
"Kalau begitu, aku punya satu pertanyaan, dimana sebenarnya kediaman milik Para Vampir?"
Celine terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa, pertanyaan Erza terlalu sulit untuk di jelaskan maupun di jawab.
"A-aku tidak tahu. Kediaman para Vampir itu berpindah-pindah. Mereka sama sekali tidak suka selalu berada di tempat yang sama, itulah yang kutahu. Tapi aku sama sekali belum tahu keberadaan Para Vampir Bulan untuk sekarang."
"Mereka... seperti pengecut saja. Mereka pasti bergerak di balik layar untuk mencari mangsa. Mereka sedari dulu memang sudah sifatnya seperti itu. Kupikir karena mereka itu sama seperti manusia---wujudnya maka aku tidak menganggap mereka kuat, tapi ketika seorang Raja Vampir tahu jika menghisap darah dari Ras kami membuatnya tidak menua selama berabad-abad, maka dia memburu Ras ku. Ras sesama Burung seperti Ras Elang Harpa dan yang lainnya juga sebenarnya memiliki keistimewaan darah seperti Ras ku jadi para Vampir juga mengincar mereka."
"Aku benci saat perang terjadi, aku melihat di sana sini korban dari kami banyak yang berjatuhan apalagi generasi anak-anak yang Ras ku besarkan. Aku tidak mengira akan terjadi pertempuran hanya karena para Vampir itu menginginkan darah Ras ku."
Erza terlihat berdecih dan berekspresi marah. Celine hanya menatap iba padanya.
"Tidak apa-apa, Erza. Aku ada bersamamu sekarang, tidak akan kubiarkan para Vampir mengetahui jika Ras Burung Hantu masih ada. Jadi aku juga akan sebaik mungkin merahasiakan identitasmu."
"Ya, kau benar, lagipula jika ketahuan pun, aku masih bisa menggunakan sihirku karena Inti Sihir yang ada di dalam diriku tidak akan pernah padam dan menghilang."
"Jadi artinya berapapun abad yang berlalu, kau masih akan tetap hidup?"
Erza mengangguk, "Aku sudah memutuskan untuk memilih menjalani hidup agar aku bisa membalaskan dendam Ras ku pada Para Vampir. Aku akan mati dengan tenang jika mereka semua telah musnah."
Celine mengangguk, "Kita akan lakukan segala cara agar kita bisa membunuh mereka semua."
Erza lah kali ini yang mengangguk. Dia duduk di kasur tempat Celine biasanya tidur dan segera merebahkan dirinya.
***
Liyura kali ini terbangun karena keributan yang di sebabkan oleh Aver dan Arend yang masih berdebat panjang.
Liyura terlihat jengkel karena mereka sama sekali tidak ada niatan untuk berhenti bertengkar. Liyura akhirnya terduduk di sebuah tempat tidur kecil yang di sebelahnya terdapat Naomi yang masih tertidur.
"Kalian bisa tidak jangan bertengkar saat pagi hari?! Aku jadi jengkel mendengar ocehan kalian! Kalian harus sadar jika kalian sudah tua!"
Mendengar perkataan Liyura, mereka langsung berhenti.
"Tua? Siapa yang kau sebut tua? Aku kelihatan masih seumuran denganmu!"
Arend terlihat marah kali ini sedangkan Aver terlihat kesal.
"Tua? Aku memang sudah tua tapi memang kenapa? Tidak ada yang tahu umurku sudah berapa abad bahkan akupun tidak tahu umurku sekarang. Memang kenapa dengan kata 'tua' , hormat sedikit kenapa?"
Liyura terlihat semakin jengkel. Liyura menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang.
"Hahahahah!! Kalian semangat sekali pagi-pagi begini sudah adu mulut? Pasti sangat menyenangkan, 'kan?"
Liyura semakin merasa dongkol karena Eden juga ikut-ikutan. Tepat setelah Eden berkata begitu, Ares memukul kepalanya dengan cepat membuat Eden mengaduh dan akhirnya terjadi perdebatan panjang.
"Kau kenapa memukulku?!"
"Kau lah kenapa berisik?! Kau akan membangunkan anak-anak!"
"Memang aku peduli?! Lagipula siapa yang memulai lebih dulu, bukankah mereka berdua lalu kenapa kau memukul kepalaku?!"
"Dan kau Raja Undead, kau semakin terlihat menyedihkan karena Tuanmu meninggalkanmu, aku harap kau pensiun."
Arend juga ikut memulai dengan menggoda Aver. Aver yang terpancing juga segera saja membalasnya dengan perkataan pedas juga.
"Kau juga! Kau itu sudah menjadi Dobutsu tapi kau masih berlagak angkuh! Kau tidak bisa diam jika tidak mengejekku, hah?!"
Liyura akhirnya melemparkan bantal ke kepala mereka semua dan anehnya langsung tepat sasaran.
"Kalian bodoh!!! Pergi ke luar!!!"
Liyura berteriak sekuat tenaga dengan menggunakan aura pembunuhnya membuat Goa serasa bergetar membuat Aver dan yang lainnya akhirnya terlempar keluar akibat aura itu.
Dan yang lainnya seperti Kei, Zayn, dan Ryan juga Evol terlihat terkejut dan langsung terbangun seketika merasakan aura pembunuh.
