Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 36 Pemuda Berambut Emas


Liyura tenggelam pada pikirannya yang tidak kunjung reda memikirkan tentang keanehan yang di alaminya.


Aver hanya menatap Liyura sesaat sebelum tenggelam dengan bacaan bukunya. Suasana terasa mencekam di antara 3 orang itu.


Sedangkan Ares dan Ryan masih sibuk mengajari dan mempelajari Sihir Hitam. Ocehan Ares saat melihat kegagalan Ryan menjadi pemecah keheningan.


Liyura yang tadinya mengantuk karena sibuk memikirkan keanehannya tiba-tiba menjadi tersadar karena suara Ares yang mengagetkannya.


Liyura menguap panjang dan menghampiri Evol yang sedari tadi tiduran di batu datar sambil menatap bosan sekelilingnya.


Liyura mengelus Evol saat sampai di hadapannya dan duduk di samping Jaquin itu.


Evol terlihat menguap dan menidurkan kepalanya di batu datar itu. Liyura juga bisa melihat jika Jaquin itu sangat bosan seperti dirinya membuat Liyura akhirnya mengajak Evol ke dunia luar.


Evol terlihat bersemangat dan langsung turun dari batu datar. Melihat Jaquin itu menjadi sumber semangat tersendiri bagi Liyura.


Liyura hanya mengangguk dan membawa Evol ke dunia luar.


Liyura juga berpikir mungkin dia akan melanjutkan perjalanannya menuju Lembah Malam karena tidak baik selalu menunda-nunda sesuatu.


Liyura memikirkan dirinya dan Evol berada di dunia luar membuat mereka berdua bagai terhisap ke dalam lubang hitam tak berdasar dan menyusuri ruang waktu yang membuat keduanya bagai terlempar.


Dan akhirnya Liyura membuka mata, mendapati dirinya terbaring di ruangan kamar terakhir dirinya tertidur.


Liyura mendengar sebuah suara geraman yang ternyata adalah Evol yang berdiri dengan gagahnya di samping tempat tidurnya.


Dipikir-pikir, Evol terlihat semakin tinggi dan besar akhir-akhir ini. Mungkin pertumbuhannya di Magic Forest yang bagaikan terlampau lama dari dunia luar membuatnya menjadi hampir seukuran Jaquin dewasa.


Liyura tersenyum dan bangun dalam posisi duduknya. Dia menatap Evol yang dulunya berada di pelukannya itu sekarang menjadi hampir seukuran dirinya.


Bahkan jika Liyura mau dia dapat menunggangi Evol karena ukuran tubuh Jaquin itu dapat mengangkut dirinya.


Liyura mengelus puncak kepala Evol membuat Jaquin itu menggeram nyaman. Liyura turun dari kasur dan segera keluar dari ruangan kamar bersama Evol.


Saat dia melewati koridor, dia bertemu dengan Rachel yang terlihat terkejut dengan Jaquin yang ada di samping Liyura berjalan seakan melindungi gadis itu.


Rachel langsung dalam posisi bersiaga dan memegang gagang pedangnya, bersiap menarik pedangnya bila Jaquin itu membuat keributan.


Liyura terlihat tetap tenang dan menyuruh Rachel untuk menurunkan kewaspadaannya karena Evol adalah Magic Animalnya.


Rachel terlihat meneliti Evol dan akhirnya tenang saat Evol terlihat tidak takut dengannya dan malah tidak mengubrisnya sama sekali.


Liyura akhirnya berjalan kembali menuju taman Wisteria di barengi dengan Evol yang berjalan di sampingnya tanpa memperhatikan apapun kecuali bunga ungu yang tergantung dan tertanam di sekeliling mereka.


"Evol, kita akan menjalani misi khusus, aku harap kekuatanmu sudah cukup untuk bertarung bersamaku karena kali ini kita tidak bisa meremehkan lawan."


Evol menggeram dan terlihat mengangguk memahami perkataan Liyura dengan jelas. Liyura sekali lagi tersenyum sangat cantik.


Dia menatap ke arah langit di balik celah Bunga Wisteria yang tumbuh dan menantikan petualangannya.


Hari itu di laluinya dengan sangat cepat. Sampai pada akhirnya tiba saatnya Liyura dan Evol menuju ke Lembah Malam.


 ---


Keesokan harinya, Liyura bangun kembali dari tempat tidurnya dan di sambut dengan Evol yang masih terbaring dengan lelap dengan menutup matanya, menikmati mimpi indahnya.


