah sampai retak.


Darah terlihat keluar dari dalam mulutnya ketika terbatuk. Gsdis itu berusaha bangkit dengan gemetaran dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya dengan kasar menggunakan punggung tangan.


Dia bergumam, "Sampai kapan... penderitaan kami akan berakhir. Sudah bertahun-tahun kalian telah menjajah tempat tinggal kami dan menjadikan kami makanan yang bahkan tidak berharga sedikitpun di mata kalian. Dan sekarang para Jenderal Wisteria juga sudah kalian tangkap dan di jadikan tawanan. Aku tahu kalian tidak punya hati dan hanya bergerak melalui insting tapi... ini sudah keterlaluan!"


Gadis itu menatap Vampir yang menendangnya hingga terlempar. Vampir yang juga mendengarkan perkataan gadis itu meskipun hanya bergumam kecil.


"Lantas, kenapa kau tidak menjadi Vampir saja? Kau muak kan jika kau memiliki hati dan memjadi lemah? Jika kau menjadi Vampir, kau mungkin akan mendapatkan apapun yang kau mau. Menjadi manusia rendahan seperti dirimu hanyalah sampah tidak berguna yang bahkan tidak di butuhkan dan tidak bisa di daur ulang lagi. Kata siapa takdir tidak bisa di ubah, itu hanya dirimu saja yang takut akan pilihan yang akan kau buat! KAU MENJADI PENGECUT DAN INGIN LARI DARI KENYATAAN! KAU BAHKAN JUGA TIDAK LEBIH BERBEDA SEPERTI KAMI! LALU, KENAPA KAU TIDAK MENJADI VAMPIR SAJA, HAH?!!"


Gadis itu hanya terdiam mendengarkan perkataan Vampir.


"Justru, karena aku ingin lari dari kenyataan, aku tidak mau menjadi seperti kalian dan masuk ke dalam dosa yang besar. Lebih baik aku di sakiti daripada menyakiti! Lebih baik berjuang daripada menyerah meskipun itu tidak ada untungnya sedikitpun! Vampir seperti dirimu mana tahu punya hati! Bahkan Vampir sekalipun tidak akan mengerti setiap emosi dan kesedihan! Karena kalian terlahir dari Rasa Kebencian!"


Gadis itu akhirnya berdiri tegak dengan rambut berwarna emas dan mata yang sehijau zamrud seperti milik Liyura terlihat bergerak oleh angin semilir. Gadis itu menatap tajam, dalam matanya terdapat suatu kebencian dan seolah rasa sakit yang bukannya berada di fisik, namun berada jauh dalam jiwanya.


"Lalu memang kenapa? Kenapa kau tidak mau menyerah?! Lihat sekelilingmu! Kau peduli pada wanita dan anak itu karena mereka dalam bahaya, namun sekarang, siapa yang akan menolongmu! Kami hanya membantu Tuhan untuk mengurangi populasi kalian yang benar-benar seperti sampah yang bertumpuk dengan menjijikkan! Berhenti berjuang dan berikan seluruh jiwa dan ragamu itu pada Ras kami!"


Mata Vampir itu menyala merah, dalam sesaat, gadis itu tidak merasakan teriakan-teriakan atau jeritan permintaan tolong yang di keluarkan oleh manusia lain yang ada si sekelilingnya. Dia merasa waktu berhenti saat itu juga. Saat gadis itu menyadarinya, ia melihat Roh Bunga Wisteria memeluknya dari belakang.


Roh Bunga Wisteria yang datang karena merasakan suatu aliran Mana dan hati yang murni meskipun telah ternodai dengan sedikit kebencian permanen.


"Tenanglah, Anak yang di berkati Cahaya. Kau telah terpilih untuk berjalan di atas takdir yang terang. Jalanmu akan di berkati oleh siapapun. Jadilah pengikut seorang gadis, gadis yang akan membawamu ke dalam suatu petualangan tiada akhir. Tuntunlah ia dalam jalan cahaya mu dengan Hati yang bersih dan tulus. Semoga Sihir Cahaya memberkatimu dengan segala kebaikan."


"Siapa?"


Roh Bunga Wisteria tersenyum dengan wujud transparannya, gsdis itu merasakan perasaan hangat saat Roh Bunga Wisteria itu memeluknya dengan erat, rasanya seperti di lindungi oleh Ibunya, seorang wanita yang mengenalkannya pada suatu eksistensi yang bernama Dunia membuat gadis itu tidak sadar jika sedang menitikkan cairan bening dari mata hijau jernihnya.


"Anakku, jadikan Dunia mu dengan penuh cahaya, lawanlah segala keburukan dengan perasaan yang tenang tanpa emosi negatif. Jadilah pengikut dari 'Sang Takdir' di jalan kebenaran, jadilah pengikut seorang gadis yang ketika kalian bertemu, kau akan langsung mengenalinya dalam sekali lihat. Gadis yang memiliki takdir besar untuk seluruh tatanan dunia ini. Dia akan... membangkitkan Sang Dewa Kematian yang telah menunggu-nunggu untuk terbebas dari kekangan Segel Pengorbanan-Ku."


Tiba-tiba saja, cahaya bersinar terang memenuhi penglihatan gadis itu hingga dia merasakan jika Roh Bunga Wisteria telah menghilang tepat saat itu juga membuat waktu bergulir kembali.


"Hey! Kau tidak mendengarku?!"


Gadis berumur 13 tahun itu tersadar, dia masih merasakan kehangatan pada tubuhnya. Dia juga merasakan hatinya ikut menghangat seolah semua hal negatif telah hilang sepenuhnya dari dirinya, bahkan sedikit perasaan bencinya pada Vampir telah menghilang.


Dia menatap Vampir di depannya yang terlihat bertolak pinggang dengan malas.


"Aku mendengarmu. Tapi aku tidak mau menjadi Vampir. Karena tadirku adalah di jalan kebenaran!"


Mata Vampir itu membulat terkejut karena melihat pancaran Aura berwarna emas terang dari gadis itu membuat Vampir tersebut mundur perlahan dengan keringat yang membanjiri wajahnya seketika.


Satu hal lain yang di takuti Vampir selain Bunga Wisteria adalah... Cahaya!