Anehnya, hanya Naomi dan Nica saja yang tetap memejamkan matanya. Melihat keadaan sudah tenang, Liyura menghela nafas.
Liyura tidak dapat membayangkan jika dia memang punya keluarga seperti ini di Real World. Dia menatap satu persatu wajah Ryan dan yang lainnya hingga Liyura langsung berteleportasi ke dunia luar.
***
"Kau adalah salah satu yang lulus ujian bersama Ryan?"
Celine menatap Liyura dan mengangguk, "Ya itu benar. Oh bukankah kau adalah pengawas ujian pertama? Apakah keadaanmu sudah baik-baik saja?"
"Oh jadi kau adalah salah satu yang berhasil lolos ujian dariku, aku salut padamu. Boleh kutahu namamu?"
"Namaku Celine, Nona Liyura. Salam kenal."
Celine terlihat tersenyum dengan tulus. Liyura juga tersenyum untuk membalasnya. Erza yang terlihat tidak di pedulikan segera menjadi cemberut.
"Ayo Celine, katanya kau mau jalan-jalan. Ayo kita lanjut menjelajah."
Liyura menatap Erza yang terlihat mengajak Celine. Liyura menatapnya dengan pandangan senang.
"Baiklah, kalian lanjutkan saja. Celine, aku harap kau bisa bekerja sama dengan Ryan besok."
"Iya tentu saja Nona Liyura."
Celine mengangguk dan akhirnya berjalan akibat di dorong paksa oleh Erza untuk menjauh. Liyura yang melihatnya hanya tersenyum canggung.
Saat mereka telah jauh terlihat, Liyura menghela nafas. Dia merasakan kepalanya berdenyut sakit lagi entah kenapa.
Liyura memegangi kepalanya dan terlihat jika matanya perlahan bercahaya namun sesaat.
"Kekuatan yang bersemayam akan bangkit... kekuatan yang bersemayam akan bangkit... kekuatan yang bersemayam akan bangkit..."
Liyura terlihat menderita hingga Ia terlihat bersimpuh sambil memegangi kepalanya. Rasanya kepalanya mendapatkan sesuatu hingga ingin hancur karena tidak dapat menampungnya.
Di ibaratkan seperti sebuah gelas yang terisi air namun gelasnya terlalu kecil untuk menampung semua air yang terus mengalir dengan deras hingga meluap keluar dari area dalam gelas.
Seperti itulah Liyura sekarang. Rasanya ada sesuatu yang memasuki kepalanya secara tiba-tiba.
Liyura yang merasa sakit di kepalanya membuat dia segera memikirkan Aver, Arend dan Ryan untuk keluar dari dunia segelnya dengan teknik pikirannya.
Saat mereka keluar, mereka terkejut dengan keadaan Liyura yang menyedihkan. Darah terlihat mengalir di sudut bibir dan hidungnya. Sedangkan kedua tangannya tetap memegangi kepala.
"A-ada apa ini? Nona! Kau kenapa?!"
Ryan lah yang paling terlihat panik di antara ketiganya. Sedangkan Arend dan Aver terlihat memikirkan hal yang sama.
"Sepertinya sesuatu dalam dirinya akan bangkit. Aku yakin itu adalah sesuatu kekuatan yang besar yang tersimpan dalam dirinya."
Ryan terkejut mendengar ucapan Aver yang terlihat tidak terkejut sama sekali dengan keadaan Liyura.
"Hah... apakah kita harus menggunakan 'itu' lagi, Raja Undead? Aku terlihat lesu untuk melakukannya."
"Jika kau tidak melakukannya, aku akan menyuruh Ryan untuk memaksamu melakukannya."
"Apa?! Kau tidak tahu 'itu' adalah sesuatu hal yang rumit untuk di lakukan. Jika kita tidak berhasil, kita lah yang akan mati, itulah risikonya!"
"Maka dari itu! Aku tidak mau kemunculan Tuanku hanya akan menjadi mimpi. Aku harus membantu Liyura untuk menghadapi ini. Kita harus membantunya!"
"Kau jelas tahu jika itu mustahil jika hanya kita dua orang saja yang melakukannya! Apa ada yang lain yang bisa melakukan 'itu'?!"
Aver terlihat berpikir, "Hanya salah satu Ras Burung Hantu lah yang bisa menyelamatkannya. Kita harus menemukan dia secepatnya agar kita bisa melakukan 'itu' karena melakukannya bukanlah keahlianku meskipun 'itu' adalah termasuk jenis sihir yang akan kita gunakan."
"Akhh!!! Sial!!"
Arend mengacak rambutnya sendiri kesal, "Tidak, itu akan lama, lagipula Ras Burung Hantu yang maha tahu akan sihir itu sudah punah, kita tidak bisa mencarinya karena akan lama dan mungkin bisa terlambat!"
Sebelum mereka mengambil keputusan, Celine dan Erza yang mendengar perkataan Arend terlihat emosi karena dirinya di kira sudah punah membuat gadis itu menyatakan identitasnya secara tidak sengaja.
"Apa kau bilang?! Aku masih belum mati! Ras Burung Hantu masih ada yang hidup!"