Liyura meregangkan semua ototnya dan bergerak untuk mandi.


Tidak beberapa lama, akhirnya dia selesai mandi dan mengenakan Gold Equip nya. Serta tidak lupa untuk mengaitkan sebilah pedang putih bernama Pedang Bulan Sabit di pinggangnya.


Liyura tidak mau menggunakan pedang emas atau pedang Excalibur karena dia tidak mau mengalahkan musuh dengan harta berharganya karena pedang itu menjadi kunci baginya untuk menemui 4 Pendekar Pedang Kembar.


Liyura terlihat telah siap untuk berangkat bersama Evol, mereka tidak menunggu siapapun untuk mengucapkan perpisahan.


Liyura hanya menulis sebuah surat di kamarnya untuk Rachel dan mengucapkan selamat tinggal karena gadis itu yakin jika dia tidak akan bertemu dengan Rachel lagi. Setidaknya perasaannya tidak pernah salah.


Liyura dengan hati senang segera pergi menuju Lembah Malam dengan menunggangi Evol yang telah bisa terbang seperti profesional dan tidak kaku untuk mendarat lagi.


Liyura menikmati angin semilir yang menerpa dirinya, suasana pagi membuat badannya terasa segar.


Evol juga terlihat sangat santai ketika terbang dan tidak terburu-buru. Liyura melihat ke bawah yang biasanya membuatnya pusing sekarang terasa sangat menyenangakan dengan ketinggian ekstream itu.


'Benar-benar hari yang indah.'


Liyura menatap ke arah sekitar dan melihat seseorang. Liyura mengernyit saat melihat seseorang terbaring.


Seakan terhubung dengan pikiran Liyura, Evol mendarat turun dengan mulus. Saat Liyura melihat seseorang yang terbaring itu, dia serasa ingin muntah.


Bagaimana tidak? Dia melihat seseorang itu atau mungkin sudah menjadi tulang belulang karena darahnya terhisap habis. Di lehernya terdapat dua titik yang menandakan gigitan dari Vampir.


"Sangat rendahan. Bagaimana mungkin mereka menjadi se-kejam ini pada manusia? Bahkan mereka yang mati itupun tidak sempat memberontak."


Liyura menatap iba seseorang yang menjadi korban itu. Dia hanya menggeleng-gelengakan kepalanya. Liyura kemudian memerintahkan Evol untuk menggali tanah sedalam mungkin untuk menguburkannya.


Saat selesai, Liyira dengan tanpa jijik sekalipun membaringkan tubuh itu ke dalam sebuah lubang dan menutupnya kembali.


Liyura menghela nafas, dia merasakan sakit di dadanya. Merasakan jika seandainya keluarganya lah yang menjadi korban Vampir ini seperti yang di alami oleh Ryan.


Liyura kemudian naik ke punggung Evol di sertai Evol pun terbang menuju langit.


Liyura kemudian menatap semua objek di bawahnya dari langit membuat seluruh pandangannya dapat di lihat dengan jelas dari atas langit.


Karena Liyura tidak menemukan kejanggalan seperti tadi, dia mengambil sebuah Magic Map dari System Room. Untung saja System Room masih berguna baginya.


Liyura yakin jika System Alpha tidak akan meninggalkan dirinya karena dia masihlah seorang Player.


Liyura mencari keberadaan Lembah Malam menggunakan Magic Map dan langsung menemukannya.


Seperti namanya, Lembah Malam berada di dalam hutan mistis yang pohonnya sangat rindang dan menjadi wilayah terlarang.


Liyura tidak tahu apakah di dalam hutan yang disebut lembah itu terdapat sebuah rumah bernama Rumah Labirin seperti yang diceritakan oleh Vampir yang dibunuh.


Liyura melihat dari sebuah Magic Map keluar sebuah setitik cahaya yang menyilaukan tapi cahaya itu bukan apa-apa bagi matahari yang menyinari bumi.


Setitik cahaya itu memberikan petunjuk ke arah dimana keberadaan Lembah Malam pada Liyura. Evol yang melihatnya juga langsung mengikuti arah kemana setitik cahaya itu pergi.


Tapi sebelum itu, Liyura melihat ada seseorang berjalan di bawahnya, dan menuju ke arah Lembah Malam.


Liyura menjadi penasaran dengan orang itu karena membawa pedang di pinggangnya. Liyura akhirnya memerintahkan Evol untuk mendarat, cahaya yang tadinya bergerak menjadi menghilang dan kembali ke arah Magic Map.


Evol menaati perintah Liyura untuk turun dan menghampiri seseorang yang berjalan dengan tergesa-gesa.


Liyura melihat pakaian yang di kenakan oleh seseorang itu, dia memakai sebuah Kimono berwarna oranye bercampur emas. Rambutnya berwarna pirang keemasan saat cahaya matahari menyinari rambutnya.


Saat melihat Liyura turun dari langit, dia menjadi waspada dengan memegang gagang pedangnya untuk mengantisipasi serangan musuh.


Evol akhirnya mendarat dengan mulus di tanah membuat Liyura langsung meloncat turun di hadapadan seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Ryan.


"Kau mau kemana?"


Liyura bertanya dengan rasa penasaran, pemuda itu tidak langsung menjawab melainkan meneliti penampilan Liyura dari atas sampai bawah.


"Aku di utus ke Lembah Malam oleh sekumpulan para Jenderal."


Liyura mengernyit, dia merasakan jika pemuda itu berasal dari Lembah Wisteria.


"Kau tahu bahaya yang akan kau hadapi?"


"Aku hanya diutus untuk menjadi mata-mata. Dan kau siapa?"


"Aku hanyalah seorang petualang yang ingin mengunjungi Lembah Malam."


Pemuda itu masih tidak menurunkan kewaspadaannya saat melihat Liyura maupun Evol di hadapannya.


"Minggir, aku tidak ada urusannya denganmu."


"Baik, aku akan minggir saat kau mengalahkanku. Lagipula aku ingin meregangkan ototku dengan bertarung. Hitung-hitung ini sebagai pemanasan sebelum pertarungan utama."


Pemuda itu akhirnya menarik pedang berwarna kuning bercampur hitam di tangannya dari dalam sarung pedang.


Liyura terlihat tertarik dengan pedang yang disebut Katana di wilayah ini.


Tanpa menunggu lama, Liyura juga menarik pedang Bulan Sabitnya dari dalam sarung yang ada di pinggangnya.


Pemuda yang tadinya dalam posisi siap siaga merasakan aura tekanan yang kuat dari pedang itu hingga membuatnya bertekuk lutut.


Pemuda itu dengan gemetar kembali berdiri dan menghadapi Liyura.


"Siapa sebenarnya kau? Aku yakin kau bukanlah salah satu dari Jenderal Wisteria, jadi kau siapa?"


"Aku hanyalah petualang yang ingin berkunjung ke Lembah Malam dan ingin memberikan kejutan untuk penghuninya."


Pemuda itu menatap dengan aneh Liyura. Dia memasang kuda-kuda bertarung terbaiknya untuk bersiap menyerang.


Meskipun pemuda itu tahu bahwa Liyura tidak ada hubungannya dengan para Vampir, dia juga tahu bahwa dia tidak bisa menghindari gadis di depannya.


"Namamu siapa?"


Pemuda itu menanyakan nama Liyura membuat Liyura tersenyum miring.


"Kau bisa memanggilku Liyura. Dan namamu?"


"Zayn, itu namaku."


Liyura akhirnya menyiapkan kuda-kuda terbaiknya untuk memulai pertarungan.


Dia sebenarnya ingin Zayn ini menjadi teman seperjalanannya tapi dia ingin menguji kemampuan pemuda di hadapannya.


Daripada Liyura repot melindungi dirinya dan Evol, kenapa dia harus melindungi Zayn juga jika dia tidak sempat tahu kemampuan rekan seperjalanannya.


Lagipula dia juga terbiasa menyelesaikan semuanya seorang diri daripada bersama orang lain karena dia lebih bebas melakukan apapun semaunya sendiri.


Dan Evol sebagai penjanganya pun itu sudah cukup karena dia masih yakin, sangat yakin dengan kemampuan bertarungnya tapi entah kenapa dia ingin pemuda di hadapannya ini menjadi rekan seperjalannya.


Liyura menunggu serangan dari Zayn, sedangkan Zayn yang telah siap sedari tadi menjadi agak sedikit risih karena harus bertarung serius dengan seorang manusia yang sama dengannya padahal tujuannya ke Lembah Malam hanya untuk memata-matai pergerakan musuh dengan teknik khususnya.


Zayn menarik napas dalam-dalam untuk meningkatkan tenaga dalamnya dan tanpa aba-aba, dia melesat bagai kilat ke arah Liyura, membuat gadis itu terkejut dengan kecepatan Zayn yang secepat cahaya.